Muhammad Kamal As Sananiri

Muhammad Kamal As Sananiri

Dai dan Mujahid, 1336-1401 H/1918-1981 M

Ia saudara tercinta, kawan setia, takwa dan wara’, muslim yang jujur dan dai yang mujahid, mukmin yang sabar, lelaki yang teguh pendirian, harta yang sangat berharga, senantiasa beramal dalam diam, puasa di siang hari dan berdiri di malam hari, lisan yang senantiasa berdzikir, teladan memikat dalam keteguhan iman terhadap berbagai perkara, keberanian dan kesabaran kala menghadapi ujian dan cobaan. Ia juga teladan terbaik di dalam penjara bagi saudara-saudaranya yang lain. Mereka memandangnya sebagai lelaki laksana puncak gunung yang tinggi dan kokoh. Bangga dengan Tuhannya, izzah dengan iman yang dimilikinya terhadap berbagai kehinaan yang berasal dari fir’aun-fir’aun kecil dan algojo upahan yang menampilkan diri seperti laki-laki, padahal mereka bukan laki-laki.

Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya

Lahir di Kairo pada 11 Maret 1918, di tengah keluarga sederhana. Setelah menyelesaikan pendidikannya di sekolah Ibtidaiyyah dan Tsanawiyah, ia lalu mendaftar di Departemen Kesehatan, bagian penanggulangan penyakit Malaria pada tahun 1934. Tak lama kemudian ia keluar dari Departemen Kesehatan tahun 1938 dan berfikir untuk melanjutkan pendidikannya di salah satu Perguruan Tinggi Amerika untuk belajar farmasi agar kelak ia dapat bekerja di apotik (Al Istiqlal) milik orang tuanya. Namun salah seorang ulama berhasil meyakinkannya agar ia tidak berangkat ke Amerika karena disana terjadi banyak dosa-dosa besar. Ia pun membatalkan niatnya setelah mempersiapkan sebuah koper besar untuk berangkat ke sana, dan memutuskan menuju Iskandariah dengan sebuah kapal laut. Itu terjadi pada tahun 1938M. 

Keterikatannya dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin

Ia bergabung dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1941. Kesadaran, keikhlasan dan aktivitas yang dinamis membuatnya jauh lebih maju dan menonjol dari pada pemuda seusianya, sehingga beberapa tugas penting diembankan kepadanya.

Muhammad  Kamaluddin As Sananiri adalah murid yang setia terhadap prinsip-prinsip Syeikh dan gurunya, Imam Syahid Hasan Al Banna. Dapat memahami pelajaran saat pertama kali disampaikan. Ketika itu pula ia menyadari bahwa jalan dakwah yang akan dilaluinya sarat dengan marabahaya, dipenuhi duri dan mungkin saja membahayakan keselamatan jiwanya. Seperti itulah jalan menuju syurga: dikelilingi sesuatu yang dibenci.

Ia kerap mengulang-ulang tulisan gurunya yang ditujukan kepada murid-muridnya, “Kebodohan masyarakat terhadap hakikat Islam adalah rintangan terbesar yang ada di hadapan kalian. Para ulama yang berada di dalam gerbong kekuasaan akan memerangi kalian. Pemerintah juga akan selalu berusaha menghalangi aktivitas dan gerakan kalian serta meletakkan berbagai rintangan di atas jalan yang kalian lalui, meminta bantuan kepada jiwa-jiwa yang lemah, hati yang sakit, dan tangan yang senantiasa terulur memohon bantuan kepadanya, sementara kepada kalian terulur tangan permusuhan.

Saat itu kalian akan di penjara, diasingkan, rumah kalian diawasi ketat,  harta benda kalian disita, kalian dituduh sebagai pelaku kejahatan dan dakwaan dusta untuk merusak nama baik dan menghancurkan reputasi kalian. Ujian dan cobaan yang kalian akan lalui ini berlangsung lama, dan pada saat itulah kalian baru saja melalui jalan para penyeru dakwah ini.”

