Nabiel bin Fuad Al Musawa

Islam dan Childhood

“Ada seorang Arab Badui datang kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu bertanya: Apakah kalian mencium anak-anak kecil kalian? Maka demi Allah! Kami tidak mencium mereka. Maka jawab Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: Apakah aku kuasa menahan untuk kalian, jika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencabut rasa kasih-sayang dari dalam hati kalian?”[1]

Dalam hadits yang mulia ini dijelaskan dengan sangat gamblang bagaimana Islam sangat memperhatikan sikap lemah-lembut dan kasih-sayang kepada anak-anak. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menegur Arab Badui tersebut karena dia tidak mendidik anakanaknya dengan rasa kasih-sayang dan kelembutan. Dalam peradaban semasa Islam (termasuk Barat), sistem patrilineal maupun matrilineal yang ada tidak ramah terhadap anak dan keturunan (descent).[2]

Dalam ilmu psikologi anak dijelaskan betapa buruknya dampak sikap keras dan kasar terhadap pertumbuhan kejiwaan anak-anak.[3] Jauh-jauh hari, sebelum pengetahuan modern menemukan konsep-konsep pendidikan anak yang lemah-lembut serta penuh kasih-sayang, Islam sudah menjelaskan hal ini melalui lisan baginda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Bahkan beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa menunjukkan sikap kasih-sayangnya yang besar kepada anak-anak kecil, baik putra beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri maupun juga cucu-cucunya.

Dalam salah satu hadits dari Al Barra’ bin ‘Azib Radhiyallahu ‘Anh berkata: “Aku melihat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, sementara Hasan (cucu beliau) berada di atas pundak beliau, sambil beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata: Ya Allah! Sungguh aku mencintainya, maka cintailah dia.”[4]

Bahkan kasih-sayang dan cinta Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam itu tidak hanya kepada anak-anak dan keturunannya saja, melainkan juga kepada seluruh anak-anak kecil, termasuk kepada anak-anak yang sudah tidak memiliki orangtua lagi (yatim-piatu), beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam senantiasa mengasihi mereka, membelikan pakaian dan makanan untuk mereka, mengajak mereka berjalan-jalan dan bahkan beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam memberika kedudukan yang sangat tinggi bagi orang-orang yang berbuat baik kepada mereka, sebagaimana dalam haditsnya: “Aku dan pemelihara anak yatim nanti di Jannah bagaikan ini (sambil Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya).”[5]

Kasih-sayang kepada anak-anak tersebut hendaklah dilakukan secara adil dan tidak berat-sebelah (mengutamakan seorang anak atas anak-anak lainnya), sebagaimana dalam hadits dari An Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘Anh bahwa ayahnya mengajaknya menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan menggendongnya, lalu ayahnya itu berkata: “Ya Rasulullah sesungguhnya aku persaksikan padamu bahaw aku memperlakukan An Nu’man seperti ini. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya: Apakah semua anakmu kau perlakukan seperti ini? Maka jawabnya: Tidak. Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi: Bukankah dirimu sendiri senang jika mendapatkan kasih-sayang yang sama? Maka jawabnya: Tentu. Maka kata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: Kalau begitu jangan perlakukan An Nu’man seperti itu.”[6]

Demikian tinggi perhatian Islam pada anak-anak, sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita manusia untuk mengambil pelajaran tentang menyayangi anak kepada hewan-hewan yang Allah ciptakan, artinya bahwa betapa rendahnya derajat hewan itu dan betapa buasnya mereka tapi tidak pernah mereka menganiaya anaknya sendiri dan ini semua merupakan salah satu tanda-tanda kekuasan Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi manusia, sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan rahmat (kasih-sayang) itu 100 bagian, lalu Allah menahan 99 bagian (untuk di Jannah kelak) dan menurunkan 1 bagian untuk di bumi. Dari 1 bagian inilah para makhluk bisa berkasih-sayang, sampai seekor kuda jantan mengangkat kakinya karena takut mengenai anaknya.”[7]



[1] Hadits Riwayat 1. Al Bukhari, dalam kitab Al Adab, bab Rahmatul Walad’i Taqbiluhu wa Mu’anaqatuhu. 2. Muslim, kitab Al Fadha’il, hadits no. 64.

[2] Kin Groups & Social Structure, Roger M. Keesing, p.121-129, Holt Rinehart & Winston, USA.

[3] Banyak sekali buku-buku sejenis ini, seperti DR. Bursteln’s Book on Children karangan DR. A. Joseph Burstlen (1992), dan tulisan semisal Glenn Domann dan lain-lain.

[4] HR. Bukhari, kitab Fadha’ilu Ashhabin an Nabi Radhiyallahu ‘Anh, bab Manaqibul Hasan wal Husein; Muslim, kitab Fadha’ilus Shahabah, hadits no. 58-59.

[5] HR. Bukhari, kitab Al Adab, bab Fadhlu man Ya’ulu Yatiman.

[6] HR. Bukhari, kitab Al Hibah, bab Al Hibatu lil Waladi; Muslim, kitab Al Hibah, hadits no.17.

[7] HR. Bukhari, kitab Al Adab, bab Ja’alaLLAHu ar-Rahmata Mi’ata Juz’in; Muslim, kitab at-Taubah, hadits no. 17.