Hasan Al Banna

Hadits tentang Malam Nishfu Sya’ban

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Makalah ini pertama kali diterbitkan di surat kabar “Ikhwanul Muslimun” edisi 20 tahun I (1352 H). Kemudian diterbitkan kembali pada surat kabar yang sama di Bulan Sya’ban tahun 1353 H.

Pada saat itu datang seorang ikhwah dari Propinsi Daqahlia untuk menanyakan tentang hadits yang terkait dengan Nishfu Sya’ban, kebiasaan masyarakat yang melakukan doa dan sejenisnya pada malam itu.

Insya Allah, pertanyaan ini akan kami jawab sesuai dengan kemampuan kami berdasarkan pada referensi yang ada pada kami dan berlandaskan nash-nash yang ada yang kami ketahui. Namun kami tidak menolak apabila ada dalil lain yang berbeda dari apa yang kami jelaskan pada tulisan ini. Kami akan sangat berterima kasih bila ada hujjah lain yang berbeda yang dapat diberikan kepada kami. kebenaran harus berada diatas segala dan menjadi tujuan utama para thalibul ilmi. Wallahul Musta’an.

Pembahasan tentang Malam Nishfu Sya’ban akan kita bagi menjadi tiga; Pembahasan hadits-hadits yang terkait dengan malam Nishfu Sya’ban; kedua, Kebenaran dan kekeliruan yang diyakini masyarakat awam tentang malam Nishfu Sya’ban; ketiga, Hukum berdoa sebagaimana doa yang sudah dikenal oleh masyarakat luas.

Pertama, Dalil-dali Yang Terkait dengan Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

Firman Allah dalam surat Ad Dukhan:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ  *  فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,” (Ad Dukhan: 3-4)

Ulama berbeda pendapat tentang kata “Malam” yang terdapat pada ayat diatas.

Pendapat pertama:

bahwa yang dimaksud dengan “Malam” pada ayat diatas adalah malam Lailatul Qadar, yaitu malam yang terdapat pada bulan Ramadhan.

Pendapat kedua:

bahwa yang dimaksud dengan “Malam” pada ayat tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban.

Pendapat ketiga:

Ulama yang berpendapat bahwa, bisa jadi malam Lailatul Qadar terjadi pada pertengahan Bulan Sya’ban.

Pendapat ketiga ini ingin memadukan dua pendapat sebelumnya, namun pendapat ini sangat lemah sekali. Sehingga tidak ada alasan yang kuat untuk mempertahankan pendapat ketiga.

Sekarang kita akan fokuskan pembahasan pada dua pendapat pertama secara ringkas. Pendapat pertama yang menyebutkan bahwa ayat tersebut berbicara tentang Lailatul Qadar lebih rajih (kuat) dikalangan mayoritas ulama tafsir dan ulama pentahqiq.

Berikut adalah dalil dan hujjah yang menyatakan bahwa malam tersebut adalah malam Lailatul Qadar lebih kuat dari malam Nishfu Sya’ban.

- قال الألوسي في تفسيره عند قوله تعالى: ﴿فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِين﴾: “هي ليلة القدر على ما روى ابن عباس وقتادة وابن جبير ومجاهد وابن زيد والحسن، وعليه أكثر المفسرين والظواهر معهم، وقال عكرمة وجماعة: هي ليلة النصف من شعبان”.

Artinya:

“Telah berkata Al Alusi dalam Tafsirnya pada saat membahas ayat:

(فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِين)

bahwa yang dimaksud adalah Lailatul Qadar, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Qatadah, Ibnu Jubair, Mujahid, Ibn Zaid, dan Al Hasan. Pendapat ini adalah pendapat kebanyakan ahli tafsir, termasuk Az Zawahiri didalamnya. Sedangkan Ikrimah dan Jamaah berpendapat, bahwa malam itu adalah malam Nishfu Sya’ban”.

وقال الطبري في تفسيره عن هذه الآية الكريمة: واختلف أهل التأويل في تلك الليلة، أي ليلة من ليالي السنة هي؟ فقال بعضهم: هي ليلة القدر، ثم ذكرهم، وقال بعد سردهم: “وقال آخرون: بل هي ليلة النصف من شعبان، ولم يذكرهم”، ثم قال: “والصواب في ذلك قول من قال هي ليلة القدر؛ لأن الله- جل ثناؤه- أخبر أن ذلك كذلك”، وقد أُكد هذا المعنى في ذلك البحث نفسه.

