Hasan Al Banna

Alam Metafisik dalam Al Qur’an

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Ikhwanku tercinta, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, salam yang baik dan diberkahi: assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Dalam pembicaraan kita yang lalu, kita telah berbicara tentang manusia dalam Al Qur’an. Saya telah mengemukakan bahwa Al Qur’an berkisah tentang manusia dalam banyak ayat dan dalam banyak surat. Al Qur’an mengemukakan unsur materi dan tanah serta unsur ruh dalam komposisi diri manusia serta tentang hubungannya dengan makhluk-makhluk lain. Al Qur’an menyeru manusia agar meningkatkan kualitas ruh yang ada pada dirinya dengan amal shalih, membersihkannya dengan ma’rifah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menyucikannya dengan mengarahkan kepada kebaikan. Dalam pembicaraan yang baru lalu, kita juga telah membahas pandangan Al Qur’an tentang alam fisik atau alam materi. Saya telah menjelaskan bahwa Al Qur’anul Karim mengemukakan dan memaparkan banyak fenomena alam dalam banyak ayat. Di sana ada penjelasan tentang langit, bumi, matahari, bulan, hujan, tumbuhan, laut, sungai, dan gunung.

Ikhwan sekalian, ini semua adalah fenomena alam yang dikemukakan dalam Al Qur’an. Al Qur’an mengemukakan dan menjelaskan, tentang awal penciptaan alam, tentang fenomena-fenomena yang terjadi di alam, dan tentang akhir dari kehidupan. Saya telah mengatakan bahwa Al Qur’an mengemukakan semua ini bukan dengan analisis ilmiah supaya menjadi sebuah buku astronomi, botani, atau zoologi, tetapi Al Qur’an mengemukakannya lantaran ia merupakan bukti-bukti kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala, tanda-tanda penciptaan-Nya yang sempurna dan bijaksana, serta indikasi-indikasi dari tindakan Allah subhanahu wa ta’ala yang luar biasa. Al Qur’anul Karim mengemukakannya agar menjadi pelita yang menerangi manusia untuk mengenal Allah.

Saya juga telah mengemukakan bahwa Al Qur’an berbicara tentang hal itu tidak dari aspek ilmu pengetahuan. Sebab, akal manusia itu senantiasa berkembang dan maju secara bertahap. Karena itu, akal harus diberi kebebasan supaya mengenal sendiri benda-benda dan bentuk- bentuknya, sesuai dengan tingkat perkembangan dan kesempurnaan akal itu sendiri. Semakin sempurna akal manusia, maka ia semakin mampu menyingkap hAl hal yang musykil dan sulit dipahami. Tidak ada jalan untuk membukakan pengetahuan tersebut kepadanya secara sekaligus dalam fase-fase kehidupannya. Saya juga telah menjelaskan bahwa keterangan Al Qur’an mengenai benda-benda ini tidak bertentangan sedikit pun dengan fakta-fakta ilmiah yang benar, baik mengenai awal penciptaannya, fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya, atau akhir kehidupan di alam semesta ini. Ini merupakan bukti nyata bahwa kitab ini berasal dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. “Kalau kiranya Al Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.” (QS. An-Nisa’ : 82)

Kemudian kita telah menemukan pelajaran bahwa kita wajib melakukan perenungan dan penelitian tentang alam supaya sarana yang benar ini bisa kita jadikan sebagai jalan untuk menguatkan iman. Adapun kajian kita pada malam ini, Ikhwan sekalian, adalah mengenai Alam Metafisik dalam Pandangan Al Qur’anul Karim.

Ikhwan sekalian, ketika kita memperhatikan kitab Allah subhanahu wa ta’ala, kita menemukan bahwa ia berbicara tentang banyak alam. Alam-alam tersebut tidak masuk dalam batas-batas dunia materi yang unsur-unsurnya bisa kita deteksi dengan indra: dengan menyentuh, melihat, merasakan, mencium, atau mendengar. Al Qur’anul Karim menyebutkan bahwa masih ada alam-alam yang lain selain alam yang bisa kita raba, kita rasakan, kita lihat, dan kita dengar dengan indra fisik. Al Qur’an berbicara tentang alam-alam ini. Di antaranya adalah ruh. Al Qur’an membicarakan masalah ruh ini. Al Qur’an juga berbicara tentang malaikat. Al Qur’an juga berbicara tentang jin. Al Qur’an juga berbicara tentang Al Malaul A ‘la.

