hasanalbanna.com

Tak Bolehkah Kita Semulia Asiyah?

Padang pasir itu begitu panas. Membuat Al A’masyi yang menemani Harun Ar Rasyid pergi berburu menjadi sangat kehausan. Menteri itu pun menoleh ke kanan dan ke kiri, barangkali ada orang yang bisa memberinya air.

Pandangan Al Ma’masyi berhenti pada sebuah kemah. Ya, ada kemah di padang pasir ini. Ia pun bergegas ke sana. Ternyata kemah itu dihuni oleh seorang wanita cantik yang mempesona.

Melihat ada tamu yang datang, wanita itu mempersilakannya untuk duduk agak jauh darinya.

“Aku Al A’masyi, menterinya Harun Ar Rasyid. Bolehkah aku minta air?” kata Al A’masyi memberitahukan keperluannya.

“Maaf, suamiku melarangku memberikan air kepada orang lain,” jawab wanita itu membuat Al A’masyi yang tadinya berharap segera terbebas dari kehausan merasa harus menahan sabar. Muncul pertanyaan dalam dirinya, mengapa suami wanita ini melarangnya menolong orang lain.

“Tapi aku punya jatah makan pagi, berupa susu yang belum kuminum. Ambillah untukmu,” lanjut wanita itu.

Al A’masyi bersyukur sekaligus kagum dengan kemuliaan wanita tersebut.

Tak berselang lama, wajah wanita itu tampak berubah. Rupanya ada sebuah titik hitam mendekat. Makin lama makin tampak, seorang laki-laki di atas untanya berjalan ke arah kemah itu.

“Itu suamiku,” kata wanita tersebut sambil bergegas menghampiri suaminya. Ia membantu lelaki tua, hitam dan jelek itu turun dari ontanya, serta mencuci tangan dan kakinya. Laki-laki itu kemudian masuk ke dalam kemah tanpa mempedulikan dan menyapa Al A’masyi. Dari dalam kemah, terdengar laki-laki itu berkata buruk kepada istrinya.

“Aku kasihan kepadamu,” kata Al A’masyi kepada wanita itu, sebelum ia berpamitan. “Engkau ini masih muda, cantik, berakhlak mulia, tetapi bergantung kepada suami tua, hitam dan buruk akhlaknya. Mengapa kamu bergantung kepadanya? Apakah karena hartanya? Padahal ia miskin. Apakah karena ketampanannya? Padahal ia hitam dan jelek. Apakah karena akhlaknya? Padahal akhlaknya buruk”

“Aku justru kasihan kepadamu wahai Al A’masyi,” jawab wanita itu dengan tegas.

“Bagaimana mungkin Harun Ar Rasyid punya menteri yang berusaha menjauhkan seorang muslimah dari suaminya. Ketahuilah, iman itu separuhnya adalah syukur dan separuhnya adalah sabar. Aku bersyukur karena Allah membimbingku dengan Islam dan memberiku kecantikan. Dan kini aku belajar bersabar dengan suami seperti yang engkau sebutkan.”

Al A’masyi tak bisa berkata apa-apa. Sungguh mengagumkan wanita itu. Allah telah memuliakan akhlaknya sebagaimana Dia telah mempercantik wajahnya.

Sebagaimana keseluruhan hidup ini, pernikahan juga ujian. Istri atau suami yang telah menikah dengan kita, kadang kita dapati tidak sesuai dengan mimpi-mimpi indah kita. Allah telah memberikan banyak contoh. Ada pasangan ideal seperti Adam dan Hawa, Ibrahim dan Sarah, atau Muhammad dan Khadijah. Namun Allah juga memberikan contoh sejarah, ada Nuh dan istrinya. Ada Fir’aun dan suaminya.

Sungguh membahagiakan jika suami dan istri kita adalah sosok ideal yang kita harapkan. Tetapi jika kita telah menikah dan suami atau istri kita tak seideal yang kita harapkan, kebahagiaan itu ada pada sikap kita. Ada nasehat bijak mengatakan, jika suami kita tak seburuk Fir’aun, tidak bolehkah kita menjadi perempuan semulia Asiyah?

Fir'adi Nasruddin

Rasulullah Sang Mediator Ulung

» لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا «

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (qs. Al-Ahzab: 21).

Saudaraku,
Shafiyurrahman al-Mubarakfuri dalam bukunya “al-rahiq al-Makhtum” menceritakan kisah renovasi Ka’bah dan proses peletakkan Hajar Asqad ke tempatnya semula.