Ustadz Kamaluddin As Sananiri menterjemahkan ucapan ke dalam realitas yang begitu nyata. Ia hidup bersama saudara-saudaranya yang lain sekitar seperempat abad lamanya di penjara, dalam kegelapan dan di bawah ayunan cemeti budak-budak penguasa dan kaki tangannya. Namun mereka tidak goyah, dan tak satu katapun keluar dari lisan mereka selain dzikir kepada Allah Ta’ala sembari merasakan kebersamaan dengan-Nya. Ayunan cemeti yang melecut tubuh mereka dan siksaan yang tiada henti hanya menambah kedekatan dan cinta mereka kepada Allah dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya.

Akh Abdullah Ath Thanthawi menulis di Koran Al Liwa, Yordania:

“….Imam Syahid seakan menemukan pribadi Mus’ab yang baru dalam diri As Sananiri yang rela mengorbankan dirinya dalam berkhidmat bagi dakwah dan putra-putranya. Tidak tidur di malam hari demi untuk menjelaskan dimensinya secara moral, sosial, politik dan perjuangan. Maka ia menjadi tempat bergantung harapan dan keteladanan bagi para pemuda dengan sifat istiqomah, wara’, zuhud, aktivitas dan pengorbanan yang ia berikan melalui dirinya sendiri, harta, waktu dan kesungguhannya. Ia senantiasa berpuasa satu hari dan berbuka pada esok hari. Bangkit di malam hari untuk Qiyamullail, membaca Al Qur’an dan berdzikir kepada Tuhannya dengan air mata bercucuran. Dengan sifat tawadhu di tengah putra-putra Mesir dan para utusan yang datang dari negara-negara Arab dan Islam.

Saat ayahnya kembali ke haribaan Tuhannya, ia meninggalkan keluarga yang terdiri dari seorang ibu, tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan. Sehingga beban keluarga itu pun berada di atas bahunya selain beban dakwah. Namun akh Kamal senantiasa ridha dengan apa yang ditetapkan Allah Ta’ala atasnya. Ia pun berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya sambil tetap menanam kebaikan di atas ladang dakwah yang kelak buahnya akan dinikmati generasi berikutnya.

Ia juga bekerja untuk membantu saudara-saudaranya di Palestina sebagaimana yang ia lakukan untuk Mesir. Ia persembahkan tenaga dan kerja kerasnya sebagai khidmat bagi masalah-masalah yang terjadi di negeri Arab Islam, sehingga tugas, peran dan pengorbanannya kian bertambah. Itu membuatnya tidak pernah berfikir untuk membeli rumah atau perabot rumah tangga. Ia kerap bepergian dan melakukan perjalanan jauh. Saat mengantuk, ia ke rumah saudara perempuannya untuk beristirahat sejenak dan memakan sekedarnya lalu berangkat kembali. Ia tidak pernah meninggalkan pekerjaan hari ini untuk ia selesaikan esok hari.

Ketika orang-orang berkonspirasi melakukan kejahatan terhadap dakwah dan para penyerunya, maka saudara kita ini pun tertimpa sesuatu sebagaimana menimpa saudara kita yang lain.

Pada tanggal 28/2/1954, sekelompok massa bergerak menuju Istana Abidin menyerukan kemerdekaan yang selama ini berada dibawah penindasan Nasser dan kaki tangannya. Tampak peran akh As Sananiri sangat besar dalam mengorganisir demonstrasi yang diikuti ratusan ribu demonstran di bawah pimpinan, Asy Syahid Abdul Qadir Audah. Peluru petugas pun berhamburan menerpa tubuh para peserta demonstran. Mereka pun jatuh bergelimpangan meregang nyawa. Sementara As Sananiri tetap berdiri di tempatnya mengatur massa seraya mengibarkan baju syuhada yang berlumuran darah, sambil berteriak lantang agar seluruh manusia tahu pemerintahan macam apa yang berkuasa atas Mesir, dan apakah sesungguhnya yang diinginkan oleh anggota dewan revolusi terhadap Mesir dan rakyatnya.

