Hasan Al Banna

Allah Menerima Taubat dan Memberi Petunjuk

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Amma ba’du. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Ikhwan sekalian, kajian kita telah sampai pada firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ maka bersujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir,” (QS. Al-Baqarah: 34) hingga akhir ayat, sampai pada firman Allah, “Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 39).

Saya sudah mengatakan bahwa ada beberapa jenis makhluk: ada malaikat, jin, dan manusia. Malaikat adalah salah satu makhluk Allah subhanahu wa ta’ala yang mempunyai bentuk-bentuk mulia seperti manusia dan sebagainya, yang tidak pernah keluar dari ketaatan kepada Allah dan tidak pernah bermaksiat. Sebagian ulama mengatakan, “Mereka makhluk dari cahaya.” Pendapat ini sulit dicari dalilnya. Yang benar, semacam apakah makhluk ini, hanya Allah yang mengetahuinya.

Allah subhanahu wa ta’ala telah menyerahkan tugas-tugas kepada mereka. Di antara mereka ada yang menjadi utusan yang menghubungkan antara Allah dan para rasul-Nya, ada penjaga neraka Jahanam, ada yang mengurus masalah-masalah yang berkaitan dengan kematian, dan ada yang menjaga manusia serta menulis amalnya. Banyak lagi tugas-tugas lainnya.

Jin juga makhluk yang hakikatnya hanya diketahui oleh Allah. Mereka mendapat beban untuk melaksanakan hukum-hukum dan mengikuti para rasul, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Jin: “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan. (Yaitu) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami.” (QS. Al-Jin: 1-2); sampai firman Allah, “Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api neraka Jahanam.” (QS. Al-Jin: 14-15)

Ikhwan sekalian, dengan demikian kita mengetahui bahwa mereka terkena perintah yang berkaitan dengan cabang-cabang syariah. Adapun manusia adalah makhluk yang diciptakan Allah subhanahu wa ta’ala dari tanah liat kering dan di dalam dirinya Allah telah menyimpan berbagai rahasia-Nya. Manusia pertama yang diciptakan Allah adalah Adam alayhissalaam.

Dari Adam inilah Hawa diciptakan. Dari keduanyalah seluruh anak turun manusia berasal. “Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 1)

Ini bukan hakikat mutlak yang harus dipahami, bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Adapun riwayat yang menyatakan bahwa wanita tercipta dari tulang rusuk yang bengkok bukanlah berarti bahwa wanita benar-benar diciptakan dari tulang rusuk itu, melainkan diciptakan seperti keadaan tulang rusuk yang bengkok, tidak lurus. Jika Anda meluruskannya, ia akan patah dan jika Anda membiarkannya, maka ia akan tetap pada kebengkokannya. Adapun perkataan orang yang menyebutkan bahwa laki-laki mempunyai duapuluh tiga tulang rusuk sedangkan wanita memiliki duapuluh empat tulang rusuk, bukanlah perkataan yang benar.

Ikhwan sekalian, hubungan manusia dengan para malaikat diungkapkan oleh ayat-ayat yang menjelaskan keistimewaan makhluk jenis ini. Karakter istimewa yang dimiliki oleh para malaikat adalah bahwa mereka, “Hamba-hamba yang dimuliakan.”

“…Yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6)

Keistimewaan yang dimiliki oleh manusia adalah bahwa ia diberi keinginan dan kemampuan untuk mengetahui dan menyingkap hal-hal yang semula tidak diketahui, serta mengenal masalah-masalah yang masih samar melalui penelitian. Adapun ilmu yang dimiliki oleh para malaikat adalah pemberian dari sisi Allah yang Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. Ia tidak mempunyai tugas untuk mencari ilmu sebagaimana manusia. Sedangkan manusia hanya diajari prinsip-prinsip yang bisa mengantarkannya kepada ilmu, pengetahuan, dan penelitian.

Keistimewaan jin adalah sifat membangkang, maksiat, iri, dan dengki. Jin yang pertama kali adalah iblis yang diperintah Allah subhanahu wa ta’ala untuk bersujud kepada Adam, tetapi ia enggan, sombong, dan termasuk dalam golongan orang-orang kafir.

