Hasan Al Banna

Bagi yang Mengharap Rahmat Allah dan Kedatangan Hari Kiamat

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Wahai Ikhwan yang mulia. Saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari sisi Allah yang diberkati dan baik: assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Amma ba’du. Maaf, saya terlambat menghadiri momen yang sebenarnya merupakan momen yang paling kita cintai, karena memang tidak ada momen yang lebih kita cintai dan rindukan selain momen-momen mulia ketika kita berjumpa. Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menjadikan majelis-majelis kita sebagai majelis-majelis yang dibanggakan oleh para malaikat. Semoga kita bisa mengulang apa yang pernah dilakukan oleh Zaid bin Rawahah, ketika ia mengumpulkan sahabat-sahabat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dan mengambil tempat di sisi masjid, untuk bersama-sama mengkaji kitab Allah subhanahu wa ta’ala. Maka, setiap kali Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam berlalu di hadapan mereka, beliau bergembira, mendoakan mereka, dan bersabda, “Semoga Allah mengampuni Ibnu Rawahah, karena ia mencintai majelis-majelis yang menjadi kebanggaan para malaikat.”

Ikhwan sekalian, di majelis-majelis ini mereka berkumpul atas dasar ketaatan kepada Allah dan mencari ridha-Nya, dalam rangka mengingat Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam dan mengkaji sirahnya, agar mereka bisa menjadikan teladan baik darinya.

“Bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Ikhwan sekalian, hati yang keadaannya seperti ini dan berkumpul untuk tujuan yang mulia, lebih layak jika majelis-majelisnya dibanggakan oleh para malaikat. Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang tersebut dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam:

“Jika datang hari kiamat, seorang penyeru dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala berseru, ‘Di manakah orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, di manakah orang-orang yang saling mengunjungi karena-Ku? Pada hariini Aku akan menaungi mereka dengan naungan-Ku, pada hari yangtiada naungan selain naungan-Ku.”

Ikhwan sekalian yang mulia. Kita telah membuka serial yang baik ini. Pada malam ini saya ingin menyampaikan kepada Anda sebuah renungan tentang sirah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam. Saya akan menyampaikan kepada Anda semua pandangan sekilas tentang lingkungan di mana Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tumbuh —baik lingkungan waktu maupun lingkungan tempat—.

Lingkungan tempat, di mana Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tumbuh, sebagaimana Anda ketahui adalah di kawasan Hejaz, tepatnya di Makkah Mukaramah, di sekitar Baitul Haram. Kadang-kadang beliau mengadakan perjalanan di seputar kawasan Jazirah Arab. Setelah berhijrah, beliau tinggal di lingkungan Madinah. Dalam lingkungan inilah beliau tumbuh.

Pertumbuhan beliau di lingkungan yang baik ini sesuai dengan tugas agung yang dipilihkan untuknya. Orang Arab berhadapan dengan alam secara langsung, biasa beralas tanah dan berselimut langit, berjuang keras menghadapi unsur-unsur alam. Ia merasakan dingin yang benar-benar menggigit dan panas yang benar-benar menyengat. Dalam faktor-faktor lingkungan semacam ini, orang Arab tidak bisa memperoleh kebutuhan-kebutuhan pokok dalam hidupnya kecuali dengan bersusah payah. Ketika ingin mendapatkan air, ia harus menempuh perjalanan panjang dan harus menggali jauh ke dalam tanah agar bisa menjumpainya. Ketika menginginkan makanan, ia juga harus bersusah payah pula.

Kemudian, orang Arab juga berjiwa menyenangkan, mempunyai indra yang peka, dan biasa mengungkapkan perasaan-perasaannya secara bebas di padang pasir yang tidak terbatas, sehingga mengalirlah ide-ide dan inspirasi pada dirinya. Dalam hal ini ia tidak dibatasi oleh ikatan apa pun dan pemikirannya tidak dihalangi oleh apa pun. Inilah lingkungan yang menjadikan orang Arab mempunyai kelebihan dalam berbagai aspek kehidupannya, dalam postur tubuhnya, maupun dalam akhlaknya.

