Abdullah Nashih Ulwan

Hukum-Hukum yang Secara Umum Berkaitan dengan Kelahiran Anak

 Akikah dan Hukumnya

1.    Makna Akikah

Secara etimologi, ‘aqiqah berarti memutus. Misalnya, si anak dikatakan telah mengakikahi kedua orang tuanya, jika ia telah memutus (durhaka terhadap) mereka berdua.

Seorang penyair berkata:

Sebuah negara di mana masa muda telah memutus jimat-jimatku

Merupakan tanah pertama yang debu-debunya menyentuh kulitku.

Maksudnya, ketika ia menginjak dewasa, jimat-jimatnya telah diputuskan atau ditinggalkannya.

Sedang menurut istilah syara’, akikah berarti menyembelih kambing untuk anak pada hari ketujuh dari kelahirannya.

 2.    Dalil Disyariatkannya

Hadits-hadits yang menguatkan disyariatkannya akikah dan menjelaskan kesunnahannya sangat banyak, di antaranya:

Di dalam Sahih-nya, Al Bukhari meriwayatkan dari Salman bin Amar Adh Dhabbi, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
 “Sesungguhnya akikah harus disertakan bersama anak. Maka tumpahkanlah darah baginya (dengan menyembelih domba) dan jauhkanlah penyakit daripadanya.

Ashabus Sunan telah meriwayatkan dari Samurah, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Setiap anak itu digadaikan dengan akikahnya[1]. Ia disembelihkan (binatang) pada hari ketujuh dari kelahirannya, diberi nama pada hari itu juga dan dicukur kepalanya.”

Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Aisyah radiyallahu ‘anha. Ia mengatakan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

 “Bagi anak laki-laki disembelihkan dua ekor kambing yang sepadan[2]dan bagi anak perempuan disembelihkan satu ekor kambing.”

Imam Ahmad dan Tirmidzi meriwayatkan dari Ummu Karaz Al Ka’biyah, bahwa ia bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tentang akikah. Beliau bersabda:
“Bagi anak laki-laki (disembelihkan) dua ekor kambing dan bagi anak perempuan (disembelihkan) satu ekor. Dan tidak akan membahayakan kamu sekalian (tidak mengapa), apakah (sembelihan) jantan atau betina.”

Tirmidzi, Nasai, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Al Hasan dari Samurah bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda tentang akikah:
“Setiap anak itu digadaikan dengan akikahnya. Disembelihkan (baginya) pada hari ketujuh (dari kelahiran)nya, dicukur kepalanya dan diberi nama.”

 3.    Pendapat Fukaha tentang Disyariatkannya Akikah

 Ada tiga pendapat para ahli fikih dan imam mujtahid tentang disyariatkannya akikah:

Pertama, mereka yang berpendapat disunahkan dan tidak wajib adalah Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi’I dan sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan sebagian besar ahli fikih, ilmuan, dan mujtahid. Mereka berargumentasi dengan hadits-hadits yang telah disebutkan. Mereka juga menolak pendapat bahwa akikah itu wajib, berdasarkan hal-hal berikut:

  1. Jika akikah itu wajib, tentu kewajibannya itu akan dimaklumi di dalam agama. Karena yang demikian itu akan menjadi sebuah tuntutan yang berlaku secara umum. Dan tentu Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam akan menjelaskan wajibnya kepada umat dengan suatu keterangan yang diperkuat dengan hujjah, dan tentu tidak ada alasan untuk meninggalkannya.
  2. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengaitkan persoalan akikah ini dengan rasa suka dari orang yang melakukannya. Beliau bersabda:
    “Siapa yang dikaruniai seorang anak, lalu ia menyukai untuk melakukan ibadah kepada Allah atas dirinya (mengakikahkannya), maka hendaklah ia melakukannya.”
  3. Perbuatan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam masalah akikah tidak menunjukkan hukum wajib. Tetapi menunjukkan hukum sunah.

Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa akikah adalah wajib, mereka adalah Imam Hasan Al Bashri, Al Laits Ibnu Sa’ad dan yang lainnya. Mereka berargumentasi dengan hadits yang diriwayatkan Muraidah dan Ishaq bin Ruhawiah:
“Sesungguhnya manusia itu pada hari kiamat akan dimintakan pertanggungjawabannya atas akikah sebagaimana mereka dimintai pertanggungjawabannya atas solat lima waktu.”

Mereka berargumentasi pula dengan hadits Hasan dari Samurah dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau bersabda:
“Setiap anak itu digadaikan dengan akikahnya.”

Kecenderungan argumentasi tersebut mengatakan, bahwa anak itu tidak akan dapat memberikan syafaat kepada kedua orang tuanya sebelum ia diakikahi. Inilah yang menguatkan kewajibannya.

Ketiga, pendapat yang menolak disyariatkannya akikah. Mereka adalah ahli fikih Hanafiyah. Argumentasi yang dikemukakannya adalah hadis yang diriwayatkan Baihaqi dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam ditanya tentang akikah, beliau menjawab:
“Aku tidak menyukai akikah-akikah itu.”

