Awali Hari Ini dengan Bercermin

Perkataan Rabi’ bin Sulaiman, murid imam Syafi’i,

» كَانَ الشَّافِعِيُّ قَدْ جَزَّءَ اللَّيْلَ : فَثُلُثُهُ الأوَّلُ يَكْتُبُ وَالثَّانِي يُصَلِّيْ ، وَالثَّالِثُ يَنَامُ «

“Adalah imam Syafi’i membagi malam-malam harinya menjadi tiga bagian; sepertiga malam pertama untuk menulis karya, sepertiga malam berikutnya untuk shalat malam dan sepertiga malam lainnya untuk istirahat.”

Saudaraku,
Bercermin kepada orang-orang shalih akan mendatangkan keberuntungan, keberkahan dan kesuksesan. Mengabaikan cermin ini, maka hidup kita tidak akan mempesona, rapih, teratur dan tampil penuh percaya diri. Dan yang pasti jauh dari rahmat Allah s.w.t. Idealnya kita lebih sering bercermin kepada mereka daripada kita mengaca di depan cermin itu sendiri.

Salah seorang salafus shalih yang patut kita jadikan cermin dalam hidup kita adalah imam Syafi’i rahimahullah. Yang menjadi panutan mayoritas umat Islam di negeri kita.

Seandainya kita tak mampu mencontoh seluruh sisi kehidupannya. Paling tidak satu sisi dari kehidupannya. Hanya ironinya, pengikut imam Syafi’i di negeri kita sebagian besarnya baru sekadar menjadi judul buku tanpa isi. Sekadar menjadi kulit, baju dan simbol tanpa makna dan substansi.

Salah satu sisi kehidupan Imam besar ini yang perlu kita teladani adalah bagaimana beliau membagi malam-malamnya di musim dingin menjadi tiga bagian.

• Sepertiga malam pertama, untuk menulis ilmu (buku).

•Sepertiga malam kedua, untuk shalat malam.

•Dan sepertiga malam terakhir untuk istirahat (tidur).

Saudaraku,
Cobalah tengok sejenak tentang diri kita. Untuk apa kita habiskan waktu-waktu kita di malam hari. Terutama di musim hujan ini? Dan jawablah dengan kejujuran nurani.

Sepertiga malam pertama, mungkin kita habiskan waktu di lapangan parkir menyantap sop buntut dan kaki kambing, dan setelah itu kita habiskan waktu-waktu kita di depan layar kaca, menikmati sinetron, kontes dangdut, terpesona dengan kehebatan akting artis dan aktris Bollywood atau nyaman melihat dunia maya lewat internet atau yang seirama dengan itu.

Sepertiga malam kedua, kita pergunakan untuk begadang malam, main catur, ngobrol ngalor ngidul tiada faedah dengan tetangga sambil menunggu jadwal nobar Liga Champion, menyelesaikan proposal kenaikan gaji atau mengkhayalkan primadona desa atau yang senada dengan itu.

Sepertiga malam terakhir, di mana saat itu Allah s.w.t turun ke langit dunia untuk memberi apa yang diminta hamba-Nya, mengabulkan permohonan mereka dan mengampuni dosa orang yang minta ampunan-Nya. Justru kita terlelap di alam mimpi. Cara tidurnya pun tidak meneladani idola umat; Rasulullah s.a.w. Wajar jika setan datang dan mengganggu tidur kita lewat mimpi-mimpi yang tidak kita sukai, dan azan Subuh pun lewat tak terdengar di telinga kita lantana sudah dikencingi makhluk terlaknat sepanjang masa itu.

Saudaraku,
Mengaca pada malam-malam yang dilalui oleh imam Syafi’i, sebenarnya beliau membagi malam-malamnya dalam kerangka menambah ilmu dan berbagi ilmu kepada orang lain melalui tulisan buku. Juga untuk menambah ketaatan kepada Allah melalui shalat malam. Dan yang ketiga untuk mewujudkan firman-Nya, “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian,” yakni istirahat.

Berkarya untuk maslahat dan kebaikan orang lain menyimbolkan keshalihan sosial. Mungkin tidak semua kita mampu menelurkan karya-karya ilmiah, yang bermanfaat bagi masyarakat. Tapi semua kita mampu memberikan maslahat untuk sesama kita.

Imam Syafi’i ingin memberikan pesan kepada kita bahwa hidup kita akan menjadi berkah, dan maslahat dunia dan akherat, jika kita dapat memberi warna kebaikan dan nilai maslahat bagi orang lain. Agar manusia termotivasi melakukan kebaikan, mengukir amal shalih dan menekuni kebajikan. Menuangkan pesan tersebut lewat karya dan tulisan, hanya salah satu di antara sekian banyak cara yang bisa kita lakukan dalam kerangka dakwah amar ma’ruf dan nahi munkar.

Pesan lain yang tersirat dari imam Syafi’i adalah tarbiyah zatiyah (pendidkan mandiri) dengan banyak membaca buku dan menghargai karya-karya ulama. Tujuannya untuk memperluas pengetahuan, menutup celah kekurangan dan kejahilan kita dalam berbagai persoalan agama yang tidak kita ketahui.

