Islam dan Kebudayaan

Mohammad Natsir

Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilisation. Islam itu sesungguhnya lebih dari satu sistem agama saja, dia itu adalah satu kebudayaan yang lengkap. (H.A.R. Gibb, Whither Islam, pg. 12).

Demikianlah bunyi pengakuan seorang pujangga ahli tarikh, Prof. H.A.R. Gibb dalam kitabnya yang terkenal “Whither Islam.”

Satu pengakuan dari seorang yang bukan dipengaruhi oleh perasaan fanatik-agama, merdeka dari perasaan-perasaan ta’ashub dan membentangkan dengan terus terang keyakinannya, yang berdasarkan kepada penyelidikan teliti dan saksama.

Dan bersama dengan beliau itu ada berpuluh, kalau tidak akan beratus, ahli ilmu pengetahuan yang ternama dari berbagai agama, yang mengakui dan menghargai dengan cara satria, akan jasa-jasa Islam terhadap kebudayaan umumnya. Ada yang memandang dari pihak ilmu pengetahuan, ada yang menilik dari pihak falsafah, dari pihak pemerintahan, perekonomian, akhlak, dan lain-lain.

Tarikh telah menunjukkan bahwa tiap-tiap bangsa yang telah menempuh ujian hidup yang sakit dan pedih, tapi tak putus bergiat menentang marabahaya, berpuluh bahkan beratus tahun lamanya, pada satu masa akan mencapai satu tingkat kebudayaan, yang sanggup memberi penerangan kepada bangsa yang lain; satu masa mereka akan meninggalkan buah yang lazat untuk bangsa-bangsa yang datang dibelakang mereka.

Hukum alam ini telah berlaku, baik di Barat maupun di Timur, dari bangsa Tionghoa, India, Egypte sampai kepada bangsa Chaldeers, Yunani, Rumawi, Arab, dan sampai kepada bangsa Eropah sekarang ini.

Begitulah sinar kebudayaan itu berputar dan bergilir dari satu tempat ketempat yang lain dimuka bumi kita ini, dengan tidak mempedulikan bangsa dan warna kulit, hanya menurutkan qudrat dan iradat Tuhan yang Mahakuasa dan Mahaadil.

Marilah kita tujukan pandangan dan minat kita kepada suatu kebudayaan, yang telah diizinkan oleh yang Mahakuasa mencapainya kepada suatu bangsa yang tadinya bodoh, tidak terkenal dan tiada dianggap oleh kaum dan bangsa-bangsa yang lain disekelilingnya, ialah satu kaum dari Jazirah Arab, tanah tempat pertemuan benua Eropah, Asia dan Afrika. Kaum tersebut pada satu saat bergerak menggemparkan dunia, membina satu kebudayaan yang sangat penting artinya dalam sejarah, sejak purbakala sampai sekarang.

Maka yang menjadi pokok kekuatan, sebab timbulnya kebudayan itu, ialah Agama Islam; sebab itu tepatlah kalau dinamakan dengan sebutan Kebudayaan Islam.

Sesudah kaum Muslimin memperteguh kedudukan mereka sebagai satu kaum yang diikat oleh keyakinan yang satu dan pandangan hidup yang satu pula, dan setelah mereka dapat menduduki satu tempat yang tertentu pula dalam medan percaturan dunia ketika itu, yakni setelah mereka dari tingkat kaum yang tadinya tak hentinya mendapat serangan dan tamparan dari kanan-kiri, siang dan malam mempertahankan jiwa, kemudian naik kepada derajat kaum yang dibenarkan hak berdirinya, didengar bunyi suaranya, diakui kekuasaan “dan kemegahannya oleh bangsa-bangsa yang berkuasa dibenua Afrika, Asia dan Eropah itu, maka pada saat itulah mereka mendirikan kebudayaan yang buahnya diwarisi oleh bangsa Eropah pada zaman kita ini.

Marilah kita perhatikan patokan-patokan yang dibawah ini:

