Hakikat Zuhud Terhadap Dunia

» وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ «

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan hanya senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, jikalau mereka mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64).

Saudaraku,
Pakaian sederhana, lusuh dan memercikan bau tak sedap. Rambut kusut karena jarang dirapihkan dan disisir. Mata cekung dan nafasnya sesak. Berbicara pelan dan lemah tubuhnya. Pergi ke mana saja memakai sandal jepit dan yang senada dengan itu. Itulah gambaran zuhud yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin.

Zuhud menurut bahasa berarti berpaling dari sesuatu karena rendahnya sesuatu tersebut dan karena (seseorang) tidak memerlukannya.  Dalam bahasa Arab terdapat ungkapan “syaiun zahidun” yang berarti “sesuatu yang rendah dan hina”.

DR. Ahmad Farid dalam karyanya “Tazkiyah al-Nafs” mengutip beberapa perkataan alafus shalih dalam mendefinisikan zuhud:

Hasan al-Basri menuturkan bahwa orang zuhud adalah orang yang ketika melihat seseorang ia berkata, “dia lebih zuhud dariku.”

Ibrahim bin Adham membagi zuhud menjadi tiga macam, zuhud wajib, keutamaan dan keselamatan. Zuhud wajib adalah zuhud dari meninggalkan perkara yang haram. Zuhud keutamaan adalah zuhud dari barang yang halal. Sedangkan zuhud keselamatan adalah zuhud meninggalkan perkara-perkara yang syubhat.

Sedangkan Yunus bin Maesarah menyatakan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah atau tidak disapa bencana adalah sama saja, sebagaimana sikapmu adalah sama saja (konsisten) baik mendapatkan pujian atau celaan dalam melaksanakan kebenaran.

Saudaraku,
Abu Sulaiman al-Darani Di sini zuhud menafsirkan zuhud dengan tiga perkara yang semuanya berkaitan dengan perbuatan hati (amal bathin) dan bukan aktifitas tubuh manusia (zahir), sehingga sulit menyaksikan orang zuhud dalam kehidupan:

• Bagi seorang hamba yang zuhud, meyakini bahwa apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada apa yang ada di tangannya sendiri. Hal ini tumbuh dan muncul dari keyakinannya yang kuat dan lurus terhadap kekuasaan Allah.

Abu Hazim seorang yang zuhud pernah ditanya, “Berupa apakah hartamu?.”
Ia menjawab, “Dua macam. Yang dengan dua hal tersebut aku tidak pernah takut miskin; karena percaya kepada Allah, dan tidak pernah mengharapkan apa yang ada di tangan manusia.”

Kemudian ia ditanya lagi, “Engkau tidak takut miskin?.”
Ia menjawab, “(Mengapa) aku harus takut miskin, sedangkan Rabb-ku adalah pemilik langit, bumi serta apa yang berada di antara keduanya.”

Ammar bin Yasir r.a pernah menasihati kita, “Cukuplah kematian sebagai penasihat, keyakinan sebagai kekayaan dan ibadah sebagai kesibukan.

Ibnu Mas’ud r.a memperkuat keyakinan kita dengan ucapannya, “Keyakinan adalah bahwa engkau tidak rela terhadap manusia karena murka Allah, tidak membenci seseorang karena rezki dari Allah dan tidak mencela orang lain karena apa yang tidak diberikan Allah kepadamu.”

Saudaraku,
• Apabila seorang hamba tertimpa musibah di dunia, baik itu kehilangan harta, kematian anak atau yang lainnya, dia lebih mengharapkan pahala karena musibah tersebut daripada mengharapkan kembalinya harta atau anaknya tersebut. Hal ini juga timbul karena keyakinannya yang sempurna kepada Allah.

Ali bin Abi Thalib r.a berkata, Barangsiapa zuhud terhadap dunia, maka berbagai musibah terasa ringan baginya.”

Seorang salaf berkata, “Andai saja tidak ada musibah, niscaya kami akan sampai ke akherat sebagai orang-orang yang bangkrut.”

Saudaraku,
• Seorang hamba akan bersikap sama, antara mendapatkan pujian atau pun mendapat cercaan dari orang lain, selama ia tetap berada di atas jalur kebenaran. Karena kalau seseorang menganggap dunia itu besar, maka dia akan lebih memilih pujian daripada celaan. Hal itu akan mendorongnya untuk meninggalkan kebenaran karena khawatir dicela atau dijauhi (oleh manusia), atau bisa jadi dia melakukan kebatilan karena mengharapkan pujian.

