Hasan Al Banna

Islam dan Jiwa Keprajuritan

Umat yang tengah bangkit pasti membutuhkan kekuatan yang besar, dan jiwa keprajuritan putra-putranya.

Apalagi di masa sekarang, di mana tidak ada sesuatu pun yang dapat menjamin tegaknya perdamaian kecuali kesiapan untuk berperang. Bahkan, masyarakat telah begitu akrab dengan slogan “kekuatan adalah cara yang paling menjamin tegaknya kebenaran. “

Islam tidak mengabaikan hal ini, bahkan ia dijadikan sebagai sebuah kewajiban di antara kewajiban-kewajiban yang lain, Islam tidak memberi jarak sedikit pun antara kekuatan di satu sisi, dengan shalat dan puasa di sisi yang lain. Bahkan, di dunia ini tiada satu pun sistem ideologi yang memiliki perhatian demikian besar terhadap kekuatan –baik pada masa lalu maupun sekarang sebagaimana yang dimiliki oleh sistem Islam, yang tertuang dalam Al-Qur’an Al-Karim, Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan sejarah kehidupannya.

Anda dapat melihat hal ini demikian jelas dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…” (Al-Anfal: 60)

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu…” (Al-Baqarah: 216)

Bahkan Anda dapat melihat semangat juang yang tertuang dalam sebuah kitab suci, yang dibaca di kala shalat, berdzikir, beribadah, dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah…” (An-Nisa’: 74)

Allah kemudian menjelaskan pahalanya dengan penjelasan sebagai berikut, “Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (An-Nisa: 74)

Pada ayat selanjutnya terdapat seruan yang amat menyentuh kalbu dan jiwa kita untuk turut menyelamatkan bangsa dan tanah air.

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan penolong dari sisi-Mu.”‘ (An-Nisa’: 75)

Setelah itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kepada putra-putra Islam tentang keagungan tujuan hidup mereka dan kehinaan tujuan hidup musuh-musuhnya. Hal itu sebagai penegasan kepada mereka bahwa untuk memperoleh barang yang mahal nilainya –yakni ridha Allah- mereka harus membayar dengan harga yang mahal pula berupa kehidupan itu sendiri. Sementara musuh-musuh mereka berperang tanpa memiliki tujuan yang jelas.

Mereka orang-orang yang berjiwa sangat kerdil dan bernurani sangat rapuh. Hal ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafirberperang di jalan thaghut. Oleh karena itu, perangilah kawan-kawan syetan itu, karena sesunggahnya tipu daya syetan adalah lemah.” (An-Nisa’: 76)

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian mencela orang-orang yang menghindar dari kewajiban dan lebih suka mengerjakan tugas-tugas ringan dengan meninggalkan tugas-tugas yang: memerlukan jiwa kepahlawanan. Allah menjelaskan kekeliruan sikap mereka dan menegaskan bahwa terjun di medan laga itu tidak akan merugikan dirinya sedikit pun.

Bahkan, sikap mundur itu tidak menguntungkan mereka sama sekali, karena kematian selalu mengintai di belakang mereka kapan pun dan di mana pun.

Pada ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahan lah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat. Dan tunaikan zakat.’Setelah diwajibkankepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu, Mereka berkata, Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai beberapa waktu lagi? ‘Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, walaupun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (An-Nisa: 77-78)

Demi Allah, tiada doktrin kemiliteran macam apa pun yang dapat menandingi kekuatan dan kejelasannya, yang sesuai dengan impian setiap panglima di medan perang,baik menyangkut keyakinan, tekad, maupun harga dirinya.

Jika dua pilar besar dalam sistem militer adalah nizham (aturan) dan ketaatan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala (pada dua ayat di atas) telah memadukannya secara serasi. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang teratur.” (Ash-Shaf: 4)

“Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka) apabila telah tetap perintah perang.” (Muhammad: 21)

Jika Anda membaca dalam ajaran Islam mengenai anjuran menyiapkan bekal, meningkatkan kekuatan, berlatih menunggang kuda dan melempar, menjunjung tinggi para syuhada, melipat gandakan pahala jihad dan pahala orang yang mendanainya, pahala orang yang menanggung keluarga mujahid, dan sebagainya, maka akan anda dapatkan penjelasan yang tak terhitung banyaknya, baik pada ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits, dan sirah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta penjelasan para fuqaha dalam kitab-kitab fiqih.

“Rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (Al-Mu’min: 7)

Bangsa-bangsa modern di zaman ini memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan ini, bahkan mereka pun membangun rezimnya di atas pondasi ini. Kita lihat bahwa akar-akar Fasisme Musolini, Nazi Hitler, maupun Komunisme Stalin adalah militer murni. Akan tetapi terdapat perbedaan yang menyolok antara militer mereka dengan militer Islam.

Islam adalah ajaran yang mengagungkan kekuatan. Namun demikian ia lebih cenderung kepada perdamaian. Allah pun berfirman setelah berbicara mengenai kekuatan, “Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka cenderunglah kamu kepadanya dan bertawakallah kepada Allah…” (Al-Anfal: 61)

Ia pulalah yang memberikan batasan nilai kemenangan dan fenomena riilnya dalam firman-Nya, “…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya, Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allahlah kembali segala sesuatu.” (Al-Hajj: 41)

Bahkan, Allah juga meletakkan dasar undang-undang darurat perang sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan jika kamu mengetahui penghianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat khianat.” (Al-Anfal: 58)

Di samping itu, kita juga mendapatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ucapan para khalifah setelah beliau, tatkala mengirim pasukan selalu disertai dengan wasiat yang saratdengan pesan kasih sayang dan perdamaian. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah engkau melanggar janji, melampaui batas, mencincang musuh, membunuh perempuan, anak-anak, membunuh orang-orang yang sudah tua, memotong pohon yang sedang berbuah, dan menyengsarakan orang yang terluka. Di medan perang engkau akan menjumpai para rahib yang sedang beribadah di rumah-rumah ibadah mereka, maka tinggalkanlah mereka itu dan biarkanlah mereka dengan kesibukannya.”

Di samping itu, kedudukan militer di dalam Islam adalah sebagai polisi keadilan serta penegak undang-undang dan hukum. Adapun militer Eropa yang ada sekarang, semua orang mengetahuinya, dia adalah pasukan bar-bar yang zhalim dan tentara yang hanya berpikir untuk keselamatan dirinya. Kalian dapat membandingkan, mana yang lebih utama di antara keduanya?