Bukan aib, seseorang itu jahil dalam agama. Selama ia sadar dengan keadaannya dan berupaya menyingkirkan kebodohannya dengan banyak belajar secara intens. Baik dengan cara membaca buku atau banyak berkonsultasi dengan orang yang berilmu.

Dan bukan sekadar aib, tetapi musibah, bagi orang yang tiada memiliki ilmu pengetahuan dan bekal yang cukup untuk perjalanan hidupnya yang abadi tetapi ia tidak sadar dengan kekurangannya. Dan ia tidak merasa khawatir dengan masa depannya di sana. Di akherat sana.

Saudaraku,
Imam Bukhari menulis dalam kitab shahihnya bab keutamaan shalat malam. Selanjutnya ia meletakan hadits dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu ‘Umar r.a, bahwa ia berkata, “Seseorang di masa hidup Rasulullah s.a.w apabila bermimpi menceritakannya kepada beliau. Maka aku pun berharap dapat bermimpi agar aku ceritakan kepada Rasulullah s.a.w. Saat aku muda aku tidur di dalam masjid lalu aku bermimpi seakan dua Malaikat membawaku ke Neraka. Ternyata Neraka itu berupa sumur yang dibangun dari batu dan memiliki dua tanduk. Di dalamnya terdapat orang-orang yang aku kenal. Aku pun berucap, ‘Aku berlindung kepada Allah dari Neraka!’

Ibnu ‘Umar melanjutkan ceritanya, ‘Malaikat yang lain menemuiku seraya berkata, ‘Jangan takut!’ Akhirnya aku ceritakan mimpiku kepada Hafshah dan ia menceritakannya kepada Rasulullah s.a.w, lalu beliau bersabda, “Sebaik-baik hamba adalah ‘Abdullah seandainya ia melakukan shalat pada sebagian malam.’

Akhirnya ‘Abdullah bin Umar tidak pernah tidur di malam hari kecuali hanya beberapa saat saja.”

Ibnu Hajar berkata, “Sabda Nabi s.a.w, ‘Sebaik-baik hamba adalah ‘Abdullah seandainya ia melakukan shalat pada sebagian malam.’ Ungkapan ini mengindikasikan bahwa orang yang melakukan shalat malam adalah indikator keshalihan ( orang yang baik). Demikian pula shalat malam bisa menjauhkan seorang dari azab.” (Fath al-Bari, Ibnu Hajar)

Shalat malam merupakan lambang dari keshalihan spiritual. Untuk itulah imam Syafi’i mencontohkan pentingnya memadukan keshalihan sosial dengan keshalihat spiritual. Agar terbangun pribadi yang tawazun dan seimbang.

Matang secara ilmiah tapi mentah dalam amal-amal ruhani adalah palsu. Demikian pula kokoh dalam spiritual tapi ringkih dari sisi ilmiah adalah petaka dan fatamorgana.

Saudaraku,
Istirahat yang paling sesuai dengan kodrat penciptaan manusia adalah tidur di malam hari walau pun hanya sepertiga malam. Dan hal itu akan memberikan dampak yang sangat positif untuk aktifitas kita di hari berikutnya. Dan hal itu tidak tergantikan dengan istirahat di siang hari seberapa pun lama dan waktunya.

Memberikan istirahat yang cukup untuk badan kita merupakan bukti kefaqihan kita dalam beragama. Itulah pesan yang tersirat dari praktek imam Syafi’i rahimahullah. Mari kita bercermin dari imam mazhab terbesar ini.

Saudaraku,
Sudahkah kita bercermin dengan orang-orang shalih hari ini?. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 16 April 2015
Fir’adi Abu Ja’far

3 Model Istri Kita

» أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ «

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah, yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menta’atinya, dan bila ia tiada berada di samping suaminya, ia akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud).

Saudaraku,
Di balik ketegasan dan keangkeran tampilan luarnya, sosok Umar bin Khattab r.a ternyata sangat romantis dan sangat mesra dengan istrinya. Bermanja-manja di depannya dan bahkan terkadang ia seperti seorang bayi dalam pelukan dan kasih sayang istrinya.

Berbeda dengan para suami di masa sekarang, bahkan mungkin kita termasuk di dalamnya. Di luar dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, romantis dan penuh pengertian. Tapi di tengah-tengah keluarga kita, anak-anak mengenal kita sebagai orang tua yang galak dan kasar. Dan di depan istri yang setia menemani perjalanan hidup, kita identik dengan suami yang egois, tertutup, killer, cepat memfonis, sulit memaafkan kesalahan pasangan dan yang senada dengan itu.

Jika demikian apa kira-kira yang akan dibicarakan pasangan hidup kita di belakang kita? Apakah ia akan membanggakan kita di hadapan teman bicaranya? Atau memuji kebaikan kita? Atau sebaliknya ia akan menumpahkan perasaan kesalnya yang selama ini terpendam di sudut hatinya yang terdalam kepada orang lain tentang catatan-catatan buruk tentang kita?.

