Muhammad Sa'id Ramadhan Al Buthi

Hikmah Perang Badr Kubra (2)

6. Pentingnya Merendahkan Diri Kepada Allah dan Meminta dengan Sangat Kepada-Nya

Seperti telah kita ketahui bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam menenangkan hati para sahabatnya dengan menegaskan bahwa kemenangan berada di pihak kaum Muslimin, sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam menunjuk ke beberapa tempat di tanah seraya berkata, “ Ini adalah tempat kematian si Fulan.“

Dan sebagaimana disebutkan oleh Hadits shahih, nama-nama yang disebutkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam itu roboh terbunuh tepat di tempat yang telah ditunjukannya.

Sekalipun demikian, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam tetap berdiri sepanjang malam Jum‘at itu di dalam kemah yang dibuat khusus bagi beliau, memanjatkan do’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh khusyuk dan merendah diri seraya menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar pertolongan yang dijanjikan-Nya ditunaikan. Dalam munjat ini bahnkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam sampai tidak menyadarai kalau selendangnya terjatuh, sehingga Abu Bakar merasa kasihan terhadapnya kemudian memberanikan diri berkata kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam, “Cukup Ya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan menunaikan janji-Nya yang telah diberikan kepadamu.“

Mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam sampai merendahkan dirinya sedemikian rupa di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala , padahal beliau telah yakin akan mendapatkan pertolongan sampai beliau menyatakan, “ Seolah-olah aku melihat tempat kematian mereka.“

Bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam menentukan beberapa tempat kematian mereka di tanah ?

Jawabannya bahwa keyakinan dan keimanan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam terhadap kemenangan hanyalah merupakan pembenaran kepada janji yang telah diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasul-Nya. Tidak diragukan lagi bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyalahi janji atua mungkin nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam diberi kabar kemenangan itu di tengah peristiwa tersebut.

Adapun kekhusyu‘kan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam dalam berdo’a dan menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit, maka hal itu sudah menjadi tugas ‚ubudiyah yang menjadi tujuan penciptaan manusia. Dan itulah harga kemenangan secara kontan.

Kemenangan itu tiada lain betapapun didukung oleh sarana dan perjuangan yang baik hanylaah berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dengan persetujuan-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menginginkan kita kecuali untuk menjadi hamba-Nya yang baik secara tabii atau ikhtiari (terpaksa atau tidak). Tiadka ada sesuatu yang lebih besar untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , kecuali sikap ‘ubudiyah kepada-Nya. Tidak ada perantara yang lebih diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala selain daripada perendahan diri, sedemikian rupa melalui ‘ubudiyah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Segala bentuk musibah dan bencana yang menimpa manusia dalam kehidupan ini tiada lain hanyalah merupakan peringatan yang menyadarkannya terahadap kewajiban ‘ubudiyah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengingatkannya kepada Keagungan dan Kekuasaan Allah s Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Besar. Agar manusia lari menuju Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyatakan segala kelemahannya di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala , serta memohon perlindungan kepada-Nya dari segala fitnah dan cobaan. Apabila manusia telah menyadari hakekat ini dan menghayati maka dia telah sampai kepada puncak yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada semua hamba-Nya.

‘Ubudiyah yang tercermin dalam kekhusyu‘an do’a Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam meminta kemenangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan harga yang berhak mendapatkan dukungan Ilahi Yang Maha Agung di dalam pertempuran tersebut. Hal ini secara tegas dinyatakan oleh ayat berikut:

“(ingatlah) ketika kamu memohon pertolongan kepada Rabb-mu lalu diperkenankan-Nya bagimu,“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang secara bergelombang.“ QS Al-Anfal: 9

Kemantapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam melalui ‚ubudiyah inilah yang membuat Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam yakin akan datangnya kemenangan bagi kaum Muslimin. Bandingkanlah sikap ‘ubudiyah yang ditunjukkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam ini beserta hasil-hasilnya itu dengan sikap congkak dan sombong yang ditunjukkan oleh Abu Jahal ketika berkata, “Kami tidak akan pulang sebelum tiba di Badr. Di sana kami akan memotong ternak, makan beramai-ramai dan minum arak sambil menyaksikan perempuan-perempuan yang menyanyikan lagu-lagu hiburan. Biarlah semua orang Arab mendengar berita tentang perjalanan kita semua dan biarlah mereka tetap gentar kepada kita selama-lamanya,“ beserta segala akibat yang ditimbulkannya.

