Hasan Al Banna

Di Alun-Alun Madinah Munawarah (2)[1]

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya dan berjihad menegakkan syariatnya hingga hari kiamat.

Amma ba’du.

Wahai Ikhwan yang mulia. Anda semua telah memenuhi undangan dan membahagiakan saya dengan kegembiraan dan kemuliaan yang luar biasa, maka saya merasa berkewajiban untuk membalas sambutan hangat Anda ini dengan apa yang dijadikan Allah sebagai pembuka untuk perjumpaan kita, kita membukanya dengan pembukaan yang paling baik. Maka saya ucapkan: assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Ini adalah saat yang mulia, di dalamnya kita berbicara dengan firman mulia dari kitab Allah subhanahu wa ta’ala dan sunah Rasul-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam, tentang atsar-atsar kekasih-Nya subhanahu wa ta’ala. Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menjadikannya sebagai amalan yang diterima, yang pahalanya ditulis untuk saya dan Anda semua. Karena pertemuan ini adalah pertemuan yang dilandaskan kepada ketaatan dan kecintaan kepada Allah.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Cinta-Ku pasti Ku-karuniakan kepada orang-orang yang saling mencintai karena-Ku, bersahabat karena-Ku, saling mengunjungi karena- Ku, dan saling memberi karena-Ku. Pada hari ini, Aku menaungi mereka dengan keagungan-Ku, pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.”

Lihatlah, Anda semua telah berkumpul dari berbagai negeri, dari wilayah-wilayah yang jauh. Anda semua disatukan oleh cinta, dipertemukan oleh ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta upaya untuk mencari ridha-Nya.

Ikhwan sekalian, Anda semua berkumpul di bumi yang baik, di lingkungan Nabi. Allah telah memberi Anda semua kesempatan untuk saling mengenal, saling akrab, dan berjuang untuk mewujudkan persatuan. Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Di antara hamba-hamba Allah ada orang-orang yang bukan nabi dan bukan syuhada, tetapi para nabi, syuhada, dan orang-orang lain iri terhadap mereka pada hari Kiamat, lantaran kedudukan mereka di sisi Allah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, beritahulah kami, siapakah mereka itu?” Beliau bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena ruh Allah, tanpa ada hubungan keluarga atau harta. Demi Allah, wajah mereka berupa cahaya dan mereka berada di atas cahaya. Mereka tidak merasakan ketakutan ketika semua orang merasakan ketakutan dan tidak merasakan kesedihan ketika semua orang merasakan kesedihan.” Kemudian beliau membaca ayat, “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) bersedih hati.” (QS. Yunus: 62)

Ikhwan sekalian, di tempat ini kita tidak dipertemukan oleh hubungan keluarga atau bahkan kita belum pernah saling kenal. Tidak ada yang menyatukan kita di sini selain aqidah dan persaudaraan Islam: kebenaran. Pertemuan ini adalah pertemuan untuk saling mengenal sebagaimana yang diserukan oleh Al-Qur’anul Karim.

“Wahai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Kita berkumpul untuk saling mengingatkan tentang kebenaran, saling berwasiat dengannya, serta mengamalkannya. Kita memohon kepada Allah agar memberikan taufiq kepada kita untuk ikut memiliki andil di dalamnya.

Ikhwan sekalian, saya berpikir untuk membahagiakan Anda dalam pertemuan ini, di malam yang agung ini, dan di kota Madinah yang diberkahi ini. Karena itu merupakan kewajiban. Kita sekarang hampir menjumpai tahun baru dan meninggalkan tahun lama. Hak tahun yang telah lewat yang harus kita penuhi adalah, hendaklah mengingat-ingat kembali amal perbuatan kita dan menghisab diri kita. Jika mendapat kebaikan, kita memuji Allah subhanahu wa ta’ala, dan jika mendapat selain itu, maka kita memohon ampunan kepada-Nya. Hak tahun yang akan datang yang harus kita penuhi adalah, hendaklah kita menyambutnya dengan amalan yang baru, program-program baru, yang mengandung manfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Adakah tempat yang lebih patut untuk dikenang daripada Madinah: kota Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, pangkalan turunnya wahyu, dan pemukiman kaum Muhajirin dan Anshar. Hakikat ini membisikkan banyak kenangan.