Saudaraku,
Umar bin Khattab, mertua Rasulullah s.a.w pernah membagi model istri pendamping hidup menjadi 3 (tiga) kelompok:

• Istri yang selalu menjaga kehormatan dirinya, taat kepada Rabb-nya, lemah lembut terhadap suami dan anak-anaknya serta membantu suaminya untuk mentaati Rabb-nya.

• Istri yang tak lebih berperan sebagai lumbung, yang hanya mampu melahirkan anak-anaknya.

• Istri yang berperangai buruk, sekadar menjadi beban berat yang menggelayut di pundak suaminya.

Saudaraku,
Istri model pertama, adalah istri dambaan semua laki-laki yang ingin membangun mahligai keluarga yang beratapkan sakinah, berdindingkan mawaddah dan berhamparkan rahmah.

Dengan sakinah, cinta dalam keluarga selalu berbinar dan bersinar, tak akan redup disapa panas matahari dan tak akan sirna disiram kucuran air hujan yang deras mengalir.

Dengan mawaddah warna dinding keluarga tak akan pernah luntur, walau pun usia pernikahan semakin uzur. Dan cinta tetap kekal walau pun telah masuk ke ling kubur.

Dengan rahmah, hubungan pasutri senantiasa hangat dan mesra, walau pun rumah tangga telah diramaikan suara tawa dan tangisan anak-anak. Keharmonisan semakin meluaskan dada, walau pun kamar tidur terasa sempit mengapit rasa.

Saudaraku,
Ada yang mengistilahkan istri kita sebagai ‘menteri dalam negeri’, ada pula yang menggelarinya sebagai ‘menteri sekretaris negara’. Tapi terasa lebih dekat bila kita menyebutnya sebagai ‘Sekpri’ sekretaris pribadi. Karena memang seharusnya sudah tiada lagi yang kita rahasiakan tentang diri kita. Bahkan baik buruknya zahir dan bathin kita, kartunya sudah ada pada istri kita.

Jika kita memiliki istri model pertama, sebenarnya kita adalah orang terkaya di dunia. Walau pun kita tak memiliki simpanan emas dan permata. Walau pun kita tak memiliki sawah ladang berhektar-hektar luasnya. Walau pun kita belum memiliki kontrakan dan kos-kosan yang kita sewakan kepada orang yang berprofesi wiraswasta dan mahasiswa.

Karena Allah mengilustrasikan istri sebagai sawah ladang milik kita. Karena Rasul junjungan menyebut bahwa istri shalihah adalah perhiasan dunia yang terindah. Jika demikian bukankah kita menjadi orang terkaya di dunia bila telah memilikinya?.

Istri model pertama, jika kita pergi meninggalkannya untuk suatu keperluan yang memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan lamanya dengan tujuan studi, mengais rezki, menularkan ilmu, dan keperluan lainnya, ia akan menjaga kesucian dirinya. Karena ia telah menghibahkan hati, zahir dan bathinnya hanya untuk suaminya seorang. Ia tak pernah menampakkan perhiasan dan kecantikannya selain untuk arjunanya.

Jika suaminya berangkat mengais rezki, maka ia mendo’akannya dan berpesan agar suaminya tak menafkahi anak istrinya dari harta yang syubhat apalagi dari yang haram. Jika suaminya pulang dari tempat kerja atau tugas atau yang lainnya, maka ia sambut dengan seulas senyum tulus merekah, disuguhkan untuknya teh sari cinta dengan gula asmara. Sehingga keletihan dan kelelahan suami dari tempat kerja hilang sirna tak berbekas.

Di malam-malam hari selain ia serahkan dirinya untuk suaminya dalam paket ibadah spesial, ia juga mengajak suaminya untuk menyuburkan cinta dalam keluarga dengan merapat kepada Zat Yang telah Mempertemukan cinta keduanya, melalui shalat malam sebagai manifestasi dari sabda Nabi s.a.w, “Allah merahmati seorang istri yang bangun di tengah malam lalu shalat (tahajjud) dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan untuk bangun, maka ia pun memercikkan air ke wajah suaminya.” (HR Abu Dawud).

Karena ia yakin, kedekatan dan keharmonisan hubungan dengan yang di Atas akan memantulkan cinta dan kedekatan pada keduanya. Sebaliknya keringnya interaksi dengan yang di Atas akan berdampak pada rapuhnya cinta dan ringkihnya pijakan kasih keduanya.

Dan sudah barang tentu shalat malam yang dilakukan dengan berjama’ah oleh pasutri merupakan simbol perpaduan antara kekuatan ruhani dengan keintiman jasmani.

Perjalanan kapal keluarga dalam mengarungi samudera hidup, jika suami yang menjadi nahkoda kapal didampingi istri seperti ini, maka kapal cinta terus melaju kencang tanpa ada hambatan sebagai penghalang. Tak tergoncang dengan badai. Tak terombang-ambing karena ombak. Tak terbutakan pandangan karena awan gelap. Tak ada nyanyian kesal saat suplai makanan terlambat dan terhambat. Karena ia tahu, apapun keadaan dan kondisi kapal saat berlayar, sang nahkoda tetap berupaya memandu kapal agar tetap melaju sampai ke darat. Selamat hingga ke akherat.

