Hukum Taklifi

Muhammad Abu Zahrah

25. Sebagaimana telah dijelaskan bahwa hukum taklifi  adalah hukum yang menjelaskan tentang perintah, larangan, dan pilihan untuk menjalankan sesuatu atau meninggalkannya. Contoh hukum yang menunjukkan perintah adalah mendirikan shalat, membayar zakat dan menunaikan haji ke Baitullah. Sedang hukum yang menunjukkan larangan, seperti larangan memakan harta benda anak yatim sesuai dengan firman Allah dalam swat Al An’am ayat 152 yang berbunyi :

وَلاَ تَقْرَبُوْا مَالَا الْيَتِيْمِ اِلاَّ بِاالَّتِى هِيَ اَحْسَنُ

“Dan janganlah kamu dekati anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfa’at.” (QS. Al An’am : 152)

Juga firman Allah dalam surat An Nisa’ yang berbunyi :

وَلاَ تَأْكُلُوْاهَا اِسْرَافاً وَبِدَارًا اَنْ يَكْبَرُوْا

“Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa.” (QS. An Nisa : 6)

Contoh yang lain adalah larangan memakan harta benda orang lain dengan cara yang batil, berdasarkan firman Allah yang berbunyi:

وَلاَ تَأْكُلُوْا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil.” (QS Al Baqarah:188)

Adapun contoh hukum takhyir seperti makan, tidur, bepergian sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Demikian juga ziarah kubur di mana Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam. telah bersabda :

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِياَرَةِ الْقُبُوْرِ اَلاَ فَزُوْرُوْهاَ

“(Dulu) saya telah melarang kalian ziarah kubur, (tapi sekarang) pergilah berziarah kubur.”

26. Keterangan di atas itulah yang dimaksud dengan hukum taklifi. Tentang hukum wadh’i, sebagaimana yang telah kami jelaskan diatas ialah, hubungan dijadikan Allah antara dua hal, di mana yang satu merupakan sebab, syarat atau mani’ bagi yang lain. Contoh “sebab” adalah, menyaksikan bulan (tanggal 1 Ramadhan) menjadi sebab atas wajibnya menjalankan puasa. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

صُوْمُوْا لِرُأْيَتِهِ وَافْطُرُوْا لِرُؤْيَتِهِ

“Berpuasalah kalian karena melihat bulan (1 Ramadhan), dan berbukalah karena melihat bulan (1 Syawwal).”

Dan firman Allah di dalam surat Al Baqarah yang berbunyi:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah : 185)

Adapun contoh syarat ialah mengambil air wudhu menjadi syarat bagi sahnya shalat; adanya ahli waris yang hidup setelah matinya orang yang diwaris harta bendanya, menjadi syarat bagi sahnya pembagiaan harta pusaka; hadirnya para saksi menjadi syarat bagi sahnya pernikaahan; bersetubuh dengan isteri yang janda dan telah mempunyai anak dengan suami yang dahulu menjadi syarat bagi haramnya menikah dengan anak tirinya (bagi suami janda tersebut bila sudah cerai); menghadap kiblat menjadi syarat bagi sahnya melaksanakan shalat.

Sedang contoh mani’  ialah pembunuhan atau murtad (keluar dari Islam) menjadi  mani’  (halangan) bagi seseorang untuk memperoleh pembagian harta pusaka, sesuai dengan sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam :

لاَ مِيْرَاثَ لِقَاتِلٍ

“Pembunuh tidak berhak untuk memperoleh harta pusaka.”

Demikian juga perbedaan agama menjadi  mani’  terhadap pembagian harta pusaka, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam:

لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ غَيْرَ الْمُسْلِم

“Seseorang muslim tidak berhak memperoleh harta pusaka milik orang yang bukan muslim.”

Juga sabda Rasulullah :

لاَ يَتَوَارَثَ اَهْلُ مِلَّتَيْنِ شَيْءٌ

“Orang yang berbeda agamanya, tidak berhak untuk saling mewaris harta bendanya.”

Adanya sebab, syarat atau  mani’  itu menimbulkan keabsahan hukum yang berarti positif, atau tidak sah yang berarti negatif. Dengan terpenuhinya sebab dan syarat, serta tidak adanya  mani’, maka suatu tindakan itu dianggap sah, jika tidak, maka tidak sah.

Berikut ini akan dibicarakan kedua macam hukum tersebut hukum  taklifi  dan hukum  wadh’i secara lebih rinci.