Lingkungan ini tentu membentuk karakter khusus pada diri manusia. Di lingkungan inilah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam tumbuh, lingkungan di mana kebutuhan-kebutuhan pokok tidak tersedia secara melimpah, apalagi barang-barang mewah dan menyenangkan. Dalam lingkungan ini Anda juga bisa melihat satu faktor lain, yaitu faktor kedekatannya dengan Baitullah Al-Haram. Baitullah Al-Haram ini mempunyai nilai sakral tersendiri dalam jiwa para penduduknya, karena mereka berkeyakinan bahwa ia merupakan poros kemuliaan mereka. Karena itu mereka berbagi-bagi tugas untuk berkhidmat kepadanya. Mereka berlomba-lomba menghormatinya, memberikan minuman kepada para jamaah haji, memuliakan tamu-tamu yang datang, dan mereka merasa sangat bangga dengan perbuatan itu, sampai-sampai mereka tetap membanggakan hal-hal yang mereka warisi dari nenek moyang itu hingga masa datangnya Islam. Karena itu turunlah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus Masjidil haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (QS. At-Taubah: 19)

Ikhwan sekalian, dari ayat ini kita tahu bagaimana mereka bangga dengan keterkaitan diri mereka dengan Baitullah dan pelayanan yang mereka berikan untuknya. Keberadaan mereka di dekat lingkungan Ka’bah menginspirasikan kepada mereka ide-ide mulia dan menjadikan akal mereka berpikir tentang ibadah dan tauhid.

Inilah lingkungan yang ditempati dan dimakmurkan oleh Islam. Ia merupakan lingkungan istimewa. Di situ Islam tumbuh dan dari situ Islam berkembang ke Timur dan Barat, dari perbatasan Yaman hingga perbatasan Thanjah. Inilah lingkungan yang telah diistimewakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dari lingkungan lainnya secara menakjubkan, karena Allah telah menjadikannya sebagai negeri yang paling tengah, poros spiritualisme, sumber segala agama dan falsafah, serta pemancar cahaya. Betapa layaknya jika kita —kaum muslimin— berbangga dengan negeri yang telah dipilih oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai tempat tumbuhnya pemikiran Islam. Makkah hingga kini juga masih menjadi jantung negeri tersebut.

Ikhwan sekalian, inilah pandangan tentang lingkungan tempat tumbuhnya Nabi. Kemudian kita melihat pada lingkungan waktu. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dipilih dari bangsa Arab, sedangkan bangsa Arab adalah bangsa yang tinggal di kawasan padang pasir ini. Pengaruh apakah yang telah ditimbulkan oleh lingkungan semacam ini pada diri mereka?

Lingkungan ini telah membentuk karakter yang indah pada diri mereka. Orang Arab berbadan sehat, memiliki indra yang peka, perasaan yang halus, penciuman yang tajam, dan badan yang sempurna. Anda tidak menemukan pada diri orang Arab tempat untuk penyakit atau pengaruh dari penyakit. Wahai Akhi, sesungguhnya kawasan padang pasir telah banyak membantu mereka untuk menikmati kesehatan akal, badan, dan indra mereka. Kehidupan keras yang mereka jalani menjadikan mereka mudah berinteraksi dengan alam dan mudah berkorban dalam rangka membela apa yang mereka yakini. Pengaruh dari berbagai faktor lingkungan ini juga menjadikan mereka mudah menyerap apa yang disampaikan kepada mereka. Orang Arab mudah terkesan oleh apa yang dilihat atau didengarnya. Jika ia mendengar perkataan, maka ia terpengaruh dan mendengarnya baik-baik. Dengan perasaannya yang halus dan jiwanya yang peka, ia bisa memperoleh banyak kebenaran yang terkandung di dalam perkataan.

Kemudian masih ada faktor lain, yaitu kehidupan Badui yang berpindah-pindah. Kehidupan ini telah menjadikan mereka sangat menghargai kedermawanan, pengorbanan, kemuliaan diri, keberanian, kebebasan berpikir, kesabaran, dan keteguhan.

