Author Archives: Redaktur

Ali Muhammad Ash Shalabi

Hikmah Ujian Berupa Konflik Internal

Konflik antar putra-putra Bayazid merupakan ujian besar bagi pemerintahan Utsmani. Konflik ini membuat mereka melakukan instropeksi diri, sehingga buahnya akan dipetik saat penaklukkan Konstantinopel di hari kemudian. Sudah menjadi sunnatullah, bahwa Allah tidak akan memenangkan satu umat, kecuali setelah mereka melewati fase uji-coba berat dan beragam; dengan ujian itu Allah hendak membedakan kualitas manusia yang baik dan jelek. Sunnah ini berlaku bagi umat Islam, tanpa kecuali. Allah berkehendak menguji kaum muslimin, untuk menyaring keimanan mereka, setelah itu baru memberikan kejayaan di muka bumi.

Ujian bagi kaum muslimin sebelum kemenangan, adalah perkara pasti dan niscaya, sebagai filter agar bangunan yang kelak kemenangan yang akan berdiri, bisa tegak dengan kokoh dan kuat. Sebagaimana firman Allah:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (Al-Ankabut:2-3)

Ujian bisa datang berupa beban berat, seperti harus meninggalkan tanah tumpah darah, berperang melawan musuh, masalah loyalitas yang sulit diharapkan, godaan syahwat yang berat, atau ditimpa kemiskinan dan krisis keuangan, dan segala macam musibah yang menimpa jiwa. Begitu juga sikap sabar atas perlakuan orang-orang kafir, baik berupa siksaan, provokasi, maupun tipu daya mereka.[1]

Saat menafsirkan surat Al-Ankabut diatas, Al Hafizh Ibnu Katsir berkata: “Istifham (kata tanya) dalam ayat ini merupakan kata Tanya pengingkaran yang maknanya ialah, bahwasanya Allah pasti memberikan cobaan kepada orang-orang beriman, sesuai kadar keimanan mereka.”[2]

Dalam hadits shahih disebutkan,

“Seberat-berat orang yang mendapat ujian adalah para Nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian orang-orang seperti mereka dan seterusnya. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Jika agamanya kuat, maka akan semakin banyak ujiannya.” (HR. At Tirmidzi. Diambil dari Sunan At Tirmidzi, 4/601. Hadits hasan shahih).

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menjelaskan, bahwa ujian itu adalah sifat yang lazim bagi kaum muslimin. Beliau bersabda,

“Perumpamaan orang beriman itu laksana pohon. Angin selalu menerpanya dan setiap mukmin akan senantiasa mendapatkan ujian. Sedangkan perumpamaan orang munafik itu adalah laksana tanaman padi yang tidak bergerak, kecuali saat dipanen.” (HR Muslim. Diambil dari syarah Imam Nawawi, dalam Bab Kiamat, Sorga dan Neraka:17/151).

Sesungguhnya ujian itu berlaku bagi setiap umat, Negara dan bangsa-bangsa. Maka demikian pulalah ujian itu menimpa pemerintahan Utsmani. Setiap Negara yang akan mencapai kematangannya, tak sepi dari segala cobaan.

Alhamdulillah, pemerintahan Utsmani tetap kokoh bertahan, walaupun digempur berbagai macam konflik internal yang hebat dan keras. Sampai akhirnya –dengan pertolongan Allah—Muhammad I berhasil naik tahta sebagai pemimpin tunggal pada tahun 1413 M. Dia mampu menghimpun kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya lepas dari kekuasaan Utsmani. Sesungguhnya kesadaran para pemimpin Utsmani, pascakekalahan di Ankara menghadapi Timurlenk, adalah kesadaran mereka untuk kembali kepada manhaj Rabbani. Langkah demikian sangat berkah, sehingga pemerintahan Utsmani kembali menjadi satu kekuatan terpandang dari sisi akidah, agama, perilaku, akhlak, dan jihad. Dengan karunia Allah jua, pemerintahan Utsmani mampu kembali ke spirit reliji dan menghidupkan akhlakul karimah.[3]

Dengan modal kecerdasan sangat langka yang ditata oleh Orkhan dan saudaranya Alauddin dalam membangun system pemerintahan yang baru; adanya tata administrasi kehakiman yang rapi; serta adanya jenjang pendidikan yang komprehensif (totalitas) bagi generasi muda Utsmani; serta berkat pertolongan Allah Yang Maha Mulia, maka di bawah kepemimpinan Muhammad I, pemerintah Utsmani perlahan-lahan kembali ke jalur semula, yaitu jalur lurus untuk mewujudkan mimpi besar, menaklukkan kekuatan politik Nasrani Eropa, Konstantinopel.

Terjadinya tragedy kekalahan di Ankara tidak membuat Bani Utsmani murung dalam kesedihan berlarut-larut. Justru tragedy ini member pelajaran besar, bahwa kemenangan pemerintahan Utsmani tidak bisa dilepaskan dari pertolongan Allah. Satu-satunya jalan untuk mencapai kemenangan, ialah kembali ke manhaj Rabbani. Itulah manhaj yang di dalamnya mengalir air kehidupan dan spirit syariah Islam. Jalan seperti ini cepat membawa berkah; pemerintahan Utsmani maju secara fantastis dan sangat membingunkan musush-musuhnya.[4]


[1] Tafsir An Nasafi, 3/249

[2] Tafsir Ibnu Katsir, 3/405

[3] Fi Ushul Al-tarikh Al-Utsmani, 61

[4] Muhammad Al Fatih, hlm.37