Hidup berdampingan dengan istri model pertama ini, hidup terasa seperti dalam surga Firdausi. Pelangi selalu menghiasi langit-langit hati. Senyuman terus menghiasi hari-hari. Rahmat-Nya menjelma di alam realiti.

Saudaraku,
Salah satu tujuan membangun rumah tangga adalah lahirnya generasi dan anak-anak yang berbakti. Bahkan seorang ibu penjual sayur di kawasan Rawasari pernah menggambarkan bahwa anak adalah tali cinta. Artinya dengan hadirnya sang buah hati, maka cinta dalam keluarga semakin membahana.

Sebaliknya, tanpa kehadiran anak setelah belasan tahun menikah, terkadang pasutri dihantui perasaan lelah dan bosan berumah tangga. Terlebih ketika tiada iman di dalam hati, maka hal itu menjadi kunci problematika keluarga yang tak berujung, hingga terbuka pintu perpisahan. Tapi jika dilihat dengan kaca mata iman, belum hadirnya buah hati bisa dimaknai sebagai bulan madu yang selalu diperpanjang tanpa batasan.

Namun bukan berarti peran istri hanya sekadar melahirkan anak-anak kita. Yang tidak kalah pentingnya adalah ia mampu menjadi madrasah terbaik bagi anak-anak kita.

Untuk itu istri di rumah harus berperan aktif menambah wawasan keilmuannya secara mandiri, untuk menopang tugas suci yang dibebankan di pundaknya, yakni pendidikan anak. Jika tidak, maka ia hanya menjadi semacam lumbung, yang bertugas melahirkan anak-anak dari suaminya. Ia tidak tahu, bagaimana cara mengembangkan potensi kebaikan dalam dirinya.

Repot, menjadi alasan klasik istri model kedua ini saat kita membimbing dan memandunya dengan sabar untuk menapaki tangga-tangga ilmu.

Capek dan ribet, itulah kata-kata yang keluar dari bibirnya yang mungil saat kita mengajaknya untuk mengunjungi ma’had tahfizh dan program parenting dan yang senada dengan itu.

Saudaraku,
Model istri ketiga, seperti istri pembawa kayu bakar dalam rumah tangga kita. Pencipta neraka dalam keluarga. Sakinah, mawaddah wa rahmah yang menjadi tujuan asasi dari sebuah pernikahan menjadi panggang jauh dari api.

Dimulai dari permintaan mahar yang selangit, yang memberatkan pundak suaminya. Konsumtif dalam membelanjakan harta suaminya. Pakaian dan perabot rumah tangganya selalu yang ber-merek. Apatah lagi untuk dandanan dan alat-alat kecantikannya, semua produk Eropa dan Amerika. Semua keinginannya dipikulkan kepada suaminya yang lemah.

Jika ia melihat kekurangan dan kelemahan dari suaminya, ia menyebarkannya kepada tetangga-tetangganya seolah-olah menjadi berita hangat di pagi hari.

Istri model inilah yang pernah disinggung Nabi s.a.w dalam sabdanya, “Aku melihat surga -atau aku diperlihatkan surga- lalu aku makan setangkai anggur dari surga itu. Seandainya aku ambil tentu kalian memakannya yang tersisa dari dunia. Aku melihat neraka dan belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu. Aku melihat mayoritas penduduknya adalah wanita.“

Para shahabat bertanya, “Mengapa demikian wahai Rasulullah?.” Beliau bersabda, “Karena kekufuran mereka”. Beliau ditanya (lagi), “Apakah mereka mengingkari Allah?.” Beliau bersabda, “Mereka mengingkari suami dan kebaikannya. Andaikata engkau berbuat kebaikan pada mereka sepanjang masa kemudian ia melihat sesuatu yang tidak disenanginya darimu, ia berkata ‘aku tidak melihat kebaikan darimu sama sekali’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku,
Paras yang menarik tanpa dipercantik dengan kepribadian yang mempesona adalah fatamorgana. Terlebih lagi jika ia mulai bersolek untuk orang ketiga. Jika demikian, maka bencana telah mengintip dari jendela keluarga.

Mempunyai istri model ketiga ini seperti menggenggam bara api. Semacam bernafas dalam lumpur. Menatap ruang dalam debu. Berlayar dalam badai. Nasib kapal cinta menjadi tak tentu arah. Dan mungkin pada akhirnya menghantam gunung es, dan tenggelam di lautan atlantik yang dalam.

Saudaraku,
Mari kita arahkan dan kita ajak istri kita dengan cinta dan kelembutan, agar ia dapat menapaki tangga-tangga perjalanan menuju model istri pertama. Sehingga di dunia kita menjadi suami paling bahgia di dunia. Dan di akherat, menggapai surga dapat terlaksana, amien. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 11 Maret 2015
Fir’adi Abu Ja’far

Menjaga Kesucian Diri

» قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ, وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ »

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya.” (QS. An-Nur: 30-31).

