Tsabat: Tegar di Atas Jalan Iman

» إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ, لِلْمُتَمَسِّكِ فِيْهِنَّ يَوْمَئِذٍ بِمَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ. قَالُوْا: يَا نَبِيَّ اللَّهِ, أَوَمِنْهُمْ؟ قَالَ: بَلْ مِنْكُمْ «

“Sesungguhnya umat sesudah kalian akan mengalami hari-hari (sulit) yang membutuhkan kesabaran. Bagi orang yang konsisten (berpegang teguh pada ajaran Islam) sebagaimana yang kalian perbuat, akan mendapatkan balasan lima puluh kali lipat dari kalian.” Para sahabat bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah kelipatan pahala itu dari mereka?.” Beliau menjawab, “(Bukan), tetapi dari kalian.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh syekh al-Bani dalam kitab “Silsilah hadits-hadits shahih” no: 494 dan 957).

Saudaraku,
Tsabat, adalah antonim (lawan) dari kata kegoncangan hati dan kebimbangan jiwa.

Secara terminologi tsabat (di jalan iman) berarti; ketetapan dan keteguhan hati menapaki jalan Ilahi guna meraih tujuan, berkorban demi tersebarnya nilai-nilai iman, komitmen terhadap prinsip agama dan istiqamah di atas manhaj Rabbani sampai ia menemui Rabb-nya.

Al-Khazandar mendefinisikan tsabat dengan ucapannya, “Keukeuh menapaki jalan hidayah, komitmen dengan tuntutan jalan ini, kontinue mengukir kebaikan, dan bersungguh-sungguh mendaki puncak ketaatan.

Saudaraku,
Ketika kita mendengar kata ‘tsabat’, maka ingatan kita basah dengan peristiwa penyiksaan yang dialami oleh Bilal bin Rabah. Ketika itu ia menjadi budak dari Umayyah bin Khalaf. Sewaktu Umayyah mendengar bahwa Bilal telah memeluk Islam, maka dia membuat berbagai macam penyiksaan yang tiada tara. Mengalungi leher Bilal dengan tali yang kuat, lalu dia memerintahkan anak-anak kecil untuk mengaraknya berkeliling bukit di Mekkah.

Leher Bilal membilur karena bekas dari jeratan tali itu. Karena memang Umayyah mengikatkan tali tersebut dengan kuatnya. Bukan hanya sebatas itu saja penyiksaan yang dialaminya, pernah di suatu siang yang sangat terik membakar kulit, Umayyah melemparkannya ke padang sahara, kemudian meletakkan batu panas di atas dadanya, kemudian menarik kedua tangannya dengan sekuat tenaganya diiringi dengan pukulan dahsyat tak terperi.

Meskipun demikian berat siksaan yang dialaminya, namun ke-istiqamahan dan ketegaran Bilal tak goyah sedikitpun. Bibirnya di tengah siksaan tetap melantunkan kalimat suci, “Ahad, Ahad.” Sampai akhirnya Abu Bakar membeli Bilal dari tangan Umayyah, lalu memerdekakannya.

Suara jeritan Ammar bin Yasir terdengar begitu jelas saat kita berbicara tentang tsabat. Setelah ‘Ammar dan ayahnya Yasir serta ibunya Sumayyah memeluk Islam, maka Abu Jahal menyiksa mereka dengan siksaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata. Ketika Rasulullah s.a.w menyaksikan beratnya siksaan yang mereka alami, beliau hanya mampu memberikan untaian kata hiburan yang mengandung khabar gembira :

» صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ فَإِنَّ مَوْعِدَكُمُ الْجَنَّة «

“Bersabarlah duhai keluarga Yasir, karena sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”

Kemudian Abu Jahal menancapkan tombaknya pada kehormatan Sumayyah, hingga wanita tegar itu meraih syahadah. Sumayyah r.a adalah awwalu syahidatin fi al-Islam (wanita muslimah pertama yang mati syahid di jalan Islam).

Abu Fulaikah mengalami siksaan yang berbeda, ia bernama asli Aflah, budak dari bani Abdi Ad Dar, ia diikat kedua kakinya dengan ikatan yang kuat, lalu dia diseret di atas padang sahara nan tandus.

