Muhammad Anis Matta

Gairah yang Membuat Tenang

Di balik ketergantungan kepada sumber energi dari perempuan itu, ada satu fenomena yang patut dipelajari dengan seksama; syahwat besar yang dirasakan para pahlawan kepada perempuan.

Utsman bin Affan, khalifah ketiga dan menantu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahkan pernah berkata tentang dirinya sendiri, “Saya adalah lelaki yang sangat suka kepada perempuan.” Agaknya penjelasan ini mewakili fenomena yang mencolok dalam kehidupan para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam; baik pada jumlah istri yang banyak maupun pada frekuensi hubungan seksual.

Apakah ada hubungan antara kebutuhan biologis yang besar dan kebutuhan psikologis sama besarnya terhadap perempuan? Ada pada sebagiannya dan tidak ada pada sebagiannya. Yang terakhir ini karena kita juga menemukan contoh pada beberapa ulama, seperti Imam Nawawi, Ibnu Taimiyah, dan Sayyid Quthb, yang tetap membujang hingga wafat. Bahkan, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, rahimahullah, menulis sebuah buku tentang Al Ulama Al Uzzab (Ulama-ulama Bujang).

Di samping dapat dijelaskan oleh kesibukan mereka, atau kekhawatiran tidak dapat memenuhi hak-hak istri, agaknya penjelasan Syekh Ibnu Utsaimin, rahimahullah, lebih realistis. “Mereka mempunyai ambisi besar kepada ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki syahwat yang kecil. Sebab kalau syahwat mereka besar, tentulah kesibukan tidak akan menghalangi mereka menikah,” jelasnya.

Lepas dari itu, syahwat besar kepada perempuan memang banyak ditemukan di kalangan para pahlawan di medan perang dan politik. Syahwat besar itu berguna mengimbangi kekuatan lain yang sangat dahsyat dalam diri mereka; kekuatan amarah (al quwwah al ghadhabiyyah). Kekuatan terakhir inilah yang memberikan energi dan gairah untuk menghadapi risiko, meremehkan musuh, mengalahkan ketakutan kepada kematian, dan menikmati ketegangan jangka panjang.

Inilah agaknya yang menjelaskan mengapa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam selalu membawa serta salah satu istrinya ke dalam berbagai medan tempur. Ini juga yang menjelaskan mengapa Umar membuat aturan yang mengharuskan setiap mujahid kembali menemui istrinya setelah masa tempur empat bulan. Lebih dari empat bulan, kata seorang analis militer, seorang prajurit akan berubah menjadi sadistis, atau bahkan kanibalis.

Syahwat itu, kala Al Maududi dalam Al Hijab, juga merupakan sumber vitalitas yang memberikan kita gairah untuk bekerja dan berkarya. Itu sebabnya Islam mengatur penyalurannya yang tepat agar ia memberikan efek produktivitas bagi kehidupan manusia.

Jadi, ketika para orientalis menuduh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penderita sex maniac, seorang penulis siroh (sejarah) menjawab, “Syahwat yang besar kepada perempuan itu justru merupakan tanda-tanda kesempurnaan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.”