Muhammad 'Imarah

Gnostisisme

Gnostisisme berasal dari kata Latin gnosis yang berarti pengetahuan (ma’rifah). Ia merupakan paham filsafat klasik yang berdiri di atas perpaduan antara filsafat dan agama, serta campuran dari berbagai pemikiran dan pengetahuan, yang berdasarkan pada emanasi serta pandangan-pandangan mistik serta illuminisme.

Paham gnostisime berkembang subur dalam peradaban Helenik klasik (Yunani kuno), khususnya di Persia, yang mana pemikiran pokoknya berporos pada keyakinan bahwa pengetahuan adalah jalan keselamatan, bukan kepercayaan pada agama tertentu, baik jalan kepercayaan agama itu adalah teks-teks agama maupun akal, atau sekaligus keduanya.

Gnostisisme telah mulai muncul sebagai satu aliran filsafat sinkretis dari Hellenisme Yunani, khususnya Neo-Platonisme dan kabalisme Yahudi, yang merupakan agama masyarakat Yahudi klasik, serta filsafat dan agama Persia kuno: monisme. Gnostisisme merupakan jalan untuk mencapai keselamatan melalui “kesalehan” individu serta pengalaman spirituil pribadi yang mengangkat pelakunya ke alam fana (annihilation) ke dalam Dzat yang mutlak, bukan melalui aturan agama (syari’ah).

Gnostisisme memberi andil besar dalam menyelewengkan agama Kristen dari prinsip tauhid. Di antara tokoh Kristen penganut gnostisisme pada abad kedua Masehi ialah Valentinus dari Mesir dan Pasilidus dari Suriah.

Ketika Islam datang, paham ini memberi pengaruh pada perkembangan selanjutnya terhadap para penganut sufisme, terutama dalam bentuk yang diistilahkan dengan konsep wihdatul wujud dan ‘irfaniyyah isyraqiyyah (illuminisme gnostik), yang tidak lain adalah bentuk gnostisisme klasik yang muncul kembali, akan tetapi paham ini hanya diikuti oleh segelintir tokoh teosofi tertentu, bukan penganut tasawuf sunni.

Ma’rifat gnostik meskipun berjaya sebagai pengalaman pribadi dan suatu jalan untuk keselamatan perorangan akan tetapi menghancurkan komunitas manusia serta merusak keyakian masyarakat yang mengambil jalan syari’ah sebagai jalan keselamatan umum, bukan ma’rifat gnostik.[1]

_____

[1] Lebih lanjut, lihat DR. Muhammad Ammarah dalam Ma’alim al-Manhaj al-Islami, Kairo 1991. Juga lihat, al-Ghazw al-Fikri Wahm am Haqiqah? Kairo 1989.