‘Ubudiyah dan kepatuhan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, menghasilkan izzah dan kemuliaan yang membuat wajah dunia tertunduk kepadanya. Sementara itu kecongkakan dan kesombongan merupakan kepalsuan dan pusara kehinaan yang digali oleh dan untuk para pemilik sifat dan sikap tersebut. Kuburan tempat dimana mereka akan dituangi khamar, kehinaan dan digendongi lagu-lagu kenistaan. Itulah sunatullah yang berlaku di alam ini, manakala ‘ubudiyah yang murni kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala , bertemu dan berhadapan dengan kecongkakan dan kesombongan.

7. Bala Bantuan Malaikat pada Perang Badr

Perang Badr mencatat salah satu mukjizat terbesar yaitu mukjizat dukungan dan kemenangna kum Muslimin yang sejati. Dalam peperangan ini Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mendukung kaum Mulsimin dengan mengirim malaikat yang ikut berperang bersama mereka. Hakekat ini telah disebutkan secara tegas oleh al-Quran dan as-Sunnah.

Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam pingsan beberapa saat di dalam kemahnya kemudian sadar kembali lalu berkata kepada Abu Bakar:

“Hai, Abu Bakar, gembiralah, pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah datang kepadamu. Itulah Jibril memegang tali kekang dan menuntun kudanya.“

Turunnya para malaikat untuk berperang bersama kaum Muslimin hanyalah merupakan peneguhan hati kaum Muslimin dan jawaban secara empirik (istijabah hissiyah) terhadap istiqasah (permohonan pertolongan) demi menghadapi peperangan pertama di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala melawan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak. Sesungguhnya kemenangan itu semata-mata datangnya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para Malaikat itu sendiri tidak memiliki pengaruh secara langsung (ta‘sir dzati). Sebagai penjelasan terhadap masalah inilah maka Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menjelaskan turunnya malaikat:

“Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan malaikat) melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanylaah dari sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.“ QS Al-Anfal: 10

8. Kehidupan Barzakh bagi Orang Mati

Berdirinya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam di mulut sumur seraya menyebut dan memanggil nama mayat-mayat kaum Musyrikin dan mengajaknya berbicara, juga jawaban Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam terhadap pertanyaan Umar ra, pada saat itu, merupakan dalil yang tegas bahwa orang-orang yang sudah meninggal memiliki kehidupan ruhani secara khusus, kita tidak mengetahui hakekat dan kaifiatnya. Juga menunjukkan bahwa ruh-ruh orang-orang yang telah meninggal tetap berada di sekitar jasad mereka. Dari sinilah kita dapat menggambarkan adanya siksa kubur dan kenikmatannya. Hanya saja tidak dapat diketahui oleh akal dan indera kita di duniaini. Karena kehidupan ruhani tersebut (alam ghaib) yang tidak dapat dijangkau oleh indera dan pengalaman rasio yang bersifat empirik. Mengimaninya adalah merupakan jalan satusatunya untuk bisa menerima hakekat ini, setelah semua dalil-dalilnya sampai kepada kita melalui sanad yang shahih.

9. Masalah Tawanan Perang

Menyangkut masalah tawanan perang dan musyawarah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam dengan para sahabtnya, merupakan pembahasan yang sarat oleh pelajaran penting, antara lain:

Pertama,

Tawanan dan Ijtihad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam mempunyai hak berijtihad. Pendapat ini dikemukakan oleh Jumhur ulama ushul. Jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam punya ijtihad maka berarti ijtihad beliau bisa benar dan salah. Hanya saja kesalahan ijtihad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam tidak akan berkepanjangan karena beliau selalu dikoreksi langsung oleh al-Quran. Jika tidak ada ayat al- Quran yang menegurnya berarti ijtihad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam benar dalam Pengetahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kedua,

Perang dan Perampasan.

Sebagaimana dimaklumi bahwa selan perang Badr merupakan pengalaman pertama bagi kaum Muslimin dalam hal perang-campuh yang menyita banyak pengorbanan di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam kondisi mereka yang sangat lemah dan sedikit, ia pun merupakan pengalaman pertama pula bagi kaum Muslimin dalam menangani maslah harta rampasan yang diperoleh menyusul pertempuran yang terjadi dalam kondisi mereka yang miskin dan sangat memerlukan.