Artinya:

Ath Thabari mengatakan dalam tafsirnya tentang ayat yang mulia ini. Telah berbeda pendapat para ahlu ta’wil tentang makna “Malam” pada ayat tersebut. Apakah malan tersebut bagian dari malam-malam dalam satu tahun? Sebagian orang mengatakan, “Malam itu adalah malam Lailatul Qadar. Kemudian mereka menjelaskan alasannya.

Sedangkan yang lainnya mengatakan, “Bahwa malam itu adalah malam Nishfu Sya’ban.” Namun mereka tidak tidak menjelaskan alasannya. Kemudian Ath Thabari berkata, “Yang benar adalah mereka yang mengatakan bahwa malam itu adalah malam Lailatul Qadar. Karena Allah telah mengabarkan tentang hal tersebut. Penegasan makna tersebut telah ditegaskan dalam pembahasan tersebut”.

وقال النيسابوري في تفسير الآية الكريمة أيضًا: وأكثر المفسرين على أنها ليلة القدر لقوله تعالى: ﴿إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴾ (القدر:1)، وليلة القدر عند الأكثر في رمضان.. ثم نقل كلام الطبري وقال بعده: وزعم بعضهم كعكرمة وغيره أنها ليلة النصف من شعبان، وما رأيت لهم دليلاً يعول عليه، فها أنت ترى من أقوال هؤلاء الأعلام أن الآية الكريمة لا تصلح أن تكون دليلاً في فضل ليلة النصف من شعبان.

Artinya:

An Naisaburi berkata dalam tafsirnya tentang makna ayat tersebut. Kebanyakan mufassirin mengatakan bahwa malam itu adalah malam Lailatul Qadar, berdasarkan firman Allah surat Al Qadar: 1

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر

Sedangkan menurut mayoritas ulama, malam Lailatul Qadar terjadi pada Bulan Ramadhan…. kemudian Naisaburi menukil perkataan At Thabari, dan memberikan komentar setelahnya: “Sebagian orang seperti Ikrimah dan yang lainnya menyangka bahwa malam itu adalah malam Nishfu Sya’ban. Saya tidak mendapati dalil yang mereka gunakan. Apakah Anda juga menemukan dari perkataan para ulama tersebut yang layak dijadikan dalil bahwa ayat tersebut dapat menjadi dalil/hujjah untuk menyatakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban.

Kedua, Hadits-hadits yang Yang Terkait dengan Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban

أ- ما أخرجه بن ماجه والبيهقي في شعب الإيمان عن علي- كرم الله وجهه- قال: قال رسول الله- صلى الله عليه وسلم: “إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها، وصوموا نهارها، فإن الله ينزل فيها لغروب الشمس إلى سماء الدنيا، فيقول: ألاَ من مستغفر لي، فأغفر له! ألا مسترزق فأرزقه! ألا مبتلىً فأعافيه! ألا كذا ألا كذا حتى يطلع الفجر”.

Artinya:

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika malam Nishfu Sya’ban, maka shalatlah pada malam harinya dan berpuasa pada siangnya. Karena sesungguhnya Allah turun pada saat menjelang terbenam matahari ke langit yang paling terdekat. Lalu Allah menyeru, ‘Siapa orang yang beristighfar kepada-Ku maka akan Aku ampuni. Siapa yang meminta rizki, maka Aku akan memberikan rizki. Siapa yang sakit, maka akan Aku sembuhkan! Siapa yang begini, siapa yang begini…dan seterusnya hingga terbit faja.r” (HR. Ibnu Majah, Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari Imam Ali Karamahullahu Wajhahu)

ب- ومنها: ما أخرجه الترمذي وابن أبي شيبة والبيهقي وابن ماجه عن عائشة قالت: فقال: “إن الله- عز وجل- ينزل في ليلة النصف من شعبان إلى السماء الدنيا، فيغفر لأكثر من عدد شعر غنم بني كلب”.

Artinya

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah turun pada malam Nishfu Sya’ban ke langit terdekat. Memberikan pengampunan lebih banyak dari jumlah bulu domba Bani Kalb”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Abi Syaibah, Al Baihaqi, dan Ibnu Majah dari Aisyah.)

