Abdullah bin Qasim Al Wasyli

Islam Adalah Madah (Materi)

Bertolak darikeyakinan umum yang bersumber dari akidah Islam tentang harta dan segala jenis kekayaan yang diperuntukkan bagi manusia, seorang Muslim harus berkomitmen dengan konsepsi dan aturan yang telah ditentukan mengenai tata cara berinteraksi dengan materi dan ekonomi tersebut. Dengannya pula ia mempertimbangkan aktivitasnya. Kami akan menguraikan dengan ringkas bentuk-bentuk perekonomian yang telah disebut oleh Imam Syahid Al-Banna untuk menunjukkan bahwa Islam member perhatian besar kepadanya.

Madah (materi) menurut bahasa adalah bahan yang digunakan untuk menyusun dan menegakkan sesuatu. Menurut istilah sekarang, ia adalah hal yang bisa diindra dengan salah satu pancaindra (peraba, pendengar, penglihat, pengecap, dan pencium). Lawannya adalah hal gaib, segala yang nonmateri, dan tidak dapat diindra. Karena itu, mereka yang tidak beriman kepada yang gaib disebut kaum materialis, karena mereka hanya mengakui hal-hal yang bisa diindera saja. Mereka itulah yang dalam Al-Quran disebut sebagai ahlud-dunya  yang perkataan mereka dilansir oleh Al-Quran,

Dan mereka berkata, “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati, kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa.” (Al-Jatsiyah: 24)

Al-Quran telah menjelaskan bahwa manusia terbentuk dari dua unsur yaitu unsur materi (tanah),

Allah telah menciptakanmu dari tanah (Fathir: 11), dan unsure ruh yaitu sesuatu yang bersifat maknawi, tidak bisa diindra, dan tidak terjangkau oleh ilmu pengetahuan manusia,

Dan Aku tiupkan di dalamnya dari ruh-Ku (Al-Hijr: 29).

Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah “Ruh adalah urusan Tuhanku, dan kalian tidak diberi ilmu kecuali hanya sedikit.” (Al-Isra’: 85)

Syariat samawi telah menyelaraskan dua unsure ini dalam diri manusia dengan pengarahan dan penataan yang memberikan keseimbangan antara keduanya, sebagaimana ia juga menjelaskan bahaya yang akan timbul akibat dominasi salah satu unsure terhadap unsure yang lain. Di antara penjelasan itu adalah firman-Nya,

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu (Al-Qashash: 77)

Dan memuji orang-orang yang berusaha untuk mendapatkannya dan memintanya kepada Tuhan mereka dalam firman-Nya,

Dan di antara mereka aa orang yang berdoa, “Wahai Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akirat dan jagalah kami dari azab neraka.” (Al-Baqarah: 201)

Kemudian Allah menjelaskan bahwa Ia Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa mereka dengan firman-Nya,

Lalu Allah memberikan kepada mereka balasan dunia dan sebaik-baik balasan akhirat (Ali ‘Imran: 148)

Dan menjelaskan bahwa pengabulan doa itu adalah,

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampong akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa (An-Nahl: 30)

Cenderung dan lebih menyukai dunia tanpa menoleh kepada akhirat, dalam pandangan Islam merupakan kesesatan yang nyata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampong akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa. (An-Nahl: 30)

Al-Quran menganggap orang yang puas dengan kehidupan dunia sebagai orang yang mendahulukan kesenangan yang sedikit lagi berakhir daripada kenikmatan yang besar dan abadi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Apakah kalian puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini dibandingkan kehidupan di akhirat kecuali sedikit. (At-Taubah: 38)

Allah juga menjelaskan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak mendapatkan sedikit pun bagian akhirat, dalam firman-Nya,

Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,” dan tiadalah baginya bagian sedikit pun di akhirat  (Al-Baqarah: 200)

Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menjauhi mereka, karena mereka adalah orang-orang yang terperdaya dan sibuk dengan dunia hingga lupa akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia (Al-An’am: 70)

Di sisi lain, Islam melarang kerahiban, meninggalkan dunia, terputus sama sekali darinya, serta mencela orang-orang yang menganut cara hidup demikian, dengan firman-Nya,

Dan mereka mengada-ngadakan kerahiban, padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka, tetapi meraka sendirilah yang mengada-ngadakannya untuk mencari keridhaan Allah. Kemudian mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. (Al-Hadid: 27)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menafikan kerahiban dalam Islam dengan sabdanya, Tidak ada kerahiban dalam Islam (HR. Ahmad dari Anas), dan menjelaskan bahwa kerahiban umatnya adalah jihad fi sabilillah, bahkan Rasulullah memerangi hal ini di tengah umatnya sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas r.a. bahwa ia berkata, “Tiga orang Muslim dating ke rumah istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menanyakan bagaimana ibadah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, setelah diampuni dosa-dosanya yang terdahulu maupun yang kemudian?” Salah seorang di antara mereka berkata, “Aku akan shalat malam selamanya,” yang kedua berkata, “Aku akan puasa selamanya dan tidak akan berbuka,” dan yang ketiga berkata, “Aku akan menjauhkan diri dari perempuan sehingga aku tidak akan menikah selamanya.” Maka datanglah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu bersabda,

Apakah kalian yang berkata begini dan begitu? Demi Allah, aku ini adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada-Nya, tapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat tapi juga tidur, dan aku juga menikahi perempuan. Karena itu barang siapa tidak suka dengan Sunahku ini, ia bukan termasuk golonganku.9)

Al-Quran telah menjelaskan bahwa orang-orang yang tidak moderat itu ada dua golongan. Di antara mereka ada yang menginginkan dunia dan ada pula di antara mereka yang menginginkan akhirat. Dirimankan-Nya,

Di antara kalian ada yang menginginkan dunia dan di antara kalian ada yang menginginkan akhirat (
Al-Baqarah: 152)

Allah menjelaskan bahwa Ia Swt. memberikan kepada masing-masing golongan sesuai dengan keinginannya,

Barangsiapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan pahala dunia itu dan barangsiapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan pula kepadanya pahala akhirat. Kami akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali ‘Imran: 145)

Akan tetapi perbedannya sangat besar antara ahli dunia dan ahli akhirat, karena akhirat lebih baik dan lebih kekal. Allah Swt. berfirman,

Katakanlah, “Kesenangan dunia itu hanya sebentar sedangkan akhirat lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun (An-Nisa’: 77)

Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya. (Ali ‘Imran: 185)

Dengan demikian jelaslah bagaimana sikap Islam terhadap dunia (materi) dan bagaimana Islam mengarahkan manusia untuk mengambil bagian dari dunia tanpa harus melupakan sisi lain yang berupa pembinaan ruhani dan beramal untuk hari akhir. Anda telah mendapatkan kemantapan akan hakikat yang dikatakan oleh Asy-Syahid Al-Banna, bahwa Islam adalah madah sebagaimana ia adalah ruh.



9) Lisan Al-Arabi, 14/110.