Fir'adi Nasruddin

3 Model Istri Kita

» أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ «

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah, yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan menta’atinya, dan bila ia tiada berada di samping suaminya, ia akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud).

Saudaraku,
Di balik ketegasan dan keangkeran tampilan luarnya, sosok Umar bin Khattab r.a ternyata sangat romantis dan sangat mesra dengan istrinya. Bermanja-manja di depannya dan bahkan terkadang ia seperti seorang bayi dalam pelukan dan kasih sayang istrinya.

Berbeda dengan para suami di masa sekarang, bahkan mungkin kita termasuk di dalamnya. Di luar dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, romantis dan penuh pengertian. Tapi di tengah-tengah keluarga kita, anak-anak mengenal kita sebagai orang tua yang galak dan kasar. Dan di depan istri yang setia menemani perjalanan hidup, kita identik dengan suami yang egois, tertutup, killer, cepat memfonis, sulit memaafkan kesalahan pasangan dan yang senada dengan itu.

Jika demikian apa kira-kira yang akan dibicarakan pasangan hidup kita di belakang kita? Apakah ia akan membanggakan kita di hadapan teman bicaranya? Atau memuji kebaikan kita? Atau sebaliknya ia akan menumpahkan perasaan kesalnya yang selama ini terpendam di sudut hatinya yang terdalam kepada orang lain tentang catatan-catatan buruk tentang kita?.

Saudaraku,
Umar bin Khattab, mertua Rasulullah s.a.w pernah membagi model istri pendamping hidup menjadi 3 (tiga) kelompok:

• Istri yang selalu menjaga kehormatan dirinya, taat kepada Rabb-nya, lemah lembut terhadap suami dan anak-anaknya serta membantu suaminya untuk mentaati Rabb-nya.

• Istri yang tak lebih berperan sebagai lumbung, yang hanya mampu melahirkan anak-anaknya.

• Istri yang berperangai buruk, sekadar menjadi beban berat yang menggelayut di pundak suaminya.

Saudaraku,
Istri model pertama, adalah istri dambaan semua laki-laki yang ingin membangun mahligai keluarga yang beratapkan sakinah, berdindingkan mawaddah dan berhamparkan rahmah.

Dengan sakinah, cinta dalam keluarga selalu berbinar dan bersinar, tak akan redup disapa panas matahari dan tak akan sirna disiram kucuran air hujan yang deras mengalir.

Dengan mawaddah warna dinding keluarga tak akan pernah luntur, walau pun usia pernikahan semakin uzur. Dan cinta tetap kekal walau pun telah masuk ke ling kubur.

Dengan rahmah, hubungan pasutri senantiasa hangat dan mesra, walau pun rumah tangga telah diramaikan suara tawa dan tangisan anak-anak. Keharmonisan semakin meluaskan dada, walau pun kamar tidur terasa sempit mengapit rasa.

Saudaraku,
Ada yang mengistilahkan istri kita sebagai ‘menteri dalam negeri’, ada pula yang menggelarinya sebagai ‘menteri sekretaris negara’. Tapi terasa lebih dekat bila kita menyebutnya sebagai ‘Sekpri’ sekretaris pribadi. Karena memang seharusnya sudah tiada lagi yang kita rahasiakan tentang diri kita. Bahkan baik buruknya zahir dan bathin kita, kartunya sudah ada pada istri kita.

Jika kita memiliki istri model pertama, sebenarnya kita adalah orang terkaya di dunia. Walau pun kita tak memiliki simpanan emas dan permata. Walau pun kita tak memiliki sawah ladang berhektar-hektar luasnya. Walau pun kita belum memiliki kontrakan dan kos-kosan yang kita sewakan kepada orang yang berprofesi wiraswasta dan mahasiswa.

Karena Allah mengilustrasikan istri sebagai sawah ladang milik kita. Karena Rasul junjungan menyebut bahwa istri shalihah adalah perhiasan dunia yang terindah. Jika demikian bukankah kita menjadi orang terkaya di dunia bila telah memilikinya?.

Istri model pertama, jika kita pergi meninggalkannya untuk suatu keperluan yang memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan lamanya dengan tujuan studi, mengais rezki, menularkan ilmu, dan keperluan lainnya, ia akan menjaga kesucian dirinya. Karena ia telah menghibahkan hati, zahir dan bathinnya hanya untuk suaminya seorang. Ia tak pernah menampakkan perhiasan dan kecantikannya selain untuk arjunanya.

Jika suaminya berangkat mengais rezki, maka ia mendo’akannya dan berpesan agar suaminya tak menafkahi anak istrinya dari harta yang syubhat apalagi dari yang haram. Jika suaminya pulang dari tempat kerja atau tugas atau yang lainnya, maka ia sambut dengan seulas senyum tulus merekah, disuguhkan untuknya teh sari cinta dengan gula asmara. Sehingga keletihan dan kelelahan suami dari tempat kerja hilang sirna tak berbekas.

Di malam-malam hari selain ia serahkan dirinya untuk suaminya dalam paket ibadah spesial, ia juga mengajak suaminya untuk menyuburkan cinta dalam keluarga dengan merapat kepada Zat Yang telah Mempertemukan cinta keduanya, melalui shalat malam sebagai manifestasi dari sabda Nabi s.a.w, “Allah merahmati seorang istri yang bangun di tengah malam lalu shalat (tahajjud) dan membangunkan suaminya. Jika suaminya enggan untuk bangun, maka ia pun memercikkan air ke wajah suaminya.” (HR Abu Dawud).

Karena ia yakin, kedekatan dan keharmonisan hubungan dengan yang di Atas akan memantulkan cinta dan kedekatan pada keduanya. Sebaliknya keringnya interaksi dengan yang di Atas akan berdampak pada rapuhnya cinta dan ringkihnya pijakan kasih keduanya.

