Fir'adi Nasruddin

Biarkan Ia Pergi dari Kehidupan Kita

» يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِن تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ, إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ «

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun: 14-15).

Saudaraku,
Tidak semua perkara yang secara kasat dapat mengalirkan kebahagiaan, harus kita sesali dan tangisi kepergiaannya dari kehidupan kita. Jabatan yang disandang. Sahabat yang menemani hari-hari kita. Berbagai kesenangan yang kita kecap. Sehat yang akrab menyapa kita. Dan istri yang mendampingi hidup kita. Dan yang seirama dengan itu.

Ketika hal tersebut di atas, tidak menjadi inspirasi bagi kita untuk mengukir kebaikan, menabur kebajikan dan menggandakan amal shalih. Tidak membantu kita menjadi sosok yang shalih dan berbudi pekerti mulia. Dan bahkan menyebabkan kita terpuruk dan terjatuh pada perbuatan dosa. Menyeret kita melakukan maksiat. Menyebabkan kita terpeleset dari jalan yang diridhai-Nya. Maka menyingkirnya hal tersebut dari hidup kita, justru lebih baik untuk dunia dan akherat kita. Dan bahkan perlu kita syukuri.

Jabatan yang Mewariskan Kehinaan

Saudaraku,
Kekuasaan dan jabatan yang kita sandang, bisa menjadi jalan yang terbentang luas untuk mengukir prestasi kebaikan dan amal shalih dalam hidup kita. Menolong orang-orang yang lemah. Membantu mereka yang kesulitan. Mengentaskan kemiskinan dari tengah-tengah masyarakat. Mencegah perilaku zalim dan menolong manusia yang teraniaya. Mengajak umat beramar ma’ruf dan nahi munkar. Mengajak masyarakat menciptakan masyarakat madani yang bermartabat. Membuka kran-kran rezki bagi mereka yang bingung mencari pekerjaan dan yang senada dengan itu.

Namun, jika kekuasaan dan jabatan justru membuat kita lupa diri. Hanya berpikir untuk memperkaya diri. Melupakan nasib dan penderitaan rakyat. Menyeret kita pada perilaku zalim terhadap sesama. Menindas yang lemah. Menjaga jarak dengan masyarakat luas. Menutup mata dan telinga dalam mensikapi dekadensi moral yang melanda warga. Dan yang seirama dengan itu. Maka menjadi rakyat jelata. Warga biasa. Memakai baju sederhana. Jauh lebih mulia daripada menyandang kekuasan dan jabatan, tapi menjauhkan kita dari rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Harta Benda Yang Terbuang Untuk Maksiat

Saudaraku,
Harta benda merupakan karunia Ilahi yang perlu kita syukuri keberadaannya di sisi kita. Dengan harta, kita bisa membuka pintu gerbang surga, yang seluas langit dan bumi.

Banyak beban syari’at dan peluang kebaikan yang bisa kita angkat dan isi hanya dengan harta benda milik kita. Semisal; zakat, sedekah dan ibadah haji. Menyantuni anak-anak yatim, lansia dan para janda yang menanggung beban hidup. Menyekolahkan anak-anak yang tak mampu. Meringankan beban mereka yang menghibahkan dirinya berjuang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Memberi modal bagi orang-orang yang membutuhkan. Membuka peluang pekerjaan bagi para pengangguran dan seterusnya.

Tapi, jika harta justru membuat kita lupa dengan tugas-tugas kita sebagai seorang hamba dan khalifah-Nya di permukaan bumi. Membuat kita sombong dan takabur terhadap sesama. Membuka jalan menuju dosa dan maksiat. Mengecap kenikmatan yang diharamkan. Menjadikan kita buta dan tuli dari peringatan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka pada saat itu, ketiadaan harta dan terlepasnya harta dari genggaman kita, lebih baik akibatnya. Baik di dunia kini, maupun di akherat kelak.

