Tidak Ada Jenderal di Depan Istri

“Bukankah engkau mengaku sebagai utusan Allah..?” Ketus Aisyah radhiallahu anha kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam penuh cemburu, suatu saat dalam sebuah perjalanan.

Pasalnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meminta agar barang-barang yang sedikit di onta Aisyah ditukar dengan barang-barang yang banyak di onta Shafiah (Isteri Rasullah saw lainnya). Karena onta Aisyah gagah sedangkan onta Shafiah lambat.

Demikian Al-Haitsami meriwayatkannya dalam kitabnya, Majma Az-Zawaid (dengan sanad dha’if-red).

Ada pelajaran berharga dari cuplikan ‘pernak pernik’ rumah tanggal Rasulullah saw di atas.Yaitu bahwa pasangan suami isteri memiliki pola komunikasi yang khas. Kekhasan yang apabila dikelola dengan bijak dapat menjadi kehangatan hidup berumah tangga.

Ucapan Aisyah radhiallahu anha di atas, jika dilihat dari sudut pandang aqidah, jelas sangat bermasalah, karena dapat dipahami meragukan kerasulan Nabi saw. Namun, tidak demikian halnya jika dilihat dari kekhasan pola komunikasi suami isteri. Yang tampak justeru emosi cinta yang terungkap secara verbal dan refleks melampaui batas-batas pemahaman normatif.

Karenanya, menyikapi hal tersebut, Rasulullah saw hanya tersenyum, bahkan ketika Abu Bakar hendak menegurnya, beliau memintanya untuk membiarkannya, sambil berkata, ‘Sesungguhnya, sifat cemburunya membuat dia tidak dapat melihat dasar lembah dari ketinggian.’

Di antara bentuk komunikasi suami isteri yang sehat adalah manakala komunikasinya telah bersifat lepas, tidak ‘anggah ungguh’, serta tidak terbelenggu oleh simbol dan kedudukan yang ada pada masing-masing pasangan. Tentu saja, setelah hak dan kewajibannya telah dipahami masing-masing.

Pola komunikasi seperti ini, hanya dapat terwujud jika masing-masing pasangan memainkan perannya secara total dalam kehidupan rumah tangga. Namun hal tersebut bukan sesuatu yang dapat terwujud karena pandai berakting ala bintang film yang justeru banyak gagal dalam kehidupan rumah tangga sesungguhnya, tapi yang dibutuhkan adalah ketulusan cinta dan perasaan saling memiliki.

Maka, seorang isteri, walaupun misalnya dia memiliki jabatan terhormat, namun di rumah, jika komunikasi khas tersebut sudah terbentuk, sang suami bisa dengan santainya berkata, ‘Ma, buatkan teh untuk papa dong…’. Atau, seorang jenderal yang diluar begitu ditakuti bawahannya, di rumah, boleh jadi sang isteri dengan enteng mengomelinya karena pulang kemalaman. Karena…. ‘Tidak ada jenderal di depan isteri…..’

Bisa juga seorang ustaz yang diluar begitu dihormati jamaahnya, di rumah, isterinya dengan enteng memarahinya gegara dia meletakkan baju sembarangan.

Tapi saya ga berani bilang ‘Tidak ada ustaz di depan isteri..’

Jika banyak bujangan atau gadis yang sedang ‘mencari-cari’ mengangankan calon pendampingnya dengan sederet status dan simbol kehidupan. Maka, ketika sudah berkeluarga, justeru itulah yang sering menjadi kendala dalam membangun komunikasi hangat antar suami isteri. Tidak jarang kehangatan komunikasi itu terganggu, karena status dan simbol-simbol tersebut masih mendominasi atmosfer komunikasi di antara mereka.

Bayangkan jika suami seorang jenderal, lalu komunikasinya persis seperti seorang prajurit…. “Ma, perintah! siapkan teh manis!” Lalu sang isteri menjawab, “Siap! Laksanakan!” dengan muka tegang dan kaku…

Justeru ketika sudah berkeluarga, yang paling diinginkan suami adalah seorang isteri yang bertindak sebagai ‘isteri’, bukan sebagai dokter, guru, lulusan universitas ternama, anak orang kaya, dll. Begitu pula yang diinginkan isteri dari suaminya.