Saudaraku,
Ahmad Farid dalam kitabnya “mawaqif imaniyah” banyak mengutip kisah orang-orang yang Allah jaga dari godaan (fitnah) wanita. Dalam tulisan ini kita cukupkan untuk mengutip kisah salaf (‘Atha bin Yasar) dan khalaf (Sayyid Qutub) dalam masalah ‘iffah, yaitu memelihara kesucian diri.

Abdurrahman bin Zaid bin Aslam bertutur,
“Suatu ketika ‘Atha bin Yasar dan Sulaiman bin Yasar keluar dari kota Madinah untuk menunaikan ibadah Haji bersama rombongan. Sehingga ketika mereka telah berada di al-‘Abwa mereka singgah di tempat persinggahan mereka. Sulaiman bin Yasar dan rombongan pergi untuk memenuhi kebutuhan mereka, dan tinggallah ‘Atha sendirian melaksanakan shalat malam.

Ketika itu masuklah ke tempat persinggahan ‘Atha seorang wanita dusun yang cantik jelita. Ketika ‘Atha’ merasakan kehadiran wanita itu, ‘Atha mengira bahwa wanita itu punya keperluan, maka ‘Atha pun meringankan bacaan shalatnya.

Ketika ‘Atha telah menyelesaikan shalat malamnya, ‘Atha bertanya kepada wanita itu, “Apakah engkau punya keperluan?.”

Wanita itu menjawab, “Ya”. ‘Atha bertanya lagi, “Apa keperluanmu itu?.”

Wanita itu berkata, “Bangkitlah, lalu curahkanlah kasih sayangmu kepadaku! sesungguhnya aku seorang wanita yang ingin merasakan sentuhan laki-laki sepertimu (karena ‘Atha memiliki paras yang rupawan) dan aku belum memiliki pasanagan hidup.”

‘Atha berkata, “Menjauhlah dariku! Janganlah engkau lemparkan aku dan dirimu ke dalam api neraka!.”

Lalu wanita itu berusaha merayu dan menggoda ‘Atha dan tetap bersiteguh untuk memenuhi apa yang diinginkannya. Maka mulailah ‘Atha menangis seraya berkata, “Menjauhlah engkau dariku! Menjauhlah engkau dariku!.”

Tangisan ‘Atha makin lama makin keras. Ketika wanita cantik itu melihat ‘Atha dan merasakan getaran tangisan serta kecemasan yang menimpa ‘Atha, menangislah wanita itu mengiringi tangisan ‘Atha.

Di saat ‘Atha dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Sulaiman bin Yasar datang setelah memenuhi keperluannya.

Ketika Sulaiman melihat ‘Atha sedang menangis, dan seorang wanita di hadapannya sedang menangis di sudut ruangan, Sulaiman pun menangis mengikuti tangisan keduanya padahal Sulaiman tidak tahu apa yang menyebabkan keduanya menangis.

Setelah itu datanglah sahabat-sahabat satu rombongan dengan ‘Atha dan Sulaiman satu persatu. setiap kali seorang sahabat itu datang ke tempat persinggahan mereka lalu melihat mereka sedang menangis, maka sahabat itu pun duduk sambil menangis karena mendengar tangisan mereka tanpa menanyakan perihal tangisan mereka, sehingga tangisan pun meluas dan suara tangisan terdengar keras bersahut-sahutan.

Ketika wanita dusun itu menyaksikan keadaan seperti itu, ia pun berdiri lalu pergi keluar dan berdirilah para sahabat ‘Atha lalu masuk ke dalam. Sulaiman terdiam setelah itu dan dia tidak menanyakan apa-apa kepada saudaranya (‘Atha) tentang kisah wanita itu karena merasa hormat dan segan. ‘Atha lebih muda darinya.

Kemudian keduanya datang ke Mesir untuk memenuhi sebagian kebutuhan mereka. Keduanya tinggal di Mesir beberapa waktu lamanya. Pada suatu malam ‘Atha terbangun dalam keadaan menangis. Sulaiman bertanya kepadanya, “Apa yang membuatmu menangis, wahai adikku?.”

‘Atha menjawab, “Aku telah bermimpi tadi malam.”
Sulaiman berkata, “Mimpi apakah itu?.” Berkata ‘Atha, “Aku akan menceritakan mimpiku kepadamu dengan syarat, engkau tidak menceritakan mimpi ini kepada siapa pun selama aku masih hidup.”

Berkata Sulaiman, “Akan kupenuhi syaratmu.” Berkata ‘Atha, “Aku melihat Nabi Yusuf a.s di dalam mimpiku. Maka aku pun mendatangi beliau untuk melihatnya, maka aku (kagum) melihat ketampanan beliau maka aku pun menangis. Maka beliau melihatku di tengah kerumunan orang banyak lalu beliau berkata, ‘Mengapa engkau menangis wahai saudaraku?.”

Aku (‘Atha) berkata, “Ayah dan ibuku sebagai tebusanmu wahai Nabi Allah. Aku teringat (kisah) engkau dengan istri al-Aziz dan ujian yang menimpa engkau dari godaan wanita cantik tersebut. Dan apa yang engkau rasakan di dalam penjara karena keteguhanmu. Dan perpisahanmu dengan ayahanda Ya’qub yang sudah berusia lanjut. Aku menangis karena mengingat hal itu semua dan itulah yang membuatku kagum.”

