Hasan Al Banna

Isra’ Mi’raj (2)

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Amma ba’du. Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Saya kira, Anda semua telah mengetahui bahwa Hadits Tsulatsa kali ini mengambil tema Isra’ Mi’raj. Tema ini dibahas oleh para Ikhwan bukan sebagai kisah semata, tetapi di satu sisi sebagai pelajaran dan di sisi yang lain sebagai pemacu amal. Sebagai kisah, cukuplah kita mendapatkan informasi yang dibawa oleh Al-Qur’anul Karim, “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”(QS. Al-Isra’: 1 )

Ayat ini mengandung keterangan mengenai Isra’. Di antara makna yang dikandungnya, ayat ini menyebut Masjidil Aqsha, padahal bila ditinjau dari definisi masjid saat itu, ia belum merupakan sebuah masjid, melainkan sekedar tempat ibadah. Sebutan masjid yang digunakan oleh Allah dapat menjadi pemicu bagi kaum muslimin untuk masjid ini, menguasai tanah yang diberkahi ini, memperjuangkannya, dan menjaganya jangan sampai lepas dari tangan mereka. Ini juga merupakan isyarat bahwa ia kelak menjadi masjid dan ia akan tetap demikian, sekalipun orang-orang kafir membencinya. Semoga Allah memberikan pahala kebaikan kepada tamu Mesir yang agung, Samahah Mufti Akbar yang telah berulang kali mempertaruhkan darahnya agar Masjidil Aqsha ini tetap merupakan masjid. Orang-orang Yahudi pernah menawari beliau tebusan sebesar satu juta pound agar memberikan konsesi dengan menyerahkan tiga belas meter tanah di Masjidil Aqsha. Beliau menjawab dengan keimanan mendalam, “Demi Allah, andaikata kalian mampu mengumpulkan seluruh harta orang-orang Yahudi di dunia, niscaya aku tidak akan menyerahkan kepada kalian walaupun hanya setengah meter.” Kenyataannya, merupakan salah satu mukjizat Islam dan sebab terjaganya Masjidil Aqsha, karena Allah memudahkan orang-orang semacam Samahah Mufti untuk mengambil sikap agung ini.

Sebagaimana telah menyinggung tentang peristiwa Isra’, Allah juga menyinggung tentang peristiwa Mi’raj, di dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. (Yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan)Tuhannya yang paling besar.” (QS. An-Najm: 13-18)

Yang penting kita perhatikan tentang Isra’ dan Mi’raj adalah banyak manusia menganggap bahwa Isra’ dan Mi’raj merupakan peristiwa yang bertentangan dengan hukum-hukum alam, karena perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain dengan jarak seperti ini merupakan hal yang mustahil berdasarkan kebiasaan. Duhai, masih cukup baik jika mereka berhenti sampai pada batas ini, namun ternyata lebih dari itu. Mereka berkata, “Beliau dinaikkan ke langit, lantas bagaimana beliau bernapas?” Selama masa yang panjang mereka masih ragu terhadap peristiwa ini.

Para salaf pendahulu kita mempunyai jawaban atas pertanyaan ini. Dan jawaban mereka tetap sama yaitu, “Sesungguhnya peristiwa ini adalah mukjizat yang berlangsung di luar kebiasaan. Kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala bisa mewujudkan hal-hal semacam itu, dan itu merupakan sunah-sunah yang dikenal di kalangan orang-orang yang beriman.”

“Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kalian (berbuat durhaka) terhadap Tuhan kalian Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kalian lalu menyempurnakan kejadian kalian dan menjadikan (susunan tubuh) kalian seimbang. Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuh kalian.” (QS. Al-lnfithar: 6-8)

Bahkan, kita katakan kepada orang-orang yang ragu tersebut, “Mari berpikir sejenak! Apakah kalian telah mengetahui seluruh hukum yang berlaku di alam semesta? Anda sendiri mengakui bahwa Anda belum mengetahui seluruh kekuatan yang tersimpan di alam semesta dan tidak mengetahui secara menyeluruh tentang hukum-hukum alam. Karena itu, anggap saja ini sebagai suatu hal yang belum Anda ketahui ilmunya dan belum sampai kepada akal pikiran Anda.

“Dan tidaklah kalian diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (QS. Al-Isra’: 85)

Andaikata Anda memperhatikan sejarah penemuan-penemuan ilmiah, niscaya Anda ingat bagaimana setiap penemuan disikapi dengan penolakan dan pengingkaran. Kemudian akal manusia tunduk mengikuti hukum realitas setelah sebelumnya mengingkari dan menolak.