Begitu pula Khabab bin al-Arat r.a, budak milik Ummu Ammar binti Siba’ al-Khuza’iyyah. Ia juga mendapat siksaan yang tidak kalah pedih dari sahabat-sahabat lainnya. Di mana ia dicengkeram rambutnya lalu ditarik dengan tarikan yang keras, dan menjeratkan tali di lehernya dan menelentangkannya ke tanah beberapa kali di atas pasir yang panas menyengat. Kemudian mereka meletakkan batu di atas tubuhnya dan menyetrika tubuh lemah itu dengan batu tersebut, hingga ia terkulai lemas dan tak mampu untuk bangkit lagi.

Mush’ab bin ‘Umair r.a diusir oleh ibunya dari rumahnya setelah ibunya mengetahui ke-islaman puteranya.

Lain dengan apa yang dialami Utsman bin Affan setelah ia masuk Islam, pamannya menyelubunginya dengan tikar dari daun kurma, lalu mengisapinya dari bawahnya.

Bukan hanya itu saja perlakuan Quraisy terhadap kaum muslimin. Bahkan mereka ada yang memakaikan pakaian besi, kemudian melemparkannya di bebatuan yang panas membakar kulit.

Daftar orang-orang yang disiksa karena ke-Islaman mereka masih banyak dan panjang serta mengerikan. Siapapun yang diketahui masuk Islam, pasti ia akan mendapatkan siksaan yang sangat mengerikan.

Saudaraku,
Kisah-kisah sahabat di atas hanya sekedar pengingat, bahwa keyakinan yang kita imani dalam hati, terucap dengan lisan dan kita buktikan dengan amal nyata dalam realita kehidupan kita, memerlukan penjagaan dan pemeliharaan semaksimal kemampuan kita. Agar iman kita tak lekang disapa hawa panas, dan tak lapuk diguyur hujan. Tidak terpengaruh dengan pergantian musim.

Ujian hidup, ibarat garam dalam bumbu masakan. Bisa kita bayangkan sayur gudeg Yogya tanpa garam. Ayam goring tanpa garam dan seterusnya.

Ujian hidup yang menyapa kita, jika kita hadapi dengan sabar dan tsabat, maka ia akan membantu kita meraih kedewasaan iman dan mencapai kematangan ruhani.

Namun sebaliknya, jika kita tak sabar dalam menghadapi ujian hidup berupa kemiskinan, kegagalan dalam membangun bisnis, terpuruk dalam usaha, sakit mendera tubuh, kepergian orang-orang dekat, celaan orang-orang yang jauh dari petunjuk, kesempitan hidup yang menghimpit, kedukaan yang mendera jiwa dan yang senada dengan itu. Maka kita tidak lulus dalam menghadapi ujian-Nya.

Demikian pula jika kita tidak tsabat dalam menerima anugerah-Nya berupa tubuh yang selalu prima, kelapangan dalam rezki, karir yang terus meroket, popularitas yang tak pernah meredup, jabatan yang semakin mengkilap, selalu sukses dalam mengembangkan usaha dan yang seirama dengan itu. Namun kita tidak dapat mengembangkan makna syukur, jiwa yang semakin subur dan akal yang penuh tafakkur, maka kita telah merelakan diri terlempar dari kafilah orang-orang yang tsabat.

Saudaraku,
Mazin Furaih dalam kitabnya “al-raid durus fi al-dakwah wat tarbiyah” menyebutkan beberapa kiat agar kita menjadi orang yang tsabat, di jalan iman, di antaranya:

• Keyakinan kita terhadap kebenaran ajaran agama yang kita anut. Kita sadar bahwa jalan iman bukanlah hamparan jalan yang ditaburi bunga mawar dan keindahan. Tetapi dipagari duri dan diselimuti batu-batu terjal. Karena kita yakin di sana, di akherat sana ada bidadari bermata jeli yang sedang menanti kedatangan kita. Ada pahala berlipat ganda. Dan ada surga yang mendamba di sana.