Ikhwan sekalian, kesempatan ini mengingatkan saya kepada sebuah peristiwa besar yang mempunyai pengaruh mendalam, yaitu peristiwa hijrah. Hari ini kita sedang menjelang tahun baru hijrah. Kita teringat kepada perasaan bahagia yang meluap dan jiwa-jiwa mulia itu, yang telah terbukti kualitasnya setelah melalui berbagai ujian, jihad, dan amal.

Ikhwan yang terhormat, manusia itu ada dua tipe.

Pertama, manusia yang tidak mengenal rahasia wujud dan tidak mengerti tugasnya dalam hidup. Jika kita bertanya kepadanya, “Mengapa kamu diciptakan? Apa yang telah kamu lakukan? Kenapa kamu ada?” Ia akan menjawab, “Tinggalkan aku. Aku sedang sibuk.” Ia tidak mengerti apa pun dalam kehidupan ini. Perumpamaannya seperti pohon mandul yang tidak mampu berbuah. Pohon yang tidak mempunyai buah dan kebaikan, kecuali sekedar sebagai kayu bakar neraka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tandatanda kekuasaaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu bagai binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)

Karena suatu hikmah yang hanya diketahui oleh Allah, jumlah manusia yang bertipe demikan tidak sedikit, melainkan banyak.

Kedua, orang yang ingin mengenal rahasia wujud, mengetahui tugasnya dalam hidup, lantas melakukan amal dengan suka rela dan hati senang.

Mengenai kedua tipe manusia ini, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apaapa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah, ‘Maukah kalian aku kabarkan sesuatu yang lebih baik dari yang semua itu?’ Untuk orang-orang yang bertaqwa (kepada Allah), di sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (ada pula) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Yaitu) orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.’ (Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.” (QS. Ali-lmran: 14-17)

Manusia tipe pertama telah salah jalan dan tersesat sejauh-jauhnya. Sedangkan tipe kedua adalah yang mata hatinya diterangi oleh Allah, sehingga memancarkan cahaya petunjuk di jalannya. Ia tahu bahwa kenikmatan di akhirat tidak bisa ditandingi dengan kenikmatan dalam kehidupan dunia. Ia mengetahui kebenaran dan tugasnya dalam kehidupan, yaitu menghadapkan diri sepenuhnya kepada Allah.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)

Mereka kembali kepada Allah dengan hati dan perasaan. Mereka menjadikan amal mereka ikhlas karena Allah.

Ikhwan sekalian, karena itu, ketika menghadapi tahun baru dan berpisah dengan tahun lama, saya ingin berhenti sejenak di antara keduanya untuk melakukan koreksi yang jeli, seperti koreksi yang dilakukan seorang penguji. Di awal tahun pelajaran, biasanya kita membagi-bagikan buku tulis baru kepada para murid. Tentu saja, buku tulis tersebut bersih. Di sini seorang guru memeriksa buku tulis-buku tulis tersebut untuk memastikan bahwa tidak ada kerusakan padanya, memerintahkan semua murid agar menulis tugas-tugas mereka di dalamnya, dan memberikan hukuman bagi murid yang mengabaikan tugasnya.

Sekarang di hadapan kita terdapat buku tulis baru, jumlahnya tiga ratus enam puluh lembar. Setiap hari kita akan menulisi satu lembar. Maka, buku tulis kita ini harus bersih, karena guru kita sangat jeli dan penguji kita sangat waspada, tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang terluput dari penglihatannya.