Masyakarat di mana orang Arab hidup adalah masyarakat yang paling utama. Karena itu, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dipilih, dan untuk beliau dipilihkan masyarakat Arab dan lingkungan yang baik ini. Beliau tidak dipilih dari kalangan bangsa Persia yang memiliki ilmu pengetahuan luas, tidak dari kalangan bangsa India yang mempunyai kedalaman filsafat, tidak dari bangsa Romawi yang kreatif, dan tidak dari bangsa Yunani yang jenius dalam bidang sastra dan khayalan. Beliau dipilih dari lingkungan yang masih “perawan” ini, sebab sekalipun bangsa-bangsa lain tersebut mempunyai kelebihan di bidang pengetahuan, akan tetapi mereka tidak bisa mencapai apa yang dicapai oleh orang Arab, yaitu kejernihan fitrah, kebebasan perasaan, dan ketinggian ruhani.

Orang Arab sangat menjaga harga diri dan kesucian. Tiada umat lain yang setara dengan mereka. Lihatlah, Abdullah, ayah Rasulullah pernah didatangi wanita penyihir yang menawarkan dirinya kepadanya. Maka jiwa mulianya tidak sudi mengotori diri dengan noda-noda jahiliah. Budi pekerti mulia beliau tidak menerima kecuali untuk berkata, ‘Untuk yang haram, mati adalah tebusannya. Sedangkan yang halal, tiada yang halal kecuali pasti kutahu. Bagaimana dengan sesuatu yang kau harapkan? Seorang mulia akan melindungi kehormatan dan agamanya.

Perhatikan jawaban yang dikemukakan oleh Abdullah, Anda mendapatinya bisa menyingkapkan tentang jiwa mulia tersebut. Karena itu, Anda bisa melihat kesalahan yang menimpa sebagian sejarawan yang mengilustrasikan masyarakat Arab dengan ilustrasi yang mengherankan.

Mereka mengilustrasikan masyarakat Arab sebagai masyarakat Barbar yang akan naik pitam hanya gara-gara persoalan yang sangat sepele, mereka liar bagai binatang. Dengan ilustrasi tersebut mereka ingin menciptakan image negatif bahwa dari lingkungan seperti inilah Islam dilahirkan. Wahai Akhi, jika kita menerima begitu saja ilustrasi ini, ini sungguh merupakan kezhaliman besar-besaran terhadap sejarah bangsa Arab. Jika kita ingin sampai kepada hakikat, maka kita harus mengetahui hakikat bangsa Arab. Benar bahwa sebagian besar dari mereka adalah orang-orang musyrik, sebagian besar dari mereka juga biasa minum khamr, tetapi substansi ruh bangsa Arab adalah substansi yang bersih. Kerendahan akhlak mereka tidaklah timbul kecuali akibat sikap berlebihan bangsa Arab dalam menghargai akhlak mulia.

Demikianlah akhlak mereka. Kemudian Islam datang meluruskan akhlak mereka dan menyingkap substansi dari jiwa mereka ini. Kesimpulan praktisnya, Ikhwan sekalian, saya ingin memberitahukan kepada Anda agar menyadari bahwa kita telah terlewat dari penyucian. Kita tidak tumbuh di dalam lingkungan yang bersih itu. Jiwa kita telah mengalami banyak kerusakan lantaran lingkungan kota dan kemewahannya telah menodainya. Kerusakan ini sampai menghancurkan akhlak dan merusak perasaan. Jika kita ingin menjadi orang-orang yang layak untuk membela dakwah ini, maka hendaklah kita berdiri menghadang arus peradaban, kemewahan, dan kesenangan. Kita harus membiasakan hidup dengan gaya yang berbeda dari gaya hidup manusia secara umum.

Hendaklah kita berjihad memerangi nafsu kita dulu, sebelum kita melanjutkan kepada langkah-langkah lain. Hendaklah kita menguatkan hakikat kejiwaan yang suci, yang merupakan asas bagi setiap dakwah, khususnya dakwah Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, Ikhwan sekalian, hendaklah kalian menjadi orang-orang yang lebih kuat daripada lingkungan tempat tinggal Anda. Saya cukupkan di sini kajian yang saya sampaikan. Saya memohon ampunan kepada Allah untuk diri saya dan Anda sekalian.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.