Ahmad Sarwat

Istilah dalam Fiqih: Istilah Fiqih Madzhab

D. Istilah Fiqih Madzhab

Setiap madzhab fiqh memiliki istilah khusus yang digunakan dalam menjelaskan sebuah hukum. Terkadang sebuah istilah sebuah madzhab memiliki pengertian sama dengan madzhab lain.

1. Istilah dalam madzhab Hanafi

  • Zhahir Ar Riwayah: pendapat yang paling rajih (kuat) dari tiga imam utama dalam madzhab Hanafi yaitu Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad Asy Syaibani.
  • Al Imam: yang dimaksud adalah Imam Abu Hanifah. Dan istilah lainnya tentang penyebutan ulama mereka antara lain:
  • Asy Syaikhani: dua guru, Abu Hanifah dan Imam Abu Yusuf .
  • Ath Tharfani: Abu Hanifah dan Imam Muhammad Asy Syaibani.
  • Ash Shahibani: Abu Yusuf dan Muhammad Asy Syaibani.
  • Ash Ashabuna: Abu Hanifah, Abu Yusuf dan Muhammad Asy Syaibani.
  • Al Masyayikh: guru-guru di madzhab Hanafi yang tidak berjumpa dengan Abu Hanifah.
  • Yufti qath’an: pendapat yang menjadi fatwa secara pasti yaitu pendapat yang kesepakatan antara tiga Imam. Dalam masalah peradilan, kesaksian dan ilmu waris, perkataan Abu Yusuf diutamakan karena ia memiliki kelebihan dalam praktek. Sementara dalam masalah dzawil arham (kerabat yang tidak mendapatkan warisan tetap, diutamakan pendapat Imam Muhammad Asy Syaibani.
  • Idza lam yujad riwayat lilimam fil mas’alah: (jika dalam suatu masalah tidak ada riwayat pendapat dari Abu Hanifah): maka madzhab Hanafi menggunakan fatwa Imam Abu Yusuf kemudian dengan perkataan Muhammad Asy Syaibani, kemudian Zufar, kemudian Hasan bin Ziyad.
  • Idza kana fil mas’alah qiyas was istihsan: jika dalam masalah ada pendapat menggunakan qiyas dan istihsan maka yang diutamakan dalam madzhab Hanafi adalah yang menggunakan istihsan.
  • Al mutun: yang dimaksud adalah isi pendapat dari buku madzhab Hanafi yang utama: seperti Mukhtasar Al Quduri, Al Bidayah, An Niqayah, Al Wiqayah, Al Mukhtar, Al Kanz, Al Multaqa. Jika ada dua pendapat dalam satu masalah, satu disebut tashih dan satu lagi fatwa maka pendapat yang diutamakan dikembalikan kepada al mutun.
  • La yajuzul amal bidhaif minariw ayah: tidak boleh beramal dengan riwayat yang lemah dari pendapat dalam satu riwayat madzhab Hanafi meski untuk dirinya sendiri. Imam Abu Hanifah sendiri pernah mengatakan,”Jika suatu hadits shahih maka ia adalah mazdhabku,” bahkan dari sejumlah imam lain juga mengatakan demikian. Namun demikian dalam madzhab Hanafi boleh memberikan fatwa dengan riwayat lemah boleh jika darurat untuk memudahkan manusia.
  • Al Hukmul Mulaffaq (beramal dengan talfiq; beramal dalam satu masalah yang memiliki bagian-bagian yang antara madzhab satu dengan madzhab lain berbeda pendapat dan ia beramal dengan satu bagian mengikut Hanafi dan bagian lainnya Maliki, misalnya) hal seperti ini batil menurut Hanafi. Seperti orang yang shalat dhuhur mengusap sebagian kepala dalam wudhu maka ia tidak boleh membatalkan shalatnya karena memiliki keyakinan wajibnya mengusap semua kepala dalam wudhu karena mengikut pendapat Maliki.

2. Istilah dalam Mazdhab Maliki

Ada sejumlah istilah yang ada dalam madzhab Maliki:

Dalam madzhab Maliki seorang mufti (madzhab) memberikan fatwa dengan pendapat yang kuat dalam suatu masalah. Sementara yang bukan mufti yang belum memenuhi syarat mujtahid harus mengambil pendapat yang disepakati di antara madzhab atau mengambil pendapat yang paling dikenal atau yang dikuatkan (tarjih) oleh ulama madzhab pendahulunya.