Kita juga mengatakan kepada mereka, “Ilmu empirik yang Anda andalkan telah membuktikan bahwa kekuatan psikis bisa mempengaruhi jasad fisik, sehingga bisa memindahkannya dari satu tempat ke tempat lain dan mengangkatnya dari permukaan tanah. Jika manusia dengan kekuatan psikisnya mampu melakukan keajaiban-keajaiban itu, maka mustahilkah bagi Allah untuk memberikan kekuatan jiwa kepada Nabi-Nya, yang menguasai badan beliau yang mulia, sehingga badan tersebut berubah menjadi ruh murni, dan badan ruhani ini menembus materi tersebut, karena ia telah keluar dari ruang lingkup materi kepada ruang lingkup ruhani.” Semoga Allah merahmati Asy-Syauqi yang mengatakan, ‘Dengan keduanya beliau diisra’kan Ruh, ruhani, dan cahaya.’

Mereka mengatakan, “Sesungguhnya Musa alayhissalaam setelah selesai dari masa berbicara dengan Allah Yang Mahatinggi, bisa mendengar rayapan semut dari jarak empat farsakh.” Maka, bagaimana pula menurut Anda jika hal itu dalam keadaan tajalli. Bagaimana pula dengan Rasul shalallahu ‘alayhi wa sallam sedangkan Allah subhanahu wa ta’ala telah bertajalli terhadap beliau dengan keruhanian yang sempurna. Mustahilkah bagi beliau untuk menembus batas-batas materi. Jadi pada malam tersebut, ruh adalah yang berkuasa atas hakikat fisik.

Ada satu kajian lain yang penting bagi kita, yaitu hikmah Isra’ dan Mi’raj. Sebagian orang bertanya, “Apa hikmah Isra’ Mi’raj?” Menjawab pertanyaan ini, para Salaf pendahulu kita berkata, “Allah berkehendak untuk memuliakan Nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam, karena itu Allah memanggil beliau dan membukakan di hadapannya kerajaan langit dan bumi.”

Jika Sang Raja dari semua raja memberi. Jangan sekali-kali kamu bertanya tentang sebabnya.’

Kita katakan, “Isra’ Mi’raj merupakan keharusan demi pembentukan kepribadian beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam. Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah mengutus beliau sebagai penghulu bagi seluruh orang yang beriman dan guru dari segala guru. Allah telah menjadikan beliau sebagai mata air jernih dan pemancar cahaya, yaitu cahaya ilmu dan petunjuk, untuk segenap makhluk.

Beliau adalah dinamo yang akan memberikan energi untuk dunia secara keseluruhan, maka harus diisi dengan sebanyak mungkin ilmu dan iman. Sedangkan ilmu dan iman yang paling kuat adalah apabila muncul dari kesaksian. Karena itu, Allah memperlihatkan kepada beliau kerajaan langit dan bumi, agar beliau termasuk dalam golongan orang-orang yang yakin, sehingga iman beliau adalah iman berdasarkan kesaksian dan ilmu beliau adalah ilmu yang berdasarkan keyakinan pula.

“Dan karena Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.” (QS. An-Nisa’: 113)

Jika Allah telah memperlihatkan kerajaan langit dan bumi kepada Ibrahim, maka Allah subhanahu wa ta’ala pun memperlihatkan kepada nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam kerajaan langit dan bumi tersebut, agar beliau menjadi salah seorang yang yakin, dengan bentuk yang lebih nyata dan lebih sempurna daripada yang dilihat oleh Ibrahim. Karena beliau adalah penutup para nabi dan sumber petunjuk bagi seluruh manusia.

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqan: 1)

Ini yang pertama.

Yang kedua, dalam perjalanan ini, telah diwajibkan shalat. Itu sebagai pernyataan mengenai keagungan kedudukan shalat. Allah subhanahu wa ta’ala hendak menyadarkan beliau mengenai ketinggian nilai shalat, karena itu Allah memerintahkannya langsung dari langit, agar menjadi pemakluman mengenai kuat dan agungnya keutamaan kewajiban ini dan agar manusia melihat ketinggian nilainya. Barangsiapa yang telah menegakkan kewajiban ini, berarti ia telah menegakkan agama.

Ada hikmah ketiga, yaitu sebagai pelajaran. Allah subhanahu wa ta’ala seolah-olah mengatakan kepada umat ini, “Wahai umat Islam, yang Nabinya dikehendaki oleh Allah untuk menyaksikan semua alam ini sebagai penghormatan baginya, janganlah kalian menjadi ekor bagi umat lain, jangan menerima kehinaan, tetapi hendaklah kalian merasa tinggi, dan janganlah kalian berprasangka bahwa meneladani Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam itu hanya untuk satu aspek dengan mengabaikan aspek lain, tetapi meneladani beliau harus dalam seluruh aspek.”

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasul Allah itu suri teladan yang baik bagimu.(QS. Al-Ahzab: 21)

Kita hanya memohon kepada Allah agar mengembalikan kemuliaan dan kejayaan untuk umat ini, karena Dia adalah semulia-mulia Dzat yang dimohon dan seutama-utama Dzat yang diminta.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.