Keutamaan Orang yang Tabah dalam Menghadapi Kematian Anaknya

Abdullah Nashih Ulwan

Ketika seorang muslim mencapai taraf iman dan keyakinan yang tinggi, mempercayai ketentuan takdir, baik dan buruknya itu adalah dari Allah Subhanahu Ta’ala, maka akan tampak kecil segala peristiwa dan musibah yang menimpa dirinya. Ia akan berserah diri kepada Allah Subhanahu Ta’ala, jiwanya akan merasa tenang, hatinya akan tabah menghadapi cobaan, ridha akan ketentuan Allah dan tunduk kepada takdir Tuhan Alam Semesta.

Bertolak dari iman ini, Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam telah memberitahukan bahwa siapapun yang ditinggal mati anaknya, kemudian ia bersabar dan mengucapkan:

“Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali.”

Maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga yang diberi nama Baitul Hamdi (Rumah Pujian).

Tirmidzi dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abu Musa Al Asy’ari radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Apabila anak seorang hamba telah mati, maka Allah Subhanahu Ta’ala berfirman kepada para malaikat-Nya, ‘Apakah kalian telah mematikan anak hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Dia berfirman, ‘Apakah kalian telah mematikan buah hatinya?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Dia berfirman, ‘Apakah yang diucapkan oleh hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Ia  telah memuji-Mu dan mengucapkan ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali)’ Maka Dia berfirman, ‘Bangunlah sebuah rumah di surga untuk hamba-Ku dan namakan Baitul Hamdi.’”

Selain itu, kesabaran mempunyai buah yang akan dipetik oleh orang yang bersabar dan pasrah kepada Allah pada hari di mana harta dan anak-anak tidak berarti lagi (kiamat).

Di antara buah kesabaran, adalah bahwa kesabaran merupakan jalan menuju surga dan pelindung dari api neraka. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda kepada kaum wanita:

“Tidak ada seorang wanita pun di antara kamu sekalian yang kematian tiga orang anaknya, kecuali anak-anaknya itu akan menjadi pelindung baginya dari api neraka. Seorang wanita bertanya, ‘Dan dua orang anak.’ Rasulullah menjawab, ‘Dan dua orang anak.’”

Ahmad dan Ibnu Hibban meriwayatkan dari Jabir radiyallahu ‘anhu, “Aku telah mendengar Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Siapa yang kematian tiga orang anaknya, namun ia rela, maka ia akan masuk surga. (Jabir berkata), ‘Kami bertanya: Wahai Rasulullah, bagaimana dengan dua anak?’ Beliau menjawab, ‘Dan dua anak.’”

Salah seorang perawi berkata kepada Jabir, “Aku berpendapat, bahwa sekiranya engkau berkata satu, niscaya beliau akan mengatakan satu juga.” Jabir berkata, “Aku kira demikian.”

Di antara buah kesabaran ini juga, bahwa yang meninggal ketika kecil akan memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya pada hari kiamat nanti.

Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Habibah bahwa ketika ia berada dekat Aisyah radiyallahu ‘anha lalu Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam menghampirinya, beliau bersabda:

Tidak ada di antara dua orang muslim yang kematian tiga orang anaknya yang belum mencapai masa balig, kecuali pada hari kiamat nanti anak-anak mereka itu akan didatangkan kembali. Hingga ketika mereka berhenti di depan pintu surga, mereka diperintahkan, ‘Masuklah kalian ke dalam surga.’ Mereka berkata, ‘(Kami tidak akan masuk) hingga bapak-bapak kami masuk.’ Maka dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah ke dalam surga kamu bersama dengan bapak-bapak kalian.”

Muslim telah meriwayatkan di dalam Sahih-nya dari Abu Hasan, “Aku telah ditinggal mati dua orang anakku. Kemudian aku bertanya kepada Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, “Apakah engkau pernah mendengar sebuah hadis dari Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam yang akan engkau ucapkan kepada kami dan yang akan menyenangkan jiwa kami atas kematian kedua anak kami itu?” Abu Hurairah menjawab, “Ya” :

“(Yaitu) anak-anak kecil mereka tidak akan berpisah dengan surga. Salah seorang di antara mereka akan menggiring kedua orang tuanya. Ia akan menuntunnya dengan sudut bajunya atau tangannya, sebagaimana aku memegang ujung bajumu ini. Ia tidak akan meninggalkannya hingga Allah memasukkannya dan dirinya ke dalam surga.”

