Definisi Hadits

Manna' Khalil Al Qaththan

Hadits menurut bahasa artinya baru. Hadits juga –secara bahasa- berarti “sesuatu yang dibicarakan dan dinukil”, juga “sesuatu yang sedikit dan banyak”. Bentuk jamaknya adalah ahadits. Adapun firman Allah Ta’ala,

“Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati sesudah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada hadits ini” (QS Al Kahfi:6). Maksud hadits dalam ayat ini adalah Al Quran.

Juga firman Allah,

“Dan adapun nikmat Tuhanmu, maka sampaikanlah.” (Adh Dhuha:11)

Maksudnya: sampaikan risalahmu, wahai Muhammad[1]

Hadits menurut istilah ahli hadits adalah: Apa yang disandarkan kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, baik berupa ucapan, perbuatan, penetapan, sifat, atau sirah beliau, baik sebelum kenabian atau sesudahnya.

Sedangkan menurut ahli ushul fikih, hadits adalah perkataan, perbuatan, dan penetapan, yang disandarkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam setelah kenabian. Adapun sebelum kenabian tidak dianggap sebagai hadits, karena yang dimaksud dengan hadits adalah mengerjakan apa yang menjadi konsekuensinya. Dan ini tidak dapat dilakukan kecuali dengan apa yang terjadi setelah kenabian[2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Buku-buku yang di dalamnya berisi tentang khabar Rasulullah, antara lain adalah Tafsir, Sirah, dan Maghazi (peperangan Nabi-Edt), dan Hadits. Buku-buku Hadits adalah lebih khusus berisi tentang hal-hal sesudah kenabian, meskipun berita tersebut terjadi sebelum kenabian. Namun itu tidak disebutkan untuk dijadikan landasan amal dan syariat. Bahkan ijma’ kaum muslimin menetapkan bahwa yang diwajibkan kepada hamba Allah untuk diimani dan diamalkan adalah apa yang dibawa Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam setelah kenabian[3]

Contoh perkataan Nabi adalah sabda beliau,

“Perbuatan itu dengan niat, dan setiap orang tergantung pada niatnya”[4]

Sabda beliau juga, “(Laut itu) suci airnya dan halal bangkainya.”[5]

Contoh perbuatan Nabi adalah cara wudhu, sholat, manasik haji, dan lain sebagainya yang beliau kerjakan.

Contoh penetapan (taqrir) Nabi adalah sikap diam beliau dan tidak mengingkari terhadap suatu perbuatan, atau persetujuan beliau terhadapnya. Misalnya: Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Ada dua orang yang sedang musafir ketika datang waktu shalat tidak mendapatkan air, sehingga keduanya bertayammum dengan debu yang bersih lalu mendirikan shalat. Kemudian keduanya mendapati air, yang satu mengulang wudhu dan shalat sedangkan yang lainnya tidak mengulang. Keduanya lalu menghadap kepada Rasulullah dan menceritakan semua hal tersebut. Terhadap orang yang tidak mengulang beliau bersabda, “Engkau sudah benar sesuai sunnah, dan sudah cukup dengan shalatmu”.

Dan kepada orang yang mengulangi wudhu dan shalatnya, beliau bersabda, “Bagimu pahala dua kali lipat.”[6]

Dari Muadz bin Jabal bahwasanya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mengutusnya ke negeri Yaman, “Apa yang kamu jadikan sebagai pedoman dalam menghukumi suatu masalah?”

Ia menjawab, “Dengan Kitabullah.”

Rasulullah bertanya, “Jika tidak kamu dapatkan dalam Kitabullah?”

Dia menjawab,”Dengan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam.”

Beliau bertanya lagi, “Jika tidak kamu dapatkan dalam sunnah Rasulullah maupun dalam Kitabullah?”

Dia menjawab,”Aku akan berijtihad dengan pikiranku.” Kemudian Rasulullah menepuk dadanya dan bersabda, “Maha suci Allah yang telah memberi petunjuk kepada utusan Rasul-Nya terhadap apa yang diridhai oleh Rasulullah”[7]

Diriwayatkan, bahwasanya Khalid bin Al –Walid Radhiyallahu Anhu pernah memakan dhabb (hewan bangsa kadal namun agak besar-Edt) yang dihidangkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, sedangkan beliau tidak memakannya. Sebagian sahabat bertanya, “Apakah diharamkan memakannya, wahai Rasulullah?” beliau menjawab, “Tidak, hanya karena binatang tersebut tidak ada di daerah kaumku sehingga aku merasa tidak berminat”[8]

Contoh dari sifat dan Sirah Nabi, banyak sekali riwayat menerangkan tentang sifat dan tabiat beiau. Dan At Tirmidzi menyusun sebuah buku tentang tabiat (syama’il) beliau[9]

Di antara contohnya adalah:

Dari Abi Ishaq, dia berkata, “Seorang lelaki bertanya kepada Al Bara’, ‘Apakah wajah Rasulullah seprti pedang?” Dia menjawab, ‘Tidak, tapi seperti rembulan’.”[10]

Dari Al Bara’ dalam riwayat lain, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak pendek dan tidak tinggi.”[11]

Dari Jarir bin Abdullah Al Bajali, dia berkata, “Belum pernah aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam sejak aku masuk Islam kecuali beliau tersenyum kepadaku. “[12]


[1]  Lisanul Arab, Ibnu Manzur

[2]  Ushulul Hadits, Muhammad ‘Ajjaj Al Khatib, hal 27

[3]  Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyahh: 18/ 10-11

[4]  HR Bukhari dan Muslim

[5]  HR Ahmad dan Ibnu Majah

[6]  Hr Abu Dawud dan An Nasa’i

[7] HR Abu Dawud

[8] HR Bukhari dan Muslim

[9] At Tasyri’ wa Al Fiqh Al Islam Tarikhan wa Manhajan, Manna Al Qaththan, hal 87-88

[10] HR At Tirmidzi, dia berkata, “Hadits  hasan shahih.”

[11]  HR At Tirmidzi, dia berkata, “Hadits  hasan shahih.”

[12] HR At Tirmidzi, dia berkata, “Hadits  hasan shahih.”