Sahabat Yang Tak Memenuhi Hak-Hak Saudaranya

Saudaraku,
Siapa yang tak merindukan sahabat dalam merentasi perjalanan hidup di dunia fana ini. Yang menguatkan kita di saat lemah. Menunjuki jalan kita di saat khilaf. Mengingatkan kita di saat lupa. Membangunkan kita saat terlelap. Membangkitkan kita saat terjatuh. Membantu kita taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setia menemani kita dalam mendaki puncak ubudiyah. Menginspirasi kita untuk selalu berjuang di atas jalan Ilahi. Membantu kita sabar dalam menghadapi cobaan hidup. Memperkokoh kaki pijakan kita dalam menghadapi mihnah-Nya. Dan seterusnya.

Namun, jika yang terjadi adalah sebaliknya. Sahabat justru menyeret kita melanggar rambu-rambu-Nya. Memberatkan beban dan mengganggu perjalanan kita menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menghalang-halangi pendakian kita menuju puncak ubudiyah. Membuka tabir aib dan kelemahan kita di hadapan orang lain. Mencemarkan nama baik kita dan seterusnya.

Ia ibarat musuh dalam selimut. Menohok teman seiring. Menggunting dalam lipatan. Musang berbulu ayam dan seterusnya.

Hidup dengan sahabat seperti ini, seumpama menggenggam bara api yang panas membakar kulit. Tiada kebahagiaan di sana. Tiada keceriaan di wajah kita. Hidup terasa hampa dan gersang.

Apa gunanya memiliki sahabat, jika ia hadir hanya sekadar mengajak kita menuruni lembah neraka, dan bukan membimbing kita menaiki tangga-tangga kebahagiaan dan kenikmatan surga yang abadi?. Biarkan ia menghilang dari kehidupan kita.

Sehat Yang Tak Menggerakkan Raga Kita Untuk Menunaikan Kewajiban Dan Amal Shalih

Saudaraku,
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mewanti-wanti kita dengan sabdanya, ”Ada dua jenis nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia; yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. Bukhari).

Petuah nubuwah ini mengisyaratkan bahwa manusia kerap kali tertipu dengan kesehatan yang akrab menyapa tubuh dan membuatnya lalai, tidak menjadikannya sebagai peluang mengukir prestasi ubudiyah di hadapan-Nya.

Faktanya, manusia akan dihadapkan pada dua persoalan. Jika kita tak mempergunakan sehat untuk mengukir kebaikan, maka kejahatan yang akan tercipta. Jika sehat tak menyibukkan kita berbuat kebajikan, tentu dosa dan maksiat yang akan diperbuat. Jika sehat tak menjadikan kita bergabung dengan kafilah para pejuang kebenaran, maka kita akan menjadi pengibar panji kebathilan dan masuk ke gerbong para pecundang.

Jika demikian, maka kelemahan fisik dan warna penyakit yang menyapa tubuh, yang mampu menyadarkan kita pada hakikat jatidiri kita sebagai abdi Ilahi dan tunduk dan patuh terhadap aturan-Nya. Maka hal itu lebih baik akibatnya, untuk masa depan kita di akherat sana, daripada sehat dan kekuatan fisik yang menjerumuskan kita.

Abu Dzar Al Ghifari ra pernah bertutur, “Sesungguhnya kefakiran lebih aku sukai daripada kekayaan. Dan aku lebih menyukai sakit menyapa tubuhku daripada sehat yang melalaikanku.”

Istri yang Menciptakan Neraka Jahim Dalam Keluarga

Saudaraku,
Tujuan mulia yang ingin kita raih dari pernikahan adalah terwujudnya ketenangan bathin dan kebahagiaan hidup. Hal ini tercermin dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istrimu dari jenismu sendiri supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.” (QS. Ar-Rum: 21).