Hubungan manusia dan jin adalah hubungan permusuhan. Telah ditegaskan terjadinya permusuhan antara Iblis dan Adam serta cucu-cucunya.

“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, maka saya benar-benar akan (manghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka,dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).'” (QS. Al-A’raf: 16-17)

“…Dan saya akan menyuruh mereka memotong (telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan saya suruh mereka (mengubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka mengubahnya.” (QS. An- Nisa’: 119)

Allah telah mengingatkan Adam dan Hawa agar waspada dan jangan sampai terperosok dalam perangkap-perangkap setan. “Maka kami berkata, ‘Hai Adam, sesungguhnya ini (Iblis) adalah musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga yang menyebabkan kamu menjadi celaka.” (QS. Thaha: 117)

Tetapi Iblis memanfaatkan kebaikan hati Adam yang menjadikannya patuh kepada perintah Tuhannya. “Maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah kayu itu, tampaklah bagi keduanya auratauratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka, ‘Bukankah Aku telah melarang kalian berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepada kalian, ‘Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian berdua?'” (QS. Al-A’raf: 22)

Akhirnya Allah mengeluarkannya dari surga dan mengujinya dengan ini. Kemudian Allah mengilhamkan kalimat-kalimat untuk sekedar diucapkan. “Keduanya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

Maka Allah subhanahu wa ta’ala menerima taubatnya. “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 37)

Ikhwan sekalian, ada sebuah kisah istimewa bahwa setan pada hari kiamat nanti berkhotbah di hadapan para penduduk neraka di atas mimbar dari api. Ia berkata, “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kalian janji yang benar, dan aku pun telah menjanjikan kepada kalian tetapi aku menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadap kalian, melainkan sekedar aku menyeru kalian lalu kalian mematuhi seruanku, oleh sebab itu, janganlah kalian mencerca aku, akan tetapi cercalah diri kalian sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolong kalian dan kalian sekali-kali tidak dapat pula menolongku. Sesungguhnya Aku tidak membenarkan perbuatan kalian mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.” (QS. Ibrahim: 22). Ia meninggalkan pengikut-pengikut yang dulu membantunya.

“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, ‘Kafirlah kalian!’ maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata, ‘Sesungguhnya aku berlepas diri dari kalian karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.'” (QS. Al-Hasyr: 16)

Ikhwan sekalian, adapun mengenai jannah yang darinya Adam dikeluarkan, maka para ulama berbeda pendapat mengenai hakikatnya. Apakah ia jannatul khuldi (surga abadi) ataukah jannatud dunya (kebun dunia)? Sebagian mereka mengatakan, “Sesungguhnya ia adalah salah satu kebun yang ada di dunia.” Arti jannah di sini adalah kebun sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesungguhnya Kami telah menguji mereka (musyrikin Makkah) sebagaimana kami telah menguji pemilikpemilik kebun (jannah).” (QS. Al-Qalam: 17)

Juga sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebun (jannah)mu ‘Masya Allah’ (sungguh atas kehendak Allah)’.” (QS. Al-Kahfi: 39)

Sebagian lain berpendapat bahwa jannah tersebut adalah surga abadi, yaitu yang akan diberikan sebagai balasan bagi orang-orang beriman. Alasan mereka adalah bahwa Al-Qur’an sering menggunakan kata ini untuk menyebut surga akhirat. “Maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kalian berdua dari surga yang menyebabkan kalian menjadi celaka. Sesungguhnya kalian tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang. Dan sesungguhnya kalian tidak akan merasa dahaga dan tidak (pula) akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (QS. Thaha: 117-119). Sifat-sifat seperti ini merupakan karakter dari surga akhirat. Maksud yang tidak memerlukan interpretasi itu lebih baik untuk dipakai daripada yang memerlukan interpretasi.

