Hasan Al Banna

Allah Lebih Mengetahui di Mana Dia Menempatkan Tugas Kerasulan

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Amma ba’du. Wahai Ikhwan yang mulia, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari sisi Allah yang baik dan diberkati: assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menjadikan kita semua bertemu karena-Nya, tolong menolong dalam melaksanakan kebajikan dan ketaqwaan, berlomba-lomba dalam mencintai-Nya dan mencintai Rasul-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam, serta beribadah kepada-Nya dengan aqidah yang mantap, yang tidak goyah dan berubah.

Ikhwan sekalian, umat Islam ini, yang pernah mengalami kejayaan cemerlang, sesungguhnya kejayaan yang diraihnya itu tidak lain berkat kekuatan iman, kekokohan persatuan, kekompakan jiwa, dan kecintaannya yang mendalam, yang telah merasuk ke relung hatinya di jalan Allah, bukan lantaran sebab atau tujuan tertentu. Inilah cinta yang telah memadukan hati dan menyatukan perasaan, sehingga menjadikan kabilah-kabilah Islam yang bermacam-macam itu menjadi satu hati, satu kaki, dan satu peraturan.

Itulah rahasia kemenangan mereka yang pertama, wahai Akhi. Itu pulalah yang akan menjadi rahasia kemenangan mereka yang terakhir, dengan izin Allah. Percayalah kepada saya, bahwa setiap kali saya berdiri di hadapan Anda pada setiap pekan, saya menghirup perasaan yang memenuhi jiwa dan meluap ke seluruh aspek kejiwaan. Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menjadikan kejayaan Islam terwujud melalui tangan kalian, setelah sebelumnya kejayaan tersebut diwujudkannya melalui tangan para salaf pendahulu Anda, bukan lantaran jumlah yang banyak atau ilmu yang luas, tetapi berkat kekuatan iman yang telah diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala pada hati siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki.

Ikhwan sekalian, saya ingin menyampaikan satu kajian singkat tentang sirah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sejak beliau dilahirkan hingga diutus sebagai nabi. Saya akan menyampaikan periode pertama kehidupanRasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, ketika beliau masih berstatus sebagai manusia biasa, belum melaksanakan tugas dakwah agung yang dengannya Allah memuliakan beliau, tanggung jawabnya dibebankan kepada beliau, dan dengannya beliau dilebihkan oleh Allah di atas semua manusia.

Saya tidak akan bercerita kepada Anda tentang seluruh peristiwa yang terjadi dalam kehidupan Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam selama periode tersebut, karena kita memang tidak akan mengupas sejarah secara mendetail dari satu peristiwa ke peristiwa lain. Itu akan memerlukan waktu yang panjang. Tetapi kita akan langsung menuju aspek-aspek menonjol yang bisa kita ambil pelajarannya untuk kehidupan dan kebangkitan kita. Kajian ini akan mendorong kita untuk mencari keterangan tentang poin-poin utama dalam kehidupan Rasul shalallahu ‘alayhi wa sallam ketika itu, yaitu yang ada pada masa kelahiran beliau atau sebelumnya. Jika Anda memperhatikan periode ini, Anda mendapati bahwa seluruh dunia pada masa itu membutuhkan risalah dan lelaki yang dinantikan ini, khususnya ketika kegersangan ruhani, pemikiran, dan agama meliputi seluruh dunia.

Keadaan manusia ketika itu, baik para penganut agama Yahudi, Kristen, maupun penyembah berhala seperti orang-orang Persi dan Arab, menganut agama-agama yang semrawut. Orang-orang Persia menyembah api, sedangkan di kalangan mereka telah tumbuh paham-paham yang keliru. Seluruh bangsa Arab menyembah batu-batu yang telah mereka sematkan padanya sifat-sifat ketuhanan. Bangsa Romawi membawa bendera agama Masehi (Kristen). Sedangkan bangsa Yahudi terbagi menjadi beberapa kelompok kecil yang tersebar di kabilah-kabilah Arab dengan membawa agama dan keyakinan mereka.

Agama-agama tersebut keadaannya tidak stabil. Agama Kristen yang dianut oleh orang-orang Romawi dikacaukan oleh perselisihan-perselisihan dan sekte-sekte yang menyempal dari agama Kristen kala itu, yang satu menyalahkan, bahkan memerangi yang lain, sehingga memecah persatuan mereka dan kebencian di antara mereka sangat keras. Negara kadang-kadang membela satu sekte, dan pada waktu yang lain membela sekte yang lain. Jadi, keyakinan tersebut tidak tertanam kuat di dalam jiwa manusia.

