Achmad Satori Ismail

Al Quran dan Imunitas Tubuh

الْحَمْدُ لِلَّهِالَّذِ يْأَنْزَ لَعَلَىعَبْدِ هِالْكِتَ ابَ وَلَمْيَجْعَلْلَهُعِوَجًا. قَيِّمً الِيُنْذِ بَأْسًاشَدِيدً امِنْلَدُنْهُوَ يُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَا لَّذِينَيَعْمَلُ ونَالصَّا لِحَاتِأَ نَّلَهُمْأَجْرً احَسَنًا ،مَاكِثِينَفِيهِأَبَدًا ،وَيُنْذِرَالَّذِينَقَالُ وااتَّخَذَاللَّهُوَلَدًا مَالَهُمْبِهِمِنْعِلْمٍوَ لاَلأَبَائِهِمْكَبُرَ تْكَلِمَةًتَخْرُ جُمِنْأَفْوَ اهِهِمْإِنْيَقُولُ ونَإِلاَّكَذِبًا. أشْهَدُ أَنلاَّإِلَهَإِلاَّ اللهُوَحْدَهُلاَشَرِ يكَلَهُ ،وَأَشْهَدُ أَنَّسَيِّدَ نَاوَنَبِيَّنَ مُحَمَّدًاعَبْدُ اللهِوَرَ سُولُهُصَلَّىا للَّهُعَلَيْهِوَ سَلَّمَوَ عَلَىآ لِهِوَ أَصْحَا بِهِأَ جْمَعِينَ، وَالتَّا بِعِينَلَهُمْبإِ حْسَانٍإِ لَىيَوْ مِالدِّيْن، أَمَّابَعْدُ:  أَيّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَ طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَتَعَالَى:يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ.  آل عمران: ١٠٢

Hadirin jamaah Jum’at rahimakumullah.

Pada kesempatan sholat jumat yang berbahagia ini, marilah kita bersama-sama meraba diri dan hati kita masing-masing, sudahkan keduanya kita tata sedemikian rupa hingga menambah nilai ketakwaan kita kepada-Nya. Hati ini harus selalu kita jaga, jangan sampai rusak terkena penyakit yang merusak jiwa dan keimanan kita berupa ma’siat yang terus kita lakukan. Karena kema’siatan kecil yang terus dibiarkan dan dilakukan akan membuat hati menjadi hitam kelam dan keras. Dan bila terasa diri ini banyak dosa segeralah minta ampunan kepada-Nya. Atau bersegeralah melaksanakan hAl ha yang disukai-Nya sebagai tebusan atas kesalahan-kesalahan kita, agar kita menjadi suci kembali. Semoga Allah memberikan kesucian dalam jiwa raga dan hati kita untuk terus melakukan ketaatan kepadanya.

Sidang jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Dalam suatu konferensi kedokteran di Kairo beberapa waktu yang lalu, Doktor Ahmad Al Qadhi, ahli penyakit jantung dan direktur lembaga pendidikan dan penelitian kedokteran Islam di Amerika, menyatakan bahwa mendengarkan atau membaca Al Quran mampu menimbulkan ketenangan jiwa yang menyebabkan peningkatan daya imunitas tubuh melawan serangan penyakit.

Kesimpulan tersebut disampaikan dalam konferensi tersebut setelah mengadakan riset lapangan terhadap 210 pasien sukarela selama 48 kali pengobatan yang dibarengi dengan membaca Al Quran atau memperdengarkannya. Ternyata 77% dari sampel acak yang terdiri dari muslim dan non muslim tersebut, menampakan adanya gejala pengenduran syaraf yang tegang dan selanjutnya menimbulan ketenangan jiwa. Semua gejala tadi direkam dengan alat pendeteksi elektronik yang dilengkapi dengan komputer untuk mengukur setiap perubahan yang terjadi dalam tubuh selama pengobatan. Menurut Al Qodli, berkurangnya ketegangan saraf ini mampu mengaktifkan dan meningkatkan daya imunitas tubuh dan memperoleh proses kesembuhan pasien.

Sidang jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Penemuan ilmiah tersebut menunjukan salah satu kemukjizatan sunnah Nabawiyah yang menyatakan :

عَنْأَ بِيهُرَ يْرَ ةَرَ ضِيا للهُعَنْهُ ، عَنِا لنَّبِيِّصَلَّىا للهُعَلَيْهِوَ سَلَّمَقَالَ: وَ مَاا جْتَمَعَقَوْ مٌفِيبَيْتٍمِنْبُيُوْ تِاللهِيَتْلُوْ نَكِتَا بَاللهِوَ يَتَدَا رَ سُوْ نَهُبَيْنَهُمْإِ لاَّنَزَ لَتْعَلَيْهِمْا لسَّكِيْنَةُ وَ غَشِيَتْهُمُا لرَّ حْمَةُ ،وَ حَفَّتْهُمُا لْمَلاَئِكَةُ ،وَذَكَرَ هُمُاللهُفِيْمَنْعِنْدَهُ. (رواه مسلم)

“Dan tiadalah suatu kaum berkumpul disalah satu rumah Allah (masjid) membaca kitabullah (Al Quran) dan mempelajarinya kecuali akan dikelilingi Malaikat, dianugerahi ketenangan, diliputi rahmat dan disebut-sebut Allah dihadapan makhluk yang dekat kepadanya.“ (HR. Muslim).

