Ahmad Mudzoffar Jufri

Esensi Hijrah

Momentum pergantian tahun hijriyah dari tahun 1435 ke tahun 1436, selalu mengingatkan kita ummat Islam pada peristiwa hijrah Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat muhajirin radhiyallahu ‘anhum dari kota Mekkan ke kota Madinah sekitar lima belas abad yang lalu. Peristiwa maha penting dalam sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itulah yang menjadi dasar pijakan dibalik pemilihan nama kalender Islam tersebut. Tentu bukan tanpa alasan ketika Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab bersama para sahabat radhiyallahu ‘anhum menetapkan peristiwa hijrah sebagai dasar perhitungan tahun dalam kalender kaum muslimin. Maka marilah kita menyambut – dan bukan merayakan – tahun baru 1436 Hijriyah dengan men-tajdid (memperbarui) semangat dan tekad dalam rangka menghijrahkan diri dan kehidupan kita secara total kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Didalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kata hijrah digandengkan dan disebutkan secara berurutan setelah iman dan sebelum jihad.

Misalnya dalam firman Allah (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218).

Atau firman Allah (yang artinya): ”Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (QS At-Taubah: 20).

Penyebutan tiga terminologi tersebut secara berurutan seperti itu juga kita dapati dalam QS Al-Anfaal ayat: 72, 74 dan 75. Begitu pula dalam hadits-hadits, seperti hadits yang menyebutkan bahwa, syetan akan selalu menghadang manusia di tiga jalan, yakni di jalan menuju Islam (iman), lalu di jalan menuju hijrah dan kemudian menghadangnya sekali lagi di jalan menuju jihad (lihat HR. An-Nasa’i).

Hal itu karena memang ada keterkaitan yang sangat erat antara ketiga terminologi Islam tersebut. Iman harus dibuktikan dengan hijrah lalu dengan jihad. Dan hijrah harus didahului dan didasarkan pada iman lalu dilanjutkan dengan jihad. Sedangkan jihad juga harus didasarkan dan didahului oleh iman lalu hijrah. Memang begitulah urutannya. Beriman lalu berhijrah lalu berjihad.

Hijrah berarti berpindah dengan meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain, atau berubah dengan meninggalkan suatu kondisi untuk menuju kondisi yang lain.

Dalam Islam, hijrah memang ada dua macam:

Pertama adalah hijrah hissiyyah (hijrah fisik dengan berpindah tempat) baik dari darul khauf (negeri/tempat yang tidak aman dan tidak kondusif) menuju darul amn (negeri/tempat yang relatif aman dan kondusif) seperti hijrah dari kota Mekkah ke Habasyah (Ethiopia) pada tahun kelima kenabian, maupun hijrah dari darul harb (negeri kafir yang memerangi Islam dan kaum muslimin) menuju darul Islam (negeri yang bersistem imamah islamiyah) seperti hijrah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dari kota Mekkah ke kota Medinah pada tahun keempat belas kenabian.

Kedua adalah hijrah ma’nawiyyah (hijrah nilai) dengan meninggalkan nilai-nilai atau kondisi-kondisi jahiliyah untuk berubah menuju nilai-nilai atau kondisi-kondisi islami. Dan hal ini baik dalam aspek aqidah, ibadah, akhlaq, pemikiran dan pola pikir, muamalah, pergaulan, cara hidup, kehidupan berkeluarga, etos kerja, manajemen diri, manajemen waktu, manajemen dakwah, perjuangan, pengorbanan maupun aspek-aspek diri dan kehidupan lainnya sesuai dengan tuntutan keimanan dan konsekuensi keislaman.

Jika hijrah hissiyyah bersifat kondisional dan situasional serta harus sesuai dengan syarat-syarat tertentu, maka hijrah ma’nawiyyah bersifat mutlak dan permanen, serta sekaligus merupakan syarat dan landasan bagi pelaksananan hijrah hissiyyah. Sehingga dengan demikian hijrah ma’nawiyyah inilah yang sebenarnya merupakan hakekat dan esensi dari perintah hijrah itu, dimana kuncinya ada pada kata perubahan!

Ya, seseorang ketika telah berikrar syahadat dan menyatakan diri telah beriman dan berislam maka ia harus langsung ber-hijrah ma’nawiyyah ke arah perubahan total – tentu tetap mengikuti prinsip tadarruj (pentahapan) – sesuai shibghah rabbaniyah (lihat QS Al-Baqarah: 138) dan memenuhi tuntutan berislam secara kaffah (lihat QS Al-Baqarah: 208).