Suatu saat, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seseorang yang ingin mengadukan kepada sang Khalifah tentang sikap isterinya yang suka mengomelinya. Namun setibanya di dekat rumah sang Khalifah, dia mengurungkan niatnya. Apa pasal? Rupanya dari dalam rumah Khalifah, dia mendengar sang isteri sedang memarahi Khalifah. ‘Kalau khalifah saja dimarahi isterinya, apalagi saya…’ pikirnya.. (riwayat maudhu’ atau palsu-red)

Terkadang, omelan dan marah yang masih dalam bingkai cinta itu justeru menghangatkan dan ‘ngangeni’.. Jika dari ‘omelan’ bisa berbuah kehangatan dalam rumah tangga, apalagi canda tawanya…..

Ya Rabb, kumpulkan kami di surgaMu sebagaimana kami Engkau kumpulkan di duniaMu.

Surat Maryam 33 Bukan Dalil Bolehnya Ucapan Natal

Setiap menjelang Natal tentu akan selalu muncul perdebatan soal hukum mengucapkan selamat Natal kepada saudara kita sebangsa yang beragama kristiani. Bahkan beberapa kalangan di Indonesia membolehkan mengucapkan selamat Natal dengan dalih, bahwa ucapan selamat Natal juga dapat ditemui dalam Al-Quran surah Maryam:33.Pendapat seperti ini perlu dkritisi lebih lanjut.

Pertama, redaksi wassalamu yang dinisbahkan kepada nabi Isa ini diucapkan beliau sendiri ketika ibunda Maryam bint Imran dipojokkan dan dituduh para pemuka agama Yahudi bahwa Isa yang baru saja dilahirkan adalah hasil perzinahan. Maryam kemudian menunjuk Isa yang merupakan mukjizat dari Allah swt untuk menepis tuduhan murahan itu (ayat 28-33). Yang perlu dicatat juga bahwa sebelumnya redaksi seperti ini ditujukan pula kepada nabi Yahya as. dengan redaksi wasalamun (ayat 13).

Para ulama menyatakan bahwa jenis redaksi seperti ini (salaam) sering diungkapkan pada saat dan situasi seorang hamba Allah dalam kondisi sangat lemah, tidak kuasa atas makar dan sangat membutuhkan pertolongan dan bantuan-Nya (lihat, Tafsir al-Muharrar al-Wajiz; Ibnu ‘Athiyyah dikutip oleh al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani vol 9 juz 16 hal.107).Karena keduanya, baik Yahya maupun Isa sama-sama dikejar dan ditindas Bani Israil, Yahya berhasil mereka bunuh sementara Isa diselamatkan Allah dan diangkat ke langit.Belum lagi peristiwa kelahirannya mengundang curiga luar biasa. Sehingga wajar keduanya menggunakan redaksi Salaam.

Dengan perbandingan dua situasi ini pula Imam Hasan al-Bisri meriwayatkan dialog antara Isa dengan Yahya yang suatu saat keduanya bertemu, sebagaimana layaknya ikhwah fillah. Yahya bilang kepada Isa: “Akhi doakan saya ya sebab engkau lebih mulia dari aku”, Isa balas menjawab: “Akhi justru anda yang harus mendoakan saya, andalah yang lebih mulia dari saya sebab Allah yang menjamin keselamatan untuk anda (menunjuk redaksi wasalamun alayhi, ayat 13) sedangkan sayalah yang menyatakan keselamatan atas diri saya sendiri bukan Allah yang menjaminnya (menunjuk redaksi wassalamu alayya, ayat 33)”.

Kedua, secara literal dan sepintas redaksi wassalamu diartikan dengan ucapan selamat, bahwa ucapan selamat Natal sudah dicontohkan sendiri oleh nabi Isa as.Dengan asumsi ketika mengucapkannya kita berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang nabi dan hamba Allah, meskipun pihak nasrani yang menerima ucapan itu memaknainya lain dengan persepsi kita. Dalam ilmu bahasa Arab, jenis itu diistilahkan dengan ‘Badi’ at-Tawriyyah’, atau bisa juga disebut al-Iihaam, yaitu penyebutan lafaz yang mengandung dua arti. (lihat al-Qazwini dalam al-Idhah fi ‘ilm al-Balaghah, hlm.331).Sehingga ada Ahli tafsir yang berdalil dengan hadis Abu Talhah bersama istrinya yang menyembunyikan kabar kematian anaknya dengan pengucapan “qad hada’at nafsuh wa arju an yakuna qad istaraha”(tubuh si anak telah tenang tertidur, aku berharap ia bisa istirahat). Riwayat itu bisa kita baca dalam Shahih al-Bukhari, vol.1/438, juga di kitab Riyadh al-Shalihin karya Imam an-Nawawi, hal.19-20. Saya rutin mengajarkan kitab itu kepada jamaah pengajian. Beberapa pekan lalu saya ajarkan hadis ini kepada jamaah rutin malam kamis.