Al Qur’an mengatakan, “Aku telah meniupkan ke dalamnya ruh-Ku.” (QS. Al Hijr : 29). “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, ‘Ruh itu termasuk urusan Tuhanku dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al Isra’ : 85). Jadi, ada sesuatu yang bernama ruh. Ia adalah urusan Allah subhanahu wa ta’ala.

Dalam surat Yusuf, Al Qur’an juga berbicara tentang tafsir mimpi. Ia menjelaskan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mengajari Yusuf tentang penafsiran mimpi. Dua orang sahabat Yusuf di penjara bermimpi dan Yusuf ‘alaihissalaam menafsirkan mimpi mereka dengan penafsiran yang benar. Yusuf ketika itu berkata, “Wahai dua penghuni penjara. Salah seorang di antara kalian berdua akan memberi minum tuannya dengan khamr; adapun yang seorang lagi maka ia akan disalib, lalu burung memakan sebagian dari kepalanya. Telah diputuskan perkara yang kalian berdua menanyakannya kepadaku.” (QS. Yusuf : 41)

Yusuf juga menafsirkan mimpi raja setelah para penasihat raja berkata,

“Dan kami sekali-kali tidak mengetahui ta’bir mimpi itu.” (QS. Yusuf : 44)

“Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya, ‘Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menafsirkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya).’ (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf, dia berseru), ‘Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering, agar aku kembali kepada orang-orang itu, agar mereka mengetahuinya.’ Yusuf berkata, ‘Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari (bibit gandum) yang kamu simpan. Kemudian setelah itu akan datang tahun yang padanya manusia diberi hujan (dengan cukup) dan di masa itu mereka memeras anggur.’” (QS. Yusuf : 45-49)

Ikhwan sekalian, selain itu kita juga bisa membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Az-Zumar : 42)

Kemudian Al Qur’anul Karim berbicara tentang para malaikat dan tradisi yang berlaku di alam malaikat ini,

“Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat.” (QS. Fathir : 1).

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’” (QS. Al Baqarah: 30)

“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kalian kepada Adam.’” (QS. Al Baqarah: 34)

“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al Qadar : 4)

Ikhwan sekalian, Anda juga menemukan dalam kitab Allah subhanahu wa ta’ala bahwa para malaikat melaksanakan tugas-tugas tertentu. Mereka bertasbih dan beristighfar. Mereka juga melaksanakan sebagian tugas yang berkaitan dengan balasan amal. “Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga).” (QS. Al Muddatsir : 30)

“Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat…” (QS. Al Mudatsir : 31)

Mereka juga menyampaikan ucapan selamat kepada para penduduk surga. “Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu. (Sambil mengucapkan) ‘Keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.’ Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar Ra’d : 23-24)

Mereka juga melaksanakan beberapa tugas berkenaan dengan ruh, misalnya mereka menerima ruh-ruh itu. “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang zhalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedangkan para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), ‘Keluarkanlah nyawa kalian! Di hari ini kalian dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kalian selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kalian selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.’” (QS. Al An’am : 93)

Ikhwan sekalian, selain itu Al Qur’anul Karim juga berbicara tentang para malaikat dan beberapa bentuk interaksi mereka dengan manusia, “(Ingatlah) ketika kamu mengatakan kepada orang-orang mukmin, ‘Apakah tidak cukup bagi kalian bahwa Allah telah membantu kalian dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?” (QS. Ali Imran : 124)

Al Qur’an juga berbicara tentang jin, bahkan ada satu surat Al Qur’an yang khusus membicarakan mereka, yakni surat Jin: ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan.’ (Yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami. Dan bahwasanya Mahatinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak pula beranak. Dan bahwasanya orang yang kurang akal di antara kami dahulu selalu mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah. Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kalian (orang-orang kafir Makkah), bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang (rasul) pun. Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api. Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengarkan (berita-berita). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang shalih dan di antara kami ada pula yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda.” (QS. Al Jin : 1-11)