Sementara itu, anjing-anjing pemerintah mengamati komandan lapangan yang memimpin massa besar itu. Tampak di antara mereka Kamal As Sananiri yang kemudian ditangkap, lalu diadili di hadapan pengadilan lolucon karya pemerintah dan dijatuhi hukuman kerja paksa selama dua puluh tahun.

Kamal As Sananiri di penjara pada bulan Oktober 1954 dan dibebaskan bulan Januari 1973, dan Anwar Sadat sama sekali tidak memiliki peran dan jasa dalam pembebasan itu. Karena As Sananiri tetap menjalani penuh hukuman yang dijatuhkan padanya di penjara Al Wahat, di bawah terik matahari, udara gurun yang panas dan pasir sahara membara seakan membakar kakinya yang telanjang.

Setelah dijatuhi hukuman penjara, penguasa Nasser lalu memaksa istri dan ibunya agar mereka dapat meluruhkan kekerasan hatinya, supaya As Sananiri sudi menulis dua baris kata saja sebagai dukungan untuk Abdul Nasser. Namun dengan keras ia menolak. Sambil meminta maaf pada ibunya yang memohon disertai cucuran air mata agar putranya menulis surat permohonan ampun, ia berkata penuh ketegaran sebagai seorang Da’i, “Bagaimanakah kelak saya bersikap di hadapan Allah bila saya meninggal setelah menulis surat ini, relakah engkau wahai ibu, bila aku mati dalam keadaan musyrik?”

Ia lalu memberi pilihan kepada istrinya apakah ia ingin tetap setia bersamanya sebagai seorang istri, ataukah meminta cerai. Mendengar tawaran tersebut, istrinya menangis dan berkata, “Saya akan tetap bersamamu sebagai istri, wahai kekasihku.” Tapi para intelejen Nasser menekan dan memaksa keluarga istrinya agar meminta cerai dari suaminya, dan itulah yang mereka lakukan.

Penulis dan juga sejarawan, Jenderal Mahmud Syeit Khaththab saat berada di rumahnya di Baghdad, “Pada tahun 1974, saya dikunjungi oleh Ustadz Kamal As Sananiri bersama istrinya, Sayyidah Aminah Quthb, di hotel tempat saya menginap di Beirut. Saya sangat gembira dengan kedatangannya. Namun air mata gembira dan sedih tak tertahan keluar dari kelopak mataku atas apa yang menimpa keluarga Quthb oleh kaki tangan dan tirani penguasa. Kesedihan juga menampak pada wajah dan kedua mata Aminah, walau suaminya, Kamal As Sananiri tampak tenang, tegar dan senyum yang tak penah lekang pada kedua bibirnya.

Penangkapan dan Penahanan

Beliau ditangkap pada bulan Oktober 1954, pengadilan yang dibentuk oleh tirani Abdul Nasser lalu menjatuhkan padanya hukuman penjara yang berakhir pada tahun 1974. Siksaan keji yang dilakukan padanya di penjara membuat telinganya cidera parah, itulah yang menyebabkannya dipindahkan ke rumah sakit ‘Aini. Namun ia sangat bersyukur kepada Allah, karena ketika keluar dari penjara telinganya yang sakit dahulu akibat siksaan itu berfungsi jauh lebih baik dari pada telinganya yang lain.

Keras dan kejamnya siksaan yang dilakukan terhadap ustadz As Sananiri, membuat saudara istrinya—yang akhirnya ia ceraikan saat berada di dalam penjara—yang turut bersamanya mengalami depresi, bahkan pemuda tersebut menjadi gila hingga akhirnya dipindahkan ke rumah sakit jiwa.

Adapun ibu Ustadz Kamal As Sananiri dan saudara perempuannya selalu hadir saat pengadilan lolucon terhadap dirinya digelar para tahun 1954. Pada pengadilan pertama, ibu Kamal As Sananiri tidak dapat mengenal wajah putranya akibat siksaan kejam yang dilakukan padanya. Ia pun bertanya kepada putrinya, “Manakah saudaramu, Kamal.” Putrinya berkata, “Itu dia, yang berada di dalam kerangkeng tahanan.” Ibunya tidak percaya dan berkata, “Bukan, wahai putriku. Apakah mataku sudah rabun sehingga saya tak lagi mengenalnya?”