• Memiliki keterikatan hati yang kuat dengan al-Qur’an, karena ia adalah penuntun jalan hidup kita, pelita hidup kita. Obor penerang dalam perjalanan kita. Ruh penggerak amal shalih kita. Obat penawar penyakit hati kita. Pengingat kala kita lupa. Pembangkit saat kita terjatuh dan pembangun saat kita terlelap. Sulit membayangkan seorang mukmin yang berjauhan dengan al-Qur’an; tentu matanya sayu, wajahnya suram, hatinya gelap, pandangannya redup, perkataannya kasar, perilakunya tidak sedap di pandang mata dan panas didengar telinga kita.

• Menengadahkan tangan ke langit (berdo’a kepada Allah s.w.t) memohon ketsabatan hati. Kita menjadi kuat jika berpegang pada tangan Zat yang Maha Kuat. Agar kita mampu menyisiri ujian-Nya.

• Banyak berinteraksi dengan orang-orang yang tsabat. Imam Ahmad justru belajar tsabat dari seorang pencuri, yang tsabat ketika dicambuk puluhan kali setiap hari karena ia telah mengambil barang lain tanpa hak.

• Membuka lembaran hidup para salafus shalih. Ibrahim al-harbi pernah bertutur, “Aku menemani imam Ahmad selama dua puluh tahun, di kala malam dan siang, musim panas dan musim dingin, aku tidak melihat setiap harinya terkecuali aku saksikan ke-tsabatan-nya semakin mengagumkan dan amalannya semakin bertambah.”

• Mengenang nikmat Allah s.w.t, di mana Dia memilih kita sebagai pejuang di jalan-Nya. Adakah satu nikmat yang lebih besar dari nikmat tersebut? Tentu tidak ada saudaraku. Menjadi bagian dari busur-busur kebaikan dan kebenaran adalah nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada kita.

Saudaraku,
Mulai hari ini dan seterusnya, mari kita belajar tsabat dalam menjalani ujian hidup, sabar dalam menghadapi mihnah-Nya, tegar dalam menyisiri tribulasi-Nya. Agar kita mendapat balasan lima puluh kali lipat dibandingkan pahala yang Allah berikan kepada para sahabat, generasi terbaik umat ini. Wallahu a’lam bishawab.

Lembah Hijau Puncak, 24 Januari 2015

Fir’adi Abu ja’far

Tidak Ada Jenderal di Depan Istri

“Bukankah engkau mengaku sebagai utusan Allah..?” Ketus Aisyah radhiallahu anha kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam penuh cemburu, suatu saat dalam sebuah perjalanan.

Pasalnya, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam meminta agar barang-barang yang sedikit di onta Aisyah ditukar dengan barang-barang yang banyak di onta Shafiah (Isteri Rasullah saw lainnya). Karena onta Aisyah gagah sedangkan onta Shafiah lambat.

Demikian Al-Haitsami meriwayatkannya dalam kitabnya, Majma Az-Zawaid (dengan sanad dha’if-red).

Ada pelajaran berharga dari cuplikan ‘pernak pernik’ rumah tanggal Rasulullah saw di atas.Yaitu bahwa pasangan suami isteri memiliki pola komunikasi yang khas. Kekhasan yang apabila dikelola dengan bijak dapat menjadi kehangatan hidup berumah tangga.

Ucapan Aisyah radhiallahu anha di atas, jika dilihat dari sudut pandang aqidah, jelas sangat bermasalah, karena dapat dipahami meragukan kerasulan Nabi saw. Namun, tidak demikian halnya jika dilihat dari kekhasan pola komunikasi suami isteri. Yang tampak justeru emosi cinta yang terungkap secara verbal dan refleks melampaui batas-batas pemahaman normatif.

Karenanya, menyikapi hal tersebut, Rasulullah saw hanya tersenyum, bahkan ketika Abu Bakar hendak menegurnya, beliau memintanya untuk membiarkannya, sambil berkata, ‘Sesungguhnya, sifat cemburunya membuat dia tidak dapat melihat dasar lembah dari ketinggian.’

