Hasan Al Banna

Isra’ Mi’raj (1)

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Amma ba’du. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Kita bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang telah memberikan kesempatan berkumpul kepada kita, dalam rangka acara peringatan agung dan tercinta, yaitu peringatan Isra’ Mi’raj. Setiap tahun kita berkumpul di bulan Rajab yang mulia. Ia adalah bulan yang diberkahi, waktu-waktunya merupakan kemuliaan rabbani. Barangsiapa yang berbuat baik, maka Allah akan menambah kebaikannya di dalamnya, dan barangsiapa yang berbuat jahat, maka Allah akan membukakan pintu ampunan untuknya pada bulan yang diberkahi ini.

Di sini saya tidak akan membahas kisah Isra’ dan Mi’raj secara mendetail, karena Anda semua tentu sudah mendengar dan membacanya. Tetapi kita akan mengadakan ulasan singkat saja. Isra’ adalah perjalanan yang dilaksanakan Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, sedangkan Mi’raj adalah perjalanan samawiah yang dilaksanakan oleh beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam dari Masjidil Aqsha ke langit paling tinggi.

Kedua perjalanan ini dilaksanakan dalam satu malam dan dilaksanakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam sebagai manusia secara utuh. Kisah ini telah disinggung oleh Al-Qur’an dalam surat Al-Isra’. Ada orang bersikap ragu terhadap kisah Isra’ dan bertanya, “Apakah kisah tersebut sesuai dengan hukum-hukum Allah yang berlaku bagi makhluknya? Mungkinkah manusia yang komposisinya terdiri dari daging dan darah serta membutuhkan elemen-elemen material, dapat naik ke langit, padahal kita mengetahui bahwa di tempat tertentu terdapat ruang hampa udara dan pada titik ketinggian tertentu sudah tidak terdapat oksigen?”

Saya pernah mengatakan kepada mereka, “Ini adalah kekuasaan Allah yang meliputi segala sesuatu. Ia merupakan hal yang mungkin dan tidak mustahil dalam logika kekuasaan Allah. Tetapi, perlu saya tanyakan juga, apakah kalian mengetahui seluruh ilmu Allah yang telah lalu maupun yang akan datang?”

Ikhwan sekalian, pada kenyataannya, ilmu modern telah menyingkap rahasia itu dan bahwa manusia mempunyai unsur lain selain unsur materi, yaitu unsur kejiwaan, yang disebut sebagai alam ruh atau alam kejiwaan. Sekalipun ilmu pengetahuan belum mampu menyingkap hakikat alam ini, tetapi ia telah sampai pada pengetahuan bahwa ruh dapat menguasai badan sehingga dapat menguasai, membatasi, dan menundukkannya kepada hukum-hukumnya, bukan kepada hukum-hukum materi. Sebenarnya, beberapa kejadian bisa membuktikan hal ini. Ada sebagian penganut sufi di India yang mampu menguasai badannya dengan kekuatan ruhnya serta bertahan selama satu pekan. Kita juga mengenal adanya hipnotis, yang menjadikan ruh menguasai badan, sehingga ia berubah menjadi mata yang melihat.

Yang terjadi dalam kisah Isra’ Mi’raj adalah, bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengaruniakan kepada Nabi-Nya yang mulia ini kekuatan ruhani yang besar, sehingga menguasai badannya. Ini bukan berarti bahwa beliau diisra’kan dengan badan tanpa ruh, tetapi diisra’kan dengan ruh dan jasad.

Sebagian orang bertanya-tanya, “Apakah hikmah Isra’ Mi’raj?” Saya berkeyakinan bahwa Isra’ Mi’raj adalah materi dasar dalam kurikulum pendidikan Ilahi. Sebab Allah subhanahu wa ta’ala telah menyiapkan Rasul-Nya yang mulia agar menjadi penghulu para pendidik dan para pengajar. Maka beliau harus mempunyai kedudukan ilmu yang melebihi kedudukan-kedudukan yang dimiliki oleh manusia lainnya. Karena itu, Allah mengelilingkannya di seluruh langit agar keimanan beliau merupakan keimanan yang berdasarkan penyaksian dan penglihatan, tidak sekedar keimanan yang berdasarkan pada keyakinan dan teori.

Ada hikmah lain yang mengandung nilai ketinggian dan kemuliaan. Allah subhanahu wa ta’ala telah mewajibkan shalat kepada kaum muslimin pada malam Isra’ Mi’raj. Allah tidak menghendaki kewajiban ini diperintahkan melalui wahyu sebagaimana halnya kewajiban-kewajiban lain, tetapi Dia mengundang Nabi-Nya yang mulia agar beliau menjelaskan kepada manusia bahwa shalat mempunyai nilai yang tinggi dan agung serta merupakan materi dasar dalam kurikulum pendidikan Islam. Shalat adalah kebersihan, keaktifan, kesehatan, ilmu, dan akhlak.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.