Tubuh As Sananiri bahkan menjadi kurus sehingga pakaian yang ia kenakan menjadi longgar. Mereka juga mencukur habis rambut dan janggutnya, mematahkan tulang rahangnya sehingga caranya bicara jadi berubah, sebagaimana telinga kirinya yang cidera hingga tidak berfungsi. Itulah yang membuat ibunya pangling dan tidak kenal wajah putranya sendiri.

Pernikahannya di Dalam Penjara

Penahanannya yang sangat lama di dalam penjara membuatnya melakukan ikatan pernikahan dengan ukht Aminah Quthb, adik perempuan asy-Syahid Sayyid Quthb dan berkumpul dengannya setelah keluar pada tahun 1973. Namun pernikahan tersebut tidak membuahkan seorang anak, karena ukht Aminah Quthb ketika itu telah berusia lebih dari 50 tahun.

Sifat Zuhud dan Wara’nya

Salah satu sifat dan karakter Kamal As Sananiri adalah tidak suka menonjolkan diri, cenderung kepada kesederhanaan, menyukai orang-orang yang sederhana dan peduli pada nasehat dan arahan mereka semuanya atas akidah yang benar dan bersih dari bid’ah dan khurafat. Ia zuhud dalam kehidupan. Bangun pada malam hari dan puasa di siang hari. Hidup di dalam penjara dengan hanya mengenakan pakaian yang kasar.

Tidak aneh bila lelaki yang hidup zuhud ini menolak permintaan sipir penjara dan intelejen pemerintah—selama berada 20 tahun lebih di penjara—agar mendukung pemerintahan Abdul Nasser. Ia hanya ingin meraih yang baik dan menolak yang hina.

Perkenalanku Dengannya

Perkenalanku dengan Ustadz Muhammad Kamaluddin As Sananiri terjadi pada saat saya tiba pertama kali di Mesir tahun 1949, dan tinggal di komplek Abidin. Ketika itu beliau adalah supervisor dan penanggung jawab seluruh aktivitas mahasiswa utusan. Saya kagum dengan kesederhanaan, kerendahan hati, dan bantuannya untuk Ikhwan. Walau sebagian besar dari mereka berusia jauh lebih muda dan kurang pengalaman darinya.

Pandanganku terhadap pribadi, akhlak dan prilakunya mengingatkanku pada perjalanan hidup Salaf ash Shalih yang kerap kita baca dalam buku sejarah. Kamal As Sananiri—rahimahullah—adalah profil sangat tepat yang dapat mewakili kepribadian mereka.

Saat masih berada di dalam penjara, ia pernah menulis beberapa kisah dan mengirimkannya padaku ketika saya berada di Kuwait. Dalam surat tersebut ia berpesan tentang seorang akh yang akan datang dari Mesir menuju Kuwait. Saya juga menemukan dalam surat tersebut kebesaran jiwa seorang mukmin yang senantiasa tenang dan ridha terhadap keputusan dan ketetapan Allah Ta’ala, menyerahkan kepada-Nya segala yang ia hadapi seraya berharap dengan apa yang ada pada-Nya. Sedikitpun ia tidak menceritakan kondisi dirinya dan saudara-saudaranya yang berada di penjara. Tapi surat itu hanya berisi nasehat bagi seorang musafir. Itu saja.

Keluar dari Penjara dan Jihadnya

Saya mulai sering bertemu dengan Ustadz Kamal As Sananiri di Mesir atau di luar Mesir setelah ia keluar dari penjara, dan mengenalnya lebih dekat dari apa yang saya ketahui tentang dirinya saat saya tiba pertama kali di Kairo. Penjara yang ia diami selama lebih dari 20 tahun menempanya menjadi sosok yang lebih teguh, lebih bersih dan lebih tegar.