Jika kita telusuri beberapa kitab tafsir otoritatif ternyata bukan seperti itu yang dimaksudkan rangkaian ayat ini. Justru dengan pengakuan tersebut Isa as telah menetapkan bahwa dirinya hanya sebagai hamba yang menyembah Allah swt semata, dia juga sebagaimana makhluk Allah lainnya dilahirkan (hidup), mengalami kematian dan dibangkitkan kembali pada hari pembalasan.Hanya saja beliau akan memperoleh keselamatan sebagaimana para nabi dan rasul lainnya pada hari pembalasan yang keseluruhan manusia sangat sulit untuk memperoleh keselamatan hisab pada hari itu. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 hal.117-118)

Demikian pula, berdalil dengan hadis Abu Talhah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik untuk memperbolehkan ucapan selamat Natal oleh muslim kepada orang Kristen; dengan persepsi yang berbeda dengan persepsi kristen, maka perlu ditinjau kembali. Karena apa yang terjadi pada Abu Talhah tidaklah berkaitan dengan permasalahan akidah. Perkataan tersebut tidak merusak agama dan akidah. Tindakan istri Abu Talhah bermaksud menenangkan hati suaminya yang baru datang dari luar rumah. Sikap itu diambil untuk menjaga keharmonisan, dan agar suami tidak terlalu bersedih karena kematian anaknya. Adapun ucapan selamat Natal dari seorang muslim kepada Kristen merupakan permasalahan yang berkaitan dengan agama dan akidah. Ucapan itu bisa merusak akidah, meskipun tidak otomatis menyebabkan seorang muslim keluar dari Islam. Sementara kita diperintahkan untuk menjaga agama sebagai urutan tertinggi dalam maqashid syari’ah (lihat al-Syathibi dalam kitab al-Muwafaqat, vol.2, hal.8-9). Tidak diragukan lagi, menjaga agama merupakan suatu kewajiban, dan merusak agama adalah suatu keharaman.

Seperti dimaklumi, pengucapan selamat Natal adalah penghormatan keagamaan dan bisa merusak akidah. Sedangkan ucapan ‘tawriyyah’ istri Abu Talhah kepada suaminya adalah persoalan muamalah duniawi. Sehingga penganalogian ucapan selamat Natal dengan ucapan istri Abu Talhah adalah merupakan analogi terhadap dua konteks yang berbeda, atau al-Qiyas ma’a al-Fariq yang itu tidak sah atau batil menurut para ulama. Oleh karena itu argumentasi ahli tafsir tersebut menjadi gugur. (lihat Prof. Ali Mustofa Yakub, Toleransi Antar Umat Beragama, hlm.38)

Ketiga, sesuai konteks rangkaian ayat di atas dan korelasinya dengan rangkaian ayat selanjutnya (ayat 34-37) jelas sekali menolak persepsi kaum Nasrani yang mengangkat Isa al-Masih sebagai anak Tuhan yang patut diselamati.

