Nabiel bin Fuad Al Musawa

Islam dan Ploretariat

“Aku berdiri di pintu Jannah, maka aku dapatkan kebanyakan yang memasukinya adalah orang-orang yang miskin…”[1]

Masyarakat proletar adalah masyarakat kelas bawah yang sering dianggap sebagai masyarakat yang tak berdaya bahkan terbuang (marjinal), oleh karenanya masyarakat kelas bawah ini dalam sosiologi masyarakat sering pula disebut sebagaimasyarakat periferi (asal katanya periphery = pinggiran, lawan dari centrum =pusat). Sementara kata proletar dilekatkan pada diri mereka karena ketidakmampuan mereka dalam aspek ekonomi (masyarakat miskin). Dalam ilmu ekologi manusia terdapat sebuah teori bahwa secara alamiah sistem yang lebih mantap akan selalu mengeksploitasi sistem yang kurang mantap. Dengan hukum ini diterangkan bahwa kota akan selalu mengeksploitasi desa, elit yang lebih terdidik dan memiliki akses yang luas akan mengeksploitasi para pengikutnya (lihat Vilfredo Pareto)[2] dan seterusnya. Yang kemudian teori-teori ini dipakai untuk melanggengkan sistem dunia yang bersifat kapitalistik sehingga eksploitasi kapitalis (borjuasi) terhadap kaum tertindas ini pada akhirnya akan menimbulkan revolusi sosialis (demikian menurut Marx).[3]

Lalu bagaimanakah Islam memandang permasalahan ini? Apakah benar bahwa kaum proletar merupakan masyarakat yang terbuang dan tidak pantas bersanding dengan para pemegang kapital? Islam menempatkan kaum proletar dalam kedudukan yang terhormat dalam struktur masyarakatnya, hal ini nampak jelas dari hadits di atas dan hadits-hadits lainnya seperti hadits berikut ini: “Ada seorang laki-laki lewat di depan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu bertanya pada sahabat yang duduk disampingnya: Bagaimana pendapatmu tentang laki-laki yang baru lewat itu? Sahabat menjawab: Orang itu termasuk orang terpandang, akan diterima jika melamar dan jika meminta sesuatu untuk orang lain pasti berhasil. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun diam. Lalu ada lagi seorang yang lewat, lalu beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pun bertanya lagi: Bagaimana pendapatmu tentang orang yang baru lewat ini? Kata para sahabat: Wahai Rasulullah, orang itu termasuk golongan kaum fakir, jika melamar pantas ditolak, jika meminta sesuatu untuk orang lain pasti tak akan berhasil dan jika berbicara tidak akan didengar. Lalu Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Orang yang ini lebih baik sepenuh bumi dari orang yang itu.”[4]

Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah menasihati Abu Bakar ra(sahabatnya yang paling bertaqwa dan paling tinggi kedudukannya disisi Allah Subhanahu wa Ta’ala) karena sahabatnya ini pernah menegur beberapa sahabat yaitu Salman al Farisi, Bilal bin Rabah Al Habsyi, dan Shuhaib bin Sinan Ar Rumy Radhiyallahu ‘Anh (mereka ini para sahabat yang sangat miskin), yaitu ketika mereka (para sahabat yang miskin tersebut) memarahi Abu Sufyan seorang tokoh Quraisy dalam peristiwa Bai’atur Ridhwan. Ketika Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh melaporkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Wahai Abu Bakar, jangan-jangan engkau telah membuat mereka marah? Kalau engkau telah membuat mereka marah, maka sungguh engkau telah membuat Rabb-mu marah. Mendengar hal itu segera Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anh menghampiri mereka dan bertanya: Wahai ikhwati, apakah aku telah membuat kalian marah dengan perkataanku tadi? Maka mereka menjawab: Sama sekali tidak, semoga Allah mengampunimu ya akhi.”[5]

Bahkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri pun pernah ditegur dan diperbaiki Allah Subhanahu wa Ta’ala ketikabeliau lupa dan bersikap kurang baik kepada kelompok masyarakat proletar ini, sebagaimana sabab nuzul turunnya QS ‘Abasa yang berkaitan dengan sikap Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam kepada Abdullah bin Ummi Maktum. Demikian pula ketika Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ingin memindahkan Sa’ad bin abi Waqqash Radhiyallahu ‘Anh, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘Anh dan Bilal Radhiyallahu ‘Anh dari majlisnya karena menghalangi para pembesar Quraisy untuk datang mendengarkan dakwah, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menegur dan melarang Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk melakukan hal  tersebut dengan firman-Nya  dalam QS Al An’am (6: 52): “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang selalu berdoa kepada rabb-mu pagi dan sore hari dengan mengharapkan ridho-nya.”[6]

Demikianlah penghargaan dan perhatian Islam terhadap semua lapisan dalam masyarakat, kelompok yang kaya memiliki hak dan kewajiban, demikian pula kelompok yang proletar; setiap elemen dalam struktur masyarakat mendapatkan perhatian sebaik-baiknya dan diberikan hak serta kewajiban yang sesuai, Islam adalah agama yang adil dan egaliter, yang menempatkan seluruh pranatanya tepat pada tempatnya. Terakhir marilah kita dengarkan taushiyyah (nasihat) terakhir pemimpin kita Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kaum proletar: “Carilah aku diantara orang-orang yang lemah, karena sesungguhnya kalian semua ditolong dan diberi rizqi karena orang-orang yang lemah diantara kalian.”[7]



[1] Hadits Riwayat: 1. Bukhari, XI/361. 2. Muslim, hadits no. 2736.

[2] Talcott Parsons, The Structure of Social Action, Glencoe III, 1949, pp 278; Morris Ginsberg, Reason & Unreason Society, London, 1956, Chapter IV, pp 180-200.

[3] Karl Marx, Manifesto of the Communist Party, 1848.

[4] HR. Bukhari IX/117 dan XI/236.

[5] HR. Muslim, hadits no. 2505.

[6] HR. Muslim, hadits no. 46, dan 2413.

[7] HR. Abu Daud hadits no. 2594 dengan sanad yang jayyid; juga Ahmad V/198; Nasa’i VI/45; Tirmidzi hadits no. 1702 dan di-shahih-kan oleh Ibnu Hibban hadits no. 1620; dan Malik II/106 dan 145 dan disepakati oleh adz-Dzahabi dan berkata Tirmidzi: hasan shahih. Nasa’i juga meriwayatkan dari jalan Thalhah bin Mushrif dari Mush’ab bin Sa’ad dari ayahnya. Hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Bukhari VI/65 secara mursal karena Mush’ab bin Sa’ad adalah tabi’in, dan diriwayatkan oleh Al Hafizh Abu Bakar Al Barqaniy dalam shahih-nya secara muttashil dari Mush’ab dari ayahnya Radhiyallahu ‘Anh.