“Dan jika kalian melahirkan apa yang ada di dalam hati kalian atau kalian menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kalian tentang perbuatan kalian itu.” (QS. Al-Baqarah: 284)

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat kitab yang dijumpainya terbuka. ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadap-mu.'” (QS. Al-Isra’: 13-14)

Ikhwan sekalian, ini merupakan salah satu makna peringatan. Dalam hukum positif tidak diperbolehkan adanya praktek penghapusan kesalahan, tetapi Allah Maha Pemurah, senang mengampuni, Maha Penyayang terhadap hamba-hamba-Nya, memberikan pahala kepada orang-orang yang bertaubat apabila mereka melaksanakannya dengan ikhlas dan tidak terus-menerus melakukan kesalahan yang pernah mereka perbuat.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal.” (QS. Ali-lmran: 135-136)

“Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya, memaafkan kesalahankesalahan, dan mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. Asy-Syura: 25)

Ikhwan sekalian, jika Anda sekalian ingin melihat kembali kepada masa lalu, maka hendaklah Anda menghitung kebaikan dan keburukan yang telah Anda ketahui. Pujilah Allah atas kebaikan, dan bertaubatlah kepada Allah atas keburukan. Kembalikanlah hak kepada pemiliknya, bertaubatlah kepada Allah atas kekurangan Anda memenuhi haknya.

Adapun pandangan kepada masa yang akan datang, maka hendaklah Anda bertekad untuk tidak melakukan dosa atau mendekati kemaksiatan serta bertekad melaksanakan ketaatan dan kebaikan. Saya ingin menyinggung secara sepintas beberapa peristiwa menonjol dan penting yang akan memberikan manfaat dalam kehidupan kita secara praktis.

Di antara peristiwa yang paling penting adalah, peristiwa hijrah. Ini adalah peristiwa indah, yang dipenuhi dengan pelajaran, teladan, dan nasihat. Andaikata kaum muslimin mau mengambil sebagian pelajaran yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka menjadi pemimpin umat manusia. Hijrah beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam merupakan pemisah antara kedua amal beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam. Amal pertama adalah perbaikan individu di Makkah. Amal kedua adalah perbaikan masyarakat di Madinah.

Di Makkah beliau membangun aqidah, menyusun batu bata-batu bata yang akan menjadi fondasi dakwah. Hal itu kadang beliau laksanakan secara rahasia dan kadang beliau laksanakan secara terang-terangan. Demikianlah. Orang-orang musyrik menentang dan memerangi dakwah beliau. Mereka membuat hambatan di jalan penyebaran dakwah. Tetapi Allah tidak menghendaki selain menjadikan orang-orang mukmin itu sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.

Adapun di Madinah, keadaannya berbeda dari itu. Rasul shalallahu ‘alayhi wa sallam telah menyusun batu bata-batu bata tersebut menjadi satu umat yang agung, setelah membina individu-individunya secara benar. Beliau membangun jiwa-jiwa ini di atas landasan dua sifat dan dua warna, yaitu keimanan yang menakjubkan di dalam hati yang menakjubkan, yang mendapatkan limpahan karunia dari Allah Yang Mahabenar subhanahu wa ta’ala berupa wahyu yang diturunkan oleh Malaikat Jibril, Ar-Ruhul Amin.

“Sebab itu bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya kamu berada di atas kebenaran yang nyata.” (QS. An-Naml: 79)

Keimanan kepada Allah Yang tidak bisa dikalahkan, kepada kitab-Nya yang tidak bercampur dengan kebatilan, baik dari arah depan maupun dari arah belakang, dan kepada Nabi yang telah menyampaikan risalah. Maka terwujudlah keimanan yang benar-benar menakjubkan pada generasi Salafus Shalih. Semula mereka beribadah kepada berhala, kemudian mereka memusnahkannya. Semula mereka meminum khamr, selanjutnya mereka menumpahkannya. Dahulu mereka saling bermusuhan, kemudian keimanan menyatukan mereka. Mereka kembali dididik, setelah mereka melewati usia pendidikan. Akan tetapi apabila keimanan bersemayam di hati, maka ia akan menunjukkan ke jalan yang lurus. Mereka meninggalkan kota Makkah bukan lantaran membencinya, tetapi karena membela agama Allah dan dalam rangka menyebarkan dakwah Rasul-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam.