Hadits Nabawi diatas menyebutkan bahwa orang yang akan membaca dan mempelajari Al Quran, minimal akan mendapat empat keutamaan :

Pertama, para Malaikat akan mengelilingi orang-orang yang sedang membaca Al Quran. Maksudnya, ikut mendengarkan bacaan mereka, menyalami dan memelihara mereka dari berbagai bala’ dan musibah.

Kedua, orang-orang yang membaca atau mendengarkan Al Quran akan dianugerahi ketenangan jiwa. Maksudnya, ia akan berhati bersih berkat cahaya Al  Quran, hilang rasa kebimbangan dan kegundahan jiwanya, kemudian dilimpahi Nur Ilahi dalam hatinya. Ketenangan jiwa inilah yang membawa dirinya taat kepada Allah sehingga menjadi sehat jasmani dan ruhaninya. Allah menegaskan dalam firman- Nya:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَٮِٕنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِ‌ۗ أَلَا بِذِڪۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَٮِٕنُّ ٱلۡقُلُوبُ. الرعد: ٢٨

“Orang-orang beriman hati mereka tenang dengan mengingat Allah, Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah (dzikrullah) hati menjadi tenang” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Membaca Al Quran termasuk juga didalamnya dzikrullah ini.

Ketiga, membaca dan mendengar Al Quran akan mendapat limpahan rahmat dan berkat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah telah menyatakan hal ini dalam Al Quran surat Al ‘Araaf  ayat 204:

وَإِذَا قُرِئَ ٱلۡقُرۡءَانُ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُ ۥ وَأَنصِتُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ.  الأعراف: ٢٠٤

“Dan apabila dibacakan Al Quran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat”.

Keempat, orang yang mempelajari Al Quran akan disebut-sebut Allah di kalanganpara Malaikat.

Sidang jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Di era globalisasi ini, kita dapati banyak manusia yang terserang penyakit kelabilan jiwa seperti depresi, schizoprenia, stress dan penyakit guncangan lainnya. Hasil penelitian selama ini, menunjukan bahwa di Indonesia orang yang terserang stress mencapai 20% dari seluruh penduduk kendatipun jumlah ini tidak separah di Inggris yang mencapai 25% atau di Amerika yang mencapai 35%. Namun cukup memprihatinkan dan nampaknya semakin meningkat jumlahnya. Sehingga telah dicanangkan penambahan beberapa rumah sakit jiwa di beberapa kota, khususnya di Jakarta. Gejala meningkatnya jumlah manusia yang terserang guncangan jiwa ini di sebabkan oleh banyak hal, antara lain persaingan ketat di bidang materi, tensi ekonomi yang semakin berat dan jauhnya mayoritas manusia dari manhaj Ilahi. Yang disebut terakhir ini, nampaknya penyebab paling dominan. Allah telah menegaskan hal tersebut dalam Al Quran surat Thaha ayat 124,

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِڪۡرِى فَإِنَّ لَهُ ۥ مَعِيشَةً۬ ضَنكً۬ا وَنَحۡشُرُهُ ۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ أَعۡمَىٰ. طه: ١٢٤

 “Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami kumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Penghidupan yang sempit inilah yang menimbulkan pelbagai tingkatan stres manusia. Fadilah membaca Al Quran sangatlah besar. Orang yang belajar dan mengajarkanya di golongkan dalam kelompok orang-orang yang terbaik kualitas Islamnya. Membacanya memperoleh pahala yang besar dari Allah. Setiap huruf mendapat satu kebaikan yang dilipatgandakan menjadi sepuluh kali kebaikan. Al Quran akan memberikan safaat kepada para pembacanya di hari kiamat nanti. Dan yang jelas setelah dibuktikan secara ilmiah, membaca atau mendengarkan Al Quran mampu menurunkan ketegangan jiwa, menimbulkan ketenangan dan selanjutnya akan menambah daya imunitas tubuh.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Berdzikir dan membaca Al Quran begitu banyak faedahnya, tak terkecuali untuk kesehatan jiwa yang selanjutnya akan terhindar dari stres. Alangkah baiknya jika kita mengalokasikan waktu khusus untuk berdzikir dan membaca atau merenungi Al Quran. Namun, bila memang sangat sulit, kita bisa memberdayakan waktu luang yang seringkali ada namun belum terlalu maksimal diberdayakan. Ketika kita sedang terjebak kemacetan di jalan raya atau menunggu dalam antrian, sebaiknya kita mengisi waktu dengan dzikir atau mendengarkan ayat–ayat Al Quran dari pada harus melamun tak karuan atau mendengarkan musik yang belum tentu berpahala.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga dan memberikan kesehatan jasmani dan rohani kepada kita, sehingga optimal dalam melaksanakan berbagai aktivitas dalam rangka penghambaan diri kepadaNya. Amin ya rabbal ‘alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ.