Islam dan Kebersihan

Ahmad Sarwat

A. Syariat Islam Terkait Dengan Kebersihan

Tidak seperti yang sering  dipamerkan oleh pemeluknya,  atau juga  dituduhkan oleh penentangnya, agama Islam pada hakikatnya adalah agama yang menjunjung tinggi kebersihan dan kesucian. Bahwa sebagian umat Islam tidak melaksanakan apa yang menjadi ajaran agamanya, tentu tidak bisa dijadikan legitimasi untuk menuduh bahwa agama Islam identik dengan hal-hal yang jorok, kotor dan bau.

Sesungguhnya cukup banyak realitas dalam syariah Islam yang menunjukkan bahwa agama ini benar-benar memberikan perhatian yang besar pada masalah thaharah ini.

Perhatian Islam atas kesucian merupakan bukti otentik tentang konsistensi Islam atas kebersihan. Dan bahwa Islam adalah peri hidup yang paling unggul dalam urusan keindahan dan kebersihan.

Dalam syariat Islam, kita mengenal beberapa jenis perintah yang terkait dengan menjaga diri dari kotoran, najis dan hAl hal yang tidak suci. Meski wudhu, mandi dan membersihkan najis termasuk perkara ritual, namun tidak dapat dipungkiri bahwa semua itu berhubungan dengan kebersihan.

1. Mensucikan Najis

Umat Islam adalah umat yang paling memperhatikan urusan najis, dimana mereka tidak diperkenankan untuk menyembah Allah Subahanahu Wa Ta’ala atau masuk ke dalam rumah ibadah, bila masih terkena najis.

Karena itulah sejak awal turun wahyu, Islam telah mengangkat urusan membersihkan najis, ketika Allah Subahanahu Wa Ta’ala berfirman :

“Dan pakaianmu, bersihkanlah.” (QS. Al Muddatstsir :4 )

Ada berbagai macam cara yang diajarkan agama Islam untuk mensucikan dan menghilangkan najis, mulai dari mencuci, mengelap, menggosok, mengesetkan, hingga mengubah wujud suatu benda.

2. Mandi Janabah

Mandi janabah disyariatkan dalam agama Islam, baik yang hukumnya wajib  karena janabah  maupun yang hukumnya sunnah karena even tertentu.

“Bila kamu dalam  keadaan janabah maka mandilah.” (QS. AlMaidah : 6)

Dengan demikian, seorang muslim adalah orang yang selalu membersihkan dirinya dengan air, bukan hanya pada bagian tubuh tertentu, tetapi seluruh tubuhnya.

3. Wudhu

Lebih sering dari mandi, seorang yang disyariatkan  berwudhu sehari lima kali, setiap akan shalat.

“Hai orang-orang yang beriman apabila kamu hendak  mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu  sampai dengan siku dan sapulah kepalamu dan kakimu  sampai dengan kedua mata kaki…” (QS. Al Maidah : 6)

Meski pun seorang yang masih punya wudhu dibolehkan shalat tanpa harus berwudhu’ lagi, namun memperbaharui wudhu adalah termasuk di antara sunnah yang dianjurkan.Secara fisik,  pasti  sangat  berbeda keadaan orang yang tidak berwudhu sehari lima kali dengan yang tidak melakukannya.

4. Mencuci Tangan

Mencuci kedua tangan hingga pergelangan tangan sebelum mencelupkan tangan ke dalam wadah air, adalah perbuatan yang disunnahkan, setidaknya setelah bangun dari tidur.

“Bila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya hendaklah dia mencuci kedua tangannya sebelum memasukkannya ke dalam wadah air. Karena kalian tidak tahu dimana tangannya semalam.”  (HR. Bukhari Muslim Ahmad Nasai Ibnu Majah Abu Daud)

5. Istinja’

Satu-satunya agama di  dunia ini yang mengajarkan bahkan mewajibkan istinja’ setelah buang air kecil dan buang air besar adalah agama Islam.

Sebab yang keluar dari tubuh kita berupa air kencing atau kotoran manusia, selain najis juga tentunya merupakan benda-benda yang mengandung penyakit.

6. Khitan

Syariat Islam  termasuk salah satu agama yang mengajarkan kepada pemeluknya untuk berkhitan. Bahkan umumya ulama mengatakan hukumnya bukan sekedar sunnah atau anjuran, melainkan hukumnya wajib.Lepas dari urusan ritual agar suci dari najis, ternyata salah satu hikmahnya adalah agar terjaga kebersihan dan terhindar dari penyakit. Bakteri dan bibit penyakit ternyata sangat subur berkembang di bagian tubuh yang tidak dibersihkan saat seseorang buang air.

Pembahasan lebih jauh tentang khitan dan hukumhukum yang terkandung di dalamnya, akan kita bahas pada bagian akhir dari kitab ini. Hal itu mengingat pembahasan bab khitan termasuk agak luas dan panjang, serta merupakan fenomena yang sudah menjadi bagian dari budaya lokal bangsa Indonesia.

7. Parfum

Bukan hanya menganjurkan untuk hidup bersih pada badan, pakaian dan tempat tinggal, Islam juga sangat mengutamakan segala yang berbau harum dan wangi.

“Empat hal yang termasuk sunnah para rasul : Memakai hinna’, memakai parfum, menggosok gigi dan menikah.” (HR. Tirmizy)

Pembahasan lebih jauh tentang parfum dan hukumhukum yang terkandung di dalamnya, insya Allah juga akan kita bahas pada bagian akhir dari kitab ini.

8. Sikat Gigi

Agaknya tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa satu-satunya agama yang memerintahkan pemeluknya untuk menyikat gigi rasa-rasanya hanya agama Islam. Apalagi kalau dikaitkan dengan masa diturunkan agama ini di abad ketujuh Masehi.

Kalau pun di zaman modern ini para ahli kesehatan berkesimpulan bahwa menyikat gigi itu suatu bentuk pola hidup yang sehat dan sangat dianjurkan, maka Islam telah memerintahkan pemeluknya 14 abad yang lalu.

“Seandainya Aku tidak memberatkan ummatku pastilah aku  perintahkan mereka untuk menggosok gigi setiap berwudhu’. “ (HR. Ahmad)

9. Memotong kuku

Meski banyak orang mampu selalu membersihkan dan merapikan kukunya, namun para ahli kesehatan tetap menganjurkan orang untuk memotong kuku. Karena hal itu lebih menjamin kesehatan dan kebersihan.Empat belas abad yang lalu, Islam telah turun dari langit dan mengajarkan tentang sunnah fitrah. Salah satunya adalah memotong kuku.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anh ia berkata bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Lima dari fitrah: memotong bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut  bulu ketiak dan memotong kuku.” (HR. Jama’ah)

B. Eropa Yang Jorok

Sesungguhnya ketika Islam mengajarkan kesucian dan kebersihan, di saat yang sama pemandangan yang amat konradikif justru kita saksikan di belahan Eropa, yang saat itu sedang mengalami masa gelap (The Dark Ages).

1. Ratu Isabella : Hanya Sekali Mandi Seumur Hidup

Penguasa Kristen Spanyol, Ratu Isabella (1451-1504) yang berkuasa pada masa pembantaian umat Islam, tercatat dalam sejarah sebagai ratu yang tidak pernah mandi seumur hidupnya. Sekali-kalinya dia mandi hanya pada malam saat menjadi pengantin di tahun 1469. Praktis sepanjang hayatnya, dia hanya mandi ketika lahir, menjadi pengantin dan ketika meninggal. Ketika lahir dan mati, dia dimandikan atas kehendak orang lain dan bukan mandi sendiri. Kita tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Raja Ferdinand sebagai suaminya. Sayangnya, rekor tidak mandi seumur hidup kecuali malam pengantin ini malah dijadikan sebagai kebanggaan oleh Isabela.

Entah apa yang menjadi latar belakang sang ratu untuk tidak mandi seumur hidupnya. Yang pasti, dia adalah seorang pemeluk agama nasrani yang taat. Dan dalam kekuasaannya, termasuk tokoh yang telah banyak menghabisi sisa-sisa basis kekuatan umat Islam di Spanyol, yang kini hanya tinggal kenangan saja. Kita tidak lagi menemukan Islam yang berjaya di Spanyol semenjak zaman kekuasaannya hingga sekarang ini.

2. Raja Louis XII : Hanya Dua Kali Mandi Seumur Hidup

Tidak seperti yang kita bayangkan di masa sekarang tentang Perancis yang terkesan indah dan penuh seni, ternyata Raja Louis XII dari Perancis yang terkenal itu disebut-sebut bahwa dirinya  mandi hanya dua kali dalam hidupnya.

Entah memang takut air atau memang demikian kepercayaan dalam beragama. Yang jelas kita bisa bayangkan betapa tidak sehatnya kehidupan seorang raja di Eropa.

Survey yang dilaporkan oleh Le Figaro menyatakan bahwa orang Perancis adalah yang paling jarang mandi. Bahkan mereka mandi lebih jarang ketimbang yang mereka klaim. Entah hal itu merupakan budaya, atau karena ada faktor agama. Yang jelas, agama Islam lebih banyak memerintahkan pemeluknya untuk mandi dibandingkan dengan agama lain, tentunya dengan air yang suci dan bersih.

3. Raja Perancis, Henri IV

Raja Perancis, Henri IV digambarkan sebagai “smelling like carrion.” Ketika tunangannya, Marie de Medicis bertemu dengan dia, si Marie sampai jatuh pingsan, bukan karena muka buruk atau perilaku kejam, tetapi karena mencium bau badan si raja.

4. Tidur Bersama Ternak

Di Eropa pada zaman kegelapan, orang-orang terbiasa tidur bersama dengan sapi, anjing dan babi.  Ternak milik mereka ikut masuk ke dalam rumah, dan tidur bersama dengan tuannya. Pemilik ternak dengan keluarganya makan, minum dan buang air di dalam rumah, sebagaimana juga ternak-ternak mereka.

Sementara ratusan tahun sebelumnya, anak-anak  umat Islam  di Baghdad dan di Andalusia  sudah membedakan mana najis dan mana yang bukan najis.

5. Sungai Gangga

Sejak dahulu hingga dewasa ini  orang-orang di India menganggap air sungai Gangga sebagai air suci, lalu mereka mandi untuk mendapatkan keberkahannya.  Sebagai kepercayaan dari suatu agama tentu kita harus menghormatinya.

Namun kalau boleh kita melihat langsung  realitasnya, sungai itu  mengalami pencemaran berat,  bukan  karena limbah industri, namun justru karena kepercayaan sendiri. Sangat diyakini bahwa semakin sungai itu dijadikan tempat  orang-orang membuang hajat, juga tempat membuang  mayat yang dibakar itu, akan semakin memberikan keberkahan bagi siapa saja yang mandi, minum dan mencuci disana.

Aktifitas masyarakat di sungai  itu sudah terbiasa menyaksikan mayat membusuk dan mengapung di sungai, bahkan seringkali malah terdampar, menyebarkan aroma busuk kemana-mana, dan dijadikan santapan burung, atau dirubung lalat.

Sudah terbiasa bila masyarakat sedang mandi dan cuci di sungai itu, tiba-tiba muncul potongan tubuh mayat yang sudah busuk di tengah mereka. Hal itu tidak menjadi masalah karena memang sudah demikian kepercayaan mereka.

Dipekirakan sekitar dua juta orang melakukukan ritual mandi di sungai Gangga setiap harinya. Di  dalam agama Hindu sungai Gangga ini dipercaya berasal dari air yang mengalir dari kaki dewa Wisnu (bagi pemeluk Vaisnava) atau juga merupakan rambut dewa Shiwa (bagi pemuja Dewa Shiwa).

Sungai Gangga sangat berarti bagi kehidupan raligius masyarakat Hindu sama berartinya sungai Nile bagi masyarakat Mesir. Namun demikian walau sungai Gangga dianggap sebagai sungai suci, keadaan sehari-harinya justru jauh dari suci secara kasat mata, dalam arti sungai Gangga menyimpan problem khusus yang sangat memprihatinkan.

Problem itu adalah masalah polusi air dalam  kategori  yang sangat  berat. Air sungai yang berwarna kecoklatan lebih merupakan sungai yang sangat keruh  dipenuhi tumpukan limbah sampah yang berupa sampah kimia, sampah yang berasal dari ratusan got, kotoran manusia dan juga sisa-sisa jenazah manusia dan juga bangkai binatang. Semua yang berjudul sampah  berkumpul di sungai Gangga.  Dan sampah-sampah ini beresiko tinggi bagi kesehatan manusia apabila mandi di sungai tersebut. Resiko umum misalnya terkena  penyakit infeksi Bilharziasis atau jika minum air sungai akan terkena fecal oral route.

Kombinasi bakteri dan penduduk yang super banyak yang melakukan ritual bersih-bersih campur aduk menjadi satu menjadikan sungai Gangga menjadi sangat khas. Ketika kita membicarakan hal ini, tentu tidak dalam posisi sedang menghina suatu agama, sebab justru mereka sendiri yang membanggakan hal ini.

