Abbas Hasan As Sisi

Tukang Sapu dan Tukang Sampah

Ada seorang akh bertanya kepada saya tentang “kiat sukses memikat hati.”

Saya katakan, “Kita percaya bahwa manusia itu sama. Ini tercermin ketika kaum Muslimin berada dalam masjid. Yang miskin duduk ber-dampingan dengan yang kaya, yang lemah berdam-pingan dengan yang kuat, tukang sapu dan tukang sampah sama seperti kebanyakan manusia lain dalam masjid. Tetapi sayang, hal ini tidak diaplikasikan di luar masjid. Apakah ketika Anda lewat di jalanan dan bertemu salah seorang tukang sapu, Anda mengucapkan salam padanya?”

“Tidak,” jawabnya.

Saya katakan, “Itu karena Anda tidak peduli kepada-nya. Sungguh, Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah melarang perbuatan demikian melalui sabdanya, ‘Janganlah kalian menganggap remeh suatu kebaikan walau itu hanya sekedar bermuka ceria ketika bertemu saudaramu.’  Bila Anda melakukan hal itu, lalu Anda ucapkan salam padanya, baik kenal maupun tidak, berarti Anda telah menghargai dinnya dan memberinya rasa optimis dalam menatap kehidupan, karena sebelumnya ia merasa dari golongan terasing dalam masyarakat. Ia merasa tidak seorang pun yang mau memalingkan wajah ke arahnya, tidak seorang pun yang menghargainya atau sekedar mengajaknya berbi-cara dengan baik. Bila Anda ucapkan salam kepadanya di suatu hari, maka ia akan menantimu lewat di jalan itu, hanya untuk mendapatkan salam darimu. Ketahuilah, telah banyak orang yang mengabaikan sesuatu yang selama im ia cari-cari dan dambakan.”

Pada hakikatnya tukang sapu dan tukang sampah yang bekerja sebagai petugas mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah dan dari jalanan ke jalanan, berhak mendapat penghargaan. Karena kita merasa terbantu dengan pekerjaan yang sulit dan kotor ini.

Oleh karena itu, negara berkewajiban memberikan gaji yang berlipat atau memberinya tunjangan biaya kesehatan. Karena pada hakikatnya ia lebih mudah terserang banyak penyakit, yang disebabkan oleh seringnya berhubungan dengan kotoran-kotoran itu. Jika kita memahami tujuan da’wah, yaitu da’wah pembenahan, guna mewujudkan masyarakat islami, maka tidak akan terlewat dari pikiran kita untuk memahami kenyataan ini, yang dapat menyatukan hati dan menjernihkan akhlak.

Pada suatu hari saya berada di Masjid Kurmuz, Iskandaria, membicarakan tentang hal ini bersama bebe-rapa ikhwah. Ketika saya selesai berbicara, tiba-tiba saya dihampiri seorang pemuda, seraya mengatakan, “Saya sangat terkesan dengan pembahasan ini.” Setelah saya tanya, ternyata ia bekerja sebagai tukang kebersihan dan tukang sapu. Lalu saya katakan, “Bukankah kannas (tukang sapu) itu kan-nas (sama seperti manusia lain)?’” Sungguh, ini kata-kata spontan belaka, yang kebetulan saja berlaku.

Hidupku Semuanya untuk Allah

Perbarui niat, maka semua yang Anda lakukan akan bernilai ibadah. Dan itu artinya, pekerjaan yang dilakukan akan menjadi jembatan Anda ke surga. Jangan pergi ke tempat belajar atau tempat kerja dengan jiwa yang tidak bersih dan malas. Berangkat dan melangkahlah dalam kondisi serius, semangat dan optimis karena sekali lagi, Anda dalam kondisi beribadah, sebagaimana Anda melakukan shalat.