Maka dalam rangka menyambut – dan bukan memperingati – tahun baru 1436 Hijriyah, kita harus melakukan muhasabah dan introspeksi diri dengan bertanya, sejauh mana perubahan, peningkatan dan perbaikan islami telah terjadi dalam diri dan kehidupan kita selama ini, baik dalam skala individu, kelompok, jamaah, masyarakat, bangsa (yang notabene mayoritas muslim) maupun dalam skala ummat Islam secara keseluruhan? Dan apakah perubahan itu telah sesuai dengan usia keislaman dan keimanan masing-masing? Semoga demikian!

Akhirnya marilah kita jadikan momentum pergantian tahun Islam hijriyah ini sebagai faktor pemotivasi semangat dan pembaharu tekad untuk senantiasa menghijrahkan diri dan kehidupan menuju totalitas Islam sebagai syarat dan dasar dalam mengemban amanah dakwah dan menegakkan kewajiban jihad fi sabilillah untuk memenangkan dinullah dan menggapai surga serta ridha Allah. Dan semoga tahun baru 1436 Hijriyah mendatang ini akan menjadi tahun kemenangan dan kemuliaan bagi Islam, dakwah Islam dan kaum muslimin, serta menjadi tahun solusi dan perlepasan bagi ummat dan bangsa dari berbagai bencana serta krisis multidimensi yang selama ini terjadi dan mendera. Aamiin!

Fir'adi Nasruddin

Amalan Sunnah dan Bid’ah di Bulam Muharram

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ibnu Abbas r.a berkata, “Ketika Nabi sedang berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk turut berpuasa, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani?.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika begitu, tahun depan insya Allah kita puasa sekali pada hari yang ke-sembilannya.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Tetapi belum sempat sampai tahun depan, beliau telah wafat terlebih dahulu.” (HR. Muslim).

Saudaraku,

Sang waktu terus berlalu menyapa dan meninggalkan kita. Tak terasa kita telah berada di depan pintu keluar tahun 1435 H. Itu artinya, kita sudah berada di depan gerbang Muharram 1436 H, tahun baru Hijriyah.

Ada beberapa capaian ubudiyah yang telah mampu kita ukir di tahun 1435 H. Tapi tak sedikit target keta’atan dan ukiran amal shalih yang belum terlaksana.

Kita bersyukur atas segala capaian yang terlampaui dan kita beristighfar atas setiap keteledoran yang menyilaukan mata kita.

Untuk itu, kita akan mengupas tentang tahun baru Hijriyah, antara Sunnah dan bid’ahnya.

Saudaraku,

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram, sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim).

Bulan Muharram ini dinamakan dengan “Syahrullah“, yaitu bulan Allah. Penisbatan sesuatu kepada Allah mengandung makna yang mulia, seperti “Baitullah“ (rumah Allah), “Hizbullah” (pasukan Allah), “Jundullah” (tentara Allah) dan lain-lainnya. Dan ini juga menunjukkan bahwa bulan tersebut mempunyai keutamaan khusus yang tidak terdapat pada bulan-bulan yang lain.

Bulan Muharram termasuk salah satu dari empat bulan yang dijadikan Allah sebagi bulan haram (Muharram, Rajab, Dzul-Qa’dah dan Dzul-Hijjah), sebagaimana firman Allah s.w.t, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram.” (QS. at Taubah: 36).

Keistimewaan lain dari bulan Muharram adalah bahwa ia dijadikan sebagai awal penanggalan bulan dari tahun Hijriyah, sebagaimana yang telah disepakati oleh para sahabat pada masa khalifah Umar bin Khattab r.a. Tahun Hijriyah ini dijadikan momentum atas peristiwa hijrah nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Saudaraku,

Di bulan Muharram kita disunnahkan berpuasa ‘Asyura (10 Muharram), dan bahkan merupakan puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Abu Hurairah r.a, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim).

Adapun keutamaan puasa pada hari Asyura’ ini, Allah s.w.t akan menghapus dosa-dosa orang yang melakukannya selama satu tahun sebelumnya, sebagaimana tersebut di dalam hadits Abu Qatadah r.a, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang puasa ‘Asyura’, maka beliau menjawab, “Aku berharap dari Allah agar puasa itu dapat menghapus dosa-dosa selama satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim).

Ada pertanyaan yang menggelayut di benak kita, dosa semacam apakah yang akan terhapus dengan puasa ‘Asyura’ ini, apakah seluruh dosa besar dan kecil setahun yang lalu?.

Tentu tidak, hanya dosa-dosa kecil saja. Sebab dosa-dosa besar, tidak akan terampuni kecuali dengan bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha, taubat yang penuh dengan kesungguhan dan jauh dari kata “main-main”.