C. Islam Memperhatian Pencegahan Penyakit

Syariat Islam sangat  memperhatikan pencegahan timbulnya penyakit, termasuk juga memberi perhatian serius terhadap masalah kesehatan, baik yang bersifat umum atau khusus.

Syariat Islam juga memberikan perhatian khusus padapembentukan  fisik dengan bentuk yang terbaik dan penampilan yang terindah. Perhatian ini juga merupakan isyarat kepada masyarakat untuk mencegah tersebarnya penyakit kemalasan dan keengganan.

Wudhu’ dan mandi janabah itu secara fisik terbukti bisa menyegarkan tubuh mengembalikan fitalitas dan membersihkan diri dari segala kuman penyakit yang setiap saat bisa menyerang tubuh.

Secara ilmu kedokteran modern juga terbukti bahwa upaya yang paling efektif untuk mencegah terjadinya wabah penyakit adalah dengan menjaga kebersihan. Dan seperti yang sudah sering disebutkan bahwa mencegah itu jauh lebih baik dari mengobati

D. Allah Cinta Orang Yang Bersuci          

Allah Subahanahu Wa Ta’ala telah memuji orang-orang yang selalu menjaga kesucian di dalam Al Quran Al Kariem.

Diantaranya adalah ayat-ayat berikut ini :

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat dan  orang-orang yang membersihan diri. “(QS. Al Baqarah : 222).

“Di dalamnya ada orang-orang yang suka membersihkan diri  Dan Allah menyukai orang yang membersihkan diri.” (QS. At Taubah : 108)

Sosok pribadi muslim sejati adalah orang yang bisa menjadi teladan dan idola dalam arti yang positif di tengah manusia dalam hal kesucian dan kebersihan, baik kesucian zahir maupun maupun batin. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada jamaah dari shahabatnya :

“Kalian akan mendatangi saudaramu maka perbaguslah kedatanganmu dan perbaguslah penampilanmu. Sehingga sosokmu bisa seperti tahi lalat di tengah manusia (menjadi pemanis). Sesungguhnya Allah tidak menyukai hal yang kotor dan keji.” (HR. Ahmad)

E. Kesucian Bagian Dari Kualitas Iman

Berbeda dengan agama-agama tertentu yang mengajarkan kedekatan dengan tuhan lewat kotoran, Islam mengajarkan bahwa kedekatan dengan tuhan itu justru dengan kebersihan.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menyatakan bahwa urusan kesucian itu sangat terkait dengan nilai dan derajat keimanan seseorang. Bila urusan kesucian ini bagus maka imannya pun bagus.  Dan sebaliknya bila masalah kesucian ini tidak diperhatikan maka kualitas imannya sangat dipertaruhkan.

“Kesucian itu bagian dari Iman.” (HR. Muslim)

Di dalam agama syirik, orang-orang suci adalah orang yang melakukan laku tapa. Dan orang yang melakukan tapa umumnya justru menghindari diri dari kebersihan dan kesucian, seperti tidak pernah mandi dan tidak mencuci pakaiannya. Dalam keyakinan mereka, semakin kumal dan dekil seseorang, maka dia akan semakin dekat dengan tuhan.

Padahal ketika melihat seseorang yang rambutnya acakacakan dan pakaiannya kumal, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam merasa heran dan bertanya :

“Tidak bisakah dia punya sesuatu yang bisa merapikan rambutnya. Tidakkah dia bisa mendapatkan sesuatu yang bisa mencuci pakaiannya?” (HR. Abu Daud)

F. Kesucian Adalah Syarat Ibadah

Selain menjadi bagian utuh dari keimanan seseorang masalah kesucian ini pun terkait erat dengan syah tidaknya ibadah seseorang. Tanpa adanya kesucian maka seberapa bagus dan banyaknya ibadah seseorang akan menjadi ritual tanpa makna. Sebab tidak didasari dengan kesucian baik hakiki maupun maknawi.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Dari Ali bin Thalib ra bahwa Rasulullah SAW bersabda’Kunci shalat itu adalah kesucian’.(HR. Abu Daud Tirmizi Ibnu Majah)

Alah Subahanahu Wa Ta’ala tidak menerima orang yang mempersembahkan ibadahnya dalam keadaan kotor baik secara fisik atau pun secara ruhani. Maka diantara syarat sebuah ibadah adalah bersuci baik dari hadats atau pun dari najis.