Ahmad Sarwat

Ijtihad & Mujtahid (1)

Ijtihad adalah sebuah istilah yang unik dan menarik untuk dikaji. Ijithad sering dikonotasikan sebagai penggunaan logika dalam beragama, dan diseberangkan dengan atsar atau pun sunnah.

Padahal ijtihad tidak berposisi sebagai lawan dari sunnah, justru sebaliknya memahami sunnah dan tentunya juga Al Quran, sangat membutuhkan ijtihad. Sebab ijtihad dalam batas-batas tertentu pasti terjadi pada setiap orang yang membaca Al Quran dan sunnah serta ingin menerapkan isinya.

A. Pengertian

Ijtihad bisa kita detailkan pengertiannya menjadi pengertian menurut bahasa dan istilah para fuqaha.

1. Bahasa

Secara bahasa, kata ijtihad berasal dari kata dasar ijtahada yajtahidu (اجتهد – يجتهد). Akar katanya bersumber dari tiga huruf – hijaiyah, yaitu ja-ha-da (جهد).

Di dalam kamus, kata ini bermakna badzlul juhdi (بذل الجهد) yaitu bersungguh-sungguh, atau melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Atau dalam arti yang lebih lengkap sering juga bermakna:[1]

Mengerahkan kemampuan dan tenaga untuk mendapatkan suatu perkara agar sampai kepada yang diupayakan atau sampai kepada penghabisannya.

2. Istilah

Sedangkan para fuqaha mendefinisikan istilah ijtihad ini dengan berbagai ungkapan, sesuai dengan perbedaan mereka dalam memahami ijtihad serta ruang lingkupnya.

Asy Syaukani dalam Irsyadul Fuhul mendefinisikan ijtihad sebagai:[2]

Mengerahkan kekuatan untuk mendapatkan hukum syar’i yang bersifat praktek dengan metode istimbath.

Sedangkan Al Amidi membuat definisi ijtihad yang lebih rinci lagi:[3]

Mengabiskan segenap kemampuan dalam rangka mendapatkan dugaan atas sesuatu dari hukum-hukum syar’iyah pada satu pendapat, dimana jiwa telah merasa cukup atas hal itu.

Dr. Dr. Alauddin Husein Rahhal, dalam kitabnya, Ma’alim wa Dhawabithul Ijtihad Inda Asy Syaikh Al Imam Ibnu Taymiyah, menuliskan tentang definisi ijtihad:[4]

Mengabiskan segenap kekuatan yang dilakukan seorang ahli fiqih dalam rangka mendapatkan hukum syar’i dan implementasinya, baik secara logika at au naql, dengan hasil yang qath’i atau zhanni.

3. Hubungan Ijtihad dengan Fiqih

Dengan definisi di atas, maka antara ijtihad dan fiqih punya kaitan yang erat dan saling berhubungan. Fiqih adalah ilmu, sedangkan ijtihad adalah bentuk pekerjaan yang dilakukan untuk mendapatkan ilmu fiqih. Hal itu mengingat bahwa definisi f iqih adalah:[5]

”Ilmu yang membahas hukum-hukum syariat bidang amaliyah (perbuatan nyata) yang diambil dari dalil-dalil secara rinci,”

Kalau boleh diibaratkan, ilmu pertanian adalah ilmu fiqih, maka kegiatan bertani seperti membajak sawah, mencangkul, menanam, menyemprot obat, atau memanen hasilnya adalah kegiatan berijtihad.

Perbedaannya, seorang petani yang baik adalah mereka yang mengerti seluk-beluk ilmu pertanian, agar bisa mendapatkan hasil pertanian yang maksimal. Sedangkan mahasiswa fakultas pertanian mungkin menguasai berbagai teori pertanian, namun belum tentu mampu menanam.

B. Masyru’iyah

Melakukan ijtihad adalah perbuatan yang disyariatkan di dalam agama Islam, lewat Al Quran, sunnah dan ijma’ para ulama. Bahkan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dielakkan.

1. Al Quran

Perintah untuk melakukan ijtihad di dalam Al Quran ditegaskan di dalam ayat berikut:

Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat. (QS An Nisa': 105)

Ijtihad itu pada dasarnya menggunakan akal dan nalar dalam memahami Quran dan Sunnah. Di dalam Al Quran sesungguhnya banyak sekali perintah atau anjuran Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk berpikir dan menggunakan akal atau nalar, misalnya:

Sesungguhnya di dalamnya ada tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS Az Zumar: 42)

Sesungguhnya di dalamnya ada tanda-tanda bagi kaum yang berakal (QS Ar Ruum: 24)

2. Sunnah

Di dalam hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam secara tegas disebutkan kata ijtihad yang dilakukan oleh seorang hakim dalam memutuskan perkara, dimana seorang mujtahid tidak bisa dipersalahkan.