Terjemahannya sebagai berikut: 34. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. 35. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia 36. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.37. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar

Rangkaian ayat ini justru menepis kebolehan mengucapkan selamat Natal, seperti diyakini orang Nasrani, karena rangkaian ayat yang sebelum ini menjelaskan secara gamblang peristiwa kelahiran Isa dari rahim Maryam ibunya yang dirasa sangat tidak mungkin ia kemudian dinobatkan menjadi anak Tuhan. Isa sesungguhnya adalah anak manusia biasa yang dilahirkan melalui “proses yang diluar kebiasaan”. Isyarat itu terungkap dari ayat 35 surah Maryam. (lihat Fi Zhilal al-Qur’an, juz 4 hal.2308)

Keempat, sesuai analisa bahasa dan sastra Arab, fungsi definitif dari ‘al’ pada kata assalamu adalah untuk semua jenis keselamatan (al lil jinsi). Maka jika digabungkan dengan konteks rangkaian ayat ini untuk pengingkaran dan penolakan akidah Nasrani, maka ia lebih merupakan sindiran (ta’ridl) untuk melaknat kaum Yahudi atas tuduhan zina kepada Maryam, dan juga kepada kaum Nasrani yang menjadikannya juru selamat. Seakan ayat ini memberi pesan bahwa Isa menyatakan semua keselamatan hanya untuk dirinya dan azab lah yang akan ditimpakan kepada para penentangnya.

Fungsi kebahasaan seperti ini sudah berlaku umum dan menjadi ‘urf pemakaian al-Quran, surah Thaha ayat 48 misalnya menyatakan:“wassalamu ala man ittaba’alhuda”, selain makna aslinya ia juga mengandung pesan yang tidak diungkapkan bahwa azab lah yang akan didapat bagi orang yang mendustakan dan berpaling dari petunjuk itu. (lihat al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani, Opcit hal.131). Jadi saya tidak bisa mengerti hingga detik ini, mengapa orang Kristen perlu kita beri ucapan selamat, sementara al-Qur’an sendiri menyindir dan melaknat mereka karena persoalan Natal al-Masih.

Sebagai catatan akhir, para ulama menganggap hari raya non Muslim, bukan termasuk hari raya yang baik dan mendatangkan kebaikan bagi umat Islam. Dalam konteks ini al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi berkata dalam kitabnya al-Amru bil-Ittiba’ wa al-Nahyu ‘ani al-Ibtida’ sebagai berikut:

ومن البدع والمنكرات مشابهة الكفار وموافقتهم في أعيادهم ومواسمهم الملعونة كما يفعله كثير من جهلة المسلمين من مشاركة النصارى وموافقتهم فيما يفعلونه في خميس البيض الذي هو اكبر اعياد النصارى (الحافظ جلال الدين السيوطي، الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع ص 141).

“Termasuk diantara bid’ah dan kemunkaran adalah menyerupai orang-orang kafir dan menyetujui mereka dalam selebrasi hari raya mereka dan acara-acara mereka yang dilaknat Allah. Seperti yang latah dikerjakan oleh orang-orang bodoh umat Islam dalam ikut serta dan menyetujui apa yang mereka rayakan”. (hlm.141)

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka selayaknya ucapan selamat Natal dihukumi haram dan harus dihindari oleh umat Islam. Dalam konteks ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali berkata:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه … وإن بلي الرجل بذلك فتعاطاه دفعا لشر يتوقعه منهم فمشى إليهم ولم يقل إلا خيرا ودعا لهم بالتوفيق والتسديد فلا بأس بذلك وبالله التوفيق. (ابن قيم الجوزية، أحكام أهل الذمة 1/442).

“Adapun ucapan selamat dengan simbol-simbol yang khusus dengan kekufuran maka adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat kepada kafir dzimmi dengan hari raya dan puasa mereka. Misalnya ia mengatakan, hari raya berkah buat Anda, atau Anda selamat dengan hari raya ini dan semisalnya. Ini jika yang mengucapkan selamat dari kekufuran, maka ia termasuk perbuatan haram. Ucapan tersebut sama dengan ucapan selamat kepada orang yang bersujud kepada salib. Bahkan demikian ini lebih agung dosanya menurut Allah dan lebih dimurkai daripada ucapan selamat atas minum khamr, membunuh seseorang, perbuatan zina yang haram dan semisalnya. Apabila seseorang memang diuji dengan demikian, lalu melakukannya agar terhindar dari keburukan yang dikhawatirkan dari mereka, lalu ia datang kepada mereka dan tidak mengucapkan kecuali kata-kata baik dan mendoakan mereka agar memperoleh taufiq dan jalan benar, maka hal itu tidak lah apa-apa.” (lihat Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, juz 1 hal. 442).

