Muhammad 'Imarah

Islam: Sebuah Sistem Pemikiran

Sistem adalah seperangkat prinsip dan aturan dalam melakukan sesuatu, metode dan tata cara (Collins English Dictionary: 1980). Sedangkan pemikiran adalah suatu upaya mental yang dilakukan oleh manusia untuk menemukan kesimpulan berdasarkan pada premise-premise (Woodworth, Robert, Psycholoy 1971: 615). Maka jika dikatakan bahwa Islam adalah sebuah sistem pemikiran, berarti ia adalah sejumlah prinsip yang mengatur mekanisme berpikir yang diarahkan pada penemuan kesimpulan rasional berdasarkan pada konsep-konsep Islam yang dirumuskan dari premise-premise Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Islam yang diyakini sebagai jalan hidup menuntut agar dipahami secara utuh, Ad Din (Al Baqarah:208). Sebab kesalahpahaman yang sering muncul dalam pengertian kontemporer mengenai Islam disebabkan teratama karena Islam dipahami sebagai agama dalam pengertian yang tidak utuh. Di dunia Barat pada umumnya agama (religion) dikatakan sebagai faith: yaitu keyakinan pribadi yang dapat dilihat dari berbagai bentuk ekspresi. Dengan demikian jika menerima Islam sebagai keyakinan pribadi — yang hanya berkaitan dengan kesalehan individu — berarti telah membatasi wilayah pengaruh dan geraknya hanya pada masalah-masalah ibadah praktis, upacara keagamaan dan ucapan religius yang tidak berdampak pada konsep-konsep pemikiran mengenai wilayah-wilayah lain. Islam lebih dari sekedar agama seperti yang secara ketat dipahami oleh Barat sekuler pada umumnya. Sebab misi utama Islam diantaranya adalah membangkitkan gerakan perubahan sosial dan meluruskan pola pikir umat manusia dengan acuan pandangan dunia tauhid — yaitu menerjemahkan tauhid dalam sikap, perilaku dan pemikiran — dalam rangka menegakkan keadilan di bawah bimbingan Ilahi di muka bumi. Istilah agama dalam konotasi Barat tidak mancakup wilayah dan bidang pengaruh Islam. Inilah sebabnya Islam disebut Ad Din (Ali Imran: 19, 83, Al Mumtahanah: 9 dan sejumlah ayat lainnya), atau jalan hidup, bukan sekedar agama.

Secara etimologis istilah Ad Din dalam Bahasa Arab dipakai untuk memberi empat macam arti (Manzhur, Ibnu, Lisan Al ‘Arab: entry: dana). Pertama, mempunyai arti hak untuk menguasai, mendominasi, memerintah dan menaklukkan. Kedua, memberi arti mirip dengan arti pertama akan tetapi berbeda penekanannya, yaitu patuh, tunduk, pasrah dan merendahkan diri. Ketiga, memberi arti syariah atau rambu-rambu jalan yang harus dipatuhi, hukum, adat istiadat dan kebiasaan. Keempat, memberi arti balasan atas perbuatan, pengadilan, dan perhitungen neraca amal.

Lebih jauh dari analisis leksikografis dan filologis, secara konseptual Ad Din adalah kode dan jalan yang telah dijelaskan oleh AIlah yang mencakup keempat arti literal Ad Din, yaitu siap mengakui kekuasaan Allah sebagai pemegang otoritas mutlak, siap dan pasrah menerima aturan-aturan hukum dan syariah-Nya dan akhirnya menerima dan mengakui bahwa hanya Allah-lah sebagai satu-satunya Hakim kelak di hari pengadilan. Dari sini lalu dapat dimaklumi, mengapa banyak mujaddid Muslim lebih cenderung menggunakan terma Ad Din atau Al Islam seperti Ibnu Badis, Hasan Al Banna, Al Maududi dan lain-lainnya. Al Qur’an sendiri menggunakan terma Ad Din untuk menegaskan pengertian komprehensif yang menunjukkan satu keutuhan sistem hidup yang harus dipegang dalam kehidupan manusia pada setiap masa dan tempat. Dalam Al Qur’an ,  istilah Ad Din juga menunjukkan suatu kemapanan sistem pemikiran, ekonomi, politik, sosial dan moral yang dengan demikian mencakup seluruh aspek kehidupan (Yusuf: 76).

Kata Ad Din — bentuk ma’rifah dengan artikel al — dalam Bahasa Arab menunjukkan jalan hidup tertentu, Al Islam. Sedangkan kata Din — bentuk nakirah tanpa artikel al — menunjukkan satu sistem agama, aturan, atau pemikiran tidak tertentu. Oleh karenanya istilah Ad Din dan Al Islam digunakan dalam satu pengertian, yaitu agama abadi yang telah ada semenjak awal kehidupan manusia di muka bumi.