Berkata Nabi Yusuf a.s, “Mengapa engkau tidak kagum terhadap pemilik (kisah dengan) seorang wanita dusun di al-‘Abwa?.” Aku mengerti maksud beliau (Nabi Yusuf a.s). Oleh sebab itu aku menangis dan terbangun dalam keadaan menangis.”

Berkata Sulaiman, “Wahai adikku, apakah yang sebenarnya terjadi antara engkau dengan wanita dusun malam itu?.”

Maka ‘Atha pun menceritakan kisahnya dengan wanita itu, kisah itu pun tidak pernah diberitahukan kepada seorangpun sampai ‘Atha wafat. Setelah ‘Atha wafat barulah salah satu dari keluarganya menceritakan kisah itu kepada orang lain.

Sulaiman bin Yasar berkata, “Kisah ini baru popular di masyarakat Madinah sepeninggal ‘Atha bin Yasar.”

Saudaraku,
Ketika Sayyid Qutub menumpang sebuah kapal laut dari Mesir menuju benua Amerika dalam rangka melakukan tugas penelitian.

Cobaan datang untuknya pertama kali terjadi ketika seorang wanita cantik tiba-tiba mengajaknya bercinta di sebuah kamar kapal. Hal itu terjadi tidak lama setelah Sayyid Quthb memasuki kamarnya untuk istirahat.

Saat itu suara seorang wanita terdengar mengetuk pintu kamarnya. Sayyid Quthb lalu membukanya. Tak disangka, ternyata di hadapannya telah berdiri seorang wanita setengah telanjang dengan gaya merangsang. Sang wanita itu menyapa Sayyid lewat bahasa Inggris, “Bolehkah aku menjadi tamu tuan malam ini?.”

Sayyid terperangah. Ia sadar sedang diuji oleh Allah, karena Sayyid sudah bertekad menyerahkan seluruh jiwa dan raganya hanya untuk Islam. “Aku bermaksud menjadi orang kedua, yakni orang Islam yang loyal dan kukuh berbeda dengan sebelumnya, dan Allah hendak mengujiku, apakah maksud dan niatku ini benar, atau hanya sekedar bisikan hati saja?.” gumam Sayyid membatin.

Ketika ia sadar dari lamunan hatinya, ia lekas mengangkat kepalanya, lalu menolak rayuan wanita itu secara halus. Namun, wanita itu bergeming. Melihat kondisi tidak berubah ke arah lebih baik, Sayyid mengatakan, “Di kamar hanya ada satu tempat tidur, maaf.”

Mendengar jawaban Sayyid, wanita itu semakin mendesak untuk masuk. Wanita itu berkata, “Zaman sekarang sudah biasa, satu ranjang untuk dua orang.” Pada titik itulah, Sayyid bersikap lebih tegas. Dengan iman yang teguh, ia mengusir sang wanita menjauh dari kamar. Wanita itu terjatuh dan kepalanya menabrak pintu karena ia sedang mabuk.

Saudaraku,
Itulah kisah orang-orang shalih yang telah sukses menaklukan godaan wanita. Kita tidak bisa membayangkan sekiranya hal itu terjadi menimpa kita? Mungkin memikul gunung semeru jauh lebih ringan daripada menghadapi godaan kaum hawa untuk melayari samudera cinta terlarang.

‘Iffah dalam kamus lisan al-Arab karya Ibnu Manzhur, berarti memelihara diri dari sesuatu yang tak halal dan menjaga diri dari perkara-perkara yang bisa menodai keelokan pekerti.

Rasulullah s.a.w telah mewanti-wanti kita dengan sabdanya, “Aku tidak meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berat daripada fitnah wanita.” (Muttafaq alaih).

Bahkan Nabi s.a.w memberi garansi surga bagi orang yang mampu mengekang kemaluannya, “Barangsiapa yang menjaga apa yang ada di antara dua bibir (lisan)-nya dan di antara dua paha (kemaluan)-nya, maka aku jamin ia masuk ke dalam Surga.” (HR. Bukhari).

Tidaklah ada garansi surga dari Nabi s.a.w, terkecuali pengamalannya sangat berat dan membutuhkan kesungguhan puncak untuk merealisasikannya dalam kehidupan kita. Karena faktanya, banyak yang terpuruk lantaran ucapan lisan, dan tidak sedikit yang harus menanggung malu di dunia, karena tak mampu mengendalikan syahwat kemaluannya.

Ibnu al-Qayyim menjelaskan ada beberapa faktor yang mendorong orang-orang shalih menjaga kesucian diri, di antaranya:

• Memuliakan al-Jabbar (Yang Maha Agung), dan merindukan bidadari bermata jeli di dar al-qarar (kediaman yang abadi) yakni surga. Karena orang yang menikmati persenggamaan dengan cara yang Allah haramkan, maka ia tak dapat bercumbu dengan para bidadari di surge kelak. Nabi s.a.w mengilustrasikan hal itu dalam sabdanya, “Barangsiapa yang memakai pakaian sutera di dunia (laki-laki), maka dia tidak akan memakainya di akherat.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah).