Dan sudah barang tentu shalat malam yang dilakukan dengan berjama’ah oleh pasutri merupakan simbol perpaduan antara kekuatan ruhani dengan keintiman jasmani.

Perjalanan kapal keluarga dalam mengarungi samudera hidup, jika suami yang menjadi nahkoda kapal didampingi istri seperti ini, maka kapal cinta terus melaju kencang tanpa ada hambatan sebagai penghalang. Tak tergoncang dengan badai. Tak terombang-ambing karena ombak. Tak terbutakan pandangan karena awan gelap. Tak ada nyanyian kesal saat suplai makanan terlambat dan terhambat. Karena ia tahu, apapun keadaan dan kondisi kapal saat berlayar, sang nahkoda tetap berupaya memandu kapal agar tetap melaju sampai ke darat. Selamat hingga ke akherat.

Hidup berdampingan dengan istri model pertama ini, hidup terasa seperti dalam surga Firdausi. Pelangi selalu menghiasi langit-langit hati. Senyuman terus menghiasi hari-hari. Rahmat-Nya menjelma di alam realiti.

Saudaraku,
Salah satu tujuan membangun rumah tangga adalah lahirnya generasi dan anak-anak yang berbakti. Bahkan seorang ibu penjual sayur di kawasan Rawasari pernah menggambarkan bahwa anak adalah tali cinta. Artinya dengan hadirnya sang buah hati, maka cinta dalam keluarga semakin membahana.

Sebaliknya, tanpa kehadiran anak setelah belasan tahun menikah, terkadang pasutri dihantui perasaan lelah dan bosan berumah tangga. Terlebih ketika tiada iman di dalam hati, maka hal itu menjadi kunci problematika keluarga yang tak berujung, hingga terbuka pintu perpisahan. Tapi jika dilihat dengan kaca mata iman, belum hadirnya buah hati bisa dimaknai sebagai bulan madu yang selalu diperpanjang tanpa batasan.

Namun bukan berarti peran istri hanya sekadar melahirkan anak-anak kita. Yang tidak kalah pentingnya adalah ia mampu menjadi madrasah terbaik bagi anak-anak kita.

Untuk itu istri di rumah harus berperan aktif menambah wawasan keilmuannya secara mandiri, untuk menopang tugas suci yang dibebankan di pundaknya, yakni pendidikan anak. Jika tidak, maka ia hanya menjadi semacam lumbung, yang bertugas melahirkan anak-anak dari suaminya. Ia tidak tahu, bagaimana cara mengembangkan potensi kebaikan dalam dirinya.

Repot, menjadi alasan klasik istri model kedua ini saat kita membimbing dan memandunya dengan sabar untuk menapaki tangga-tangga ilmu.

Capek dan ribet, itulah kata-kata yang keluar dari bibirnya yang mungil saat kita mengajaknya untuk mengunjungi ma’had tahfizh dan program parenting dan yang senada dengan itu.

Saudaraku,
Model istri ketiga, seperti istri pembawa kayu bakar dalam rumah tangga kita. Pencipta neraka dalam keluarga. Sakinah, mawaddah wa rahmah yang menjadi tujuan asasi dari sebuah pernikahan menjadi panggang jauh dari api.

Dimulai dari permintaan mahar yang selangit, yang memberatkan pundak suaminya. Konsumtif dalam membelanjakan harta suaminya. Pakaian dan perabot rumah tangganya selalu yang ber-merek. Apatah lagi untuk dandanan dan alat-alat kecantikannya, semua produk Eropa dan Amerika. Semua keinginannya dipikulkan kepada suaminya yang lemah.

Jika ia melihat kekurangan dan kelemahan dari suaminya, ia menyebarkannya kepada tetangga-tetangganya seolah-olah menjadi berita hangat di pagi hari.

Istri model inilah yang pernah disinggung Nabi s.a.w dalam sabdanya, “Aku melihat surga -atau aku diperlihatkan surga- lalu aku makan setangkai anggur dari surga itu. Seandainya aku ambil tentu kalian memakannya yang tersisa dari dunia. Aku melihat neraka dan belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari itu. Aku melihat mayoritas penduduknya adalah wanita.“

Para shahabat bertanya, “Mengapa demikian wahai Rasulullah?.” Beliau bersabda, “Karena kekufuran mereka”. Beliau ditanya (lagi), “Apakah mereka mengingkari Allah?.” Beliau bersabda, “Mereka mengingkari suami dan kebaikannya. Andaikata engkau berbuat kebaikan pada mereka sepanjang masa kemudian ia melihat sesuatu yang tidak disenanginya darimu, ia berkata ‘aku tidak melihat kebaikan darimu sama sekali’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Saudaraku,
Paras yang menarik tanpa dipercantik dengan kepribadian yang mempesona adalah fatamorgana. Terlebih lagi jika ia mulai bersolek untuk orang ketiga. Jika demikian, maka bencana telah mengintip dari jendela keluarga.

Mempunyai istri model ketiga ini seperti menggenggam bara api. Semacam bernafas dalam lumpur. Menatap ruang dalam debu. Berlayar dalam badai. Nasib kapal cinta menjadi tak tentu arah. Dan mungkin pada akhirnya menghantam gunung es, dan tenggelam di lautan atlantik yang dalam.

Saudaraku,
Mari kita arahkan dan kita ajak istri kita dengan cinta dan kelembutan, agar ia dapat menapaki tangga-tangga perjalanan menuju model istri pertama. Sehingga di dunia kita menjadi suami paling bahgia di dunia. Dan di akherat, menggapai surga dapat terlaksana, amien. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 11 Maret 2015
Fir’adi Abu Ja’far