Jika ada orang berkata, tidak apa-apa mengucapkan selamat natal, dengan tujuan selamat atas lahirnya Nabi Isa ‘alaihissalam? Ucapan orang ini perlu dipertanyakan. Kepada siapa Anda memberikan fatwa tersebut? Kepada orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya yang diucapkan di rumahnya dan bukan pada hari natal 25 desember? Secara jujur saja, kepada siapa dia mengucapkan selamat natal? Apakah kepada Isa ‘alaihissalam, secara khusus, tanpa diucapkan kepada non-Muslim? Atau selamat natal diucapkan kepada non-Muslim pada hari raya mereka?

Kesimpulan: Pernyataan di atas menyimpulkan bahwa ucapan selamat Natal, hukumnya haram dilakukan oleh seorang Muslim, karena termasuk mengagungkan simbol-simbol kekufuran menurut agamanya. Dan upaya untuk mengaitkan kebolehannya dengan konteks ayat 33 surah Maryam telah gugurkarenatidakrelevansama sekali.

Walhamdu li-Llaahi Rabb al-‘Alamin

Kemelaratan Panjang

» النَّارُ يُعْرَضُونَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَعَشِيًّا ۖ وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ أَدْخِلُوا آلَ فِرْعَوْنَ أَشَدَّ الْعَذَابِ «

“Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir´aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Ghafir: 46).

Saudaraku,
Abu Dzar al Ghifari r.a pernah berujar,
“Maukah aku beritahukan kepada kalian perihal hari kemelaratanku (yang hakiki)?. Yaitu hari di mana aku di masukkan ke dalam liang lahatku.”
(Mawa’izh al-Shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku,
Banyak orang yang ingin lari sejauh mungkin meninggalkan kemiskinan hidup. Berbagai upaya dilakukan agar ia terhindar dari kemelaratan. Tidak sedikit jalan ditempuh untuk menyelamatkan diri dari keadaan yang menjadi momok manusia tersebut. Baik itu jalan yang benar ataupun jalan yang salah. Baik itu dengan cara yang halal ataupun dengan cara yang haram. Entah itu diraih dengan cara yang disukai orang lain maupun dengan cara menzalimi sesama.

Dalam kaca mata mayoritas manusia, mereka benci kemiskinan karena ia pandang sebagai bencana, malapetaka, prahara, kepahitan tak terkira dan momok dalam kehidupan.

Padahal kemiskinan sejati, kemelaratan hakiki baru dimulai saat malaikat maut menjemput ruh kita. Mengambil nyawa kita. Pada saat ruh kita akan diterbangkan ke dalam surga atau dinistakan dalam neraka. Yang tentunya dimulai dari tempat persinggahan kita sementara sampai tibanya hari kiamat. Yakni alam kubur. Alam barzakh.

Oleh karena itu, khalifah ketiga; Utsman bin Affan teramat khawatir dengan peristiwa alam kubur yang akan dialaminya, yang menyebabkan tangisannya meledak setiap kali ia berada di atas perkuburan kaum muslimin.

Hani’, budak Utsman bin Affan menceritakan, “Ketika Utsman r.a berhenti di sebuah kuburan, ia menangis tersedu-sedu sampai basah janggutnya. Lalu Hani bertanya, ‘Engkau mengingat surga dan neraka tetapi tidak menangis. Namun saat mengingat kubur, engkau menangis. Mengapa demikian?.’

Utsman menjawab, “Aku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda, ‘Kubur adalah rumah akhirat pertama. Bila seseorang selamat di kubur, maka setelahnya menjadi lebih mudah; bila tidak selamat dari kubur, maka setelahnya lebih sulit.’ Aku juga mendengar Rasulullah s.a.w bersabda, “Aku tidak melihat suatu pemandangan pun yang lebih menakutkan daripada kubur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Saudaraku,
Dalam hadits Al-Bara’ bin ‘Azib yang panjang, Rasulullah menceritakan tentang orang kafir setelah mati, dikatakan, “Gelarkanlah untuknya alas tidur dari api neraka, dan bukakanlah untuknya sebuah pintu ke neraka. Maka panas dan uap panasnya mengenai wajahnya.

Lalu disempitkan kuburnya sampai tulang-tulang rusuknya berhimpitan.
Kemudian datanglah kepadanya seseorang yang buruk parasnya, jelek pakaiannya, dan busuk baunya. Dia berkata, “Bergembiralah engkau dengan perkara yang akan menyiksamu. Inilah hari yang dahulu engkau dijanjikan dengannya (di dunia).”

