Muhammad Asri Zainal Abidin

Hadits Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Terdapat hadits shahih mengenai kebaikan malam Nishfu Sya’ban, tetapi amalan-amalan tertentu khas untuk malam tersebut adalah tidak tsabit dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Antara hadits yang sahih mengenai Nishfu Sy`aaban adalah:

يطلع الله تبارك وتعالى إلى خلقه ليلة النصف من شعبان فيغفر لجميع خلقه إلا لمشرك أو مشاحن

“Allah melihat kepada hamba-hambaNya pada malam Nishfu Sya’ban, maka Dia ampuni semua hamba-hambaNya kecuali musyrik (orang yang syirik) dan yang bermusuhan (orang benci membenci).” (Riwayat Ibn Hibban, al-Bazzar dan lain-lain). Al-Albani mensahihkan hadits ini dalam Silsilah al-Ahadits al-Sahihah. jilid 3, hal 135, Riyadh: Maktabah al-Ma`arf).

Hadits-hadits tentang Nishfu Sya’ban tidak mengajarkan kita apakah bentuk amalan khusus malam tersebut. Oleh karena itu, amalan-amalan tertentu pada malam tersebut, seperti baca Yasin di malam Nishfu Sya’ban, shalat-shalat khas tertentu bukanlah ajaran Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Kata Dr. Yusuf Al Qaradhawi dalam menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan Nishfu Sya’ban:

“Tidak pernah diriwayatkan daripada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. dan para sahabat bahawa mereka berkumpul di masjid untuk menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, membaca do`a tertentu dan shalat tertentu seperti yang kita lihat pada sebagian negeri orang Islam.

Bahkan di sebagian negeri, orang banyak berkumpul pada malam tersebut selepas maghrib di masjid. Mereka membaca surah Yasin dan shalat dua raka`at dengan niat panjang umur, dua rakaat yang lain pula dengan niat tidak bergantung kepada manusia, kemudian mereka membaca do`a yang tidak pernah dipetik dari golongan salaf (para sahabat, tabi`in dan tabi’ tabi`in). Ia adalah satu do`a yang panjang, yang menyalahi nushush (al-Quran dan Sunnah) juga bersalahan dan bertentangan maknanya…

Perkumpulam (malam Nishfu Sya’ban) seperti yang kita lihat dan dengar yang terjadi di sebagian negeri orang Islam adalah bid`ah dan diada-adakan. Sepatutnya kita melakukan ibadat sekadar yang dinyatakan dalam nash.

Segala kebaikan itu ialah mengikut salaf, segala keburukan itu ialah bid`ah kelompoo setelah mereka, dan setiap yang diadakan-adakan itu bid`ah, dan setiap yang bid`ah itu sesat, dan setiap yang sesat itu dalam neraka.”

Demikian fatwa Dr. Yusuf al-Qaradhawi dalam Fatawa Mu`asarah jilid 1, hal 382-383, cetakan: Dar Uli al-Nuha, Beirut.