Di antara bentuk komunikasi suami isteri yang sehat adalah manakala komunikasinya telah bersifat lepas, tidak ‘anggah ungguh’, serta tidak terbelenggu oleh simbol dan kedudukan yang ada pada masing-masing pasangan. Tentu saja, setelah hak dan kewajibannya telah dipahami masing-masing.

Pola komunikasi seperti ini, hanya dapat terwujud jika masing-masing pasangan memainkan perannya secara total dalam kehidupan rumah tangga. Namun hal tersebut bukan sesuatu yang dapat terwujud karena pandai berakting ala bintang film yang justeru banyak gagal dalam kehidupan rumah tangga sesungguhnya, tapi yang dibutuhkan adalah ketulusan cinta dan perasaan saling memiliki.

Maka, seorang isteri, walaupun misalnya dia memiliki jabatan terhormat, namun di rumah, jika komunikasi khas tersebut sudah terbentuk, sang suami bisa dengan santainya berkata, ‘Ma, buatkan teh untuk papa dong…’. Atau, seorang jenderal yang diluar begitu ditakuti bawahannya, di rumah, boleh jadi sang isteri dengan enteng mengomelinya karena pulang kemalaman. Karena…. ‘Tidak ada jenderal di depan isteri…..’

Bisa juga seorang ustaz yang diluar begitu dihormati jamaahnya, di rumah, isterinya dengan enteng memarahinya gegara dia meletakkan baju sembarangan.

Tapi saya ga berani bilang ‘Tidak ada ustaz di depan isteri..’

Jika banyak bujangan atau gadis yang sedang ‘mencari-cari’ mengangankan calon pendampingnya dengan sederet status dan simbol kehidupan. Maka, ketika sudah berkeluarga, justeru itulah yang sering menjadi kendala dalam membangun komunikasi hangat antar suami isteri. Tidak jarang kehangatan komunikasi itu terganggu, karena status dan simbol-simbol tersebut masih mendominasi atmosfer komunikasi di antara mereka.

Bayangkan jika suami seorang jenderal, lalu komunikasinya persis seperti seorang prajurit…. “Ma, perintah! siapkan teh manis!” Lalu sang isteri menjawab, “Siap! Laksanakan!” dengan muka tegang dan kaku…

Justeru ketika sudah berkeluarga, yang paling diinginkan suami adalah seorang isteri yang bertindak sebagai ‘isteri’, bukan sebagai dokter, guru, lulusan universitas ternama, anak orang kaya, dll. Begitu pula yang diinginkan isteri dari suaminya.

Suatu saat, pada masa Khalifah Umar bin Khattab, ada seseorang yang ingin mengadukan kepada sang Khalifah tentang sikap isterinya yang suka mengomelinya. Namun setibanya di dekat rumah sang Khalifah, dia mengurungkan niatnya. Apa pasal? Rupanya dari dalam rumah Khalifah, dia mendengar sang isteri sedang memarahi Khalifah. ‘Kalau khalifah saja dimarahi isterinya, apalagi saya…’ pikirnya.. (riwayat maudhu’ atau palsu-red)

Terkadang, omelan dan marah yang masih dalam bingkai cinta itu justeru menghangatkan dan ‘ngangeni’.. Jika dari ‘omelan’ bisa berbuah kehangatan dalam rumah tangga, apalagi canda tawanya…..

Ya Rabb, kumpulkan kami di surgaMu sebagaimana kami Engkau kumpulkan di duniaMu.

Surat Maryam 33 Bukan Dalil Bolehnya Ucapan Natal

Setiap menjelang Natal tentu akan selalu muncul perdebatan soal hukum mengucapkan selamat Natal kepada saudara kita sebangsa yang beragama kristiani. Bahkan beberapa kalangan di Indonesia membolehkan mengucapkan selamat Natal dengan dalih, bahwa ucapan selamat Natal juga dapat ditemui dalam Al-Quran surah Maryam:33.Pendapat seperti ini perlu dkritisi lebih lanjut.