• Tingkatan kedua adalah orang yang menjaga kesucian dirinya karena sekadar takut terhadap siksa-Nya di akherat. Hadits Abu Umamah al-Bahili r.a, Rasulullah s.a.w bersabda (pada peristiwa mi’raj), “… Kemudian keduanya membawaku, ternyata ada satu kaum yang tubuh mereka sangat besar, bau tubuhnya sangat busuk, paling jelek dipandang, dan bau mereka seperti bau tempat pembuangan kotoran. Aku tanyakan, ‘Siapakah mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Mereka adalah pezina laki-laki dan perempuan’.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban).

• Tingkatan ketiga adalah orang yang menjaga ‘iffah dirinya lantaran takut dengan aib dan malu di dunia.

Saudaraku,
Yang tidak kalah pentingnya agar kita dapat menghiasi diri dengan pakaian ‘iffah adalah kita menjaga pandangan, di mana kita tidak memandang dan menikmati kecantikan atau ketampanan seseorang melainkan yang telah Allah pasangkan untuk kita di dunia.

Rasulullah s.a.w bersabda, “Pandangan adalah panah yang beracun, yang merupakan salah satu panahnya Iblis.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Untuk itu Ibnu Katsir menafsirkan ayat 30-31 surat an-Nur dengan perkataannya, ‘Dengan ayat ini Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar menundukkan pandangan mereka dari segala sesuatu yang diharamkan (untuk dilihat). Oleh karena itu, jangan melihat sesuatu kecuali yang dibolehkan. Jika pandangan seseorang beradu dengan sesuatu yang haram tanpa bermaksud melihatnya, maka hendaknya ia mengalihkan pandangannya dengan segera’.

Mudah-mudahan Allah s.w.t senantiasa membimbing kita agar kita selalu melangkah dan menapaki jalan ‘iffah, sehingga kehormatan kita di dunia terjaga dan di akherat mendapatkan bidadari nan cantik jelita di surga-Nya yang kekal abadi. Amien ya Rabb. Wallahu a’lam bishawab.

***

Tentunya sudah sering kita mendengarkan, seperti kisahnya Nabi Yusuf ‘alahissalam ketika diajak oleh Istrinya Raja untuk berzina, namun dia menolak karena takut kepada Allah.
Kisah yang satu ini juga menceritakan tentang seorang pemuda tampan yang diajak berzina oleh seorang wanita cantik, namun dia pun menolak ajakannya karena takut kepada Allah. Apa yang dilakukan oleh pemuda ini agar bisa lolos dari godaan & jeratan wanita ini??? Inilah kisahnya…

Ada seorang pemuda yang kerjanya menjual kain. Setiap hari dia memikul kain-kain dagangannya dan berkeliling dari rumah ke rumah. Kain dagangan pemuda ini di kenal dengan nama “Faraqna” oleh orang-orang. Walau pun pekerjaannya sebagai pedagang, tetapi pemuda ini sangat tampan dan bertubuh tegap, setiap orang yang melihat pati menyenanginya.

Pada suatu hari, saat dia berkeliling melewati jalan-jalan besar, gang-gang kecil dan rumah-rumah penduduk sambil berteriak menawarkan dagangannya: “faraqna-faraqna”, tiba-tiba ada seorang wanita yang melihatanya. Si wanita itu memanggil dan dia pun menghampirinya. Dia dipersilakan masuk ke dalam rumah. Di sini si wanita terpesona melihat ketampanannya dan tumbuhlah rasa cinta dalam hatinya.

Lalu si wanita itu berkata : “Aku memanggilmu tidak untuk membeli daganganmu tetapi aku memanggilmu karena kecintaanku kepadamu. Dan dirumah ini sekarang kosong. ” Selanjutnya, si wanita ini membujuk dan merayunya agar mau berbuat sesuatu dengan dirinya. Pemuda ini menolak, bahkan dia mengingatkan si wanita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menakut-nakuti dengan azab yang pedih di sisiNya.

Tetapi sayang, nasehat itu tidak membuahkan hasil apa-apa, bahkan sebaliknya, si wanita makin berhasrat. Dan memang biasa, orang itu senang dan penasaran dengan hal-hal yang dilarang… Akhirnya, karena si pemuda ini tidak mau melakukan yang haram, si wanita malah mengancam, katanya: “Bila engkau tidak mau menuruti perintahku, aku berteriak pada semua orang dan aku katakan kepada mereka, bahwa engkau telah masuk ke dalam rumahku dan ingin merenggut kesucianku. Dan mereka akan mempercayaiku karena engkau telah berada dalam rumahku, dan sama sekali mereka tidak akan mencurigaiku.”

Setelah si pemuda melihat betapa si wanita itu terlalu memaksa untuk mengikuti keinginannya berbuat dosa, akhirnya dia berkata: “Baiklah, apakah engkau mengizinkan aku untuk ke kamar mandi agar bisa membersihkan diri dulu?” Betapa gembiranya si wanita mendengar jawaban ini, dia mengira bahwa keinginannya sebentar lagi akan terpenuhi. Dengan penuh semangat dia menjawab : “Bagaimana tidak wahai kekasih dan buah hatiku, ini adalah sebuah ide yang bagus.”