Orang-orang yang memegang pendapat pertama mengatakan, “Di surga tidak ada beban kewajiban, sedangkan surga ini (dalam kisah Adam, edt) tidak demikian. Salah satu sifatnya yang lain adalah barangsiapa telah memasukinya, ia tidak akan keluar darinya, sedangkan Adam dikeluarkan darinya. Selain itu, surga tidak bisa dimasuki oleh Iblis, sedangkan surga ini dimasuki oleh Iblis.” Bagaimanapun, ini semua adalah pendapat yang bisa jadi itulah yang dimaksudkan oleh Al-Qur’an.

Ikhwan sekalian, adapun mengenai kemaksiatan Adam, maka dikatakan, bahwa kemaksiatan ini terjadi sebelum adanya taklif (pembebanan kewajiban) atau sesudahnya. Selain itu, ia tidak dikatakan bermaksiat, karena ia melakukannya dengan tidak sengaja tetapi karena lupa. Hukuman yang ditimpakan kepadanya termasuk dalam kategori kebaikan orang-orang yang baik dan keburukan orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Karena itu Allah berfirman, “Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.” (QS. Thaha: 122)

Adapun kisah yang diriwayatkan, yang menyatakan bahwa setan masuk ke dalam perut ular agar bisa mendekati Adam, ini merupakan riwayat yang tidak mempunyai nilai sama sekali. Karena riwayat ini tidak terdapat dalam Al-Qur’an maupun As-Sunah. Hubungan antara setan dan manusia adalah hubungan nonfisik, sebagaimana hubungan antara cahaya dengan apa yang disinarinya. Setan bisa melakukan godaan-godaannya melalui hubungan semacam ini. “Sesungguhnya setan itu berjalan pada diri anak Adam sebagaimana perjalanan darah,” sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam.

Jika Anda membaca ayat-ayat dan merenungkan kandungannya, niscaya Anda dapati bahwa masing-masing dari ketiga makhluk ini mempunyai keistimewaan.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda)” (QS. Al-Baqarah: 31); menunjukkan keistimewaan manusia dengan ilmunya.

Firman Allah, “Mereka berkata, ‘Mahasuci Engkau tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Engkau ajarkan kepada kami.” (QS. Al-Baqarah: 32); menunjukkan “keistimewaan” malaikat dengan ilmu yang diberi langsung oleh Allah.

Sedangkan firman Allah, “Kecuali Iblis, dia enggan dan takabbur, dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34); menunjukkan “keistimewaan” jin yang senang membangkang, dengki, dan iri.

Dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dan janganlah kamu dekati pohon ini” (QS. Al-Baqarah: 35); dimulailah proses penghalalan dan pengharaman sehingga Allah mengetahui —sedangkan Dia Maha Mengetahui— siapakah yang melanggar perintah-Nya dan siapakah yang menaati-Nya. “Supaya Dia menguji siapakah di antara kalian yang lebih baik amalnya.” (QS. Al-Mulk: 2 dan QS. Hud: 7)

Ikhwan sekalian, ada pendapat yang berkembang di kalangan para penganut tasawuf mengenai taubat. Mereka mengatakan bahwa sumber taubat adalah dari Allah, sedangkan taubat pada manusia hanya merupakan indikasi lahir saja. Seorang hamba bertaubat dikarenakan Allah mengarahkan taubat itu kepadanya. “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya(QS. Al-Maidah: 54)

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 118)

Ikhwan sekalian, hendaklah Anda masing-masing menguji dirinya sendiri. Hendaklah ia berusaha mengetahui kedudukannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Jika Anda merasakan banyak penyesalan terhadap berbagai perbuatan jahat yang Anda lakukan, maka ketahuilah bahwa itu terjadi karena kedekatan kedudukan Anda dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Jika melihat ketidakpedulian di dalam diri Anda, maka ketahuilah bahwa itu disebabkan oleh jauhnya Anda dari-Nya.

Wahai Akhi, hendaklah memohon taubat kepada Allah dengan tidak henti-henti dan memohon kepada Allah agar mengaruniakan kelestarian taufiq. Amin.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.