Pertama, redaksi wassalamu yang dinisbahkan kepada nabi Isa ini diucapkan beliau sendiri ketika ibunda Maryam bint Imran dipojokkan dan dituduh para pemuka agama Yahudi bahwa Isa yang baru saja dilahirkan adalah hasil perzinahan. Maryam kemudian menunjuk Isa yang merupakan mukjizat dari Allah swt untuk menepis tuduhan murahan itu (ayat 28-33). Yang perlu dicatat juga bahwa sebelumnya redaksi seperti ini ditujukan pula kepada nabi Yahya as. dengan redaksi wasalamun (ayat 13).

Para ulama menyatakan bahwa jenis redaksi seperti ini (salaam) sering diungkapkan pada saat dan situasi seorang hamba Allah dalam kondisi sangat lemah, tidak kuasa atas makar dan sangat membutuhkan pertolongan dan bantuan-Nya (lihat, Tafsir al-Muharrar al-Wajiz; Ibnu ‘Athiyyah dikutip oleh al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani vol 9 juz 16 hal.107).Karena keduanya, baik Yahya maupun Isa sama-sama dikejar dan ditindas Bani Israil, Yahya berhasil mereka bunuh sementara Isa diselamatkan Allah dan diangkat ke langit.Belum lagi peristiwa kelahirannya mengundang curiga luar biasa. Sehingga wajar keduanya menggunakan redaksi Salaam.

Dengan perbandingan dua situasi ini pula Imam Hasan al-Bisri meriwayatkan dialog antara Isa dengan Yahya yang suatu saat keduanya bertemu, sebagaimana layaknya ikhwah fillah. Yahya bilang kepada Isa: “Akhi doakan saya ya sebab engkau lebih mulia dari aku”, Isa balas menjawab: “Akhi justru anda yang harus mendoakan saya, andalah yang lebih mulia dari saya sebab Allah yang menjamin keselamatan untuk anda (menunjuk redaksi wasalamun alayhi, ayat 13) sedangkan sayalah yang menyatakan keselamatan atas diri saya sendiri bukan Allah yang menjaminnya (menunjuk redaksi wassalamu alayya, ayat 33)”.

Kedua, secara literal dan sepintas redaksi wassalamu diartikan dengan ucapan selamat, bahwa ucapan selamat Natal sudah dicontohkan sendiri oleh nabi Isa as.Dengan asumsi ketika mengucapkannya kita berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang nabi dan hamba Allah, meskipun pihak nasrani yang menerima ucapan itu memaknainya lain dengan persepsi kita. Dalam ilmu bahasa Arab, jenis itu diistilahkan dengan ‘Badi’ at-Tawriyyah’, atau bisa juga disebut al-Iihaam, yaitu penyebutan lafaz yang mengandung dua arti. (lihat al-Qazwini dalam al-Idhah fi ‘ilm al-Balaghah, hlm.331).Sehingga ada Ahli tafsir yang berdalil dengan hadis Abu Talhah bersama istrinya yang menyembunyikan kabar kematian anaknya dengan pengucapan “qad hada’at nafsuh wa arju an yakuna qad istaraha”(tubuh si anak telah tenang tertidur, aku berharap ia bisa istirahat). Riwayat itu bisa kita baca dalam Shahih al-Bukhari, vol.1/438, juga di kitab Riyadh al-Shalihin karya Imam an-Nawawi, hal.19-20. Saya rutin mengajarkan kitab itu kepada jamaah pengajian. Beberapa pekan lalu saya ajarkan hadis ini kepada jamaah rutin malam kamis.

Jika kita telusuri beberapa kitab tafsir otoritatif ternyata bukan seperti itu yang dimaksudkan rangkaian ayat ini. Justru dengan pengakuan tersebut Isa as telah menetapkan bahwa dirinya hanya sebagai hamba yang menyembah Allah swt semata, dia juga sebagaimana makhluk Allah lainnya dilahirkan (hidup), mengalami kematian dan dibangkitkan kembali pada hari pembalasan.Hanya saja beliau akan memperoleh keselamatan sebagaimana para nabi dan rasul lainnya pada hari pembalasan yang keseluruhan manusia sangat sulit untuk memperoleh keselamatan hisab pada hari itu. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 hal.117-118)