Pada kasus pertama (pengalaman perang dalam kondisi serba lemah) Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatasinya dengan meneguhkan hati kaum Muslimin seperti telah disebutkan melalui halhal luar biasa yang menjadi indikasi kemenangan. Sedangkan pada kasus kedua (pengalaman kekuarangan) Allah Subhanahu wa Ta’ala mengobatinya melalui berbagai sarana tarbiyah secara cermat dan tepat pada waktunya. Pengaruh pengalaman ini tampak dengan jelas dalam dua peristiwa yang terjadi sesudah peperangan. Pertama ketika kaum Musyrikin berhasil dikalahkan sehingga meninggalkan harta benda mereka yang beraneka ragam. Harta kekayaan ini menjadi ajang rebutan di kalangan kaum Muslimin sehingga nyaris terjadi persengketaan. Karena hukumtentang pembagian harta rampasan belum diturunkan maka mereka pergi menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam menanyakan dan meminta keputusan terhadap perselisihan yang terjadi. Pada saat itu turunlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah.“Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah, Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adlah mereka yang apabila disebut asma Allah gemetarlah hati mereka, dan apabia dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Rabb-lah mereka bertawakal.“ QS Al-Anfal: 1-2.

Di dalam kedua ayat ini tidak terdapat jawaban bagi pertanyaan mereka, tetapu justru memalingkan mereka dari masalah yang mereka tanyakan, karena harta rampasan perang itu bukan milik salah seorang pun di antara mereka, melainkan semata-mata milik Allah dan Rasul-Nya. Sebaliknya, mereka harus memperbaiki dan menyelesaikan pertentangan yang terjadi di antara mereka, mentaati perintah-perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan menjauhi laranganlarangan-Nya. Itulah tugas mereka. Adapun soal harta dan dunia maka harus diserahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sepenuhnya. Setelah kaum Muslimin mengikuti dan melaksanakan kandungan kedua ayat tersebut serta mengakhiri pertentangan dan perselisihan yang menetapkan cara pembagian harta rampasan perang kepada para Mujahidin. Ini merupakan sarana tarbiyah yang sangat tepat dan baik.

Kasus kedua yaitu ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam meminta pendapat dari pada sahabatnya mengenai tawanan perang. Hampir semua sahabat menyetujui pembebasan para tawanan dengan penebusan. Pertimbangan mereka ialah, pertama menunjukkan rasa belas kasih kepada para tawanan dengan harapan mereka akan tergugah untuk beriman kepada Allah.

Kedua sebagai ganti dari harta kaum Muhajirin yang tertinggal di Mekkah dengan harapan akan dapat membantu memperbaiki kondisi ekonomi mereka. Kecenderungan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam kepada pendapat ini menunjukkan rasa belas kasih Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam kepada para sahabatnya.

Perasaan belas kasih inilah yang mendorong Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam untuk mengangkat kedua tangannya memanjatkan do’a buat kaum Muhajirin ketika beliau melihat mereka berangkat menuju Badr dalam kondisi yang serba kekurangan:

“Ya, Allah mereka berjalan tanpa alas kaki, maka ringankanlah langkah mereka. Ya Allah mereka kekurangan pakaian, anugerahkanlah mereka pakaian. Ya Allah mereka itu lapar, maka kenyangkanlah mereka.“

Tetapi hikmah Ilahiyah tidak menyetujui kaum Muslimin menjadikan harta benda sebagai ukuran atau bagian dari ukuran dalam memutuskan perkara-perkara mereka yang terbesar yang harus semata-mata didasarkan kepada pandangan agama betapapun kondisi yang dihadapi. Sebab, jika pandangan materialistik itu dibiarkan pada saat mereka menghadapi pengalaman pertama dalam masalah seperti itu, dikhhawatirkan dal tersebut akan menjadi kaidah yang baku. Sehingga pertimbangan materialistik tersebut akan menghancurkan hukum-hukum yang harus tetap bersih tidak tercampuri oleh tujuan-tujuan duniawi. Adalah susah bagi orang yang telah jauh tenggelam ke dalam lumpur dunia untuk kembali membebaskan diri dari liputannya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anh, ia berkata:

“Aku masuk menemui Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam, setelah beliau memutuskan penebusan tawanan. Tibatiba aku dapati Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam bersama Abu Bakar ra sedang menangis. Aku bertanya, Wahai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam ceritakanlah kepadaku kenapakah anda dan sahabat anda menagis? Jika aku dapati alasan untuk menangis maka aku akan menangis. Jika tidak ada alanan untuk menangis maka aku akan memaksakan diir untuk menangis karena tangis Anda berdua.”

Jawab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam, “Aku menangis karena usulan pengambilan tebusan yang diajukan oleh pada sahabatmu kepadaku, padahal siksa mereka telah diajukan kepadaku lebih dekat dari pohon ini (pohon di dekat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Salllam). Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:

“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi..“, sampai firman Allah, “Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu ….“