Maka dia bertanya, “Siapakah engkau? Wajahmu adalah wajah yang datang dengan kejelekan.”

Dia menjawab, ‘Aku adalah amalanmu yang jelek’. Maka dia berkata, “Wahai Tuhanku, jangan Engkau datangkan hari kiamat.” (HR. Ahmad, Nasa’I, Ibnu Majah dan Hakim).

Saudaraku,
Seorang wanita yang biasa menyapu masjid Nabawi pada masa Rasulullah s.a.w wafat dan beliau pun merasa kehilangan atas kepergiannya itu. Para sahabat menyampaikan bahwa wanita tersebut meninggal pada saat malam dan telah dikubur pada malam itu juga.

Para sahabat tidak sampai hati mengabari beliau. Beliau lalu meminta beberapa sahabat untuk menunjukkan kuburnya. Setelah sampai di kubur wanita tersebut, beliau pun kemudian menyalati wanita itu, lalu bersabda, “Kuburan ini sungguh sangat gelap bagi para penghuninya. Allah s.w.t menyinarinya untuk mereka dengan shalatku tadi.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku,
Nasihat Abu Dzar al-Ghifari di atas, memberikan arahan dan obor penerang untuk perjalanan hidup kita ke depan. Di antaranya:

• Kemiskinan sejati adalah miskin amal shalih bukan miskin wajah, harta, jabatan, kedudukan, popularitas dan yang lainnya. Di kubur itulah tergambar jelas masa depan kita di sana. Apakah berakhir cerah bercahaya sumringah berseri atau sebaliknya suram dan gelap bagaikan pertengahan malam yang diapit mendung.

• Saat malaikat Munkar dan Nakir bertanya mengenai siapa Tuhan kita, siapa Nabi kita dan apa agama kita di alam kubur, maka yang akan menjawab adalah amalan kita dan bukan lisan kita. Jawaban yang tepat adalah pertanda baik untuk ujian berikutnya. Sebaliknya ketidak mampuan diri untuk memberikan jawaban yang benar, merupakan awal dari bencana besar yang telah menanti kita.

• Setelah kita meninggalkan dunia, tiada lagi bermanfaat kenikmatan dunia yang telah kita kumpulkan berpuluh-puluh tahun dengan perasan keringat. Bahkan tidak jarang, harta benda yang kita tinggalkan justru menjadi pemicu keretakan dan pertikaian bagi ahli waris sepeniggal kita.

• Setelah berada di alam kubur, tiada seorangpun yang merasa dirinya kaya raya, walau segala kenikmatan hidup di dunia telah diraihnya. Karena setiap orang merasa kurang dengan amal shalih yang telah diukirnya di dunia. Terlebih bagi orang yang telah menzalimi diri sendiri, dengan jalan menghalangi dirinya dari beramal shalih. Padahal waktu, peluang dan kesempatan terbentang di hadapannya.

• Sebelum terlambat, mari kita sadari hakikat kemiskinan dan kemelaratan ini. Kita boleh miskin dan melarat di dunia. Tapi jangan sampai kita miskin dan melarat di akherat sana. Yang dimulai dari alam kubur kita. Sebab jika ajal telah menjemput kita, kehidupan sejati baru kita mulai. Apakah kita menjadi kaya lantaran pundi-pundi amal shalih yang telah kita himpun dengan susah payah di dunia. Atau sebaliknya, kita menjadi miskin amal lantaran silau dengan gemerlapnya dunia dan tertipu dengan kenikmatan semu.

• Membuka lembaran-lembaran hidup para salafus shalih, terlebih para sahabat mulia, merupakan jalan menuju keshalihan pribadi. Di sana ada keteladanan. Di sana ada pelita penerang. Dan di sana ada contoh nyata, bagaimana kita menjadi sosok pribadi muslim yang mendekati kata ‘ideal’.

Ya Rabbi, jadikanlah kami orang-orang yang kaya di akherat sana dan mudahkanlah kami mengukir amal-amal shalih dalam hidup dan kehidupan ini. Amien. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 04 Desember 2014 M
Fir’adi Abu Ja’far