Demikian pula, berdalil dengan hadis Abu Talhah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik untuk memperbolehkan ucapan selamat Natal oleh muslim kepada orang Kristen; dengan persepsi yang berbeda dengan persepsi kristen, maka perlu ditinjau kembali. Karena apa yang terjadi pada Abu Talhah tidaklah berkaitan dengan permasalahan akidah. Perkataan tersebut tidak merusak agama dan akidah. Tindakan istri Abu Talhah bermaksud menenangkan hati suaminya yang baru datang dari luar rumah. Sikap itu diambil untuk menjaga keharmonisan, dan agar suami tidak terlalu bersedih karena kematian anaknya. Adapun ucapan selamat Natal dari seorang muslim kepada Kristen merupakan permasalahan yang berkaitan dengan agama dan akidah. Ucapan itu bisa merusak akidah, meskipun tidak otomatis menyebabkan seorang muslim keluar dari Islam. Sementara kita diperintahkan untuk menjaga agama sebagai urutan tertinggi dalam maqashid syari’ah (lihat al-Syathibi dalam kitab al-Muwafaqat, vol.2, hal.8-9). Tidak diragukan lagi, menjaga agama merupakan suatu kewajiban, dan merusak agama adalah suatu keharaman.

Seperti dimaklumi, pengucapan selamat Natal adalah penghormatan keagamaan dan bisa merusak akidah. Sedangkan ucapan ‘tawriyyah’ istri Abu Talhah kepada suaminya adalah persoalan muamalah duniawi. Sehingga penganalogian ucapan selamat Natal dengan ucapan istri Abu Talhah adalah merupakan analogi terhadap dua konteks yang berbeda, atau al-Qiyas ma’a al-Fariq yang itu tidak sah atau batil menurut para ulama. Oleh karena itu argumentasi ahli tafsir tersebut menjadi gugur. (lihat Prof. Ali Mustofa Yakub, Toleransi Antar Umat Beragama, hlm.38)

Ketiga, sesuai konteks rangkaian ayat di atas dan korelasinya dengan rangkaian ayat selanjutnya (ayat 34-37) jelas sekali menolak persepsi kaum Nasrani yang mengangkat Isa al-Masih sebagai anak Tuhan yang patut diselamati.

Terjemahannya sebagai berikut: 34. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. 35. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia 36. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.37. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar

Rangkaian ayat ini justru menepis kebolehan mengucapkan selamat Natal, seperti diyakini orang Nasrani, karena rangkaian ayat yang sebelum ini menjelaskan secara gamblang peristiwa kelahiran Isa dari rahim Maryam ibunya yang dirasa sangat tidak mungkin ia kemudian dinobatkan menjadi anak Tuhan. Isa sesungguhnya adalah anak manusia biasa yang dilahirkan melalui “proses yang diluar kebiasaan”. Isyarat itu terungkap dari ayat 35 surah Maryam. (lihat Fi Zhilal al-Qur’an, juz 4 hal.2308)

Keempat, sesuai analisa bahasa dan sastra Arab, fungsi definitif dari ‘al’ pada kata assalamu adalah untuk semua jenis keselamatan (al lil jinsi). Maka jika digabungkan dengan konteks rangkaian ayat ini untuk pengingkaran dan penolakan akidah Nasrani, maka ia lebih merupakan sindiran (ta’ridl) untuk melaknat kaum Yahudi atas tuduhan zina kepada Maryam, dan juga kepada kaum Nasrani yang menjadikannya juru selamat. Seakan ayat ini memberi pesan bahwa Isa menyatakan semua keselamatan hanya untuk dirinya dan azab lah yang akan ditimpakan kepada para penentangnya.

Fungsi kebahasaan seperti ini sudah berlaku umum dan menjadi ‘urf pemakaian al-Quran, surah Thaha ayat 48 misalnya menyatakan:“wassalamu ala man ittaba’alhuda”, selain makna aslinya ia juga mengandung pesan yang tidak diungkapkan bahwa azab lah yang akan didapat bagi orang yang mendustakan dan berpaling dari petunjuk itu. (lihat al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani, Opcit hal.131). Jadi saya tidak bisa mengerti hingga detik ini, mengapa orang Kristen perlu kita beri ucapan selamat, sementara al-Qur’an sendiri menyindir dan melaknat mereka karena persoalan Natal al-Masih.