Bila seorang hakim memutuskan suatu berkara, lalu dia berijtihad dan benar ijtihadnya, dia mendapat dua pahala. Dan bila dia salah, mendapat satu pahala. (HR. Abu Daud)

Dan yang paling masyhur dari semua hadits tentang dasar masyru’iyah berijtihad adalah hadits Muadz bin Jabal radhiyallahuanhu, ketika Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutusnya untuk menjadi pemimpin di negeri Yaman. Sebuah negeri yang saat itu belum menjadi negeri Arab dan penduduknya memeluk agama Nasrani.

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi bertanya kepadanya,” Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan orang kepada engkau? Muadz menjawab, saya akan putuskan dengan kitab Allah. Nabi bertanya kembali, bagaimana jika tidak engkau temukan dalam kitab Allah? Saya akan putuskan dengan sunnah Rasulullah, jawab Muadz. Rasulullah bertanya kembali, jika tidak engkau dapatkan dalam sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah? Muadz menjawab, saya akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan berlebih-lebihan. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menepuk dadanya seraya bersabda,”Segala puji bagi Allah yang telah menyamakan utusan dari utusan Allah sesuai dengan yang diridhai Rasulullah (HR Abu Daud)

Bahkan selain para shahabat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri seringkali melakukan ijtihad, yaitu ketika tidak turun ayat Al Quran yang menjadi penjelasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala lewat Jibril alahissalam. Di antaranya adalah tentang keputusan perlakuan terhadap pasukan musuh yang sudah lemah di penghujung perang Badar. Para shahabat bertanya apakah perang diakhiri saja dan musuh-musuh itu dibiarkan hidup namun ditawan, ataukah perang diteruskan dan semua musuh itu dibunuh sampai mati.

Karena tidak ada ketetapan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berijtihad, dan juga menggelar musyawarah dengan para shahabat. Setelah keputusan diambil dan ijtihad telah ditetapkan oleh beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, barulah kemudian turun ayat Al Quran yang mengangulir hasil ijtihad nabi dan musyawarah para shahabat.

3. Ijma’

Seluruh ulama sepakat bahwa ijtihad adalah sebuah pekerjaan yang disyariatkan dalam agama, bahkan diwajibkan buat mereka yang telah memenuhi syarat ijtihad untuk melakukannya. Sebab tanpa ijtihad maka agama menjadi tidak bisa dijalankan, sementara Al Quran dan sunnah punya keterbatasan. Sebaliknya, masalah selalu bermunculan di tengah umat seiring dengan perluasan negeri Islam dan semakin majemuknya pemeluk agama Islam.

Maka ijtihad adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan, namun ijtihad akan menjadi bumerang bila dilakukan oleh mereka yang tidak punya kapasitas dan ilmu tentangnya.

C. Hukum Ijtihad

Para ulama membagi hukum ijtihad menjadi beberapa macam, ada yang wajib, sunnah, makruh dan haram. Tiga hukum yang pertama terjadi pada seorang yang memang telah memiliki kelengkapan untuk berijtihad dengan memenuhi semua persyaratannya. Dengan yang terakhir adalah ijtihad yang dilakukan oleh orang yang tidak punya kapasitas untuk melakukannya.

1. Ijtihad Wajib

Ijtihad wajib dilakukan oleh seorang mujtahid.

2. Ijtihad Sunnah

3. Ijtihad Makruh

4. Ijtihad Haram

Ijtihad yang haram adalah ijtihad yang dilakukan bukan oleh orang yang telah memiliki semua ketentuan dan persyaratan dalam berijtihad.

Ibarat seorang dokter gadungan yang menyamar menjadi dokter, dengan nekat melakukan berbagai operasi pembedahan pada tubuh pasien yang lugu. Maka yang dilakukannya adalah tindakan makar dan jahat yang diharamkan dalam syariah.

