Aliran-aliran Syi‘ah

Maulana Muhammad Asri Yusoff

Siapakah Syi‘ah?

Syi‘ah ialah golongan yang mendakwa Sayidina ‘Ali lebih utama daripada Shahabat-shahabat lain. Inilah perkara pokok yang membedakan golongan Syi‘ah daripada golongan-golongan Islam yang lain. Pertanyaannya, apakah semua Syi‘ah mempunyai pemahaman sekadar yang tersebut itu atau di samping mempunyai pemahaman itu ia juga mempunyai pemahaman-pemahaman lain yang menyentuh ‘aqidah dan cabang yang berbeda dari golongan-golongan Islam yang lain?

Apabila diperhatikan persoalan ini maka akan timbullah di hadapan kita berapa aliran di dalam Syi‘ah itu sendiri yang pada dasarnya masing-masing mempunyai konsep yang tersebut di atas. Tetapi aliran-aliran itu berbeda antara satu dengan yang lain karena wujudnya pemahaman-pemahaman atau ajaran-ajaran yang saling berbeda. Lantaran perbedaan di dalam ajaran dan pemahaman itulah maka Syi‘ah terbagi kepada beberapa kumpulan. Antara lain ialah:

1. Syi‘ah Tafdhiliyah

Yaitu Syi‘ah yang mengutamakan Sayidina ‘Ali Radhiyallahu ‘Anh daripada Shahabat-shahabat yang lain termasuk Sayidina ‘Utsman Radhiyallahu ‘Anh (tidak termasuk Sayidina Abu Bakar dan Sayidina ‘Umar Radhiyallahu ‘Anh), tanpa mengkafir, memaki atau menaruh kebencian terhadap mereka semua.

2. Syi‘ah Saba’iyah

Yaitu Syi‘ah yang memaki dan mengkafirkan Shahabat-Shahabat kecuali sebagian kecil dari mereka seperti Salman Al Farisi, Abu Dzar, Miqdad dan ‘Ammar bin Yasir Radhiyallahu ‘Anh Mereka berlepas diri (memutuskan hubungan kasih sayang) daripada para Shahabat yang lain daripada mereka ini. Selain dari itu, mereka juga berkeyakinan tentang raj‘ah (kebangkitan kembali ‘Ali dan para imam sebelum kiamat untuk menjalankan hukuman ke atas orang-orang yang menyelewengkan ajaran agama yang sebenar di permulaan Islam)

3. Syi‘ah Ghulat

Yaitu Syi‘ah yang mempercayai ketuhanan ‘Ali Radhiyallahu ‘Anh di samping kepercayaan-kepercayaan kacau lain yang terdapat di dalamnya. Syi‘ah Ghulat ini terbagi pula pada 24 golongan, di antaranya ialah Syi‘ah Mufadhdhaliyah, Syi‘ah Sarighiyah, Syi‘ah Janahiyah, Syi‘ah Bayaniyah, Syi‘ah Imamiyah, dan lain-lain.

Kemudian Syi‘ah Imamiyah itu terbagi pula kepada 39 golongan. Di antaranya ialah Al Hasaniyah, Al Baqiriyah, Al Itsna ‘Asyariyah, Asy Syaitaniyah, As Salimiyah, Al Isma‘iliyah, dan lain-lain lagi. Oleh karena buku ini ditulis untuk menjelaskan kedudukan Syi‘ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, maka tumpuan yang utama akan diberikan kepada Syi‘ah ini dalam perbicaraan akan datang karena kekeliruan yang timbul di dalam masyarakat sekarang ini ialah berhubung dengan Syi‘ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah. Syi‘ah inilah yang dipertikaikan oleh para ulama di setiap tempat pada masa ini karena banyaknya bilangan mereka dan kedudukan mereka yang semakin popular, terutama selepas tercetusnya revolusi di Iran.

Syi‘ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah

Syi‘ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah ialah Syi‘ah yang mempercayai keimaman dua belas orang imam secara berturut seperti di bawah ini:

1. ‘Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H)

2. Hasan bin ‘Ali (wafat 50 H)

3. Husain bin ‘Ali (wafat 61 H)

4. ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Husain (wafat 94 H)

5. Muhammad Al Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin (wafat 117 H)

6. Ja‘far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir (wafat 148 H)

7. Musa Al Kazim bin Ja‘far Sha Shadiq (wafat 183 H)

8. ‘Ali Ar Ridha bin Musa Kazim (wafat 202 H)

9. Muhammad Al Jawaad bin ‘Ali Ar Ridha (wafat 220 H)

10. ‘Ali bin Muhammad Al Jawaad (wafat 254 H)

11. Hasan bin ‘Ali Al ‘Askari (wafat 260 H)

12. Muhammad bin Hasan Al ‘Askari Al Mahdi (ghaib 260 H)

Mereka percaya Imam Kedua Belas telah ghaib dan ia akan muncul kembali ke dalam masyarakat setelah dunia ini dipenuhi dengan kezhaliman dan kekacauan. Mereka juga percaya kepada al bada’, ar raj‘ah, tahrif Al Qur’an, kemurtadan para Shahabat termasuk Sayidina Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman Radhiyallahu ‘Anh dan Shahabat-Shahabat besar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lain, ‘ishmah para imam dan lain-lain. Biasa juga Syi‘ah ini disebut sebagai Syi‘ah Imamiyah atau Ja‘fariyah saja. Syi‘ah ini juga dikenali sebagai Rafidhah karena pemahaman-pemahaman dan ‘aqidah-‘aqidahnya yang ekstrim.