Jadi, apabila seorang hamba telah menganggap sama kedudukan antara orang yang memuji atau yang mencelanya, berarti menunjukkan bahwa kedudukan makhluk di hatinya adalah rendah, dan hatinya dipenuhi dengan rasa cinta kepada kebenaran.

Saudaraku,
Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, yaitu dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Ia jadikan dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Lihatlah Nabi, teladan bagi orang-orang yang zuhud, beliau mempunyai sebelas istri.

Demikian juga Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagai seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam al-Qur’an.

Para Sahabat, juga mempunyai istri-istri dan harta kekayaan, yang di antara mereka ada yang kaya raya. Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.

Terakhir saudaraku,
Ibnu Mas’ud r.a pernah berucap, “Setiap orang adalah tamu dan memiliki hutang di dunia. Adapun tamu, maka ia harus meninggalkan tempat persinggahan sementara, sedang utang harus dikembalikan kepada yang punya.”

Salafus shalih menyebut cinta dunia (tidak zuhud) sebagai pangkal semua kesalahan dan merusak agama melalui beberapa segi:

Pertama, cinta dunia akan mendorong seseorang untuk mengagungkannya, padahal dunia sangat rendah di hadapan Allah s.w.t, sementara di antara dosa terbesar adalah mengagungkan apa yang direndahkan Allah s.w.t.

Kedua, sesungguhnya Allah melaknat, membenci dan memurkai dunia, kecuali yang diperuntukkan baginya.

Ketiga, jika seseorang mencintai dunia, maka ia akan menjadikan dunia sebagai tujuannya.

Keempat, cinta dunia menghalangi antara hamba dan perbuatan yang manfaatnya di akherat kembali kepadanya, karena ia sibuk dengan dunia yang dicintainya.

Kelima, cinta dunia menjadikan dunia sebagai cita-cita terbesar bagi seorang hamba.

Keenam, pecinta dunia adalah orang yang paling tersiksa karenannya.

Ketujuh, cukup dikatakan orang yang cinta dunia adalah manusia yang paling naif dan terbatas ilmu pengetahuannya.

Saudaraku,
Sudahkah kita menjadi orang yang zuhud ataukah berpura-pura zuhud?. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 19 Nopember 2014
Fir’adi Abu Ja’far

Fir'adi Nasruddin

Pertolongan Allah Sangat Dekat

 أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۖ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّىٰ يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَىٰ نَصْرُ اللَّهِ ۗ أَلَا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214).

Saudaraku,
Pernahkah kita mendengar nama Abu Muslim al-Khaulani?. Ia adalah salah seorang tabi’in yang sangat dikenal dengan keshalihannya. Bibirnya tidak pernah kering dari zikir kepada Allah. Amal ibadahnya sangat mengagumkan. Budi pekertinya begitu memikat, patut dijadikan cermin kehidupan buat kita untuk mengaca dan mengevaluasi diri.

Nama aslinya adalah Abdullah bin Tsuwab. Ka’ab menggelarinya dengan ‘Hakim hadzihi al-ummah’ penasihat bijak umat ini. Ada pula yang memberinya gelar ‘raihanah al-Syam’, semerbak kasturinya negeri Syam.

Pada suatu hari ia menemui al-Aswad al-‘Ansy (nabi palsu) di Shan’a Yaman. Sesampainya di Shan’a terjadilah dialog di antara keduanya.

Al-Aswad berkata kepada Abu Muslim, “Apakah engkau mempersaksikan bahwa aku adalah utusan Allah?.”

Dengan tenang ia menjawab, “Wahai musuh Allah, aku tidak melihatmu melainkan sebagai pendusta, dan pada dirimu tidak terdapat sedikit pun simat (tanda-tanda) nubuwah!.”

Dengan amarah yang membara al-Aswad memerintahkan para pengikutnya mengumpulkan kayu bakar untuk membakar jasad Abu Muslim. Pada saat mereka melemparkan tubuhnya ke tengah-tengah kobaran api yang menjilat-jilat membumbung tinggi ke angkasa, dengan keyakinan yang tertancap kokoh di relung hatinya akan pertolongan Allah dan lisan pun dengan tenang melantunkan perkataan suci, “hasbiyallah wa ni’mal wakil” (Cukuplah Allah sebagai penolongku karena Dia sebaik-baik penolong).”