ج- ومنها ما أخرجه أحمد بن حنبل في المسند عن عبدالله بن عمرو بن العاص أن رسول الله- صلى الله عليه وسلم- قال: “يطلع الله- عز وجل- إلى خلقه ليلة النصف من شعبان، فيغفر لعباده إلا اثنين: مشاحن، وقاتل نفس”.

Artinya:

“Allah menemui hamba-Nya pada malam Nihsfu Sya’ban dan memberikan ampunan kepada hamba-Nya kecuali dua orang; yang suka bertengkar dan melakukan bunuh diri.” (HR. Ahmad bin Hanbal dalam Musnad dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash)

Jika hadits hadits tersebut diatas kedudukannya kuat dan selamat dari penyakit hadits, maka akan menjadi dalil dan hujjah bagi keutamaan malam Nishfu Sya’ban. Namun sangat disayangkan, ternyata hadits-hadits tersebut mendapatkan komentar dari para ulama hadits dan mereka melemahkannya. Sebagian dari muhaditsin mengatakan bahwa hadits pertama sanadnya adalah dhaif (lemah), diantara mereka adalah Al Iraqi. Sedangkan Al Hafiz Al Mundziri berkomentar bahwa hadits yang ketiga sanadnya “Layyin” (lembek). Bahkan Al Hafiz Abu Bakar Al Araby mengakatakan, “Tidak ada yang shahih tentang Nishfu Sya’ban”.

Adapun saya berkeyakinan bahwa hadits-hadits ini memang dhaif, namun kita tidak bisa mengingkari bahwa malam Nishfu Sya’ban memiliki keutamaan daripada malam-malam lainnya di bulan ini. Bila ingin melakukan shalat malam, maka lakukanlah shalat yang disyariatkan dan bila ingin melakukan shaum di siang harinya, maka lakukanlah shaum yang disyariatkan. Demikian pula melakukan hal-hal yang mustahabbat pada hari-hari tersebut, sesuai dengan kaidah mengamalkan hadits dhaif dalam fadhail amal. Namun dengan syarat, tidak menganggap sebagai ibadah, sebab tidak ada dalil dalam hal tersebut

Ketiga, Keyakinan Masyarakat Awam dan Ibadah di Malam Harinya

1.  Ada yang berkayakinan bahwa malam ini adalah malam diangkatnya amalan. Sebelumnya sudah kita bahas, bahwa malam tersebut bukan malam Nishfu Sya’ban, tapi malam Lailatul Qadar sebagaimana pendapat yang rajih

2. Keyakinan bahwa barangsiapa yang hadir pada saat berdoa di masjid selepas shalat magrib dan melaksanakan shalat sebagaimana yang disebutkan, maka ia tidak akan mati pada tahun tersebut. Padahal sudah jelas, bahwa Allah lah yang menentukan ajal. Mereka akan merasa menyesal apabila tidak bisa berkumpul malam ini. Hal-hal yang seperti ini adalah keyakinan yang batil dan tidak ada landasannya

3. Membaca Surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban. Mereka berkumpul dan membaca doa dengan cara tertentu. Mengenai hal ini saya belum pernah menemukan dalilnya. Karena sesungguhnya membaca Al Quran sangat disukai pada setiap waktu. Namun bila mengkhususkan hanya pada malam tersebut untuk membaca surat yang khusus, maka hal itu tidak pernah disebutkan dalam dalil apapun. Saya belum mendapatkan dalilnya tentang bolehnya hal tersebut, bila Anda memilikinya, silahkan sampaikan ke saya.

4. Mereka mengatakan bahwa ada shalat khusus pada malam tersebut, yaitu 100 rakaat. Setiap rakaat setelah Al Fatihah membaca “Qul huwallahu ahad” sebanyak 11 kali. Jika tidak sanggup, maka shalat 10 rakaat, setiap rakaat membaca 100 kali “Qul huwallahu ahad” setelah Al Fatihah. Hal tersebut disebutkan oleh Imam Al Ghazali dalam kita Ihya’ Ulumuddin.

Al Ghazali berkata, “Dahulu para salaf melaksanakan shalat ini dan mereka menyebutnya dengan sebutan Shalat Khair. Mereka melaksanakannya secara berjamaah.