Saya bekerja di bawah kepemimpinannya di beberapa medan jihad, khususnya di Afghanistan, tempat ia mempersembahkan segala kemampuan dan potensinya. Melakukan apa yang dapat dilakukannya untuk membantu dan mendukung perjuangan mujahidin serta memberbaiki perselisihan yang terjadi di antara para pemimpin mereka yang seluruhnya mencintainya. Mereka dekat kepadanya dan menggapnya sebagai guru. Sehingga mereka nyaris tidak pernah menentang instruksi arahan yang sampaikan kepada mereka.

Adapun perjalanannya ke negara-negara Arab, negara Islam dan sebagainya, maka kisah tentang ini sangat panjang, dan jejak yang ia tinggalkan dalam hati takkan mungkin dilupakan. Karena kalimat-kalimat sederhana yang disampaikannya mampu menembus hati pendengarnya. Arahan dan nasehatnya yang jujur membuat mereka yang mendengarnya akan bersegera melaksanakannya.

Saya juga mengetahui beberapa perkara darinya, membuatku berharap sepersepuluh dari kelebihan-kelebihan yang dimilikinya agar termasuk orang sukses. Namun betapa jauh jarak antara bintang dan tanah yang dipijak. Saya tidak pernah lupa penampilannya saat bersamaku ditemani akh Nashir (Abu Aiman) ketika kami pergi ke Mesir untuk berobat pada tahun 1975.

Sesungguhnya saudara tercinta ini, lelaki shalih Muhammad Kamaluddin As Sananiri adalah buah yang matang karya madrasah Hasan Al Banna. Seorang akh yang jujur dan sangat sulit ditemukan lelaki sepertinya pada masa kini. Adapun saudara dan murid-muridnya, maka mereka adalah harapan masa depan yang dinantikan umat ini, untuk menyelamatkan mereka dari ketergelincirannya, membangunkannya dari tidur panjang untuk kembali kepada manhaj Tuhannya.

Adapun harapan kita selanjutnya—setelah Allah Ta’ala—akan lahirnya kebangkitan Islam yang mampu menata dan mengorganisir seluruh dunia Islam, mengembalikan singgasana keagungan Islam, kemuliaan dan kepemimpinan kaum Muslimin agar mampu menghabisi para tirani kezaliman yang telah menghinakan para hamba serta merusak negeri mereka adalah para lelaki yang dengannya dakwah ini menikmati kebanggaannya. Mereka adalah orang-orang yang semakin membanyak saat situasi genting mencekam, dan berkurang dalam situasi penuh ketamakan, teguh di masa sulit dan senantiasa jujur dengan Tuhan mereka.

Beberapa Sikapnya

Saya masih ingat, suatu kali akh As Sananiri berkunjung ke Kuwait untuk kepentingan dakwah. Namun adalah kehendak Allah bila Ia mengujiku dengan mengambil kembali titipan-Nya. Salah satu putraku yang berusia 20 tahun karena kecelakaan mobil. Saat itu Akh As Sananiri tidak segera meninggalkanku dan terus menghiburku. Seakan dialah yang tertimpa musibah itu.

Ketika ia ditahan saat kembali dari Afghanistan, siksaan itu ditimpakan kepadanya oleh aparat pemerintah, agar mereka mengetahui perannya dalam jihad di Afghan, dan keterlibatan orang-orang yang bersamanya. Namun ia tetap menolak, sementara para interogator tersebut tidak pernah keluar dari sel tahanan beberapa hari lamanya sambil terus menyiksanya tanpa henti. Dan ia pun akhirnya menemui kematiannya, kembali ke haribaan Tuhannya sebagai syuhada pada tanggal 8 November 1981M.

Organisasi Internasional Ikhwanul Muslimin menyampaikan kabar duka cita dengan kalimatnya, “Organisasi Internasional Ikhwanul Muslimin menyampaikan berita duka cita meninggalnya intelektual Islam, akh Al Mujahid, Asy Syahid Muhammad Kamaluddin As Sananiri, salah satu pemimpin pergerakan Islam internasional dan berasal dari jamaah Ikhwanul Muslimin yang ditangkap oleh Anwar Sadat di penghujung bulan September 1981 setelah ia kembali dari Washington dalam kunjungannya ke Gedung Putih untuk menerima berbagai instruksi dari ‘majikannya’.”