‘Pada usia tiga puluh tahun, orang-orang Quraisy sepakat untuk merenovasi Ka’bah. Sebab Ka’bah itu berupa susunan batu-batuan, lebih tinggi dari tubuh manusia. Tepatnya sembilan hasta yang dibangun sejak zaman Nabi Isma’il a.s. Tanpa ada atapnya sehingga banyak pencuri yang dengan mudah dapat mengambil barang-barang berharga yang tersimpan di dalamnya. Dengan kondisi semacam itu, bangunan Ka’bah semakin rapuh dan dindingnya pun sudah mulai pecah-pecah.

Lima tahun sebelum kenabian, Mekkah dilanda banjir besar hingga meluber ke baitullah al-haram, sehingga sewaktu-waktu bisa membuat Ka’bah menjadi runtuh. Sementara itu orang-orang Quraisy dihinggapi perasaan bimbang antara merenovasi Ka’bah atau membiarkannya seperti semula. Karena bayangan peristiwa hancurnya Abrahah dan pasukannya oleh sekawanan burung Ababil (yang datang bergelombang) saat mereka akan merobohkan Ka’bah, dan melempari mereka dengan batu-batu panas dari neraka. Sehingga pasukan dari Shan’a Yaman tersebut bagaikan daun-daun yang dimakan ulat.

Namun Quraisy akhirnya sepakat untuk tidak mengambil bahan-bahan bangunannya terkecuali dari income yang baik-baik. Mereka tidak menerima harta dari maskawin para pelacur, jual beli dengan sistem riba dan perampasan terhadap hak orang lain. Sekalipun demikian mereka takut untuk merobohkannya.

Akhirnya al-Walid bin al-Mughirah mengawali perobohan bangunan Ka’bah, lalu diikuti oleh semua orang setelah tahu tidak ada sesuatu pun yang menimpa al-Walid. Mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunannya hingga sampai ke rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap untuk membangunnya kembali.

Mereka membagi sudut-sudut Ka’bah dan mengkhususkan setiap suku atau kabilah dengan bagiannya tersendiri. Setiap kabilah mengumpulkan batu-batu yang baik dan renovasi Ka’bah pun dimulai. Yang bertugas menangani urusan pembangunan Ka’bah adalah seorang arsitek berkebangsaan Romawi yang bernama; Baqum.

Tatkala pembangunan sudah sampai di bagian Hajar Aswad, mereka berselisih pendapat tentang siapakah yang paling berhak untuk mendapatkan kehormatan meletakkan batu mulia tersebut ke tempatnya semula. Perselisihan ini terus berlanjut hingga sampai empat atau lima hari tanpa ada keputusan. Bahkan perselisihan tersebut semakin meruncing dan hampir saja mengarah kepada pertumpahan darah di tanah suci.

Abu Umayah bin al-Mughirah tampil menawarkan solusi untuk melerai pertikain dan perselishan di antara mereka, dengan menyerahkan urusan ini kepada siapa saja yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima pendapat ini.

Allah menghendaki orang yang berhak tersebut adalah Rasulullah s.a w. Tatkala mengetahui hal tersebut, mereka berkata, “Inilah al-Amin kami ridha kepadanya, inilah dia Muhammad.”

Setelah semuanya berkumpul di sekitar Nabi s.a.w dan mengabarkan apa yang harus beliau lakukan, maka beliau meminta sehelai selendang dibentangkan, lalu beliau meletakkan Hajar Aswad tepat di tengah-tengahnya, lalu meminta pemuka-pemuka kabilah yang saling berselisih untuk memegang ujung-ujung selendang, lalu memerintahkan mereka semua mengangkatnya.

Setelah mendekati tempatnya beliau mengambil Hajar Aswad dan meletakkannya di tempatnya semula. Ini merupakan jalan pemecahan yang sangat brilian dan diridhai semua orang.

Saudaraku,
Orang-orang Quraisy kehabisan dana dari penghasilan yang baik. Maka mereka menyisakan di bagian utara kira-kira enam hasta, yang kemudian disebut dengan al-Hijr atau al-Hathim. Mereka membuat pintunya lebih tinggi dari permukaan tanah, agar tidak dimasuki oleh orang yang ingin melewatinya. Setelah bangunan Ka’bah mencapai ketinggian lima belas hasta, mereka memasang atap dengan disangga enam sendi.