Arti Ibadah Yang Komprehensif
Ibadah yang komprehensif dan utuh adalah seperti yang didefinisikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang mengatakan,
“Ibadah adalah semua yang dicintai Allah Ta’ala dan Dia ridhai, berupa perkataan dan perbuatan baik yang zahir maupun yang batin.”

Dikatakan oleh Muhammad Qutub,
“Bahkan memakmurkan bumi, merekayasa kehidupan, berusaha memiliki perangkat perangkat kebangkitan dan kemajuan peradaban, merupakan fardhu kifayah yang menjadi kewajiban bagi umat Islam. Itu termasuk jenis kekuatan terbesar yang diperintahkan Allah Ta’ala kepahamba-hamba-Nya yang beriman untuk mendapatkannya. Agar umat Islam tetap menjadi umat yang kuat.

Allah swt berfirman,
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah.” (QS. An Anfal: 60)

Hal itu juga merupakan tuntutan nasusia sebagai khalifah (wakil) Tuhan di dunia.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat sesungguhnya Aku menciptakan (manusia) di bumi sebagai khalifah.” (QS. Al Baqarah: 30)
Semua yang Anda lakukan, selama diniatkan karena Allah dan untuk mengharapkan ridha Allah, akan bermakna mendekatkan diri (kepada kepada Allah).

Perhatikanlah bagaimana hadits yang agung berikut ini, di mana Nabi SAW mengikat hubungan antara dunia dan akhirat. Beliau bersabda :

“Apabila kiamat tiba, sedang di tangan salah seorang di antara kalian ada bijih, maka jika dia mampu, jangan bangun sampai dia menanamnya; maka hendaklah dia tanam bijih itu.” (HR. Bukhari)

Apa yang diharapkan apabila kiamat hampirhampir terjadi? Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini tidak memerintahkan kita untuk bertaubat dan beristigfar meminta ampun kepada Allah, beramal menuju akhirat, melupakan dunia dan isinya. Namun ternyata beliau memerintahkan kita untuk memakmurkan bumi, dengan menanam biji. Biji apa yang kita diperintahkan untuk menanamnya?!

Ternyata biji kurma yang tidak mungkin berbuah kecuali setelah bertahun-tahun lamanya.

Maknanya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hendak mengajarkan kepada kita pelajaran agung, bahwa jalan menuju akhirat harus melalui jalan dunia. Keduanya bukanlah dua jalan yang terpisah. Namun merupakan satu jalan yang saling menghubungkan. Dunia dan akhirat tidak dapat berdiri sendiri. Tidak ada pembagian jalan untuk akhirat yang bernama ibadah dan jalan untuk dunia yang bernama kerja. Yang ada adalah satu jalan, awalnya di dunia dan ujung akhirnya di akhirat.

Jalan yang tidak memisahkan di dalamnya antara kerja dari ibadah dan tidak memisahkan antara ibadah dari kerja.

Sekali lagi, keduanya merupakan sesuatu yang satu dan berjalan beriringan.

Dari sini kita bisa memahami dengan baik bagaimana kita bisa hidup di bawah naungan firman Allah Jalla Jalaluhu,
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al An’am: 162)

Tidak masuk akal jika manusia seluruh waktu umurnya hanya melakukan shalat, puasa dan membaca al Quran, tanpa terputus di malam atau siang hari, agar seluruh hidupnya untuk Allah.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dalam hidupnya berpuasa namun juga berbuka (makan),menunaikan shalat namun juga tidur dan menikahi perempuan. Dengan demikian maka seorang mukmin harus menghimpun antara dunia dan akhirat, menjadikan keduanya satu jalan, agar bisa menjadikan seluruh hidupnya semuanya untuk Allah Ta’ala.

Bila Anda telah memahami definisi menyeluruh tentang arti ibadah ini; Anda tahu bagaimana umat kita ini kalah dan menjadi pengekor bagi bangsa-bangsa lain, karena ketika tercerai berai antara dua kelompok ini. Antara kelompok yang mengabaikan dunia dengan dalih ingin konsentrasi dan totalitas untuk akhirat, dengan kelompok yang mengabaikan akhirat dan berusaha untuk menggenggam dunia, bukan untuk merealisasikan ridha Allah, namun untuk mendapatkan kenikmatan dan kelezatannya.