Sebagian Malikiyah merunut pendapat-pendapat yang terkuat sampai pendapat di bawahnya antara riwayat-riwayat yang ada. Perkataan Imam Malik dalam kitab “Al Mudawwanah” lebih kuat dari pada pendapat Ibnul Qasim di dalam kitab ini, dan perkataan Ibnu Qasim lebih kuat dibanding dengan perkataan lainnya di dalamnya karena beliau adalah orang yang paling tahu dengan madzhab Malikiyah.

Jika disebutkan Al Madzhab adalah madzhab Malik.

3. Istilah Madzhab Syafi’i

Jika dalam Syafi’i adalah dua riwayat pendapat maka seorang mufti madzhab harus menggunakan tarjih ulama madzhab Syafi’i yang awal-awal. Jika ia tidak menemukan maka ia harus tawaqquf (diam). Kemudian ia harus mengutamakan yang disahkan oleh ulama madzhab yang paling banyak (mayoritas) , kemudian yang disahkan oleh yang paling mengetahui tentang madzhab, kemudian paling wara’, jika tidak ada maka ia mengutamakan yang diriwayatkan oleh Al Buwaithi, Ar Rabi’, Al Maradi (686h), Al Muzani.

Sementara An Nawawi (Abu Zakariyah Yahya Ibnu Syaraf An Nawawi), penulis kitab Al Majmu’ Syarah Al Muhazzab, adalah ulama yang menyaring pendapat-pendapat madzhab dan yang memberikan penjelasan antara yang rajih dan tidak.

  • Al Azhhar yang paling kuat dari pendapat-pendapat di madzhab Syafi’i.
  • Al Mashyhur pendapat yang paling terkenal (diikuti lebih banyak orang) dalam madzhab Syafi’i.
  • Al Ashah yang paling sah dari perkataan Syafi’i berdasarkan dasar-dasar madzhabnya.
  • Al Jadid pendapat baru Imam Syafi’i ketika berada di Mesir baik dalam karangan atau fatwa.
  • Al Qadiim pendapat lama Imam Syafi’i ketika berada di Irak baik dalam karangannya “Al Hujjah.” yang diamalkan adalah yang madzhab jadid kecuali beberapa masalah saja. Ibnu Hajar mengatakan, tidak boleh talfiq dalam satu masalah seperti seseorang bertaqlid dengan Maliki dalam masalah sucinya anjing dan mengikut Syafi’i dalam mengusap sebagian kepala dalam wudhu untuk melakukan melakukan satu shalat.

4. Istilah Madzhab Hanbali

Pendapat dan riwayat yang ada dalam madzhab Hanbali sangat banyak. Ini disebabkan karena kemungkinan melihat kembali status kesahihan hadits setelah sebuah pendapat difatawahkan dengan dasar ra’yu, atau karena perbedaan sahabat yang terbagi menjadi dua dalam satu masalah atau karena perbedaan situasi realitas.

Madzhab Hanbali berbeda pendapat tentang cara mentarjih (menguatkan satu pendapat dari pendapat berbeda):

Harus diperhatikan penukilan perkataan-perkataan yang ada karena itu bukti kesempurnaan agama.

Kecenderungan untuk menyatukan pendapat Imam Hanbali dengan mentarjih dengan sejarah jika diketahui sejarah perkataan itu atau dengan menimbang antara dua pendapat dan mengambil yang paling kuat dalilnya dan lebih dekat dengan logika Imam Hanbali dan kaidah madzhabnya.

  • Asy Syaikh: guru, jika disebutkan kata ini maka yang dimaksud adalah Ibnu Taimiyah (Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad Taqiyyuddin Ibnu Taimiyah Al Harani) wafat 751 H. Jika sebelum masa Ibnu Taimiyah maka yang dimaksud Asy Syaikh adalah Ibnu Qudamah Al Maqdisi (620 h). Jika disebutkan Asy Syaikhani maka yang dimaksud adalah Ibnu Qudamah dan Majduddin Abu Barakat.
  • Asy Syarih yang dimaksud adalah Syamsuddin Abu Faraj Abdur Rahman ibnu Syaikh Abi Umar Al Maqdisi (682 H).
  • Al Qadhi: hakim, yang dimaksud adalah Al Qadhi Abu Ya’la Muhammad bin Al Husain bin Al Farra’ (458).
  • Abu Bakr yang dimaksud adalah Al Marrudzi (274 H) murid Imam Ahmad.
  • Wa ‘Anhu:darinya, yang dimaksud adalah Imam Ahmad.

One thought on “Istilah dalam Fiqih: Istilah Fiqih Madzhab”

  1. saya inggin mengetahui istilah as-sani dan as-silis dalam mazhab hanafi.. karna saya masih dalam tahap pembelajaran.. saya harap kepada guru guru besar agar menjelaskan untuk penambahan ilmu saya.. makasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>