Wahai Akhi, dari ayat-ayat ini Anda mengetahui bahwa jin telah mengatakan tentang diri mereka sendiri bahwa mereka pernah mencuri-curi berita, tetapi kemudian mereka dihalangi dari perbuatan itu; di antara mereka ada yang shalih dan di antara mereka ada pula yang jahat. Mereka juga mempunyai kemampuan yang lebih besar untuk melakukan suatu perbuatan daripada kemampuan manusia. “Ifrit yang cerdik dari golongan jin berkata, Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu, sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benAr benar kuat lagi dapat dipercaya.’” (QS. An-Naml: 39)

Anda juga tahu, wahai Akhi, di kalangan jin terdapat satu golongan setan, yang melakukan godaan terhadap manusia serta menghiasi perbuatan-perbuatan jahat dan maksiat yang membinasakan supaya tampak indah dalam pandangan manusia, sehingga mereka terjerumus ke dalamnya. Adapun hubungan mereka dengan iblis adalah: iblis merupakan pembesar mereka. Al Qur’an juga menceritakan bahwa bangsa jin mengenal tentang kitab-kitab lama yang diturunkan oleh Allah dan mereka membanding-bandingkan antara kitab-kitab samawi tersebut dengan teliti.

Jika Anda memperhatikan kitab Allah subhanahu wa ta’ala wahai Akhi, Anda pasti juga menemukan bahwa ia berbicara tentang Al Malaul A’la. “Aku tidak mempunyai pengetahuan tentang Al mala’ul A’ la ketika mereka berbantah-bantahan.” (QS. Shad : 69)

Di antara keadaan Al Malaul A’la adalah sebagai berikut: “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas dan menampakkan diri dengan rupa yang asli. Sedangkan ia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian ia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah dia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kalian (musyrikin Makkah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di dekat Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya.” (QS. An-Najm : 1-17)

Anda tahu, wahai Akhi, bahwa di antara alam-alam tersebut terdapat Al Malaul A’la, yakni Sidratul Muntaha, Arsy, Kursiy, Lauhul Mahfuzh, Baitul Makmur, dan benda-benda lain yang hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa ta’ala semata.

Kebiasaan Al Qur’an yang bisa Anda ketahui dan Anda rasakan, wahai Akhi, ketika berbicara tentang alam metafisika ini, ia senantiasa membicarakannya dengan ungkapan yang sangat singkat. Ia tidak memaparkan hakikat-hakikat dari keadaan alam ini, tetapi hanya mengemukakan beberapa kekhususannya. Contohnya, ia tidak menyebutkan bagaimana Allah menciptakan para malaikat dan tidak menyebutkan dari apakah asal usul ruh, tidak pula tentang struktur Al Mala’ul A’la ini.

Dari sini, wahai Akhi, kita bisa mengambil dua pelajaran. Yang pertama, kita berkewajiban untuk menggunakan adab-adab yang diajarkan oleh Al Qur’an dan berhenti sebatas keterangan yang diberikannya. Jika kita hendak melakukan pembahasan mengenai masalah-masalah ini, maka kita tidak boleh melakukan berbagai dugaan dan kita juga tidak boleh membiarkan akal berkelana bebas mengenainya.

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. Al  Isra’ : 36)

Adapun pelajaran kedua, wahai Akhi, adalah sebuah hakikat yang kita ketahui melalui pertanyaan-pertanyaan ini: Mengapa Al Qur’anul Karim tidak membicarakan alam metafisik ini secara luas dan terperinci? Jawaban pertanyaan ini adalah: Al Qur’an datang untuk memberikan manfaat, sedangkan kita tidak akan memperoleh manfaat dari keterangan semacam ini. Kita, manusia ini, wahai Akhi, diajak berbicara sesuai dengan bahasa kita dan sesuai dengan kadar pengetahuan dan pemahaman kita. Sedangkan bahasa kita wahai Akhi, hanyalah meliputi apa yang ada, baik secara empiris maupun secara non-empiris, di lingkungan orang-orang yang berbicara dengannya.

