Muhammad 'Imarah

Ahlul Hadits

Istilah Ahlul Hadits adalah sebutan yang diberikan untuk kelompok yang sering– secara berlebihan– disebut dengan Ahlus Sunnah, Salafiah atau Hasywiyyah, sebab Ahlul Hadits adalah satu trend yang berpegang pada teks-teks agama dan riwayat-riwayat dari para sahabat sebagai satu-satunya referensi –atau hampir dapat dikatakan hanya satu-satunya– rujukan Agama, dengan menolak memasukkan penalaran akal (ra’y), qiyas, ta’wil, dan metodologi akal lainnya ke dalam kerangka referensi Agama. Bahkan dapat dikatakan menolak penalaran akal dalam memahami nash-nash, cukup dengan mengambil lahiriah nash-nash itu.

Dengan sendirinya, nash-nash Agama yang merupakan rujukan dalam persoalan-persoalan Agama adalah Kitab dan Sunnah. Akan tetapi dikarenakan kesibukan para imam kelompok ini dalam tugas pengumpulan hadits Nabi dan penyusunannya ke dalam Kitab Shahih, Musnad, dan Jami’; kesibukan mereka dalam pengecekan Ilmu Musthalahul Hadits dirayah dan riwayah secara quantitatif maupun qualitatif serta begitu penting kedudukannya dalam poros ilmu-ilmu Islam baik yang berkaitan dengan syari’ah maupun mu’amalah, maka para imam kelompok aliran pemikiran ini muncul sebagai pakar-pakar profesional di bidang kompilasi, kritik, penyusunan, dan pensyarahan hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh sebab itulah mereka dikenal dengan sebutan Ahlul Hadits.

Masa kejayaan mereka ini mencapai puncaknya pada era pemerintahan Dinasti Abbasiah, sebab pengaruh yang ditimbulkan oleh aliran rasionalisme, filsafat dan pemikiran rasional Yunani serta paham iluminisme serta esoterisme Persia telah menimbulkan sentakan besar terhadap mayoritas umat Islam. Untuk menghadapi gelombang pemikiran asing ini mereka menyambut dengan penuh antusiasme seruan kembali kepada teks-teks Agama sebagai benteng yang diwakili oleh Ahlul Hadits, dipelopori oleh Imam Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal (780-885 M), penulis kitab Al Musnad yang terkenal itu. Dalam aliran pemikiran Ahlul Hadits ini terdapat sejumlah tokoh yang menekuni bidang hadits baik kompilasi, kritik maupun penyusunan secara tematik, serta penyusunan ilmu-ilmu hadits. Di antara tokohtokoh ini ialah: Ibnu Rahawaih (wafat 852 M), seorang imam dan pakar ilmu Ta’dil dan Jarh; Imam Al Bukhari (wafat 870 M); Abu Dawud (wafat 888 M); Ad Darami (wafat 893 M); Ath Thabrani (wafat 971 M); Al Baihaqi (wafat 1066 M), dan imam-imam lainnya penyusun hadits dalam bentuk Kitab Musnad, Jami’, dan Shahih. Begitu pula terdapat dalam aliran ini sejumlah fuqaha (ulama fiqh), mujtahidin (ulama ahli ijtihad), dan mujaddidin (ulama pembaharu) yang di antaranya Ibnu Taimiyah (1263-1328 M), Ibnu Al Qayyim Al Jauziyah (1292-1350 M), dan tokoh-tokoh lainnya.

Imamah aliran ini telah terbentuk tanpa saingan pada Imam Ahmad bin Hanbal, sebenarnya bukanlah disebabkan karena jasanya mengkompilasi Kitab Al Musnad, melainkan disebabkan adanya beberapa faktor penting lainnya, di antaranya bahwa dia adalah peletak metodologi tekstual yang menjadi karakter pokok aliran ini, yaitu metodologi yang membatasi referensi Agama hanya pada nash-nash Agama: teks-teks Al Qur’an dan Sunnah, tanpa perangkat penalaran akal, disertai dengan sikap sangat hati-hati untuk menghindari penggunaan penalaran akal ini dalam seluk beluk teks-teks ini.

Komitmen Imam Ahmad pada metodologi tekstual ini yang dipakai sebagai satu-satunya jalan untuk memahami Agama telah mencapai tingkat yang tidak memungkinkan baginya menggunakan pendapat atau penalaran akal, atau qiyas, melainkan lebih memilih riwayat yang ma’tsur meskipun terdapat beberapa riwayat yang berbeda atau bertentangan dalam satu masalah, sehingga ia kadang-kadang memberi dua fatwa hukum yang berbeda dikarenakan adanya riwayat ma’tsur yang berbeda dalam satu masalah itu, yang dengan ungkapan Ibnu al-Qayyim, dikatakan: “Apabila para sahabat berselisih paham dengan dua pendapat maka Ibnu Hanbal mengemukakan dua riwayat tentang masalah tersebut.”

Ini adalah suatu manhaj yang membuat agama menjadi mudah dan memberi kelapangan kepada umat dalam masalah furu’iah (masalah sekunder) dan persoalan-persoalan yang tidak prinsipil, berbeda dengan yang sering dianggap oleh lawan-lawan aliran ini. Rukun-rukun manhaj tekstual ini, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Ahmad bin Hanbal ada lima, yang disebut oleh Ibnu Qayyim secara beruntun sebagai berikut:

  • Prinsip pertama adalah nash. Apabila terdapat nash, maka nash inilah yang dipakai tanpa melihat kepada sesuatu yang bertentangan dengannya dan tidak memperlakukan hadits shahih dengan mendahulukan qiyas, atau penalaran akal atau kata-kata sahabat.
  • Prinsip kedua adalah fatwa sahabat. Jika terdapat fatwa sebagian sahabat dan tidak ada sahabat yang menentang fatwa itu, maka fatwa ini tidak dapat dikalahkan oleh qiyas, atau penalaran akal.
  • Prinsip ketiga adalah bahwa apabila terdapat perbedaan pendapat di antara para sahabat, maka dipilih pendapat yang lebih dekat dengan Kitab atau Sunnah dan tidak keluar dari pendapat mereka meskipun seandainya tidak tampak mana yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat sahabat.
  • Prinsip keempat adalah mengambil hadits mursal dan hadits dha’if, jika tidak ada nash lain yang mendukung. Hadits mursal dan hadits dha’if lebih kuat baginya daripada pendapat akal.
  • Prinsip kelima adalah qiyas dalam keadaan darurat. Jika tidak ditemukan nash, tidak ada ucapan sahabat, atau pendapat salah seorang sahabat, atau atsar mursal atau dha’if, maka qiyas lalu dipakai dalam hal ini semata karena terpaksa.

Inilah prinsip-prinsip metodologi tekstual yang dikemukakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Nash pada tingkat apapun adalah rujukan halal dan haram, bukan pendapat akal, atau qiyas atau ta’wil, atau citarasa sufistik, atau qaidah sebab musabab.