Ikhwan sekalian. Saya tidak ingin menjelaskan secara mendetail mengenai perkembangan-perkembangan jiwa mereka, tetapi saya ingin membuat kesimpulan tentang jiwa-jiwa mulia ini. Saya ingin menjelaskan bahwa jiwa-jiwa tersebut tidak merasa sayang untuk membela Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam. Mereka memikul beban dakwah dengan baik dan menyebarkan agama Allah dengan bijaksana. Mereka tidak mempunyai obsesi selain menyampaikan risalah. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman mengenai mereka, “Wahai Nabi, cukuplah Allah dan orang-orang mukmin yang mengikutimu (menjadi penolong bagimu).” (QS. Al-Anfal: 64)

Rustum, panglima perang Romawi, pernah berjumpa dengan salah seorang Arab yang menjadi anggota pasukan perintis kaum muslimin. Rustum bertanya, “Apakah yang telah mendorong kalian keluar dari rumah kalian?” Orang Arab yang muslim itu menjawab, “Kami berangkat bukan untuk mendapatkan dunia ini. Dulu kami adalah orang-orang lemah, lantas Allah menguatkan kami. Dulu kami orang-orang yang tersesat, lantas Allah memberikan petunjuk kepada kami. Allah memerintahkan kami untuk menyampaikan risalah. Jika kamu memasuki agama yang telah kami masuki, maka kami dan kalian adalah sama. Jika tidak, maka pedang yang akan memberikan keputusan di antara kita.” Rustum berkata, “Lihatlah pasukan-pasukan ini!” Maka orang itu melihatnya dengan nada merendahkan. Ia berkata, “Hai, ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak sedang memerangi manusia, tetapi sedang memerangi takdir. Kami adalah takdir Allah, yang dikirimkan kepadamu.”

Ikhwan sekalian, andaikata kita mempunyai keimanan semacam ini, niscaya kita bisa memperbarui kehidupan kita dan memecahkan berbagai problem dalam kehidupan.

Seorang shalih pernah ditahan di sebuah benteng di Mesir. Sebagian muridnya datang menemuinya dan merasa prihatin menyaksikan keadaannya. Tetapi, orang shalih tersebut berkata, “Penjaraku adalah surgaku. Dan kematianku adalah kematian syahid.”

Wahai Akhi, perhatikanlah, bagaimana jiwa mulia ini melihat penjara sebagai keuntungan. Jadi, harus ada keimanan, kesabaran, kejujuran, keteguhan memegang janji, persatuan, cinta, dan itsar (mendahulukan kepentingan orang lain). Akhlak mulia ini adalah akhlak yang dibangun oleh Islam. Di atasnya masyarakat Islam dibangun.

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin), dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Ikhwan sekalian, saya sedang membayangkan Madinah ketika disinggahi oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, kemudian beliau menjadikannya sebagai tangsi militer, tiba-tiba saja kaum pria dan wanita secara keseluruhan telah berada di satu benteng, bergerak dengan satu gerakan, berlatih setiap hari lima kali ketika mereka mendengar adzan Ibnu Ummi Maktum. Anda dapati pada diri mereka itu terdapat kesatuan tindakan dan kesamaan kata. Jika mereka berselisih dalam satu permasalahan, maka Al-Qur’an turun untuk memberikan keputusan bagi mereka.

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan(nya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kalian berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1)

Sampai sejauh ini, Ikhwan sekalian, hubungan satu individu masyarakat dengan individu lain. Semua orang tunduk dan akrab kepada peraturan, lantaran mencintai peraturan tersebut dan pembuatnya. Semoga Allah memberikan balasan kepada mereka atas jasa mereka terhadap Islam dan kaum muslimin. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk beramal sebagaimana amalan mereka, sesungguhnya Dia Yang Mahatinggi adalah Maha Mengabulkan doa.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.



[1] Tema ini disampaikan Imam Syahid di salah satu pertemuan yang diselenggarakan Ikhwan di Madrasah ‘Ulum Syar’iah, Madinah Munawarah. Sejumlah besar kader Ikhwan dan para peziarah masjid Rasul shalallahu ‘alayhi wa sallam hadir di sini.