Saudaraku,

Kita pernah mendengar bahwa kita disunnahkan pula berpuasa tanggal 9 dan 11 Muharram, selain ‘Asyura (tanggal 10 Muharram), apakah hal tersebut bersumber kepada dalil yang kuat atau hanya sekadar pendapat ulama tertentu?.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab “Zadul ma’ad” (jilid 2 hal, 76 Muassasah al-risalah) menerangkan bahwa tingkatan puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga tingkatan.

Pertama, yang paling sempurna adalah puasa sehari sebelum dan sesudahnya (puasa hari ke 9, 10 dan 11 Muharram).

Kedua, puasa tanggal 9 dan 10 Muharram, dan inilah yang paling diperkuat oleh banyak hadits.

Ketiga, puasa hari ‘Asyura (10 Muharram) saja.

Tingkatan puasa ‘Asyura yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim di atas, juga dikuatkan oleh syekh Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Fiqh as-sunnah” (jilid 1 bab shiyam al-thathawwu’).

Cara berpuasa ‘Asyura seperti ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas r.a, bahwa ia berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani?.” Maka beliau bersabda, “Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan-nya. “ (Muttafaq alaih).

Demikian pula hadits Ibnu Abbas r.a, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Puasalah pada hari Asyura’, dan lakukanlah puasa tersebut dengan cara menyelisihi Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah).

Dalam riwayat Ibnu Abbas lainnya disebutkan, “Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”

Saudaraku,

Adapun hikmah dan faedah yang dapat kita petik dari puasa ‘Asyura seperti yang disebutkan oleh syekh al-Utsaimin adalah:

• Sebagai manifestasi dari meneladani kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

• Puasa satu hari sebelum atau sesudah hari ‘Asyura sebagai realisasi dari bentuk perbedaan kita dengan orang-orang Yahudi maupun Nasrani.

• Hari ini memiliki keutamaan dan kemuliaan sejak zaman umat-umat terdahulu, (termasuk kaum musyrikin Quraisy pun melakukannya).

• Di dalamnya ada penjelasan mengenai penentuan kalender sejak masa umat-umat terdahulu adalah dengan bulan Qamariyah bukan Syamsiyah.

• Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengkhabarkan kepada kita bahwa pada tanggal sepuluh Muharram Allah menyelamatkan Musa a.s dan pengikutnya yang setia dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya.

• Puasa inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sedangkan amalan-amalan lain-nya merupakan bid’ah (perkara baru dalam agama) yang bertentangan dengan sunnah.

• Dan ini merupakan karunia Allah s.w.t kepada kita bahwa untuk menghapus dosa-dosa kita setahun yang lalu cukup dengan melaksanakan puasa satu hari saja. Dan Allah Maha Pemberi Karunia yang Agung.

• Bersegeralah wahai saudaraku untuk meraih keutamaan ini dan bukalah lembaran hidup baru di tahun yang baru dengan keta’atan dan berpacu dalam kebajikan..ingatlah bahwa kebaikan akan menghapus keburukan (kejahatan).

Saudaraku,

Ada beberapa amalan yang menyelisihi tuntunan Nabi s.a.w terkait dengan bulan Muharram adalah:

• ‘Asyura menurut Syi’ah, 10 Muharram 61 H, adalah hari terbunuhnya Abu Abdillah Husain bin Ali di padang Karbala. Syi’ah menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari bergabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai ungkapan kesedihan dan penyesalan. Pada hari itu mereka memperingati kematian Husain dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratap secara histeris, membentuk kelompok-kelompok untuk pawai berkeliling di jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya.

• ‘Asyura menurut sebagian kaum Muslimin. Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi’ah di atas, sebagian kaum Muslimin menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya, pesta dan serba ria.

• Shalat dan dzikir-dzikir khusus, yang disebut dengan shalat ‘Asyura.

• Mandi Janabah, bercelak, memakai minyak rambut dan mewarnai kuku dan menyemir rambut. Dan yang demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan dilakukan pada hari tersebut. Mereka beralasan dengan hadits palsu, “Barangsiapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura, maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan barangsiapa mandi pada hari ‘Asyura, ia tidak akan sakit selama tahun itu.”

• Membuat makanan khusus/istimewa, seperti membuat bubur syura yang terdapat di Sumatera Barat.

• Do’a awal dan akhir tahun yang di baca pada malam akhir tahun. Mereka beranggapan dan berkeyakinan bahwa siapa yang membaca do’a ‘Asyura tidak akan meninggal pada tahun tersebut.

• Menentukan berinfaq dan memberi makan orang-orang miskin. Dan yang demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan dilakukan pada hari tersebut.

• Memberikan uang belanja yang lebih kepada keluarga. Dan yang demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan dilakukan pada hari tersebut.Mereka beralasan dengan hadits lemah, “Barangsiapa yang meluaskan (nafkah) kepada keluarganya pada hari ‘Asyura, maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun itu.” (HR. Thabrani, Baihaqi dan Ibnu Abdil Bar).