  1. Agama Islam menghormati akal manusia dan mendudukkan akal itu pada tempat yang terhormat serta menyuruh agar manusia mempergunakan akal itu untuk menyelidiki keadaan alam.
  2. Agama Islam mewajibkan pemeluknya, baik laki-laki maupun perempuan, menuntut ilmu. „Tuntutlah ilmu dari buaian sampai keliang lahad”, kata Nabi Muhammand shalallahu ‘alaihi wasallam.
  3. Agama Islam melarang bertaklid-buta, menerima sesuatu sebelum diperiksa, walaupun datangnya dari kalangan sebangsa dan seagama atau dari ibu-bapa dan nenek-moyang sekalipun. Dan janganlah engkau turut apa yang engkau tidak mempunyai pengetahuan atasnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu, semuanya akan ditanya tentang itu. (QS Bani Israil: 36.)
  4. Agama Islam menyuruh memeriksa kebenaran, walaupun datangnya dari kaum yang berlainan bangsa dan kepercayaan.
  5. Agama Islam menggemarkan dan mengerahkan pemeluknya pergi meninggalkan kampung halaman berjalan kenegeri lain, memperhubungkn silaturrahim dengan bangsa dan golongan lain, saling bertukar rasa dan pemandangan. Wajib atas tiap-tiap Muslimin yang kuasa, pergi sekurangnya sekali seumur hidupnya mengerjakan haji. Pada saat itu terdapatlah pertemuan yang karib antara segenap bangsa dan golongan diatas dunia ini. Keadaan itu menimbulkan perhubungan persaudaraan dan perhubungan kebudayaan (akulturasi) yang sangat penting artinya untuk kemajuan tiap-tiap bangsa.

Sekian sebagai kutipan ringkas dari ajaran Agama Islam, yang menjadi sumber kekuatan, yang mendorong terbitnya satu kebudayaan, yang akan kita perbincangkan dengan ringkas dibawah ini.

Selain dari pada itu ada lagi faktor lain, yang tidak kurang menambah subur dan lekas berkembangnya kebudayaan tersebut, yakni perlindungan yang diberikan oleh Khalifah Islam kepada ahli-ahli ilmu dan ahli-ahli seni dengan tiada memandang bangsa dan agama. Dengan jalan ini dapatlah ahli ilmu dan ahli seni mewujudkan perhatian dan minat mereka, kepada ilmu dan kesenian yang mereka perdalami.

Seorang dari Khalifah yang sangat berbakti dalam mewujudkan Kebudayaan Islam itu, ialah Khalifah Al Mansur, Khalifah yang kedua dari dinasti Abbassiah. Khalifah Al Mansur adalah seorang yang saleh, kuat beragama, ahli dalam ilmu fiqh, gemar kepada ilmu pengetahuan, terutama ilmu bintang dan ilmu tabib. Ahli-ahli pengetahuan dengan tidak memandang agama, sama-sama bekerja diistananya dengan mendapat nafkah, yang bukan kecil. Antaranya ialah Maubacht, ahli astronomi orang Persia, mulanya beragama Majusi, kemudian masuk Islam dengan penyaksian baginda sendiri. Ahli ini terus-menerus tinggal diistana Khalifah dengan anak cucunya, bekerja memperdalam ilmu astronomi itu.

Melihat bagaimana besarnya minat Khalifah Al Mansur memajukan ilmu falak itu, datang ahli ilmu dari India, Persia, Rumawi berkumpul di Bagdad, bekerja dengan sungguh menuntut ilmu tersebut, dibawah perlindungan pemerintahan Islam.

Kitab-kitab lama yang sudah terbenam kedalam jurang kelupaan di negeri Rumawi, diminta oleh Khalifah Al Mansur supaya ditimbulkan kembali isinya yang berharga itu. Raja Rumawi pernah mengirimkan satu buku dari pujangga hitung Euclydes yang masyhur dan beberapa kitab-kitab physica ke Bagdad, terus diterjemahkan, dipelajari, diperluas dan diperkembangkan disana.

Dinegeri Jandisapura ada seorang tabib bangsa Siria beragama Kristen yang masyhur pada zaman itu. Khalifah Al Mansur meminta agar Georgy Bachtisyu, demikian nama ahli itu, datang ke Bagdad mengajarkan ilmu tabib. Walaupun Georgy seorang Kristen, tapi ia mendapat kehormatan dan perlakuan yang baik dari ahli Bagdad, dan selain dari gaji tetap yang diterimanya tiap bulan, ia menerima lagi hadiah 300 dinar dari Khalifah sebagai tanda kehormatan. Al Mansur telah meninggalkan buah usahanya dalam ilmu-ilmu astronomi, ilmu hitung dan ilmu tabib. Pun Khalifah yang lain seperti Khalifah Harun Al Rasyid, Al Ma’mun, mementingkan ilmu, Agama dan filsafat.

Dengan jalan begini banyaklah ilmu-ilmu yang berharga, yang hampir lenyap dari muka bumi, kembali terpelihara. Diantara kitab-kitab yang telah dipelajari, diterjemahkan dan dikomentari oleh pujangga Islam dizaman itu, dibawah lindungan Khalifah, antara lain adalah kitab ketatanegaraan dari Plato, kitab-kitab hitung dari Euclydes dan beberapa kitab-kitab astronomi dari Ptolemeus.