Setelah selesai renovasi, Ka’bah itu berbentuk segi empat, yang ketinggiannya kira-kira mencapai lima belas meter, panjang sisinya di tempat Hajar Aswad dan sebaliknya adalah sepuluh kali sepuluh meter. Hajar aswad diletakkan dengan ketinggian satu setengah meter dari permukaan pelataran untuk thawaf.

Sisi yang ada pintunya dan sebaliknya setinggi dua belas meter. Adapun pintunya setinggi dua meter dari permukaan tanah. Di sekeliling luar Ka’bah ada pagar dari bagian bawah ruas-ruas bangunan. Di bagian tengahnya dengan ketinggian seperempat meter dan lebarnya kira-kira sepertiga meter. Pagar ini dinamakan “al-Syadzarawan”. Namun kemudian orang-orang Quraisy meninggalkannya.

Saudaraku,
Pelajaran berharga yang dapat kita petik dari peristiwa renovasi Ka’bah adalah sebagai berikut:

• Dengan kekufuran dan kesyirikan Quraisy, mereka tetap mengagungkan dan mensucikan Ka’bah al-Musyarrafah, sehingga dana yang mereka pergunakan untuk merenovasi Ka’bah mereka ambilkan dari yang halal lagi thayyib.

• Semua orang pada sejatinya menyimpan kekhawatiran dan ketakutan terhadap azab Allah s.w.t, apapun profesi, kedudukan dan kemuliaan yang mereka sandang di dunia.

• Jika kita ingin menjadi pemimpin dan tokoh masyarakat yang dicintai dan didengar oleh masyarakat, maka salah satu sifat yang harus kita punyai adalah ‘amanah’ dapat dipercaya.

• Mediasi sangat diperlukan untuk menyelesaikan persoalan dan kesalah pahaman yang terkadang muncul di tengah-tengah masyarakat.

• Pertikaian, konflik dan peperangan antar suku Quraisy dapat dihindari dan persatuan kembali terajut, karena kecerdasan dan kejelian Rasulullah s.a.w dalam membaca dan menganalisa persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

• Apa yang dilakukan Nabi s.a.w mencerminkan kemampuannya dalam menyelesaikan persoalan besar. Jika perannya gagal, maka Ka’bah dan sekitarnya akan menjadi saksi pertumpahan darah antar sesama suku dan kabilah Quraisy.

Saudaraku,
Mari kita menyiapkan diri untuk menajdi seorang mediator Islam, agar umat Islam mampu meraih kejayaan dan kemenangan. Konflik dan perselisihan sekecil apapun dapat dihindari dan kesatuan umat dapat terwujud di alam realita kehidupan kita.

Menampilkan kepribadian menarik dan akhlak yang memikat yang dibingkai dengan sifat amanah, insyaallah kta layak menjadi perekat dan pemberi solusi bagi permasalahan dan persoalan yang kerap muncul di tengah-tengah masyarakat. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 27 Oktober 2014
Abu Ja’far Fir’adi

Ahmad Mudzoffar Jufri

Esensi Hijrah

Momentum pergantian tahun hijriyah dari tahun 1435 ke tahun 1436, selalu mengingatkan kita ummat Islam pada peristiwa hijrah Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat muhajirin radhiyallahu ‘anhum dari kota Mekkan ke kota Madinah sekitar lima belas abad yang lalu. Peristiwa maha penting dalam sirah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itulah yang menjadi dasar pijakan dibalik pemilihan nama kalender Islam tersebut. Tentu bukan tanpa alasan ketika Amirul Mukminin Umar bin Al-Khathab bersama para sahabat radhiyallahu ‘anhum menetapkan peristiwa hijrah sebagai dasar perhitungan tahun dalam kalender kaum muslimin. Maka marilah kita menyambut – dan bukan merayakan – tahun baru 1436 Hijriyah dengan men-tajdid (memperbarui) semangat dan tekad dalam rangka menghijrahkan diri dan kehidupan kita secara total kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam.

Didalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kata hijrah digandengkan dan disebutkan secara berurutan setelah iman dan sebelum jihad.

Misalnya dalam firman Allah (yang artinya): “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Al-Baqarah: 218).

Atau firman Allah (yang artinya): ”Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan” (QS At-Taubah: 20).

Penyebutan tiga terminologi tersebut secara berurutan seperti itu juga kita dapati dalam QS Al-Anfaal ayat: 72, 74 dan 75. Begitu pula dalam hadits-hadits, seperti hadits yang menyebutkan bahwa, syetan akan selalu menghadang manusia di tiga jalan, yakni di jalan menuju Islam (iman), lalu di jalan menuju hijrah dan kemudian menghadangnya sekali lagi di jalan menuju jihad (lihat HR. An-Nasa’i).