Demikian halnya agama Yahudi. Ia tidak mempunyai satu pemikiran yang universal, tetapi terbagi menjadi beberapa kabilah kecil dan lemah. Perselisihan antara sekte-sekte tersebut dengan sekte-sekte Kristen juga sangat nyata. Adapun bangsa Arab, di antara mereka ada yang tidak percaya kepada berhala-berhala ini kecuali ketika meminta pertolongan kepadanya untuk meraih ambisi-ambisi mereka. Tetapi ketika bertentangan dengan keinginan dan kebiasaan mereka, maka mereka tidak mau tunduk dan percaya kepadanya. Orang-orang semacam itu banyak di kalangan mereka. Ada di antara mereka yang mencemoohkan berhala dan sama sekali tidak mempercayainya. Di antara mereka ada yang menyembah dan beriman kepadanya dengan keimanan yang menyebabkan mereka sesat dan buta, dengan meyakini bahwa ia bisa mendekatkan mereka kepada Allah. Jadi keyakinan kepada berhala ini merupakan keyakinan warisan tradisi yang pada hakikatnya tidak berakar dalam jiwa mereka.

Demikianlah, Ikhwan sekalian, kehidupan spiritual di masa itu dalam keadaan kacau, guncang, dan tidak stabil, baik di kalangan bangsa Persia, penganut agama Kristen, agama Yahudi, maupun di kalangan bangsa Arab. Keadaan ini berlangsung cukup lama, sampai-sampai di tengah-tengah manusia tersebar kasak-kusuk tentang kedatangan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dan bahwa beliau akan diutus untuk seluruh umat manusia.

Orang-orang Yahudi dan Kristen berharap kiranya nabi tersebut datang dari kalangan mereka. Sedangkan orang-orang Arab pun menyangka bahwa beliau akan datang dari kalangan mereka, sampai-sampai Umayah bin Abi Shalt berharap bahwa dirinya adalah nabi yang dinantikan itu.

Pemikiran ini, Ikhwan sekalian, menjadikan banyak orang berharap akan datangnya agama dan risalah baru. Anehnya, ketika Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam datang kepada para pendeta Yahudi, mereka kafir kepada beliau lantaran dengki dan iri. Anehnya pula, Umayah bin Abi Shalt menyombongkan diri sehingga enggan beriman kepada beliau. Ia berkata, “Aku tidak akan beriman kepada nabi selain dari Tsaqif.” Setelah itu ia hidup berpindah-pindah dari satu kabilah ke kabilah lain di lingkungan suku-suku Arab. Kemudian ia kembali dan ingin masuk Islam. Saat itu ia berlalu di hadapan para korban perang Badr. Ia diberitahu bahwa di antara korban adalah Walid bin Mughirah dan Uqbah bin Rabi’ah. Ia berkata, “Tidak ada gunanya hidup setelah mereka tiada.” Kemudian ia kembali sebelum masuk Islam, dan mati di luar agama Allah.

“Makasetelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu.” (QS. Al-Baqarah: 89)

Ikhwan sekalian, kembali kita melihat bahwa dunia sedang membutuhkan kedatangan risalah Muhammad. Ketika Rasul shalallahu ‘alayhi wa sallam datang dan menghadapi kehidupan baru ini, Allah subhanahu wa ta’ala telah menyiapkan pemikiran-pemikiran dan suasana-suasana ruhani untuk beliau, sehingga dunia menyambut kedatangan Nabi mulia ini dengan sambutan yang baik.

Peristiwa paling penting yang dijumpai oleh Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam pada awal-awal kehidupannya adalah, bahwa beliau kehilangan keluarganya satu per satu. Ketika akan lahir ke dunia, ayahanda beliau telah mendahului berpulang ke akhirat. Ketika menginjak usia enam tahun, ibunda beliau menyusul kepergian ayahanda. Selang dua tahun kemudian, kakek beliau pun menyusul keduanya. Akhirnya beliau diasuh oleh pamannya, Abu Thalib.

Ikhwan sekalian, di sini terkandung hakikat kemuliaan bagi Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam. Allah telah menghendaki agar Nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam tumbuh dalam asuhan dan pengawasan-Nya, bukan di dalam asuhan dan pengawasan manusia. Orang-orang yang melihat kehidupan fisik beliau, berpendapat bahwa pendidikan beliau dalam keadaan demikian merupakan pertumbuhan yang bebas, yang langsung berhadapan dengan kehidupan nyata. Allah subhanahu wa ta’ala hendak memberikan beban kepada beliau semenjak awal kehidupan beliau hingga menjadi laki-laki sempurna, sehingga beliau tidak mudah putus asa menghadapi penderitaan-penderitaan yang dialami dalam kehidupan.

Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam menyaksikan peristiwa-peristiwa yang mempunyai pengaruh nyata dalam kehidupan beliau. Di antaranya adalah kepergian beliau ke Syam, tempat beliau melihat cakrawala yang lebih luas daripada cakrawala Makkah. Beliau mendengar pengajaran dari para pendeta. Tidak diragukan bahwa perjalanan ini mempunyai pengaruh nyata dalam diri beliau. Pengetahuan beliau mengenai daerah-daerah dan tipe-tipe manusia semakin bertambah. Ini merupakan wawasan pelengkap bagi beliau dan tidak ada sesuatu yang menyempurnakan wawasan seseorang seperti safar dan rihlah.

Peristiwa lain, Ikhwan sekalian, adalah bahwa beliau menghadiri perang Fijar yang terjadi antara suku Quraisy dan suku Hawazin. Beliau merasakan panasnya api peperangan ini bersama paman-paman beliau. Beliau mengikuti perang ini dari awal hingga akhir dan beliau ikut serta memanah bersama mereka. Diriwayatkan bahwa beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Aku pernah menghadiri perang Fijar bersama paman-pamanku. Di situ aku ikut membidikkan anak panah.” Ini merupakan latihan dasar bagi beliau dalam rangka menghadapi perjuangan bersama masyarakat di masa datang dalam kehidupannya.

Selain itu, beliau juga hadir dalam Hilful Fudhul, sebuah perjanjian yang disepakati oleh orang-orang Quraisy yang menyatakan bahwa mereka akan membela orang yang dizhalimi sekalipun tidak ada orang yang mengajak mereka untuk itu, baik kezhaliman itu terjadi di Makkah maupun di luar Makkah.

Diriwayatkan bahwa seseorang singgah di Makkah bersama anak gadisnya yang cantik. Tiba-tiba anak gadisnya itu diambil oleh salah seorang tokoh elit Quraisy. Maka orang itu berdiri sambil berteriak, “Wahai yang menandatangani Hilful Fudhul, tolonglah!” Belum selesai orang itu berteriak, orang-orang yang menandatangani Hilful Fudhul berlompatan dengan membawa pedang mereka. Mereka mengatakan, “Labaik, labaik!” Kemudian mereka berdiri di pintu rumah tokoh elit Quraisy tersebut. Mereka berkata, “Keluarkan gadis itu, kalau tidak, kami akan membunuh kalian.” Maka ia pun mengeluarkannya.

Diriwayatkan pula bahwa ‘Ash bin Wail As-Sahmi menunda-nunda pembayaran utangnya kepada seseorang. Setelah orang itu merasa kepayahan dan berputus asa terhadap urusan ini, ia berdiri di atas bukit Abu Qubais. Ia meminta pertolongan dengan menyebut perjanjian Hilful Fudhul. Kemudian para penandatangan perjanjian tersebut berkumpul di rumah Ash bin Wail. Mereka tidak meninggalkannya sampai ia melunasi utangnya kepada orang itu.

Diriwayatkan bahwa Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda mengenai Hilful Fudhul, “Saya menyaksikan sebuah perjanjian di masa jahiliah, andaikata saya diundang untuk mengadakannya di masa Islam, niscaya saya akan memenuhi undangan itu. “

Wahai Akhi, peristiwa ini mempunyai kesan pada diri Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sampai-sampai beliau memujinya di masa Islam.

Kemudian, datanglah peristiwa pembangunan Ka’bah, yang orang-orang Quraisy mempercayai beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam untuk memutuskan perselisihan di antara mereka. Pada hakikatnya, ini merupakan akad penyerahan kepemimpinan kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sekalipun dalam bentuk yang tidak langsung. Pertumbuhan beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam semenjak dilahirkan hingga diutus sebagai Nabi, mempunyai beberapa keistimewaan yang menonjol. Di sana beliau menjumpai banyak kesulitan, maka kehidupan beliau bukanlah kehidupan yang santai dan mudah, melainkan sebuah kehidupan yang keras. Di sana beliau memikul beratnya menghadapi kehidupan secara langsung, tanpa kelembutan, kesenangan, apalagi kesantaian.

Beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam menghadapi ini semua dengan sabar dan tabah. Itulah “pendidikan tinggi” yang dikehendaki oleh Allah subhanahu wa ta’ala atas beliau. Itulah kehidupan istimewa, yang tak hanya berkutat pada permasalahan-permasalahan sepele. Beliau tidak pernah bersujud kepada berhala, tidak pernah minum khamr, tidak pernah bermain-main sebagaimana anak-anak yang lain. Beliau tidak melakukan hal-hal sia-sia sebagaimana umumnya mereka. Beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam adalah pribadi yang bersih, terhindar dari perkara-perkara sepele, dan hanya melakukan akhlak-akhlak mulia dan perilaku-perilaku baik saja, sehingga masyarakat menyebut beliau dengan julukan Al-Amin (yang dapat dipercaya). Demikianlah Allah memilih para rasul-Nya dan memilih siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki.

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. Al-An’am: 124)

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.