Seorang yang tidak punya ilmu tentang ijtihad, haram baginya melakukan ijtihad sendiri, baik untuk kebutuhan sendiri apalagi untuk orang lain. Yang harus dilakukannya adalah belajar terlebih dahulu seluruh ilmu-ilmu tentang ijtihad, sebelum memberi fatwa. Dan dalam keadaan tidak punya syarat atau kapasitas dalam berijtihad, yang boleh dia lakukan adalah mengikuti hasil ijtihad para ulama yang ahli di bidangnya.

Termasuk ijtihad yang haram dilakukan adalah melakukan tasykik, yaitu memasukkan keraguan ke dalam hati orang lain atas hal-hal yang terkait prinsip akidah yang mendasar. Misalnya pemikiran para zindiq yang mengaku berijtihad tentang kemungkinan kebenaran agama selain Islam.

Sesungguhnya yang mereka lakukan bukan ijtihad melainkan tadhlil atau penyesatan dan tahrif atau penyelewengan aqidah Islam.

D. Mengapa Harus Ada Ijtihad?

Mungkin pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling sering terlontar dari benak banyak orang. Dan boleh jadi para pembaca pun juga punya pertanyaan demikian.

Kalau Al Quran merupakan kitab yang sudah lengkap, tidak ada sesuatu masalah pun yang tertinggal, kecuali telah ada disebutkan di dalamnya, lalu mengapa masih harus ada lagi ijtihad? Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin hal itu?

Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam Al Kitab (Al Quran). (QS Al An’am: 38)

Lalu kenapa masih harus ada ijtihad lagi?

Dan kalau Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mewariskan dua perkara, yaitu Al Quran dan As Sunnah, yang selama kita berpegang teguh pada keduanya, dijamin kita tidak akan sesat untuk selama-lamanya, lalu kenapa pula masih harus ada ijtihad?

Untuk menjawab semua pertanyaan di atas, marilah kita bahas satu per satu.

1. Perintah Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Melakukan ijtihad adalah salah satu di antara sekian banyak perintah Allah dan Rasul-Nya kepada umat Islam, bukan semata-mata inisiatif dan keinginan hawa nafsu.

Di dalam Al Quran Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan manusia untuk menggunakan nalar, logika dan akalnya dalam memahami perintah-perintah Allah.

Sesungguhnya di dalamnya ada tanda-tanda bagi kaum yang berfikir (QS Az Zumar: 42)

Sesungguhnya di dalamnya ada tanda-tanda bagi kaum yang berakal (QS Ar Ruum: 24)

Sedangkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memerintahkan para shahabatnya untuk berijtihad. Kepada Muadz bin Jabal radhiyallahuanhu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berijtihad kala beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengutusnya ke negeri Yaman.

Dari Muadz bin Jabal radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi bertanya kepadanya,”Bagaimana kamu memutuskan perkara jika diajukan orang kepada engkau?.” Muadz menjawab,”Aku putuskan dengan kitabullah.” “Bila tidak kamu temukan dalam kitabullah?”, tanya Nabi lagi. “Aku putuskan dengan sunnah Rasulullah”, jawab Muadz. “Jika tidak kamu dapatkan dalam sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah?” Muadz menjawab,”Aku akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan berlebih-lebihan.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menepuk dadanya seraya bersabda,”Segala puji bagi Allah yang telah menyamakan utusan dari utusan Allah sesuai dengan yang diridhai Rasulullah. (HR Abu Daud)

Bahkan selain para shahabat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri seringkali melakukan ijtihad, yaitu ketika tidak turun ayat Al Quran yang menjadi penjelasan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala lewat Jibril alahissalam. Di antaranya adalah tentang keputusan perlakuan terhadap pasukan musuh yang sudah lemah di penghujung perang Badar. Para shahabat bertanya apakah perang diakhiri saja dan musuh-musuh itu dibiarkan hidup namun ditawan, ataukah perang diteruskan dan semua musuh itu dibunuh sampai mati.

Karena tidak ada ketetapan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam berijtihad, dan juga menggelar musyarawah dengan para shahabat. Setelah keputusan diambil dan ijtihad telah ditetapkan oleh beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, barulah kemudian turun ayat Al Quran yang mengangulir hasil ijtihad nabi dan musyawarah para shahabat.

2. Keterbatasan Al Q uran dan As Sunnah

Meski Al Quran adalah kitab yang lengkap dan tidak ada satupun masalah yang terlewat, namun bukan berarti Al Quran adalah sebuah ensikopedi umum yang memuat materi apa saja.