Sebagai catatan akhir, para ulama menganggap hari raya non Muslim, bukan termasuk hari raya yang baik dan mendatangkan kebaikan bagi umat Islam. Dalam konteks ini al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi berkata dalam kitabnya al-Amru bil-Ittiba’ wa al-Nahyu ‘ani al-Ibtida’ sebagai berikut:

ومن البدع والمنكرات مشابهة الكفار وموافقتهم في أعيادهم ومواسمهم الملعونة كما يفعله كثير من جهلة المسلمين من مشاركة النصارى وموافقتهم فيما يفعلونه في خميس البيض الذي هو اكبر اعياد النصارى (الحافظ جلال الدين السيوطي، الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع ص 141).

“Termasuk diantara bid’ah dan kemunkaran adalah menyerupai orang-orang kafir dan menyetujui mereka dalam selebrasi hari raya mereka dan acara-acara mereka yang dilaknat Allah. Seperti yang latah dikerjakan oleh orang-orang bodoh umat Islam dalam ikut serta dan menyetujui apa yang mereka rayakan”. (hlm.141)

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka selayaknya ucapan selamat Natal dihukumi haram dan harus dihindari oleh umat Islam. Dalam konteks ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali berkata:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه … وإن بلي الرجل بذلك فتعاطاه دفعا لشر يتوقعه منهم فمشى إليهم ولم يقل إلا خيرا ودعا لهم بالتوفيق والتسديد فلا بأس بذلك وبالله التوفيق. (ابن قيم الجوزية، أحكام أهل الذمة 1/442).

“Adapun ucapan selamat dengan simbol-simbol yang khusus dengan kekufuran maka adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat kepada kafir dzimmi dengan hari raya dan puasa mereka. Misalnya ia mengatakan, hari raya berkah buat Anda, atau Anda selamat dengan hari raya ini dan semisalnya. Ini jika yang mengucapkan selamat dari kekufuran, maka ia termasuk perbuatan haram. Ucapan tersebut sama dengan ucapan selamat kepada orang yang bersujud kepada salib. Bahkan demikian ini lebih agung dosanya menurut Allah dan lebih dimurkai daripada ucapan selamat atas minum khamr, membunuh seseorang, perbuatan zina yang haram dan semisalnya. Apabila seseorang memang diuji dengan demikian, lalu melakukannya agar terhindar dari keburukan yang dikhawatirkan dari mereka, lalu ia datang kepada mereka dan tidak mengucapkan kecuali kata-kata baik dan mendoakan mereka agar memperoleh taufiq dan jalan benar, maka hal itu tidak lah apa-apa.” (lihat Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, juz 1 hal. 442).

Jika ada orang berkata, tidak apa-apa mengucapkan selamat natal, dengan tujuan selamat atas lahirnya Nabi Isa ‘alaihissalam? Ucapan orang ini perlu dipertanyakan. Kepada siapa Anda memberikan fatwa tersebut? Kepada orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya yang diucapkan di rumahnya dan bukan pada hari natal 25 desember? Secara jujur saja, kepada siapa dia mengucapkan selamat natal? Apakah kepada Isa ‘alaihissalam, secara khusus, tanpa diucapkan kepada non-Muslim? Atau selamat natal diucapkan kepada non-Muslim pada hari raya mereka?

Kesimpulan: Pernyataan di atas menyimpulkan bahwa ucapan selamat Natal, hukumnya haram dilakukan oleh seorang Muslim, karena termasuk mengagungkan simbol-simbol kekufuran menurut agamanya. Dan upaya untuk mengaitkan kebolehannya dengan konteks ayat 33 surah Maryam telah gugurkarenatidakrelevansama sekali.

Walhamdu li-Llaahi Rabb al-‘Alamin