Muhammad Anis Matta

Daya Cipta Material

Sebagai indikator keberdayaan, harta menjelaskan satu sisi kekuatan jiwa seorang pahlawan: daya cipta material. Yaitu kemampuan mengadakan dan menciptakan semua sarana materi, apapun bentuknya, yang ia perlukan untuk merealisasi rencana kepahlawanannya.

Makin dekat medan kepahlawanan seseorang kepada dunia materi, makin jelas pula daya cipta material ini menjadi indikator kekuataan kepribadiannya. Misalnya kepahlawanan dalam medan perang, politik dan ekonomi. Sebaliknya, makin rendah daya cipta material seseorang, khususnya pada ketiga medan kepahlawanan tersebul, makin kecil pula peluangnya menjadi pahlawan.

Kemiskinan adalah masalah besar yang dihadapi para Muhajirin begitu mereka tiba di Madinah. Tapi ketika Saad Ibnu Rabi-dari kalangan Anshar-menawarkan modal kerja kepada Abdurrahman bin Auf-dari kalangan Muhajirin-yang telah dipersaudarakan dengannya, yang terakhir ini hanya mengatakan; “Tidak! Bukan itu yang aku perlukan. Tunjukkan saja padaku, dimana letaknya pasar Madinah?”

Nyata benar indikasi kekuatan kepribadian dalam kisah ini; kemandirian, harga diri, rasa percaya diri, kemampuan tehnis, kemahiran bisnis. Maka Abdurrahman bin Auf yang datang ke Madinah dengan tangan kosong, akhirnya meninggal dengan warisan kekayaan yang sangat besar. Bahkan emasnya, dalam salah satu riwayat, harus dibelah dengan kampak. Kepahlawanannya tidaklah terletak pada kekayaan itu, tapi pada apa yang ditunjukkan kekayaan itu tentang dirinya.

Daya cipta material itu pula yang menjelaskan, mengapa orang-orang seperti Abu Bakar dan Utsman bin Affan biasa menginfakkan seluruh hartanya, bukan sekadar marginnya, untuk kemudian memulai usahanya dari nol kembali; sebab mereka percaya pada daya cipta material mereka. Kekayaan itu, sekali lagi, tidaklah dengan sendirinya menjadikan mereka pahlawan. Tapi kekayaan itu bercerita banyak tentang mereka.

Kapasitas ini, daya cipta material, adalah salah satu kemampuan inti yang diperlukan dalam medan perang, atau percaturan politik, atau dunia bisnis. Itu sebabnya mereka yang memiliki kapasitas ini biasanya berpotensi menjadi pahlawan pada ketiga medan tersebut. Misalnya Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid; keduanya adalah petarung sejati, pemimpin sejati, dan juga pebisnis sejati.

Jadi, jika mereka mampu menciptakan karya-karya monumental dalam ketiga medan tersebut, itu sepenuhnya disebabkan oleh fakta bahwa kapasitas inti yang diperlukan pada ketiga medan itu adalah sama; daya cipta material. Umar bin Khattab mengajarkan makna ini kepada kita, ketika beliau mengatakan: “Tidak ada pekerjaan yang paling aku senangi setelah perang di jalan Allah, selain dari bisnis.”

Agaknya inilah yang menjelaskan, mengapa generasi sahabat bukan hanya mampu memenangkan seluruh pertempuran, tapi juga mampu menciptakan kemakmuran setelah mereka berkuasa.