Kenyataannya bila dibandingkan dengan Ensiklopedi Britanica, jumlah ayat Al Quran terlalu sedikit, karena hanya berkisar 6.000-an ayat saja. Encyclopedia Britannica 2010 memuat artikel dan gambar hingga sekitar 100.000 item, dan tebalnya mencapai 32 jilid.

Tetapi sekali lagi adalah keliru kalau kelengkapan materi Al Quran itu kita bayangkan seperti kelengkapan sebuah ensiklopedi. Kelengkapan Al Quran itu maksudnya adalah bahwa Al Quran memasuki banyak ranah kehidupan, di luar dari yang biasanya dikenal orang, pada kitab-kitab suci terdahulu.

Al Quran bicara tentang banyak hal dalam kehidupan manusia, baik individu maupun sosial. Tetapi Al Quran bukan ensiklopedi yang membahas satu per satu tiap titik masalah.

Kalau memang Al Quran hanya bicara sekilas, lalu bagaimana cara manusia bisa memahami detail-detail ketentuan dan kemauan Allah Subhanahu Wa Ta’ala?

Jawabnya adalah diutusnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ke dunia sebagai penjelas dari Al Quran, sekaligus untuk menjadi contoh hidup dari Al Quran. Persis seperti komentar istri beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, Aisyah radhiyallahuanha, tatkala ditanya tentang akhlaq beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Akhlaq beliau adalah Al Quran. (HR.)

Namun kalau dijumlah secara total, tetap saja jumlah hadits nabawi itu terbatas. Apalagi kalau kita batasi pada yang sudah dishahihkan secara paten dan disepakati oleh para ulama hadits.

Imam Al Bukhari hanya menyelesaikan 7 ribuan hadits di dalam kitab Ash-Shahihnya, dengan pengulangan-pengulangan hadits berkali-kali pada beberapa bab. Konon, seandainya hadits-hadits itu tidak diulang- ulang, jumlahnya hanya sekitar 4 ribuan saja. Sedangkan hadits-hadits yang telah dishahihkan oleh Imam Muslim dalam kitab Ash Shahih beliau juga terbatas pada sekitar 4 ribuan hadits, dengan ketentuan hadits-hadits itu tidak terulang-ulang dan telah disepakati keshahihannya oleh para ulama.

Kalau kita teliti, rupanya hadits yang telah tercantum di dalam Shahih Bukhari cukup banyak yang juga tercantum di dalam Shahih Muslim, sehingga kita tidak bisa mengatakan bahwa jumlah hadits shahih di dunia ini menjadi 8 ribu butir.

Tetapi juga tidak benar kalau kita katakan bahwa hadits yang shahih itu hanya terbatas pada kedua kitab Shahih itu saja. Tentu masih banyak lagi hadits-hadits yang shahih, meski tidak tercantum pada kedua kitab itu.

Akan tetapi meski demikian, tetap saja jumlah hadits-hadits yang sudah dishahihkan secara paten dan disepakati keshahihannya oleh para ulama memang terbatas. Kalau pun kita katakan ada 100 ribu hadits misalnya, maka jumlah itu tentu sangat kurang untuk bisa menjawab semua persoalan manusia sepanjang zaman, terhitung sejak masa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam hidup hingga datangnya hari kiamat nanti.

Sebab persoalan hidup manusia selalu bermunculan, dimana mereka hidup di berbagai zaman dan peradaban yang juga berbeda-beda. Selalu muncul fenomena baru di tengah umat manusia.

Padahal ayat Al Quran sudah berhenti turun, dan hadits nabawi sudah tidak mungkin lagi bertambah. Lalu apakah cukup ayat dan hadits warisan itu untuk menjawab semua problematika hukum syariah yang ada?

Jawabnya tentu tidak cukup, kalau kita hanya berpikir sekilas.

3. Luasnya Bidang Kehidupan

Di masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabat, barangkali belum sama sekali terbayang bahwa agama Islam akan tersebar ke luar batas-batas negeri Arab, bahkan menyeberangi benua dan lautan. Agama yang awalnya hanya dipeluk oleh beberapa gelintir orang di Mekkah, dalam rentang kurang dari seratus tahun kemudian menjadi agama nomor satu terbesar yang dipeluk berjuta umat manusia.

Ketika Umar bin Al Khattab radhiyallahuanhu memegang tongkat khilafah, Islam menyebar ke tiga imperium besar dunia, Romawi, Persia dan Mesir. Berbeda dengan keadaan Mekkah Madinah yang terletak di tengah gurun pasir jazirah Arabia, keadaan sosio kultural dan sosial politik di negeri-negeri itu jauh lebih berkembang, maju, dinamis dan penuh inovasi. Bidang kehidupan umat manusia pun semakin hari semakin luas dan dinamis.