Hal itu karena memang ada keterkaitan yang sangat erat antara ketiga terminologi Islam tersebut. Iman harus dibuktikan dengan hijrah lalu dengan jihad. Dan hijrah harus didahului dan didasarkan pada iman lalu dilanjutkan dengan jihad. Sedangkan jihad juga harus didasarkan dan didahului oleh iman lalu hijrah. Memang begitulah urutannya. Beriman lalu berhijrah lalu berjihad.

Hijrah berarti berpindah dengan meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain, atau berubah dengan meninggalkan suatu kondisi untuk menuju kondisi yang lain.

Dalam Islam, hijrah memang ada dua macam:

Pertama adalah hijrah hissiyyah (hijrah fisik dengan berpindah tempat) baik dari darul khauf (negeri/tempat yang tidak aman dan tidak kondusif) menuju darul amn (negeri/tempat yang relatif aman dan kondusif) seperti hijrah dari kota Mekkah ke Habasyah (Ethiopia) pada tahun kelima kenabian, maupun hijrah dari darul harb (negeri kafir yang memerangi Islam dan kaum muslimin) menuju darul Islam (negeri yang bersistem imamah islamiyah) seperti hijrah Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dari kota Mekkah ke kota Medinah pada tahun keempat belas kenabian.

Kedua adalah hijrah ma’nawiyyah (hijrah nilai) dengan meninggalkan nilai-nilai atau kondisi-kondisi jahiliyah untuk berubah menuju nilai-nilai atau kondisi-kondisi islami. Dan hal ini baik dalam aspek aqidah, ibadah, akhlaq, pemikiran dan pola pikir, muamalah, pergaulan, cara hidup, kehidupan berkeluarga, etos kerja, manajemen diri, manajemen waktu, manajemen dakwah, perjuangan, pengorbanan maupun aspek-aspek diri dan kehidupan lainnya sesuai dengan tuntutan keimanan dan konsekuensi keislaman.

Jika hijrah hissiyyah bersifat kondisional dan situasional serta harus sesuai dengan syarat-syarat tertentu, maka hijrah ma’nawiyyah bersifat mutlak dan permanen, serta sekaligus merupakan syarat dan landasan bagi pelaksananan hijrah hissiyyah. Sehingga dengan demikian hijrah ma’nawiyyah inilah yang sebenarnya merupakan hakekat dan esensi dari perintah hijrah itu, dimana kuncinya ada pada kata perubahan!

Ya, seseorang ketika telah berikrar syahadat dan menyatakan diri telah beriman dan berislam maka ia harus langsung ber-hijrah ma’nawiyyah ke arah perubahan total – tentu tetap mengikuti prinsip tadarruj (pentahapan) – sesuai shibghah rabbaniyah (lihat QS Al-Baqarah: 138) dan memenuhi tuntutan berislam secara kaffah (lihat QS Al-Baqarah: 208).

Maka dalam rangka menyambut – dan bukan memperingati – tahun baru 1436 Hijriyah, kita harus melakukan muhasabah dan introspeksi diri dengan bertanya, sejauh mana perubahan, peningkatan dan perbaikan islami telah terjadi dalam diri dan kehidupan kita selama ini, baik dalam skala individu, kelompok, jamaah, masyarakat, bangsa (yang notabene mayoritas muslim) maupun dalam skala ummat Islam secara keseluruhan? Dan apakah perubahan itu telah sesuai dengan usia keislaman dan keimanan masing-masing? Semoga demikian!

Akhirnya marilah kita jadikan momentum pergantian tahun Islam hijriyah ini sebagai faktor pemotivasi semangat dan pembaharu tekad untuk senantiasa menghijrahkan diri dan kehidupan menuju totalitas Islam sebagai syarat dan dasar dalam mengemban amanah dakwah dan menegakkan kewajiban jihad fi sabilillah untuk memenangkan dinullah dan menggapai surga serta ridha Allah. Dan semoga tahun baru 1436 Hijriyah mendatang ini akan menjadi tahun kemenangan dan kemuliaan bagi Islam, dakwah Islam dan kaum muslimin, serta menjadi tahun solusi dan perlepasan bagi ummat dan bangsa dari berbagai bencana serta krisis multidimensi yang selama ini terjadi dan mendera. Aamiin!