Mereka juga berargumentasi dengan hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abi Rafi’ radiyallahu ‘anhu bahwa ketika lahir Ibnu Hasan bin Ali, Fatimah radiyallahu ‘anha ingin mengakikahinya dengan dua biri-biri, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
“Janganlah engkau mengakikahinya, tetapi cukurlah rambut kepalanya dan bersedekahlah dengan perak sebanyak berat timbangan rambutnya itu. Kemudian ketika Husain lahir, ia melakukan hal yang sama.”

Namun demikian, konteks dari hadits-hadits yang telah disebutkan di atas menguatkan segi disunahkan dan dianjurkannya akikah. Demikianlah pendapat yang diikuti oleh kebanyakan fukaha, para ilmuwan, dan mujtahid.

Mereka telah menjawab hadits-hadits yang dijadikan sebagai argumentasi para ahli fikih Hanafiyah tentang penolakan mereka terhadap disyariatkannya akikah dengan mengatakan bahwa hadis-hadis yang dijadikan argumentasi itu tidak bernilai dan tidak sah untuk dijadikan sebagai dalil terhadap penolakan disyariatkannya akikah. Sebagaimana halnya Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah bersabda, “Aku tidak menyukai akikah-akikah.” Maka siyaqul hadis (susunan kalimat) dan sebab-sebab keluarnya hadits itu menunjukkan bahwa akikah adalah sunah dan dianjurkan. Lafal hadis itu secara lengkap adalah: Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam ditanya tentang akikah. Beliau menjawab, “Aku tidak menyukai akikah-akikah.” Seakan-akan beliau tidak menyukai namanya saja, yakni yang dinamakannya sembelihan dengan akikah.[3] Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami hanya bertanya tentang salah seorang di antara kami yang dikaruniai seorang anak.” Beliau bersabda, “Siapa saja di antara kamu menyukai untuk membuktikan (mengakikah) anaknya, maka hendaklah ia melakukannya. Bagi anak laki-laki dua ekor kambing yang mencukupi dan bagi anak perempuan satu ekor kambing.”

Adapun dasar kesimpulan mereka dengan hadits Abu Rafi’, “Janganlah engkau mengakikahinya, tetapi cukurlah rambut kepalanya…”, tidaklah menunjukkan atas dimakruhkannya akikah. Sebab Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam tidak ingin membebani Fatimah radiyallahu ‘anha dengan akikah, sehingga beliau bersabda, “Janganlah engkau mengakikahinya…” sedangkan beliau sendiri telah mengakikahi mereka berdua (Al Hasan dan Al Husain). Maka sudah cukup bagi Fatimah untuk menyajikan makan-makanan saja. Di antara hadits-hadits yang menguatkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengakikahi mereka adalah sebagai berikut:

Abu Dawud meriwayatkan dari Ayyub dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu:
“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengakikahi Al Hasan dan Al Husain satu kambing satu kambing.”

Jabir bin Hazim telah menceritakan dari Qatadah dari Anas:
“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah mengakikahi Al Hasan dan Al Husain dua kambing.”

Yahya bin Sa’id telah menceritakan dari Amirah dari Aisyah bahwasanya ia berkata:
“Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam telah mengakikahi Al Hasan dan Al Husain pada hari ketujuh (dari kelahiran mereka).”

Ringkasnya, mengakikahi anak itu adalah sunah dan dianjurkan. Hal ini sesuai dengan pendapat kebanyakan Imam dan ahli fikih. Oleh karena itu, hendaklah orang tua melakukannya, jika memang memungkinkan demi menghidupkan sunah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Sehingga ia menerima keutamaan dan pahala dari sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dapat menambah makna kasih sayang, kecintaan dan mempererat tali ikatan sosial antara kaum kerabat dan keluarga, tetangga dan handai tolan, yaitu ketika mereka menghadiri walimah akikah itu, sebagai rasa turut merasakan kegembiraan atas kelahiran sang anak. Di samping itu ia mewujudkan sumbangan jaminan sosial, yaitu ketika sebagian kaum fakir miskin turut mengambil bagian di dalam akikah itu.

Alangkah agung dan luhurnya Islam dalam menanamkan kasih sayang dan kecintaan di dalam masyarakat, dan dalam menegakkan keadilan sosial dalam tingkat masyarakat kelas bawah.


[1]Yang dimaksud, bahwa akikah itu wajib baginya.

[2] Yang dimaksud mukaafiatani adalah dua ekor kambing yang sama umurnya dan serupa bentuknya.

[3] Dari konteks hadis ini, segolongan fukaha mengambil dalil bahwa kata-kata ‘aqiqah itu diganti dengan nasikah, karena Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassalam tidak menyukai nama ‘aqiqah. Segolongan lain mengatakan bahwa beliau tidak membenci nama itu, dan mereka berpendapat bahwa hal itu adalah mubah, karena banyak hadis menamakan sembelian itu dengan ‘aqiqah.

Orang Muslim menggunakan kata-kata itu dengan ‘aqiqah. Perpaduan antara kedua pendapat di atas, bahwa hendaknya seorang muslim menggunakan kata-kata nasikah dan menjadikannya sebagai pengertian asli. Jika pada suatu ketika ia menggunakan nama ‘aqiqah untuk menjelaskan hukum dan menerangkan maksud, maka hal itu dibolehkan. Di sinilah terdapat titik temu hadis-hadis di atas.