Malah diantara kitab-kitab itu yang sampai sekarang tidak bertemu lagi orisinilnya, hanya dapat diketahui dari terjemahan kedalam bahasa Arab, buah tangan pujangga Islam dimasa „zaman terjemah” itu.

Semasa orang di Barat mengharamkan mempergunakan penyelidikan akal, memburu dan membunuh seorang Galileo Galilei, karena ia ini pernah mengatakan bahwa bumi ini berputar, maka pada kerajaan-kerajaan Islam diwaktu itu, orang berkeyakinan bahwa memajukan ilmu dan kebudayaan umumnya, masuk dalam kewajiban pemerintahan. Pemerintah mencari, memanggil dan memperlindungi ahli ilmu dan seni dari segenap pihak dan dari bermacam-macam agama.

Sedang sebagian dari tindakan-tindakan orang agama lain, menjaga agar agama jangan rusak, ialah dengan melarang pemeluknya membaca kitab yang berisi keyakinan lain dan dengan lantas memasukkan kitab-kitab yang berbahaya itu kedalam daftar kitab-kitab yang tak boleh dibaca oleh pemeluknya, sebaliknya Khalifah Islam dizaman keemasan itu memerintahkan untuk menterjemahkan kitab-kitab dari ber-macam- macam agama dan mazhab yang ada pada masa itu, supaya dapat diketahui, dibatia, diperiksa dan diperbincangkan oleh semua ahli akal dari kaum Muslimin.

Berani menempuh ujian, tak enggan menerima kebenaran walaupun datangnya dari pihak lain, tak takut menolak kebatilan sesudah diperiksa dan diselidiki, walaupun berada pada pihak sendiri.

Demikianlah pada permulaan abad ke 8 Masehi, pada waktu bangunnya Kebudayaan Islam itu, orang Islam telah memperlihatkan kemuka bumi, bagaimana mereka telah mempunyai persediaan untuk menerima kebudayaan dari bangsa-bangsa yang terdahulu : Yunani, Persia, Rumawi, India, dan lain-lain; dan bahwa mereka mempunyai kecakapan dalam memperlindungi buah kesusastreraan lama, agar jangan hilang lenyap kedalam lembah kelupaan, hasil-hasil mana tadinya bertebaran kesana-kemari tidak dipedulikan oleh bangsa-bangsa yang telah jatuh dan ahli-ahli warisnya yang telah jatuh kedalam kemunduran dan kerusakan. Semua disimpan dengan maksud akan diberikan dan ditebarkan kembali di dunia Eropah, Afrika Utara dan Asia Barat pada masanya itu. Di tangan Islam, lahirlah kembali kebudayaan-kebudayaan yang hampir hilang dan timbullah satu ruh kebangkitan “renaissance”, yakni 600 tahun lebih dulu dari renaissance di Eropah Barat yang lahir pada abad ke 15 itu.

Apakah usaha kaum Muslimin itu hanya satu-satunya mengumpulkan yang sudah ada, dan menimbulkan apa-apa yang hampir tenggelam saja, atau adakah juga mereka itu mengadakan barang yang belum ada, meminta jalan sendiri dan menjejak yang belum ditempuh?

Jawabnya: Ada! Dan memang ada!

Setelah ulama-ulama Islam membaca dan menelaah kitab-kitab Plato, Socrates, Aristoteles, Ptolemeus dll. mereka sendiri terus membuat syarah (komentar) dan mukhtasarnya atau ringkasannya. Sesudah itu mereka mulai mengarang sendiri dan memperbincangkan masalah itu satu persatu dengan fikiran sendiri, dengan lebih mukhtara’ atau orisinil.

Maka datanglah zaman baru, yakni bukan zaman terjemah lagi, tapi zaman meneruskan penyelidikan yang ada, yang meminta jalan sendiri. Pada zaman yang kedua inilah pujangga Islam memutar otak membanting tulang, berjihad dengan segenap tenaga untuk mendirikan satu gedung kebudayaan yang kokoh, yang akan memberi manfaat yang tidak ternilai kepada dunia.

Zaman ini adalah zaman filosof Islam yang ternama, seperti filosof Ya’kub bin Ishaq bin Sabrah Al Kindi, yang terkenal dengan nama Al Kindi saja. Beliau ahli dalam ilmu tabib, falsafah, astronomi, hitung dan musik. Abu Nasr Al Farabi, ahli mantik, falsafah dan ahli musik dan orang yang pertama kali membahas masalah politik ekonomi, yang orang Barat sekarang menganggap sebagai suatu ilmu yang baru diperhatikan pada abad-abad yang akhir ini.