Sifat zuhud pada diri akh Kamal As Sananiri sangat menonjol pada hari kematiannya, ketika proses investigasi dilakukan pada dirinya di bawah pimpinan sang algojo, Hasan Abu Pasha. Seakan hendak menyambut angin syurga yang senantiasa dirindukannya. Asy Syahid Kamal As Sananiri akhirnya berada di tangan para algojo yang berusaha merenggut secara paksa apa yang mereka inginkan darinya dengan melonatarkan berbagai tuduhan keji terhadap Jamaah Islamiyah. Namun ia tetap berkata, “Sesungguhnya Sadat telah menggali kuburan untuk dirinya sendiri dengan menandatangani perjanjian Kamp David yang memutuskan untuk menyerahkan batang leher rakyat Mesir yang Muslim kepada Israel dan Amerika.” (Al Mujtama’: 11/11/1981M)

Ustadz Shalah Syadi menulis tentang dirinya, “Kamal As Sananiri menjalani kehidupannya di dalam penjara Abdul Nasser selama lebih dari 19 tahun lamanya. Tidak mengenakan kain apapun di dalam penjara selain baju penjara yang kasar. Bahkan pakaian dalam yang boleh dibeli setiap tahanan di kantin terpaksa tidak beli, bukan karena ia tidak memiliki uang. Tapi ia menolaknya karena ingin menjalani hidupnya terbebas dari segala sesuatu yang dapat dijadikan oleh sipir penjara sebagai fasilitas untuk merayu atau mengancam. Beliau—rahimahullah—lebih memilih hidup dengan berlepas diri dari segala sesuatu yang mungkin terlarang baginya, agar mereka tidak dapat menguasai apa yang ada pada dirinya.”

Ini adalah kunci kepribadiannya yang zuhud. Perilaku dan tabiat yang sudah menjadi kebiasaan baginya itu adalah sesuatu yang menakjubkan dan mencengangkan bagi kami. Kami sendiri terkadang mengasihani diri kami agar lebih mampu memikul sulitnya jalan panjang yang kami lalui sebagaimana yang ditetapkan Allah atas kami. Adapun dia, maka jiwanya jauh lebih patuh padanya dari pada ujung jarinya. Kesulitan yang ia rasakan tidak dapat membuatnya harus mengasihani dirinya.

Majalah Al Mujtama’ pernah memintaku untuk bercerita tentang dirinya setelah kematiannya. Majalah ini pun menulis kalimat berikut ini:

Majalah Al Mujtama’ memintaku bercerita tentang akh Asy Syahid Muhammad Kamaluddin As Sananiri yang beberapa hari lalu meninggal dunia di penjara di tangan para algojo dan polisi pemerintah yang menggunakan fasilitas dan kemampuan mereka untuk memerangi Islam dan mengancam para penyerunya di setiap tempat, khususnya di bumi Mesir yang menjadi bagian dari terjadinya tragedi ini empat kali secara beruntun.

Ujian pertama pada tahun 1948/1949 yang ditandai dengan pembunuhan terhadap Imam Syahid Hasan Al Banna, dan penangkapan kaum Mujahidin Palestina kemudian mereka dijebloskan ke dalam penjara at-Thur. Cobaan kedua pada tahun 1954 yang merenggut jiwa para syuhadaa: Muhammad Farghali, Abdul Qadir Audah, Yusuf Thal’at, Ibrahim ath-Thib, Handawi Duwaier, dan Muhammad Abdul Lathif, disertai  penangkapan terhadap puluhan bahkan ratusan Ikhwan lainnya untuk selanjutnya dimasukkan ke dalam penjara Liman Thurrah, Al Harbiy, Al Qal’ah, Abu Za’bal dan sebagainya.

Tragedi berikutnya terjadi tahun 1965 yang ditandai dengan syahidnya Sayyid Quthb, Abdul Fattah Ismail, Muhammad Yusuf Hawasy dan sebagainya dari tokoh terbaik Ikhwan. Ujian tahun 1981 terjadi ketika negeri ini dan masyarakatnya dijual ke tangan Yahudi dan Amerika, mulut-mulut mereka disumpal, masjid-masjid ditutup, lembaga-lembaga, media massa, mimbar-mimbar mereka dibredel, sementara pintu-pintu penjara terbuka untuk menyambut kedatangan kafilah du’at yang terdiri dari orang tua, para pemuda, bahkan untuk kaum wanita dan anak-anak.