Diriwayatkan dari Al Hasan bahwasanya ia berkata, “Telah mengabari kepadaku 30 sahabat Nabi, bahwasanya barangsiapa yang melaksanakan shalat ini di malam ini, maka Allah akan memandang dengan 70 kali pandangan. Dan setiap pandangan akan dikabulkan 70 permintaan. Yang paling sedikit adalah mendapatkan ampunan.””

Demikian Imam Al Ghazali di kitab Ihya’ Ulumuddin.

Al Hafizh Al Iraqi telah membantah itu semua dengan mengatakan bahwa hadits tentang shalat pada malam Nishfu Sya’ban adalah hadits yang bathil. Pendapat tersebut adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah, hadits-hadits yang disebutkan tidak tercantum dalam kitab para huffaz yang terpercaya. Kalaupun ada, tidak ada periwayat dari kalangan sahabat yang dikenal, sanadnya tidak ada yang sampai kepada rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa pengkhususan suatu ibadah butuh kepada dalil syar’i yang kuat. Sedangkan pada persoalan terkait tidak ada dalil yang menjelaskan tentang shalat tersebut.

5. Berkeyakinan dengan doa yang susunan sudah kita ketahui bersama. untuk hal ini pembahasan khusus, karena banyak perbedaan dikalangan masyarakat.

Kesimpulan

Jika disimpulkan, maka:

  1. Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang memiliki fadhilah (keutamaan). Menghidupkannya dengan bentuk ketaatan kepada Allah atau shaum pada hari tersebut adalah suatu yang disukai.
  2. Mengkhususkan dengan ibadah tertentu seperti membaca Yasin, Shalat Khair, dan doa-doa khusus adalah sesuatu yang tidak ada dalilnya dan tidak memiliki tuntutan dari syariat.

7 thoughts on “Hadits tentang Malam Nishfu Sya’ban”

  1. assalamu’alaikum. menurut antum, bolehkan kita membiasakan amalan tertentu pada waktu tertentu? bolehkah kita mengerjakan amal yg dasarnya adalah hadist yg dho’if? apakah jika suatu amalan yg tidak pernah dilakukan Rasulullah saw, otomatis wajib ditinggalkan? terimakasih

  2. Assalamu’alaikumsyukron atas informasinya
    sedikit mau bertanya. berdasarkan kesimpulan yang antum berikan pada poin pertama:

    “Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang memiliki fadhilah (keutamaan). Menghidupkannya dengan bentuk ketaatan kepada Allah atau shaum pada hari tersebut adalah suatu yang disukai.”
    bolehkah kita menghidupkan malam nisfu sya’ban dengan membaca yasin dan tanpa niat mengkhususkannya?
    kemudian ana baca pada sumber yang berbeda, dari link berikut:http://www.himmahfm.com/ar/component/content/article/20-komentar/303-kesetaraan-yang-di-basah-ini-yang-datang.html

    yang berbunyi : “Membaca yasin selama tiga kali itu masuk katagori tawassul sebagimana yang dilakukan oleh tiga orang disaat tertutup dalam goa lalu bertawasull kepada allah dengan amal baiknya ahirnya allah pun menyelamatkan mereka,hadits ini disebutkan oleh Imam Bukhori dalam Shohinya, yang jelas para ulama sepakat bahwa seseorang diperbolehkan untuk bertawssul kepada allah dengan amal baiknya sebab melarang seseorang bertawssul dengan membaca surat yasin itu sama dengan mengingkari hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori diatas.”
    bagainmana menurut antum?
    syukron, wassalamu’alaikum

    1. Wa’alaikumus salam wa rahmatullahi wa barakatuh

      1. Membaca surat Yasin memiliki keutamaan sebagaimana surat-surat yang lain karena hadits tentang keutamaan surat Yasin diperselisihkan oleh para ulama.

      2. Oleh karena itu tidak perlu secara khusus memilih bacaan surat Yasin dengan bilangan tertentu.

      3. Membaca yasin selama tiga kali itu tidak masuk katagori tawassul. Tawasul adalah salah satu tatacara berdoa. Sedang membaca Al Quran adalah ibadah murni. Sehingga kurang tepat jika dikatakan membaca Yasin dengan bi;angan tertentu adalah tawasul.

      4. Bertawasul dengan amal shalih hukumnya boleh. Namun, tidak dikhususkan dengan amal shalih dari membaca surat Yasin.

      Allahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>