Fir'adi Nasruddin

Amalan Sunnah dan Bid’ah di Bulam Muharram

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَمْ يَأْتِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ibnu Abbas r.a berkata, “Ketika Nabi sedang berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabatnya untuk turut berpuasa, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, hari ‘Asyura adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani?.”

Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika begitu, tahun depan insya Allah kita puasa sekali pada hari yang ke-sembilannya.”

Ibnu ‘Abbas berkata, “Tetapi belum sempat sampai tahun depan, beliau telah wafat terlebih dahulu.” (HR. Muslim).

Saudaraku,

Sang waktu terus berlalu menyapa dan meninggalkan kita. Tak terasa kita telah berada di depan pintu keluar tahun 1435 H. Itu artinya, kita sudah berada di depan gerbang Muharram 1436 H, tahun baru Hijriyah.

Ada beberapa capaian ubudiyah yang telah mampu kita ukir di tahun 1435 H. Tapi tak sedikit target keta’atan dan ukiran amal shalih yang belum terlaksana.

Kita bersyukur atas segala capaian yang terlampaui dan kita beristighfar atas setiap keteledoran yang menyilaukan mata kita.

Untuk itu, kita akan mengupas tentang tahun baru Hijriyah, antara Sunnah dan bid’ahnya.

Saudaraku,

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram, sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (HR. Muslim).

Bulan Muharram ini dinamakan dengan “Syahrullah“, yaitu bulan Allah. Penisbatan sesuatu kepada Allah mengandung makna yang mulia, seperti “Baitullah“ (rumah Allah), “Hizbullah” (pasukan Allah), “Jundullah” (tentara Allah) dan lain-lainnya. Dan ini juga menunjukkan bahwa bulan tersebut mempunyai keutamaan khusus yang tidak terdapat pada bulan-bulan yang lain.

Bulan Muharram termasuk salah satu dari empat bulan yang dijadikan Allah sebagi bulan haram (Muharram, Rajab, Dzul-Qa’dah dan Dzul-Hijjah), sebagaimana firman Allah s.w.t, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya terdapat empat bulan haram.” (QS. at Taubah: 36).

Keistimewaan lain dari bulan Muharram adalah bahwa ia dijadikan sebagai awal penanggalan bulan dari tahun Hijriyah, sebagaimana yang telah disepakati oleh para sahabat pada masa khalifah Umar bin Khattab r.a. Tahun Hijriyah ini dijadikan momentum atas peristiwa hijrah nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Saudaraku,

Di bulan Muharram kita disunnahkan berpuasa ‘Asyura (10 Muharram), dan bahkan merupakan puasa yang paling utama sesudah puasa Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam hadits Abu Hurairah r.a, “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim).

Adapun keutamaan puasa pada hari Asyura’ ini, Allah s.w.t akan menghapus dosa-dosa orang yang melakukannya selama satu tahun sebelumnya, sebagaimana tersebut di dalam hadits Abu Qatadah r.a, bahwa seorang laki-laki pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang puasa ‘Asyura’, maka beliau menjawab, “Aku berharap dari Allah agar puasa itu dapat menghapus dosa-dosa selama satu tahun sebelumnya.” (HR. Muslim).

Ada pertanyaan yang menggelayut di benak kita, dosa semacam apakah yang akan terhapus dengan puasa ‘Asyura’ ini, apakah seluruh dosa besar dan kecil setahun yang lalu?.

Tentu tidak, hanya dosa-dosa kecil saja. Sebab dosa-dosa besar, tidak akan terampuni kecuali dengan bertaubat kepada Allah dengan taubat nashuha, taubat yang penuh dengan kesungguhan dan jauh dari kata “main-main”.

Saudaraku,

Kita pernah mendengar bahwa kita disunnahkan pula berpuasa tanggal 9 dan 11 Muharram, selain ‘Asyura (tanggal 10 Muharram), apakah hal tersebut bersumber kepada dalil yang kuat atau hanya sekadar pendapat ulama tertentu?.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab “Zadul ma’ad” (jilid 2 hal, 76 Muassasah al-risalah) menerangkan bahwa tingkatan puasa ‘Asyura terbagi menjadi tiga tingkatan.

Pertama, yang paling sempurna adalah puasa sehari sebelum dan sesudahnya (puasa hari ke 9, 10 dan 11 Muharram).

Kedua, puasa tanggal 9 dan 10 Muharram, dan inilah yang paling diperkuat oleh banyak hadits.

Ketiga, puasa hari ‘Asyura (10 Muharram) saja.

Tingkatan puasa ‘Asyura yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim di atas, juga dikuatkan oleh syekh Sayyid Sabiq dalam kitabnya “Fiqh as-sunnah” (jilid 1 bab shiyam al-thathawwu’).

Cara berpuasa ‘Asyura seperti ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas r.a, bahwa ia berkata, “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa pada hari ‘Asyura’ dan memerintahkan kaum muslimin berpuasa, para shahabat berkata, “Wahai Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan Yahudi dan Nasrani?.” Maka beliau bersabda, “Jika tahun depan kita bertemu dengan bulan Muharram, kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan-nya. “ (Muttafaq alaih).

Demikian pula hadits Ibnu Abbas r.a, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Puasalah pada hari Asyura’, dan lakukanlah puasa tersebut dengan cara menyelisihi Yahudi dalam masalah ini, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.“ (HR. Ahmad dan Ibnu Khuzaimah).

Dalam riwayat Ibnu Abbas lainnya disebutkan, “Berpuasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”

Saudaraku,

Adapun hikmah dan faedah yang dapat kita petik dari puasa ‘Asyura seperti yang disebutkan oleh syekh al-Utsaimin adalah:

• Sebagai manifestasi dari meneladani kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

• Puasa satu hari sebelum atau sesudah hari ‘Asyura sebagai realisasi dari bentuk perbedaan kita dengan orang-orang Yahudi maupun Nasrani.