Mereka bahkan menggunakan akal orang-orang yang tega menjual diri mereka kepada syetan-syetan Barat untuk menyakiti kaum Muslimin dan wali-wali Allah yang shaleh, yang menolak tunduk kepada selain Allah. Mereka tetap tinggi dan agung dengan keimanannya terhadap tirani kezaliman dengan mengutamakan apa yang ada di sisi Allah daripada berbagai jenis kenikmatan yang ada di muka bumi.

Orang-orang kecil dan rendahan yang duduk di atas singgasana penguasa itu menduga bahwa dengan kekejaman yang dilakukannya mereka sanggup membungkam mulut-mulut para du’at dan menghentikan gerbong kafilahnya yang terus bergerak maju. Mereka lupa bahwa apa yang dilakukannya adalah memerangi Allah yang Maha Kuat dari segala sesuatu, dan Maha Besar dari segala yang besar di dunia ini. Tidak bermanfaat lagi fatwa-fatwa yang dibeli, pernyataan-pernyataan yang mengatasnamakan agama yang dilakukan oleh para ulama resmi dan orang-orang yang serupa dengannya dengan memperindah seluruh perilaku mereka. (Majalah Al Mujtama’, November 1981)

Istrinya, Aminah Quthb menuliskan ungkapan sedih dan duka citanya lebih dari satu kumpulan syair yang sangat menyentuh jiwa, dibacakan setiap tahun saat memperingati kematian suaminya: Ustadz Kamal As Sananiri. Adapun kumpulan bait syair itu sebagai berikut:

Tak pernah lagi aku menanti kedatangannya saat petang menjelang

Tak pernah lagi aku berhias menanti ia kembali dengan limpahan harapan

Tak pernah lagi aku menanti kedatangan, pertemuan atau percakapan

Tak pernah lagi aku menanti derap kakimu yang datang setelah selesaikan tugasmu

Lalu aku nyalakan cahaya di tangga yang selalui rindu bahagia saat kau pijakkan kakimu

Aku tak lagi bergegas saat engkau tiba dengan senyum di bibir walau beratnya penderitaan

Dan rumahku dipenuhi cahaya ucapan selamat yang benderang dengan keanggunan

Dan jam dinding yang berdetak, bilakah senja kan tetap setia pada kita?

Dan kelopak mataku terpejam tenang, tiada  kecemasan pada berbagai cobaan

Tak ada lagi lantunan doamu mengetuk jiwaku kala subuh menjelang

Tak ada lagi lantunan adzan di alam bebas yang menyentuh telingaku

Lalu ku bertanya pada Yang Kuasa; tidakkah ada seorang pun yang mendengar seruan dariku?

Tidakkah engkau lihat kerinduan pada syurga atau cinta pada langit?

Tidakkah engkau lihat janji dari Allah? Telah tibakah saatnya bukti kesetiaan itu?

Lalu ku berjalan bagai sosok diamuk rindu karena cinta pada seruan?

Sudahkah engkau bertemu dengan kekasih tercinta di sana? Seperti apakah gerangan pertemuan itu?

Di sisi Allah di syurga Firdaus dalam limpahan karunia-Nya?

Sudahkah kalian berkumpul bersama dalan ketentraman dan perlindungan dari-Nya

Bila demikian, selamat datang kematian, selamat datang ceceran darah!

Niscaya aku kan bertemu kalian, janji setia nan tulus

Hari-hari yang kita lalui dengan derai air mata dan cobaan, kan diganjar Allah dengan syurga-Nya

Hidup dalam keabadian, tiada rasa takut pada perpisahan dan kefanaan

Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya yang luas, mengumpulkan kita bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, shalihin, dan merekalah sebaik-baik teman.

One thought on “Muhammad Kamal As Sananiri”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>