Sehingga teks-teks baku yang terdapat pada dua sumber agama tidak akan bisa menjawab secara langsung apa adanya semua masalah itu.

Sebenarnya tanda-tanda akan semakin dinamis dan jauhnya teks-teks Al Quran dan As Sunnah dari realitas kehidupan masyarakat dunia sudah diisyaratkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri. Ketika beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menguji shahabatnya saat diutus ke Yaman dengan pertanyaan,

”Dengan apa kamu putuskan perkara di antara mereka bila tidak ada di dalam Al Quran dan As Sunnah?”

Pertanyaan ini bukan sekedar menguji main-main, melainkan sebuah pertanyaan yang mengandung pernyataan sekaligus. Intinya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa akan ada banyak perkara yang secara eksplisit tidak terdapat di dalam Al Quran dan As Sunnah di dalam kehidupan ini. Dan saat itulah dibutuhkan tindakan ijtihad, yang pada intinya tetap berpegang teguh kepada kedua sumber agama, Al Quran dan As Sunnah, namun dicarikan kesamaan ‘illat yang tepat dan mendekati kebenaran antara dalil-dalil syar’i dengan realitas yang ada.

Karena itulah tindakan menolak ijtihad sesungguhnya adalah tindakan mustahil, sebab teks- teks syariah itu akan terbata-bata ditinggal oleh perkembangan zaman. Ijtihad para ulama itulah yang membuat Al Quran dan As Sunnah menjadi serasa baru dan segar.

4. Kritik Hadits

Pada dasarnya, meneliti keshahihan suatu hadits tidak lain dan tidak bukan adalah bagian dari ijtihad. Di masa lalu, para mujtahid sudah bisa dipastikan adalah juga seorang ahli hadits yang keahliannya termasuk meneliti dan mengkritik hadits. Dengan kata lain, studi kritik hadits (naqd hadits) adalah bagian dari ijtihad yang mutlak harus dilakukan oleh semua mujtahid dan ahli fiqih.

Seorang Abu Hanifah rahimahullah bukan saja ahli fiqih melainkan beliau juga seorang ahli di bidang kritik hadits.

Beliau amat terkenal sangat ketat dalam menyeleksi hadits, sehingga bila beliau tidak berada pada posisi amat sangat yakin akan keshahihan hadits, tidak akan pernah dijadikan sebagai dasar dalam ijtihad.

Demikian juga Al Imam Malik rahimahullah, meski beliau pendiri mazhab Maliki yang terkenal itu, namun pada hakikatnya beliau adalah seorang ahli hadits yang amat paten dan kampiun. Beliau sendiri punya kitab Al Muwaththa’, yang di zamannya adalah kitab hadits paling populer dan paling tinggi kedudukannya.

Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah juga seorang ahli hadits, dimana beliau punya kitab karya di bidang ilmu hadits dan kritik hadits. Pengembaraan beliau ke hampir seluruh jagad dunia Islam membuktikan bahwa beliau selain ahli fiqih, juga seorang ahli hadits. Bahkan di usia 15 tahun beliau sudah menghafal luar kepala kitab Al Muwaththa’ karya guru beliau, Al Imam Malik.

Al Imam Bukhari dan Al Imam Muslim adalah dua orang ahli hadits di masa berikutnya, dimana kedua bermazhab Asy Syafi’iyah.

Sedangkan Al Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah bahkan lebih dikenal sebagai ahli hadits ketimbang ahli fiqih dalam beberap persolaan. Musnad Ahmad adalah salah satu nama yang akrab dikenal sebagai karya beliau sebagai ahli hadits.

5. Nasakh dan Mansukh

6. Dalil Umum dan Khusus

7. Kontradiksi Dalil


[1] Kasyfu Istilahil Funun jilid 1 halaman 198

[2] Irsyadul Fuhul li Asy Syaukani

[3] Al Ihkam fi Ushulil Ahkam jilid 4 halaman 396

[4] Ma’alim wa Dhawabithul Ijtihad Inda Asy Syaikh Al Imam Ibnu Taymiyah, Dr. Alauddin Husein Rahhal, halaman 59

[5] Al Bahrul Muhith oleh Az Zarkasyi jilid 1 halaman 21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>