Pada tingkat kosmologis, Al Qur’an   menyatakan bahwa Al Islam yang berarti menerima dan patuh secara total kepada Allah dan aturan hukum yang telah ia berikan merupakan agama jagad raya (Ali Imran: 83, Al An’aam: 38)

Pada tingkat kehidupan umat manusia Al Qur’an  menjajaki sejarah baru umat manusia sejauh masa Nabi Nuh as menunjukkan bahwa ia dan anak cucunya termasuk Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, Nabi Musa, Nabi Yusuf dan Nabi Isa as mereka semua ialah pembawa risalah Ad Din atau Al Islam. Tidak satu pun diantara mereka yang menyembah selain Allah dan mereka semua disebut Muslim. Secara singkat Al Qur’an menyatakan bahwa menerima Al Islam atau Ad Din sebagai satu cara model hidup: sistem keyakinan, pemikiran, sikap dan perilaku, tidak hanya merupakan fakta kosmologis tetapi sejauh perjalanan umat manusia, para nabi dan rasul-Nya melaksanakan dan mengamalkannya.

Dari sini terdapat tuntutan bahwa jika Islam sebagai jalan hidup — yang bersifat kaffah — maka keislaman seseorang hanya akan dapat diwujudkan ketika kekaffahannya secara integral dan paripurna — direfleksikan tanpa memilah satu aspek dari aspek lainnya — sehingga menjadi manusia sosial yang rabbani: hidup di tengah masyarakat manusia dengan bimbingan Ilahi dalam keyakinan, pemikiran, sikap dan perbuatan. Kekaffahan Islam juga menuntut reorientasi dan restrukturisasi yang berangkat dari landasan pokok sistem Islam yaitu tauhid dalam kehidupan Muslim untuk diterjemahkan dalam kehidupan secara utuh. Sebab interpretasi partikularistik mengenai Islam hanya sekedar sebagai satu keyakinan (faith) tidak akan mampu menjelaskan raison d’etre konflik antara penduduk Makkah dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Seandainya Islam hanyalah sekedar sebagai agama — dalam pengertian sempit — maka masyarakat Quraisy akan dengan mudah menyesuaikan diri dengan Islam. Akan tetapi karena Islam adalah Ad Din, maka ia memberi implikasi suatu revolusi pemikiran di semua aspek kehidupan.

Al Qur’an memperkenalkan terma-terma baru untuk fenomena yang muncul dalam kehidupan manusia di samping juga memperkenalkan nilai, kriteria dan ukuran baru yang menjadi pegangan Muslim. Konsep-konsep baru ini diperkenalkan melalui sumber wahyu dari Yang Maha pandai dan bijaksana dan Rasul-Nya — yang dijadikan oleh Islam — sebagai satu sumber pokok kebenaran. Petunjuk ini dikenal dengan ayat-ayat Qur’aniyyah. Disamping itu –untuk mengemban amanat istikhlaf manusia dari Allah — pada alam jagat raya ini, khususnya alam fisik terkandung petunjuk lain yang merupakan hukum Allah (sunnatullah) yang berlaku dalam bentuk kausalitas fenomena alam agar manusia mempelajari dan mengamati lalu memanfaatkannya. Ketentuan-ketentuan yang berlaku pada alam fisik ini dikenal dengan istilah ayat-ayat afaqiyyah. Kemudian disana juga terdapat ketentuan-ketentuan lain yang bekerja pada diri manusia, termasuk kejiwaannya, yang dikenal dengan istilah ayat-ayat nafsaniyyah (Fushshilat: 53). Sentuhan ketiga ayat ini pada diri Muslim memberi warna sikap dan pandangannya yang unik terhadap hidup dan fenomena sosial sehingga menurunkan sejumlah konsep yang berbeda — bahkan tidak jarang bertentangan — dengan konsep-konsep yang ada. Namun demikian tidak berarti bahwa — selain ketentuan dan prinsip-prinsip dasar ajarannya berupa aqidah — Al Qur’an telah menyajikan “barang jadi” untuk itu semua, melainkan masih harus terus dikaji dan dijadikan acuan ijtihad untuk menghadapi dan meluruskan persoalan-persoalan baru yang terus berkembang menyertai perkembangan zaman.