Maka dengan izin Allah ia merasakan kesejukan dan kedinginan di saat api menyentuh tubuhnya sebagaimana yang pernah dialami oleh khalilullah Ibrahim a.s, sehingga ia keluar dari padanya dalam keadaan selamat tanpa ada luka bakar sedikit pun.

Demikianlah, potret dari dekatnya pertolongan Allah atas hamba-Nya, sebagaimana tandaskan Allah dalam satu firman-Nya, “Sesungguhnya Kami menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari bersaksinya para saksi.” (QS. Ghafir: 51).

Saudaraku,
Ketika Abu Muslim berkunjung ke Madinah, ia disambut oleh Abu Bakar dan Umar r.a dengan sambutan yang hangat seraya berkata, “Selamat datang duhai kekasih Allah Ibrahimnya umat ini.”

Allahu Akbar!
Tahniah (ucapan selamat) yang tulus bukan mujamalah (basa basi), disampaikan oleh orang terdekat Nabi s.a.w, dan telah menggenggam tiket masuk surga dari beliau.

Saudaraku,
Shabri Syahin menceritakan dalam bukunya ‘siyar a’lam at-tabiin’, bahwa Abu Muslim al-Khaulani mempunyai kebiasaan unik.

Ia selalu mengucapkan salam ketika hendak masuk rumah. Lalu, sampai di dalam rumah, ia bertakbir dan disahut istrinya dengan takbir pula. Tiba di kamar ia bertakbir lagi dan disahut istrinya dengan takbir. Barulah ia masuk kamar, melepaskan selendang dan sepatunya. Lalu istrinya datang membawakan makanan.

Suatu malam ia datang dan bertakbir, tetapi istrinya tidak menyahut. Sesampai di kamar ia bertakbir dan mengucapkan salam, istrinya kembali bungkam. Tiba-tiba, lampu kamar menyala sedangkan istrinya duduk di dekat lampu sambil memegangi tongkat yang ditusuk-tusukkan ke tanah.

“Apa yang terjadi padamu?” tanya Abu Muslim kepada istrinya. Ia heran dengan perubahan sikap istrinya.

“Semua orang sudah kaya, kecuali dirimu, Abu Muslim! Seharusnya engkau datang kepada Muawiyah meminta seorang pelayan yang membantu kita dan sedikit fasilitas yang bisa kita gunakan untuk menopang hidup”, kata istrinya dengan nada protes.

“Ya Allah siapa yang telah merusak istriku, butakanlah matanya!” ucap Abu Muslim.

Rupanya, sebelum itu, seorang wanita datang kepada istrinya seraya menasihati, “Engkau istri Abu Muslim, seharusnya engkau berbicara kepada suamimu agar meminta pembantu kepada Muawiyah dan fasilitas untuk menopang kehidupan kalian!.”

Ketika wanita itu berada di rumahnya sedangkan lampu menyala, tiba-tiba matanya tidak bisa melihat. Wanita itu bertanya, “Apakah mati lampu?.”

Orang-orang menjawab, “Tidak.”

Wanita itu berkata, “Inna lillahi mataku buta!.”

Ia pun pergi mendatangi Abu Muslim dalam keadaan seperti itu (buta). Abu Muslim merasa kasihan melihat keadaannya dan berdoa panjang kepada Allah sehingga Allah memulihkan kembali penglihatannya. Istrinya pun menyadari kesalahannya dan kembali bersikap baik kepada suaminya, seperti semula.

Saudaraku,
Suatu ketika Abu Muslim datang menemui Muawiyah RA, seraya mengatakan, “Assalamu’alaika ya Ajiirul (pelayan) mukminin.”

Para pejabat dan para menterinya menoleh kepadanya seraya berkata, “Amirul mukminin…wahai Abu Muslim….”

Ia tidak menggubris mereka dan berkata, “Assalamu’alaika ya ajiiral mukminin.”

Orang-orang berkata, “Amirul Mukminin wahai Abu Muslim.”

Ia tidak mendengarkan perkataan mereka dan tidak menoleh kepada mereka dan ia berkata, “Assalamu’alaika ya ajiiral mukminin.”

Saat orang-orang hendak menegurnya lagi, Muawiyah menoleh kepada mereka dan berkata, “Biarkan Abu Muslim, ia lebih tahu dengan apa yang ia katakan.”