• Setelah mandi janabat berziarah ke makam orang alim, menengok orang sakit, memotong kuku, membaca al-Fatihah seribu kali. Karena perbuatan tersebut di atas diperintahkan oleh syari’at setiap saat, dan adapun mengkhususkannya pada hari 10 Muharram tidak berdasar sama sekali.

• ‘Asyura menurut tradisi dan Kultur Kejawen. Bulan Suro menurut istilah mereka, banyak diwarnai orang Jawa dengan berbagai mitos dan khurafat, antara lain: Keyakinan bahwa bulan Suro adalah bulan keramat yang tidak boleh di buat main-main dan bersenang-senang seperti hajatan pernikahan, dan jenis hajatan yang lainnya.

Ternyata kalau kita renungkan dengan cermat apa yang dilakukan oleh mereka di dalam bulan Suro adalah merupakan akulturasi Syi’ah animesme, dinamisme dan Arab Jahiliyah. Dulu, orang Quraisy Jahiliyah pada setiap ‘Asyura selalu mengganti Kiswah Ka’bah (kain pembungkus Ka’bah), seperti dijelaskan oleh Ibnu hajar dalam kitab “Fath al-Baari”.

Kini orang Jawa mengganti kelambu makam Sunan Kudus pada bulan Suro juga.

Saudaraku,

Mari kita sambut tahun baru Hiriyah, bulan Muharram dengan banyak beristighfar dan kita kuatkan tekad untuk memulai lembaran baru dalam hidup kita di tahun yang baru dengan semangat baru, menghidupkan Sunnah Nabi s.a.w dalam hidup kita. Amien. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 23 Oktober 2014
Fir’adi Abu Ja’far

Muhammad Asri Zainal Abidin

Wajibkah Berpegang pada Salah Satu Madzhab?

Dr Wahbah AzZuhaili dalam bukunya Ar Rukhas Asy Syar’iyyah meletakkan satu judul: “Adakah beriltizam dengan mazhab tertentu perkara yang dituntut syarak?” Beliau menyebut tiga pendapat. Namun beliau telah mentarjihkan (memilih) pendapat yang menyatakan tidak wajib.

Kata beliau, “Kata jumhur ulama: Tidak wajib bertaklid kepada imam tertentu dalam semua masalah atau kejadian yang terjadi. Bahkan boleh untuk seseorang bertaklid kepada mujtahid manapun yang dia mau. Jika dia beriltizam (berkomitmen, berpegang teguh) dengan mazhab tertentu, seperti mazhab Abu Hanifah, atau Asy Syafi’i atau selainnya, maka tidak wajib dia memegangnya terus-menerus. Bahkan boleh untuk dia berpindah-pindah mazhab. Ini karena tiada yang wajib melainkan apa yang diwajibkan Allah dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya tidak pula mewajibkan seseorang bermazhab dengan mazhab imam tertentu. Hanya yang Allah wajibkan ialah mengikut ulama, tanpa dibatasi hanya tokoh tertentu, dan bukan yang lain.

Firman Allah: “Maka bertanyalah kamu kepada Ahl al-Zikr jika kamu tidak mengetahui. “

Ini kerana mereka yang bertanya fatwa pada zaman sahabat dan tabi’in tidak terikat dengan mazhab tertentu. Bahkan mereka bertanya kepada siapa saja yang mampu tanpa terikat dengan hanya seorang saja. Maka ini adalah ijmak (kesepakatan) dari mereka baawa tidak wajib mengikut hanya seseorang imam, atau mengikut mazhab tertentu dalam semua masalah.

Katanya lagi: “Kemudian, pendapat yang mewajibkan beriltizam dengan mazhab tertentu membawa kepada kesusahan dan kesempitan, sedangkan mazhab adalah nikmat, kelebihan dan rahmat. Inilah pendapat yang paling kukuh di sisi ulama Ushul al Fiqh…Maka jelas dari pendapat ini, bahwa yang paling shahih dan rajih di sisi ulama Usul al-Fiqh adalah tidak wajib beriltizam dengan mazhab tertentu. Boleh menyelisihi imam mazhab yang dipegang dan mengambil pendapat imam yang lain. Ini karena beriltizam dengan mazhab bukan suatu kewajipan –seperti yang dijelaskan-. Berdasarkan ini, maka pada asasnya tidak menjadi halangan sama sekali pada zaman ini untuk memilih hukum-hakam yang telah ditetapkan oleh mazhab-mazhab yang berbeda tanpa terikat dengan keseluruhan mazhab atau pendetailannya”. (silakan merujuk: Al-Zuhaili, Dr Wahbah, al-Rukhas al-Syar’iyyah, halaman 17-19, Beirut: Dar al-Khair).