Abbas Hasan As Sisi

Da’wah Fardiyah

Peribadi Muslim merupakan sasaran risalah da’wah. Dalam rangka itulah Allah mengutus para nabi dan rasul. Selanjutnya dibebankan kepada para ulama dan da’i. Bila aqidah sudah menyentuh hati,dan iman telah merasuk ke dalam jiwa, serta keperibadian sudah mencapai derajat utama, maka umat pun akan menjadi baik dan daulah Islamiyah akan tegak. Oleh karena itulah, Islam memiliki perhatian besar terhadap peningkatan kualitas peribadi, baik segi aqidah, pemahaman, maupun pendidikan, agar menjadi contoh hidup yang nyata dan lampu penerang bagi pencari hidayah dan kebenaran.

Upaya ini dimulai dengan menyampaikan pengertian da’wah yang integral dan sempurna kepada hati setiap Muslim di masa kini. Suatu masa yang dikotori oleh berbagai macam gelombang pemikiran yang menyesatkan, merancukan, dan mengacaukan suara kebenaran. Hal ini semakin diperparah oleh perselisihan tajam dan tingkat kebodohan terhadap hakikat Islam yang menimpa duma Islam. Maka sudah menjadi keha-rusan utuk memotivasi para praktisi da’wah fardiyah untuk melakukan analisis secara kritikal, guna membantu mengenali secara jelas setiap orang yang hendak dijadi-kan sebagai objek da’wah, baik dari segi kejiwaan, sosial, maupun politik. Itulah langkah da’wah yang harus ditempuh agar tidak justru bertentangan dan kontra produktif.

Seseorang yang siap melakukan da’wah fardiyah harus menyadari pentingnya regenerasi aktivis da’wah, sehingga perjalanan da’wah dalam rangka membela Islam tidak berhenti.

Seorang da’i yang merasa terganggu dan tidak tenang pikirannya dengan kondisi yang menimpa umat Islam ini, terdorong dengan kuat untuk sedar bahwa da’wah harus produktif dan menghasilkan buahnya.

Seorang da’i tidak akan berhasil dalam tugasnya kecuali jika disertai dengan ibadah yang penuh keikhlasan dan totalitas kepada Allah.

“Dan tidak ada taufiq bagiku melainkan dengan (pertolongan)Allah.”(Hud: 88)

“Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah mengetahui.” (An-Nisa': 70)

Seorang da’i harus mengingat kisah sahabat Mush’ab bin Umair. Ketika diutus Rasul ke Madinah sebagai da’i, beliau ditentang oleh Sa’ad bin Mu’adz. Kemudian As’ad bin Zurarah berkata padanya, “Hai Mush’ab, inilah tokoh kaumnya. Ia telah datang kepadamu, maka jujurlah kepada Allah dalam menda’wahinya.”

Tampaklah bahwa hasil kerja yang tulus ini, yang tercermin dalam akhlak dan penlaku, merupakan salah satu kaidah da’wah yang terpenting. Kaidah-kaidah da’wah yang penting antara lain:

(bersambung…, -peny)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>