Abu Muslim mendekat kepada Muawiyah dan berkata kepadanya, “Sesungguhnya permisalanmu –setelah Allah mengangkatmu sebagai wali bagi urusan manusia- sebagaimana permisalannya orang yang menyewa seseorang atau mewakilkan kepadanya urusan dombanya. Ia memberikan upah kepadanya untuk mengurusi gembalanya, menjaga badannya dan memperbanyak woolnya dan susunya.

Apabila ia mengerjakan apa yang menjadi kesepakatan dengannya sehingga domba yang kecil tumbuh menjadi besar, yang kurus menjadi gemuk dan yang sakit menjadi sehat…ia memberikan upahnya dan melebihkannya.

Sebaliknya jika tidak becus dalam mengurus gembalanya dan lalai darinya hingga yang kurus menjadi binasa, yang gemuk menjadi kurus dan hilang wool-woolnya dan susu-susunya…maka ia menahan upahnya dan memarahinya serta menghukumnya. Maka pilihlah untuk dirimu apa yang ada kebaikan dan pahalanya untukmu.”

Muawiyah mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk ke tanah, ia berkata, “Semoga Allah berkehendak membalasmu dengan kebaikan.”

Saudaraku,
Kita sangat mendambakan munculnya orang-orang seperti Abu Muslim al-Khaulani di negeri kita.

• Seorang muslim pemberani yang tak gentar menghadapi kemungkaran dan penyimpangan. Adakah satu kemungkaran dan penyimpangan yang lebih besar daripada orang yang mengaku dirinya sebagai nabi?.

• Seorang yang memiliki ketajaman do’a. Sehingga ia bisa mendo’akan untuk keshalihan seorang pemimpin. Karena jika pemimpin shalih, maka warna keshalihan dan maslahatnya akan dirasakan banyak orang.

• Pada saat banyak orang yang car-muk (cari muka) di hadapan penguasa, justru Abu Muslim tampil berani menasihati Mu’awiyah, dan mengingatkannya tentang hakikat kekuasaan, bahwa ia hanya seorang pelayan umat, dan bukan ingin dilayani masyarakat.

• Orang yang mesra dan harmonis dengan keluarga, terutama istri yang setia menemani untuk mengarungi samudera kehidupan dalam suka dan duka.

• Dengan ketaatan dan keshalihan, akan mengundang datangnya pertolongan Allah s.w.t bagi Islam dan kaum muslimin.

Saudaraku,
Barangkali kita sering merasakan jauhnya pertolongan Allah dalam kehidupan kita, baik dalam skala pribadi maupun dalam naungan jama’ah, di mana banyak harapan dan tujuan serta cita-cita belum terwujud padahal segala daya dan upaya telah kita curahkan.

Dunia Islam hingga kini terus menangis, bahkan seolah-olah air mata telah mengering, luka parah semakin menganga, entah sampai kapan segala derita akan berakhir..Bilakah datangnya pertolongan Allah?.

Saudaraku,
Pertolongan Allah sangat dekat bagi orang-orang yang mengikhlaskan diri menolong agama-Nya, mampu mengendalikan hawa nafsunya, senantiasa membersihkan jiwanya, dan bagi orang-orang yang tidak mengikuti langkah setan.

Mudah-mudahan Allah munculkan orang-orang seperti Abu Muslim al-Khaulani di negeri kita, sehingga baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur, tercipta di negeri kita. Bukan sekadar senandung merdu pada acara-acara MTQ, baik tingkat kecamatan, kabupaten, propinsi maupun nasional. Amien, wallahu a’lam bishawab.

Metro, 13 Nopember 2014
Abu Ja’far Fir’adi

Selaksa Kebaikan dan Berjuta Keberkahan

» مَنْ غَسَّلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَاغْتَسَلَ, ثُمَّ بَكَّرَ وَابْتَكَرَ وَمَشَى وَلَمْ يَرْكَبْ, وَدَنَا مِنَ الإِمَامِ فَاسْتَمَعَ وَلَمْ يَلْغَ, كَانَ لَهُ بِكُلِّ خُطْوَةٍ عَمَلُ سَنَةٍ أَجْرُ صِيَامِهَا وَقِيَامِهَا «

“Barangsiapa membersihkan diri dan mandi pada hari Jum’at, lalu dia berpagi-pagi dan segera pergi ke masjid dengan berjalan kaki tanpa menaiki kendaraan, lalu dia duduk di dekat imam, kemudian dia diam mendengarkan khutbah, maka pada setiap langkah kakinya, memiliki pahala sebanding dengan pahala puasa dan shalat malam setahun penuh.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Bani).

