Hasan Al Banna

Contoh yang Baik

Sudah menjadi kebiasaan kami, – dalam rangka memperingati Maulid Nabi-[1] setiap malam sejak tanggal 1 hingga 12 Rabi’ul Awwal, secara berombongan dan bergiliran selalu mengunjungi rumah salah seorang ikhwan. Malam itu, tibalah giliran rumah Syaikh Syalbi Ar-Rijal yang menjadi jadwal kunjungan. Kami pun berangkat seperti biasanya, setelah isya’. Kami berangkat secara berombongan dengan mengalunkan qashidah-qashidah (nasyid) dengan penuh kegembiraan. Saya melihat rumah Syaikh Syalbi sangat terang, bersih dan rapi. Dihidangkanlah serbat, kopi dan qirfah seperti biasanya. Kami duduk dan meminta nasihat-nasihat Syaikh Syalbi.

Ketika kami hendak pergi, ia berkata dengan senyum yang lembut, “Datanglah kamian besok pagi-pagi sekali, agar kita bisa menguburkan Ruhiyah bersama-sama.” Ruhiyaha adalah putri beliau satu-satunya. Allah mengaruniakan Ruhiyah kepadanya kurang lebih setelah sebelas tahun dari usia pernikahannya. Ia sangat mencintainya, sehingga tidak pernah meninggalkannya sekalipun sedang sibuk bekerja. Ruhiyah kemudian tumbuh menjadi seorang gadis. Ia menamainya “Ruhiyah” karena putrinya ini menempati kedudukan “ruh” pada dirinya. Tentu kami terperanjat. “Kapan ia meninggal?” tanya kami spontan. “Tadi menjelang magrib!” jawabnya tenang. “Kenapa Syaikh tidak memberitahu kami semenjak tadi, sehingga kami dapat mengajak kawan yang lain untuk kemari bersama-sama?” Ia menjawab,”Apa yang terjadi telah meringankan kesedihanku. Pemakanam telah berubah menjadi peristiwa yang membahagiakan. Apakah kalian masih menginginkan nikmat Allah yang lebih besar lagi daripada nikmat ini?” Pembicaraan akhirnya berubah menjadi pelajaran tasawuf yang disampaikan oleh Syaikh Syalbi.

Beliau mengemukakan bahwa kematian putrinya itu adalah kecemburuan Allah kepada hatinya. Memang sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala merasa cemburu kepada hati para hamba-Nya yang shalih, apabila sampai terikat dengan selainNya, atau apabila ia berpaling kepada selain-Nya. Beliau mengambil bukti dalil dengan kisah Ibrahim as. Hati Ibrahim terikat dengan Ismail, sehingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkannya untuk menyembelih putranya, Ismail. Ketika hati Nabi Ya’qub terikat dengan Yusuf, Allah Subhanahu wa Ta’ala pun membuat Yusuf hilang dari sisinya sekian tahun. Oleh karena itu, seharusnya jangan sampai hati seorang hamba itu terikat dengan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalau tidak demikian, maka sebenarnya ia adalah pendusta dalam hal pengakuan kecintaannya. Beliau juga membawakan kisah Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Fudhail pernah memegang tangan putrinya yang terkecil dan mengecupnya, lalu putrinya itu bertanya kepadanya, “Wahai ayahanda, apakah ayah mencintaiku?” “Tentu saja putriku,” jawab sang ayah. Lalu ia berkata. “Demi Allah, sebelum hari ini , saya tidak mengira bahwa ayah sebagai seorang pendusta.” Fudhail bertanya,”Bagaimana bisa begitu? Berapa kali saya berdusta?” Ia menjawab, “Saya mengira bahwa dengan keberadaan ayah yang seperti ini dalalm berhubungan dengan Allah, berarti ayah tidak mencintai seorang pun selain-Nya.” Fudhail pun menangis seraya berkata, “Duhai Tuhanku, sampai anak sekecil ini dapat membongkar riya’ hamba-Mu yang bernama Fudhail ini?”

Demikianlah perjalanan Syaikh Syalbi dari sebuah pembicaraan menjadi sebuah pelajaran. Syaikh Syalbi berupaya membahagiakan dan melembutkan hati kami seraya memalingkannya dari kepedihan musibah ini. Setelah itu kami pun pulang. Kami tidak mendengar sama sekali suara wanita yang meratap dan tidak mendengar adanya kata-kata kotor. Yang kami lihat hanyalah ekspresi kesabaran dan kepasrahan kepada Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar.

Salah seorang putri ustadz kami, Syaikh Muhammad Zahran rahimahullah, juga telah meninggal. Ketika itu beliau tidak melakukan apa-apa melainkan menjadikan prosesi pemakaman putrinya itu sebagai kesempatan untuk menyampaikan nasihat dan pelajaran selam tida malam, untuk memberikan keteladanan yang baik dan benar dalam memerangi berbagai kemungkaran yang biasanya terjadi dalam proses pemakaman, serta untuk memadamkan berbagai bis’ah maupun adat-istiadat yang tidak ada dasarnya dan biasanya dikerjakan oleh banyak orang.

Dalam iklim yang mulia inilah kami hidup.



[1] Pembahasan mengenai Maulid Nabi dibahas dalam artikel tersendiri (Redaksi Hasanalbanna.com)