Di antara sikap patriotisme imani yang dimiliki oleh istri-istri para sahabat yang menunjukkan kesabaran, keridaan, dan keimanan ketika ditinggal mati anaknya, adalah sikap tabah Ummu Sulaim. Berikut penulis sajikan kisah Ummu Sulaim secara lengkap, seperti riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas radiyallahu ‘anhu:

Diceritakan bahwa anak Thalhah merintih sakit, sedangkan Abu Thalhah keluar rumah. Kemudian anak itu meninggal dunia. Ketika Abu Thalhah pulang, ia bertanya, “Bagaimana keadaan anakku?” Ummu Sulaim –ibu anak itu- menjawab, “Ia tenang seperti sedia kala (yang dimaksud adalah mati, sedangkan Abu Thalhah mengira bahwa anaknya itu dalam keadaan sehat).” Kemudian Ummu Sulaim menyediakan makan malam untuk Abu Thalhah. Setelah itu ia berhias diri, lebih cantik daripada biasanya, hingga Abu Thalhah menggaulinya. Setelah ia melihat bahwa suaminya sudah melepaskan rindunya dan merasa puas, Ummu Sulaim berkata kepada suaminya, “Wahai Abu Thalhah, bagaimana pendapatmu, jika suatu kaum meminjamkan suatu pinjaman, apakah yang meminjam itu berhak menolak mereka jika memintanya kembali?” Abu Thalhah menjawab, “Tentu saja tidak!” Kemudian Ummu Sulaim berkata, “Demikian pula dengan anakmu. Anakmu telah mati, maka mintalah pahala dari Allah.” Abu Thalhah berkata sambil marah, “Engkau telah membiarkan aku, hingga setelah aku berjunub karena bergaul denganmu, engkau beritahukan tentang anakku.” Kemudian ia pergi mendatangi Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam untuk memberitahukan apa yang terjadi. Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam membenarkan apa yang telah dikerjakan oleh Ummu Sulaim, lalu bersabda:

Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.”

Dan dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa beliau bersabda:

“Ya Allah, berilah berkah kepada mereka berdua.”

Kemudian Ummu Sulaim melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah oleh Nabi sholallahu ‘alaihi wassalam dan salah seorang di antara kaum Anshar berkata, “Kemudian aku melihat tujuh orang anak, semuanya pandai membaca Al Quran, yakni anak-anak dari Abdullah. Semua itu, tidak lain karena dikabulkannya doa Rasulullah sholallahu ‘alaihi wassalam ketika beliau berdoa, ‘Ya Allah, berikanlah berkah kepada mereka berdua.’

Tidak diragukan lagi jika iman kepada Allah Subhanahu Ta’ala benar-benar diresapi di dalam kalbu seorang mukmin, maka ia akan membuat keajaiban-keajaiban. Sebab, iman itu dapat mengubah seorang yang lemah menjadi kuat, pengecut menjadi pemberani, bakhil menjadi dermawan, dan gelisah menjadi tabah.

Alangkah layaknya bila bapak-bapak dan ibu-ibu memiliki keimanan dan keyakinan, sehingga mereka tidak akan merasa gelisah dan goncang ketika ditimpa suatu musibah atau ditinggal mati anaknya. Bahkan mereka akan mengatakan, “Sesungguhnya kepada-Nyalah kami akan kembali.” Sebab, kepunyaan Allahlah apa yang diambil dan diberikan itu. Dan segala sesuatu itu mempunyai masa yang telah ditentukan baginya. Maka bersabarlah dan memintalah pahala dan balasan dari Allah yang mempunyai keputusan dan perintah.

“Ya Allah, ringankanlah kami menanggung beban musibah dunia. Berikanlah kami sifat rida atas qada dan qadar-Mu. Pimpinlah kami di dunia dan di akhirat, karena hanya Engkaulah sebaik-baik pemimpin, wahai Tuhan Seru sekalian alam.”

  • Heri Priana

    Sukron admin, hati kami semakin tenang dan ikhlas, sebulan yang lalu buah hati kami M. Hafizh Ar Rasyad kembali ke pangkuan Sang Kholiq, Mdh2an kami dikumpulkan kembali di dalam Jannah-Nya, Amin.