Musibah intelektual, kultural, ekonomi, sosial dan pendidikan dialami oleh umat Islam khususnya pada abad 18 dan 19 saat mana secara militer kekuatan Barat telah berhasil memperoleh pijakan kaki di hampir seluruh Dunia Islam, sementara kaum orientalis melakukan kajian dan merepresentasikan Islam dan kaun Muslimin sesuai dengan kacamata mereka, dibarengi dengan kegiatan misionarisme dalam rangka memperkokoh kedudukan imperialisme dan penyebaran Kristen di kalangan bangsa Timur Muslim. Di pihak lain, kaum Muslimin mengalami stagnasi pemikiran dan disintegrasi politik yang sangat parah, bahkan semangat interdependensi seakan lenyap akibat pertikaian intern memperebutkan kepentingan masing-masing dan fenomena taqlid dalam pemikiran agama. Kemunduran kekuatan politik Islam periode ini berakibat secara meyakinkan pada kelemahan umat Islam, sehingga budaya asing, nilai-nilainya dan ideologinya dengan mudah mendapat tempat tanpa mendapat filter yang berarti. Perkembangan yang sangat merugikan bagi arah pemikiran Islam ini secara pelan disadari — dengan berpijak pada Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam — oleh para tokoh pergerakan Islam di berbagai negeri untuk melakukan tajdid dan menentang kehadiran Barat — baik pada dataran kultur maupun militer. Jihad dan ijtihad secara bersamaan dilakukan berupa perlawanan militer dibarengi dengan penegasan kembali identitas Islam dengan mengacu pada sumber pokok Islam: Al Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Model pergerakan pemikiran periode sebelumnya pun memberi inspirasi khususnya gerakan tajdid (pembaruan) yang dipimpin lbnu Taimiyah di Syam yang mengkombinasikan antara upaya pemberantasan fenomena taqlid dan sufisme yang mengebiri kreatifitas intelektual dan pada saat yang sama memimpin perlawanan jihad terhadap invasi asing. Begitu pula model gerakan pembaruan yang dipimpin oleh Syah Waliyullah dan Sayyid Ahmad Syahid di Anak Benua India yang membawa bendera kebangkitan Islam dengan jihad dan ijtihad.

Berangkat dari konteks ini, kiranya tidak fair untuk menilai bahwa kebangkitan dan perlawanan Islam adalah suatu gerakan reaksioner yang muncul semata akibat kehadiran imperialisme Barat. Sebab jika ditelusuri secara seksama setiap pergerakan Islam mempunyai akar dan latar belakang sejarah serta merupakan mata rantai pergerakan dalam sejarah. Sejarah umat Islam adalah sejarah perjuangan melawan penyelewengan internal dan tantangan eksternal. Dengan demikian, di balik setiap kemunduran pada dasarnya terdapat benih kebangkitan, sebab Islam sebagai Ad Din — melalui sumber pokoknya yaitu Al Qur’an dan sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam — meletakkan paridigma “what to become”, bukan “what is becoming” (bagaimana seharusnya, bukan menerima sebagaimana adanya). Dengan ungkapan lain bahwa paradigma ini menjadi standar acuan bangunan sistem pemikiran dalam Islam yang menjamin kelangsungan upaya untuk mengembalikan kekuatan, supremasi dan kekuasaan sepanjang masa. Dari sini maka perjalanan pergerakan Islam tidak dapat dibandingkan dengan sejarah peradaban dan kebudayaan bangsa lain manapun yang senantiasa kurang kontinuitasnya serta tidak mempunyai standar jatidiri, sehingga jika terdapat upaya untuk mencari pembagian secara jelas mengenai periode “klasik”, “medieval”, “abad kegelapan”, “renaissance”, “liberal dan humanistic” dan lain sebagainya dalam perjalanan sejarah pemikiran Islam, maka dapat dikatakan ibarat mencari kucing hitam di kamar gelap gulita yang kenyataannya tidak ada. Namun demikian tidak berarti sejarah Islam tidak mengalami proses naik turun yang merupakan sunnatullah dalam sejarah peradaban umat manusia.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah terjemahan dari naskah asli berbahasa Arab berjudul “Ma’rakah Al Mushthalahat baina Al Gharb wa Al Islam”. Tema bahasan buku ini kiranya belum banyak ditulis oleh cendekiawan Muslim sebagai satu kreatifitas intelektual yang mengkritik dan meluruskan tema-tema populer — khususnya yang lahir dan tumbuh dalam peradaban Barat — yang banyak beredar kemudian tidak jarang secara mentah-mentah dipakai oleh kalangan Muslim. Dengan demikian, penerjemahan buku ini ke dalam bahasa Indonesia diharapkan dapat memberi wawasan baru dan sekaligus memberi benang merah pada terminologi-terminologi yang ada antara Barat dan Islam.

Universitas Djuanda, 20 Desember 1997

Mustolah Maufur, M.A.