Selama Anda bekerja atau belajar berarti Anda ada dalam ibadah.
Anda dilarang melakukan hal-hal yang membatalkan ibadah Anda. Anda harus menjaga lisan Anda dari berbuat bohong, ghibah, mengumpat dan berkata sia-sia.

Sebagaimana disabdakan Rasulullah saw:
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan melaksanakannya (dalam keadaan berpuasa), maka Allah tidak butuh pada amalannya (puasa) meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Dari Jabir bin Abdullah ra bahwasannya dia berkata,
“Jika kamu berpuasa maka berpuasalah pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari berbohong dan tinggalkan menyakiti manusia. Hendaklah kamu khusuk dan tenang. Jangan kamu jadikan hari puasamu sama dengan hari tidak berpuasa.”

Abu Aliyah, berkata:
“Orang yang berpuasa tetap dalam ibadah selama tidak meng-ghibah (membicarakan keburukan) seseorang, meskipun dia dalam keadaan tidur di atas ranjangnya.”

Salah seorang salafushalih ketika mengucapkan sebuah syair yang di dalamnya berisi hija’ (mencela seseorang) lalu tersadar dan langsung berkumur dengan air!

Abdullah Haidir

Beberapa Permasalahan Terkait Zakat Fitrah

  1. Zakat fitrah adalah zakat badan, bukan zakat maal (harta), tujuannya mensucikan badan. Karenanya kewajibannya tidak terkait nisab dan haul. Cukup seseorang memiliki kelebihan persediaan makan untuk dirinya dan keluarganya hari itu, dia sudah wajib mengeluarkan zakat fitrah. Bahkan diwajibkan pula memberikan zakat kepada orang yang menjadi tanggungannya, seperti isteridan anak kecil. Para ulama juga menyatakan sunnah mengeluarkan zakat fitrah bagi janin yang masih dalam kandungan, berdasarkan perbuatan Utsman bin Affan radhiallahu’anhu yang melakukan hal tersebut.
  2. Karena zakat fitrah adalah zakat badan, maka hendaknya dia dikeluarkan di tempat seseorang berada dengan standar yang berlaku di negeri tersebut. Jika kemudian, berdasarkan pertimbangan manfaat sebaiknya disalurkan ke daerah lain, hal tersebut tidak mengapa, sebab dibolehkan menyalurkan zakat fitrah ke daerah/negeri lain, jika dipertimbangkan bahwa negeri lain sangat membutukkan dibanding negeri tempat dia berada.
  3. Jika kita mengetahui langsung ada orang yang benarbenar berhak menerima zakat, lalu kita berikan secara langsung, itu tidak mengapa. Namun menyalurkan zakat fitrah ke lembaga-lembaga penyalur zakat terpercaya lebih baik, lebih terarah dan relative lebih merata, apalagi jika kita tidak tahu siapa yang paling berhak menerima zakat di sekitar kita.
  4. Orang yang berhak menerima zakat fithrah, hanyalah fakir miskin. Ada sebagian ulama yang membolehkan penyalurannya ke delapan ashnaf (golongan) yang dikenal dalam zakat maal (harta). Namun berdasarkan haditshadits yang ada, serta maqashid syari’ah (tujuan syari’ah) dalam ibadah ini, maka pendapat yang mengkhususkan penyalurannya kepada fakir miskin lebih kuat. Sebagian orang menyalurkan zakat fitrah kepada orang yang disebut sebagai amil, padahal dia kaya, hal ini tidak tepat. Wallahua’lam.
  5. Mengeluarkan zakat fitrah, tidak menggugurkan kewajiban seseorang mengeluarkan zakat harta jika dia telah memiliki kriteria sebagai orang yang wajib zakat harta.