Abbas Hasan As Sisi

Cinta, Ada Batas dan Rambu-Rambunya

Pengalaman hidup, terutama dalam berumah-tangga, telah membuktikan bahwa keterbukaan yang berlebih-an antarsesama, terutama antarsuami-istri, merupakan sesuatu yang tidak terpuji. Apalagi bila terjadi benturan perasaan antara suami-istri. Ada anggapan bahwa antar-orang yang saling mencinta tidak akan terjadi saling mencela. Padahal, seorang suami atau istri pasti memiliki kepribadian tersendiri yang dibanggakan. Banyak perselisihan bermula dari perasaan bersalah bila melampaui batas-batas kesopanan. Tetapi, bila perasaan ini sudah hilang, maka perselisihan akan semakin keras menjurus kasar, sehingga untuk mengembalikan ke kondisi semula memperlukan waktu. Yang terbaik di antara mereka adalah yang memulai meredam kemarahannya demi kemaslahatan masa depan keluarga. Hal ini dapat dilakukan dengan diam dan tidak memperturutkan gejolak emosi serta mengalihkannya pada aktivitas lain, misalnya melakukan pekerjaan rumah, membaca Al Qur’an, membaca buku-buku Sirah, atau berwudhu dan shalat.

Wahai Muslimah, ketika engkau marah, jangan segera meninggalkan rumah, sebab hal itu pasti akan memperuncing masalah. Memang, banyak keluhan para istri yang disebabkan oleh sikap suaminya. Di antara-nya, suami kalau pulang sudah larut malam sementara anak-anaknya sudah terlelap tidur, padahal sepanjang malam ibunya telah menjanjikan bahwa ayahnya segera datang. Apalagi kalau suaminya semalaman begadang di nightclub, warung kopi, atau tempat-tempat lain. Hal ini pun diketahui oleh istrinya sehingga membuat hati dan perasaannya kesal, tetapi ia takut mengeluarkan kata-kata yang dapat merusak masa depan keluarga. Akhirnya, hidupnya semakin terasa kering dan beku. Hal ini diperparah ketika sang istri menyaksikan seba-gian tetangganya tidak seperti yang ia alami, suami mereka sudah berada di tengah-tengah keluarga sejak sore. Inilah sesungguhnya kebahagiaan yang didambakan seorang istri.

Barangkali ada sebagian istri yang termasuk tipe pertama, menahan amarah dengan menampakkan muka cemberut kepada suami. Sikapnya akan tetap seperti itu setiap kali melihat tingkah suaminya. Sementara suaminya tetap tidak melayani sikap seperti itu ketika pulang ke rumah. Inilah awal kedamaian. Betapa indahnya, bila sang istri menunda keluhan dan masalahnya sampai suami istirahat. Menatap dengan penuh senyum dan lapang dada dalam menghadapi kesedihan. Mengena-kan pakaian yang terbaik dan mempersiapkan anak- anaknya untuk menyambut ayahnya dengan melantunkan nasyid, “Ayah telah datang… datang pukul enam… naik kendaraan… tidak jalan kaki… naik sepeda…” dan lain-lain.

Seorang istri harus memahami tugasnya dengan baik, sebab ini adalah langkah awal untuk membenahi diri suami dan anak-anaknya. Ia juga harus menatap masa depan dengan penuh optimisme. Ini akan dapat mem-bantunya dalam mengemban beban dengan hati lapang dan jiwa yang tenang. Setiap suami-istri harus mengemban tanggung jawabnya masing-masing, tidak boleh merasa hanya punya hak tetapi tidak punya kewajiban.

bila tampak kesalahan pada saudaramu

maka ampunilah kesalahannya

Di antara rahmat Allah kepada para istri, menjadikan sebagian acara keluarga yang menyenangkan sebagai sarana untuk menghilangkan ketegangan dan menghapus pertengkaran. Seperti juga bila sering terjadi perteng-karan antara suami-istri  karena suatu sebab, kemudian Allah memberi cobaan sakit ringan kepada salah seorang di antara mereka. Maka pada saat itulah perasaan segera tergerak untuk menyelamatkan kondisi ini. Sehingga perasaan marah akan segera padam dalam waktu relatif singkat, sebelum tergoda oleh bisikan-bisikan lain dari setan.

Demikianlah, senantiasa dianjurkan untuk mengetahui risalah pernikahan agar tidak terjadi benturan-benturan perasaan.