Zaman Abu ‘Ali Husein bin ‘ Abdullah bin Sina, yang masyhur di Eropah dengan nama Avicienna. Antara lain dari buah tangannya ialah suatu buku-standard yang bernama Asy Syifa, yakni satu Ensiklopedi dalam 19 jilid besar yang sampai sekarang disimpan dalam bibliotek Oxford University.

Zaman inilah zaman Ibn Rusyd, pujangga Islam di Andalusia, zaman Ibn Bajah yang masyhur dengan nama Avenpace, zaman Ibn Maskawaih seorang paedagog yang berjasa, zaman Al Fakhari ahli astronomi yang diakui oleh dunia astronomi sampai sekarang. Abu Al Nafas dan Ibnu Khayam, ahli hitung ternama dalam ald yabar dan trigonometri.

Dalam pekerjaan kita sehari-hari banyak perkataan yang keluar dari mulut dan kedengaran di telinga yang menjadi saksi sampai sekarang akan ketinggian Kebudayaan Islam pada zaman keemasannya itu. Umpamanya perkataan tarif berasal dari tarif, yakni bahasa Arab, wesel berasal dari wasl, perkataan magazine berasal dari makhazin, perkataan duane berasal dari diwan (kantor), cheque berasal dari sakh, dan lain-lain. Semua itu menunjukkan, bahwa dalam abad-keemasan itu Islam memegang peranan dalam dunia dagang yang memperhubungkan semua negeri sekeliling Laut Tengah dan Laut Merah, yakni dari Eropah sampai ke India terus ke Tiongkok dan Rusia (Legacy o f Islam).

Dengan perdagangan yang teratur itu mereka memajukan industri seperti industri gula di India, industri kertas di Damaskus.  Dalam industri itu kaum Muslimin bekerja menyempurnakan yang ada dan merintis jalan baru, umpama membuat bermacam-macam gula (Encylopaedia Britannica art. Sugar) membuat gelas, jam, dan lain-lain

Dalam industri obat-obaan, ahli-ahli kimia Islamlah yang mula-mula membuat bermacam-macam nietrietdan chlorie, umpamanya nietrophydrochloriet. Dokter-dokter Islamlah yang mula-mula memakai chloroform dalam mengobat dan memeriksa orang sakit, yang mula-mula memakai opium pengobat orang gila dan bermacam-macam cara mengobat yang orisinil, yang sampai sekarang masih dilakukan oleh dokter-dokter. Pun kalangan kaum ibu tidaklah ketinggalan menuntut ilmu kedokteran itu dan mengamalkan ilmu itu untuk keselamatan kaum ibu umumnya, umpamanya : Ukhtulhufaid bin Zuhr dan anaknya, yang keduanya menjadi dokter di istana Khalifah di Andalusia, Zainab Thabibah bani Ased, spesialis ilmu mengobat mata. Syahdah Dinuriah dan Binti Dukhain Al Lauzi Damsyiqiyah di Siria.

Sungguh suatu hal yang tidak mungkin kalau kita hendak memberi gambar dari satu kebudayaan yang begitu luas dan dalam, yang telah hidup begitu subur memberi buah yang kekal untuk manusia dari zaman kezaman dengan mengambil tempat dalam 3 atau 4 muka ini saja.

Akan tetapi disini sekedar introduksi, sebagai memanggil perhatian kaum kita, terutama pemuda-pemuda Muslimin yang masih mudabelia dan yang mempunyai ruh dan tenaga-muda, agar ingat bahwa satu tingkat tinggi telah tercapai oleh nenek-nenek mereka yang teguh memegang semua peraturan dan perintah Agama kita, Islam.

Mudah-mudahan kita semua insaf bahwa sesungguhnyalah Agama Islam itu “much more than a system of theology, it is a complete civilisation,” seperti kata Prof. Gibb di atas itu.

Telah ada satu masa, yang negeri-negeri Islam menjadi pusat kebudayaan, menjadi sentral perhatian dunia. Kalau Mekah menjadi pusatnya ibadah, tempat kaum Muslimin naik haji menunaikan rukun Islam mereka, maka Bagdad pernah jadi pusat ilmu pengetahuan, tempat ulama-ulama berkumpul dari segenap penjuru untuk menambah ilmu pengetahuan mereka, yang akan mereka tebarkan di negeri mereka masing-masing. Ibadat dan pengetahuan, kedua-duanya dipentingkan oleh Agama Islam, kedua-duanya dijunjung tinggi dan diamalkan oleh kaum Muslimin dengan ikhlas, terjauh dari pada ria dan tekebur. Sesungguhnya mereka inilah mereka yang menang.

Bilakah kembalinya masa yang demikian wahai Pemuda Islam?

 

Pedoman Masjarakat, Djuni 1936.

Comments are closed.