Istri adalah sayap kiri bagi sang suami. Artinya seekor burung sekuat dan sehebat apapun ia, tak akan dapat terbang ke angkasa dan melintasi awan dan samudera kehidupan tanpa kepakan kedua sayapnya, sebelah kanan dan kiri.

Demikian pula dengan kita, kaum laki-laki. Tanpa kehadiran kaum hawa (baca; istri), hidup kita terasa sepi dan sunyi. Walaupun kita hidup di tengah dunia yang ramai. Kebahagiaan sirna walau pun kita bergelimang harta. Hidup menjadi tak menentu walaupun sumber rezki rutin menyapa kita setiap akhir bulan.

Bekerja tak semangat. Aktifitas terasa hambar. Ibadah tak membekas di hati. Ibarat jasad tanpa ruh. Kenikmatan dunia seolah-olah sirna tak berbekas. Hidup seperti tanpa warna, hitam kelam tanpa corak. Gula yang manis terasa sepahit empedu. Luka-luka kehidupan terasa perih menganga, pedih dan mendera tubuh.

Namun, ada kalanya kehadiran sang istri, yang sudah barang tentu jauh dari profil mukminat, shalihat, taat, qanitat dan yang senada dengan itu. Bisa membuat kehidupan kita semakin gelap, kelam dan kelabu. Ia ibarat makan hati kita. Gerak-gerik dan perilakunya tak ada yang membuat kita bahagia. Rapuh kepribadiannya dan ringkih pijakan kakinya.

Teguran dan nasihat yang kita berikan, tak mampu merubah sikapnya. Kita diamkan justru membuatnya leluasa berbuat sesuka hatinya. Rambu-rambu Allah dan Rasul-Nya, juga tak diindahkannya. Ibadah dan kewajibannya, dia abaikan.

Istri semacam ini akan menciptakan neraka sebelum neraka. Neraka di dunia sebelum neraka di sana.

Ketika tiada kita temukan jalan temu. Ikatan pernikahan semakin sulit dipertahankan. Dan jika dipertahankan justru akan memakan banyak korban. Ketika berbagai upaya tak membuahkan hasil. Maka pada saat itu Islam membuka pintu perceraian, sebagai solusi terbaik bagi keluarga yang berada dalam neraka. Baiti nari, rumahku adalah neraka bagiku.

Biarkan ia pergi dari kehidupan kita. Barangkali Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menggantikan dia dengan wanita terbaik untuk kita. Dan ia akan mendapatkan pasangan hidup yang memiliki kwalitas kepribadian selevel dirinya.

Wallahu a’lam bishawab.

Ya Rabb, jadikanlah pakaian jabatan yang kami kenakan menjadi pakaian taqwa. Karena ia adalah sebaik-baik pakaian yang dikenakan oleh Hamba-Mu.

Ya Rabb, berikanlah petunjuk-Mu, agar kami dapat menjadikan harta benda berada di tangan kami dan bukan di hati kami. Serta jadikanlah ia sebagai mahar untuk menggapai surga-Mu.

Ya Rabb, jadikanlah sahabat-sahabat di sekeliling kami menjadi sahabat yang membimbing kami menapaki tangga-tangga surga. Dan menjadi pengingat bagi kami akan tipu daya dunia yang akan menggelincirkan kami ke jurang neraka.

Ya Rabb, bimbinglah kami agar senantiasa mensyukuri nikmat sehat yang Engkau karuniakan kepada kami. Dan menjadikan kami lebih giat dan semangat untuk mendaki puncak ubudiyah dan mengibarkan panji-panji-Mu.

Ya Rabb, jadikanlah istri kami penyejuk mata hati kami. Membantu kami untuk selalu mentaati-Mu dan menjadi mitra perjuangan di atas jalan yang Engkau ridhai. Amien ya Mujibas Saailiin.

Abu Ja’far
Metro, 25 Februari 2014 M.

Inspirasi, “Hakadza ‘Allamatnil Hayat”, karya; DR. Mustafa Siba’i rahimahullah.