• Hari ini memiliki keutamaan dan kemuliaan sejak zaman umat-umat terdahulu, (termasuk kaum musyrikin Quraisy pun melakukannya).

• Di dalamnya ada penjelasan mengenai penentuan kalender sejak masa umat-umat terdahulu adalah dengan bulan Qamariyah bukan Syamsiyah.

• Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengkhabarkan kepada kita bahwa pada tanggal sepuluh Muharram Allah menyelamatkan Musa a.s dan pengikutnya yang setia dari kejaran Fir’aun dan bala tentaranya.

• Puasa inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sedangkan amalan-amalan lain-nya merupakan bid’ah (perkara baru dalam agama) yang bertentangan dengan sunnah.

• Dan ini merupakan karunia Allah s.w.t kepada kita bahwa untuk menghapus dosa-dosa kita setahun yang lalu cukup dengan melaksanakan puasa satu hari saja. Dan Allah Maha Pemberi Karunia yang Agung.

• Bersegeralah wahai saudaraku untuk meraih keutamaan ini dan bukalah lembaran hidup baru di tahun yang baru dengan keta’atan dan berpacu dalam kebajikan..ingatlah bahwa kebaikan akan menghapus keburukan (kejahatan).

Saudaraku,

Ada beberapa amalan yang menyelisihi tuntunan Nabi s.a.w terkait dengan bulan Muharram adalah:

• ‘Asyura menurut Syi’ah, 10 Muharram 61 H, adalah hari terbunuhnya Abu Abdillah Husain bin Ali di padang Karbala. Syi’ah menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari bergabung, duka cita, dan menyiksa diri sebagai ungkapan kesedihan dan penyesalan. Pada hari itu mereka memperingati kematian Husain dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela seperti berkumpul, menangis, meratap secara histeris, membentuk kelompok-kelompok untuk pawai berkeliling di jalan-jalan dan di pasar-pasar sambil memukuli badan mereka dengan rantai besi, melukai kepala dengan pedang, mengikat tangan dan lain sebagainya.

• ‘Asyura menurut sebagian kaum Muslimin. Sebagai tandingan dari apa yang dilakukan oleh orang Syi’ah di atas, sebagian kaum Muslimin menjadikan hari ‘Asyura sebagai hari raya, pesta dan serba ria.

• Shalat dan dzikir-dzikir khusus, yang disebut dengan shalat ‘Asyura.

• Mandi Janabah, bercelak, memakai minyak rambut dan mewarnai kuku dan menyemir rambut. Dan yang demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan dilakukan pada hari tersebut. Mereka beralasan dengan hadits palsu, “Barangsiapa yang memakai celak pada hari ‘Asyura, maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu. Dan barangsiapa mandi pada hari ‘Asyura, ia tidak akan sakit selama tahun itu.”

• Membuat makanan khusus/istimewa, seperti membuat bubur syura yang terdapat di Sumatera Barat.

• Do’a awal dan akhir tahun yang di baca pada malam akhir tahun. Mereka beranggapan dan berkeyakinan bahwa siapa yang membaca do’a ‘Asyura tidak akan meninggal pada tahun tersebut.

• Menentukan berinfaq dan memberi makan orang-orang miskin. Dan yang demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan dilakukan pada hari tersebut.

• Memberikan uang belanja yang lebih kepada keluarga. Dan yang demikian jika si pelaku meyakini adanya keutamaan atau keistimewaan dilakukan pada hari tersebut.Mereka beralasan dengan hadits lemah, “Barangsiapa yang meluaskan (nafkah) kepada keluarganya pada hari ‘Asyura, maka Allah akan melapangkan (rizkinya) selama setahun itu.” (HR. Thabrani, Baihaqi dan Ibnu Abdil Bar).

• Setelah mandi janabat berziarah ke makam orang alim, menengok orang sakit, memotong kuku, membaca al-Fatihah seribu kali. Karena perbuatan tersebut di atas diperintahkan oleh syari’at setiap saat, dan adapun mengkhususkannya pada hari 10 Muharram tidak berdasar sama sekali.

• ‘Asyura menurut tradisi dan Kultur Kejawen. Bulan Suro menurut istilah mereka, banyak diwarnai orang Jawa dengan berbagai mitos dan khurafat, antara lain: Keyakinan bahwa bulan Suro adalah bulan keramat yang tidak boleh di buat main-main dan bersenang-senang seperti hajatan pernikahan, dan jenis hajatan yang lainnya.

Ternyata kalau kita renungkan dengan cermat apa yang dilakukan oleh mereka di dalam bulan Suro adalah merupakan akulturasi Syi’ah animesme, dinamisme dan Arab Jahiliyah. Dulu, orang Quraisy Jahiliyah pada setiap ‘Asyura selalu mengganti Kiswah Ka’bah (kain pembungkus Ka’bah), seperti dijelaskan oleh Ibnu hajar dalam kitab “Fath al-Baari”.

Kini orang Jawa mengganti kelambu makam Sunan Kudus pada bulan Suro juga.

Saudaraku,

Mari kita sambut tahun baru Hiriyah, bulan Muharram dengan banyak beristighfar dan kita kuatkan tekad untuk memulai lembaran baru dalam hidup kita di tahun yang baru dengan semangat baru, menghidupkan Sunnah Nabi s.a.w dalam hidup kita. Amien. Wallahu a’lam bishawab.

Metro, 23 Oktober 2014
Fir’adi Abu Ja’far