Saudaraku,
Sesungguhnya hari-hari, bulan dan tahun terus berlalu dari hadapan kita. Ia berjalan begitu cepat, sementara sebagian besar dari kita hidupnya disilaukan dunia dan kelalaian yang nyata.

Padahal Allah s.w.t akan meminta pertanggung jawaban kita mengenai waktu-waktu yang telah kita habiskan tanpa faedah dan manfaat, sedangkan waktu-waktu itu adalah bagian dari umur kita.

Oleh karenanya kita seringkali meremehkan amalan-amalan shalih yang menurut pandangan kita termasuk amalan yang remeh (sederhana). Tetapi demi Allah, sejatinya amalan-amalan tersebut dalam timbangan-Nya sangatlah berat. Bila amalan-amalan itu bisa kita lakukan, maka akan mengalirkan pahala yang tak terbatas, hanya dalam beberapa saat saja, hanya dalam hitungan menit dan detik.

Itulah yang disebut sebagai amalan dengan balasan pahala yang berlipat ganda. Di mana kita selaku seorang muslim dapat meraih berjuta-juta pahala dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Saudaraku yang budiman,
Ada amalan, yang setiap orang sanggup untuk melakukannya, tapi pahalanya teramat besar yang mampu diraihnya, yaitu tentang etika dan adab-adab Islam pada hari Jum’at.

Mayoritas umat Islam tidak mengenal adab-adab Islami pada hari Jum’at, selain mandi. Mereka tidak mengetahui adab-adab Islami sesudah mandi. Padahal sekiranya hal itu mereka lakukan, niscaya mereka akan meraih kebaikan di dunia dan akherat.

Adab-adab Islami yang kita maksudkan ada lima perkara, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Aus Ats-Tsaqafy, ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah s.a.w bersabda :

“Barangsiapa membersihkan diri dan mandi pada hari Jum’at, lalu dia berpagi-pagi dan segera pergi ke masjid dengan berjalan kaki tanpa menaiki kendaraan, lalu dia duduk di dekat imam, kemudian dia diam mendengarkan khutbah, maka di setiap langkah kakinya, memiliki pahala yang sebanding dengan pahala puasa dan shalat malamnya setahun penuh.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syekh Al-Bani).

Maksudnya; barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at, lalu dia pergi ke masjid di awal waktu dengan berjalan kaki, dan bukan naik kendaraan, seperti mobil, motor, sepeda dan yang sejenisnya, selanjutnya dia mendapati permulaan khutbah dan dia diam mendengarkan isi khutbah dengan seksama, dan dia duduk di masjid berdekatan dengan tempat duduknya imam, maka dia mendapatkan pahala sebagaimana yang disebutkan dalam hadits di atas.

Sedikit sekali dari kita selaku umat Islam yang telah mengamalkan adab-adab Jum’at yang agung ini, padahal keutamaannya luar biasa besarnya. Di mana kita akan meraih kebaikan dalam setiap langkah kaki yang kita ayunkan. Bahwa balasannya seperti kita melakukan puasa dan shalat malam (tahajjud) setahun penuh. Sekalipun barang kali hari-hari kita kosong dari shiyam (puasa) dan malam-malam kita sepi dari shalat malam (qiyamul-lail).

Perhatikanlah saudaraku,
Satu ayunan langkah kaki kita bernilai amalan setahun, maka bagaimana jika berpuluh-puluh langkah kita ayunkan sampai ke masjid? Tentulah pahala berpuluh-puluh tahun yang akan kita dapatkan pula. Dan begitulah seberapa jumlah kebaikan yang kita dapatkan berbaris lurus dengan jumlah langkah kaki yang kita ayunkan. Sungguh balasan yang teramat besar dari amalan yang sangat sederhana.

Salah seorang teman di Riyadh, yang bisa dipercaya ucapannya pernah menuturkan pengalamannya ketika dia mengamalkan hadits ini.