Kemudian masuklah si pemuda itu ke kamar mandi, sementara tubuhnya gemetar karena takut dirinya terjerumus dalam kubangan maksiat. Sebab, wanita itu adalah perangkap syaitan dan tidak ada seorang laki-laki yang menyendiri bersama seorang wanita kecuali syaitan dari pihak ketiga.

“Ya Allah, apa yang harus aku perbuat. Berilah aku petunjukMu, Wahai Dzat yang memberi petunjuk bagi orang-orang yang bingung .” Tiba-tiba, timbullah ide dalam benaknya.” Aku tahu benar, bahwa termasuk salah satu kelompok yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada hari yang tidak ada naungan saat itu kecuali naunganNya adalah seorang laki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita yang mempunyai kedudukan tinggi dan wajah yang cantik, kemudian dia berkata: “Aku takut kepada Allah.” Dan aku yakin bahwa orang yang meninggalkan sesuatu karena takut kepadaNya, pasti akan mendapat ganti yang lebih baik dan seringkali satu keinginan syahwat itu akan penyesalan seumur hidup.”

“Apa yang akan aku dapatkan dari perbuatan maksiat ini selain Allah akan mengangkat cahaya dan nikmatnya iman dari hatiku… Tidak… tidak… Aku tidak akan mengerjakan perbuatan yang haram… Tetapi apa yang akan harus aku kerjakan. Apakah aku harus melemparkan diri dari jendela ini? Tidak bisa, jendela itu tertutup rapat dan sulit dibuka. Kalau begitu aku harus mengolesi tubuhku dengan kotoran yang ada di WC ini, dengan harapan, bila nanti dia melihatku dalam kedaan begini, dia akan jijik dan akan membiarkanku pergi.”

Ternyata memang benar, ide yang terakhir ini yang dia jalankan. Dia mulai mengolesi tubuhnya dengan yang ada di situ. Memang menjijikkan. Setelah itu dia menangis dan berkata: “Ya Rabbi, wahai Tuhanku, perasaan takutku kepadaMu itulah yang mendorongku melakukan hal ini. Oleh karena itu, karuniakan untukku ‘kebaikan’ sebagai gantinya.”

Kemudian dia keluar dari kamar mandi, tatkala melihatnya dalam keadaan demikian, si wanita itu berteriak : “keluar kau hai orang gila!” Dia pun cepat-cepat keluar dengan perasaan takut diketahui orang-orang, jika mereka tahu, pasti akan berkomentar macam-macam tentang dirinya. Dia mengambil barang-barang dagangannya kemudian pergi berlalu, sementara orang-orang tertawa melihatnya. Akhirnya dia tiba dirumahnya , di situ dia bernapas lega. lalu menanggalkan pakaiannya, masuk kamar mandi dan mandi membersihkan tubuhnya dengan sebersih-bersihnya.

Kemudian apa yang terjadi? Adakah Allah akan membiarkan hamba dan waliNya begitu saja? Tidak… Ternyata, ketika dia keluar dari kamar mandi, Allah Subhanahu wa Ta’alah memberikan untuknya sebuah karunia yang besar, yang tetap melekat di tubuhnya sampai dia meninggal dunia, bahkan sampai setelah dia meninggal. Allah telah memberikan untuknya aroma yang harum semerbak yang tercium dari tubuhnya. Semua orang dapat mencium aroma tersebut dari jarak beberapa meter. Sampai akhirnya dia mendapat julukan “Al-miski” (yang harum seperti kasturi).

Subhanallah, memang benar, Allah telah memberikan untuknya sebagai ganti dari kotoran yang dapat hilang dalam sekejap dengan aroma wangi yang dapat tercium sepanjang masa. Ketika pemuda itu meninggal dan dikuburkan, mereka tulis diatas kuburanya “Ini kuburan Al-Misky”, dan banyak orang yang menziarahinya.
Demikianlah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan membiarkan hambaNya yang shalih begitu saja, tapi Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu membelanya, Allah senantiasa membela orang-orang yang beriman, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam hadits QudsiNya yang artinya: “Bila dia (hamba) memohon kepadaKu, pasti akan Aku beri. Mana orang-orang yang ingin memohon?!”

Pembaca yang budiman! Setiap sesuatu yang engkau tinggalkan, pasti ada gantinya. Begitu pula larangan yang datang dari Allah, bila engkau tinggalkan, akan ada ganjaran sebagai penggantinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberikan ganti yang besar untuk sebuah pengorbanan yang kecil.
Allahu Akbar.

Manakah orang-orang yang mau meninggalkan maksiat dan taat kepada Allah sehingga mereka berhak mendapatkan ganti yang besar untuk pengorbanan kecil yang mereka berikan? Tidakkah mereka mau menyambut seruan Allah, seruan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan seruan fitrah yang suci?

Metro, 06 Maret 2015

Fir’adi Abu Ja’far