Ambillah misal, wahai Akhi, seseorang yang dilahirkan dalam keadaan buta. Kemudian ia ditanya tentang hakikat berbagai benda. Betul bahwa Anda telah memberitahukan berbagai benda itu kepadanya. Tetapi, mana bisa ia memahami penjelasanmu itu? Anda, wahai Akhi, tidak mungkin bisa memahamkannya, karena bahasa adalah penggambaran tentang makna-makna dan benda-benda yang ada di lingkungan pemakainya. Sebagaimana yang telah saya katakan, ini adalah alam metafisika, alam yang tidak terlihat. Artinya, ia adalah alam yang tidak bisa dideteksi dengan indra kita, sehingga mana mungkin bahasa kita bisa menggambarkannya? Tetapi karena kita mempunyai hubungan dan keterkaitan dengan alam ini, maka Al Qur’anul Karim memberikan isyarat tentang adanya hubungan ini. Orang-orang yang mendapatkan sedikit pengetahuan tentang alam ini, mereka mengetahui sebagian dari aspek-aspeknya dan hAl hal yang berhubungan dengannya.

Para malaikat pernah berkunjung kepada Sayidina Imran bin Hushain ketika beliau sakit. Beliau pernah mengatakan, “Para malaikat mengunjungiku dan menjabat tanganku.” Adapun orang-orang yang hidup dalam batas-batas dunianya sendiri, mereka tidak akan bisa mengetahui sedikit pun dari keadaannya. Ia tidak mempunyai tanda-tanda pada diri mereka, tidak juga akal mereka. Kita tidak boleh banyak membicarakan aspek-aspek ini karena kita tidak akan sampai kepada sesuatu apa pun selain perdebatan.

Wahai Akhi, Al Qur’an telah mengemukakan perkara-perkara khusus yang berkenaan dengan alam metafisika ini. Lantas, bagaimana sikap ilmu pengetahuan yang bersifat materi terhadapnya? Yang terjadi, telah datang beberapa masa kebangkitan umat manusia dalam kurun-kurun yang telah lalu, namun mereka mengingkari sama sekali adanya alam metafisika itu. Mereka tidak percaya kepada ruh, malaikat, jin, dan Al Malaul A’la. Mereka menggambarkan kehidupan itu seperti alat mekanik, mereka menggambarkan makan ibarat bahan bakar, darah ibarat uap. Mereka mengatakan, yang terjadi hanyalah rahim yang melahirkan dan bumi yang menelan, dan kita tidak dibinasakan oleh apa pun selain masa. “Dan mereka berkata, ‘Kehidupan kita hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.’” (QS. Al Jaatsiyah : 24)

Perdebatan mengenai ini banyak terjadi di Eropa pada abad ke-I8, pada awAl awal terjadinya revolusi industri yang dibarengi dengan berkembangnya berbagai pemikiran materialisme. Tetapi aliran pemikiran ini berangsur melemah, karena pandangan-pandangannya banyak yang batil, dan karenanya tidak dapat dipertahankan. Mereka segera berpikir dan menyadari bahwa mereka berada di hadapan fenomena-fenomena baru yang sama sekali bukan merupakan fenomena-fenomena materi. Salah satu dari buah penelitian yang mereka peroleh adalah kesadaran. Mereka mulai berbicara tentang fenomena-fenomena nonmateri.

Di Universitas Birmingham, pada bulan Juli tahun 1927, mata kuliah tentang Psikologi ditetapkan sebagai mata kuliah dasar di perguruan tinggi tersebut. Mereka mulai mengatakan, “Benar, dunia ini terbagi menjadi dua, yaitu dunia fisik dan dunia metafisik. Kita memang telah berhasil meraih banyak kemajuan di lingkungan alam fisik dan kita telah berhasil memanfaatkan banyak potensinya, dan di hadapan kita masih terbuka banyak pekerjaan yang berat. Namun kita mengakui bahwa ada dunia lain yang tidak terlihat dan kita mengakui bahwa kita baru mencapai bagian awalnya, baru melangkahkan beberapa langkah untuk memahaminya.”

Tetapi wahai Akhi, jangan membayangkan bahwa mereka akan segera mengetahui segala-galanya. Mereka akan segera memahami firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur’an itu benar adanya. Apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS. Fushilat : 53)

Jadi, kitab kita yang mulia ini, wahai Akhi, telah memberikan kelapangan kepada kita sehingga kita tidak perlu berpayah-payah karena dugaan, keraguan, dan kesesatan berpikir. Ia memberitahu kita pokok-pokok pengetahuan yang memadai tentang alam metafisika itu. Ia memberitahu kita tentang apa yang bermanfaat bagi diri kita dan mendiamkan hAl hal yang tidak bermanfaat bagi kita. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad dan kepada keluarga serta sahabat-sahabatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>