Dia membersihkan badannya (mandi), lalu pergi ke masjid di awal waktu, dengan berjalan kaki, dia dekatkan langkah kakinya, kemudian dia duduk di dekatnya imam pada shaf (barisan) yang pertama dan diam mendengarkan khutbah. Maka setelah keluarnya dari masjid, dia mendapati maslahat yang agung dan kebaikan yang banyak di hari Jum’at itu dan hari-hari setelahnya, yang membuatnya takjub dan hatinya selalu dialiri rasa bahagia yang tak terkira. Maka sejak hari itu dia bertekad untuk selalu menjaga adab-adab Islami ini di setiap hari Jum’at.

Bayangkan saudaraku,
Sekiranya kita mampu menerapkan sunnah Nabi s.a.w ini dalam kehidupan kita sekali Jum’at saja. Misalkan jarak antara rumah kita dengan masjid membutuhkan 1.000 langkah, maka kita akan dibalas dengan pahala puasa dan shalat malam selama 1.000 tahun, tanpa ada pengurangan sedikit pun.

Ini adalah hitungan sekali Jum’at, maka berapa pahala (kebaikan) yang akan kita gapai dalam 4 Jum’at (sebulan penuh) ?. Tentunya kita akan mendapat pahala seperti amalan 4.000 tahun. (4 Jum’at X 1.000 langkah = 4.000 tahun).

Jika kita tradisikan amalan tersebut selama setahun (12 bulan, yakni 48 Jum’at), maka akan tertulis untuk kita kebaikan senilai 48.000 tahun. (48 Jum’at X 1.000 langkah = 48.000 tahun). Ini hanya dalam hitungan setahun saja.

Seandainya Allah s.w.t memanjangkan usia kita, dan kita mampu melaksanakan adab-adab Jum’at ini secara kontinue selama minimal 40 tahun, (berarti ada 480 bulan, atau 1.920 Jum’at), maka akan tertulis bagi kita pahala 1.920.000 tahun. (1.920 Jum’at X 1000 langkah = 1.920.000 tahun), Satu juta sembilan ratus dua puluh ribu tahun pahala puasa dan shalat malam.

Oleh karena itu bila kita hitung amalan dalam setahun 1.000 kebaikan, akan tertulis untuk kita pahala kebaikan senilai satu juta sembilan ratus dua puluh tahun, 1.920.000 kebaikan (1.000 kebaikan X 1.920.000 tahun = 1.920.000.000 kebaikan), satu miliyar sembilan ratus dua puluh juta kebaikan. Maka berapakah pahala yang kita dapatkan jika langkah kaki kita lebih dari 1.000 langkah ? dan bagaimana pula jika usia kita lebih dari 40 tahun dan merealisasikan adab-adab Jum’at tersebut ? Dan bagaimana jikalau Allah s.w.t membalas kita lebih dari 1.000 kebaikan.

Dan tidak terbayang sekiranya Allah s.w.t melipatgandakan pahala (kebaikan) satu miliyar sembilan ratus dua puluh juta hingga 700 kebaikan, atau lebih dari itu sebagaimana tersebut dalam sebuah hadits. Maka kita akan mendapati di hari ditimbangnya amal-amal kita, maka neraca kebaikan kita menjadi berat karena bermiliyar-miliyar kebaikan.

Saudaraku,
Lihatlah orang-orang yang terlambat datang ke masjid pada hari Jum’at dan menyia-nyiakan nasihat imam dalam khutbahnya, maka mereka berdosa karena telah meninggalkan kewajiban. Bagi mereka cukup hanya melaksanakan shalat Jum’at dua raka’at.

Rasulullah s.a.w pernah bersabda:

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

“Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at tiga kali, dengan meremehkannya, maka Allah akan menutup pintu hatinya.” (H.R Ahmad dan dishahihkan oleh Syekh Al-Bani).

Akhirnya kami ingatkan bagi setiap orang yang tidak mampu melakukan shalat Jum’at karena alasan yang dibenarkan secara syar’i, maka anda masih bisa membantu mereka untuk meraih pahala yang agung ini. Yakni dengan jalan mendorong orang lain untuk merealisasikan sunah-sunnah Jum’at yang disebutkan dalam hadits di atas, maka anda akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang berbuat. Rasulullah s.a.w bersabda :

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ « «
“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti orang yang melakukannya.” (HR; Muslim).

Saudaraku,
Mari kita berlomba dalam kebaikan dan takwa, agar masa depan kita di akherat sana berseri dan bermakna. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 06 Nopember 2014
Abu Ja’far Fir’adi.