Abbas Hasan As Sisi

Kami Telah Memuliakan Manusia

Setiap manusia adalah makhluk Allah yang harus diperlakukan secara terhomat, karena begitulah Allah menciptakan, seperti dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Al Isra’: 70)

Allah memberi rezeki kepada hamba-Nya bukan dalam rangka mengagungkan keberadaannya juga bukan mengurangi kedudukannya, akan tetapi, “Allah hendak menguji sebagian kamu dengan seba-gian yang lain.” (Muhammad: 4)

Maka ada yang menjadi menteri ada juga yang menjadi pengawal Semuanya dimudahkan sesuai dengan takdir-Nya. Akan tetapi kalangan bawah (miskin) merasa dirinya tidak berharga, sehingga mereka hidup terisolir dari masyarakat dan terpinggirkan secara mental. Begitulah biasanya masyarakat memperlakukan mereka.

Di suatu majlis saya pernah ditanya seorang ikhwah, yang ingin terlibat dalam da’wah fardiyah, tetapi dia tidak memiliki pengalaman dan sarana pendukung untuk itu.

Saya tanya tentang pekerjaannya sekarang, ia menjawab, “Saya seorang pegawai negeri di sebuah kantor distribusi pupuk, Departemen Pertanian.”

Saya katakan, “Sesungguhnya itu adalah pekerjaan yang strategis, karena Anda diperlukan oleh banyak petani. Bagaimana Anda melayani setiap petani yang datang?”

“Dia menghadap saya dengan menyerahkan formulir pengambilan, lalu saya serahkan bagiannya. Selesai urusan, kemudian pergilah ia!” jawabnya.

Saya katakan, “Bila Anda ingin jadi da’i, maka Anda harus menyambutnya dengan penuh kerinduan untuk dapat bertemu lagi. Anda layani mereka dengan penuh keikhlasan. Usahakan untuk berkenalan dengannya, jabat tangannya erat-erat, dan antarlah kepergiannya dengan ungkapan yang baik. Lakukanlah hal itu kepada setiap orang yang datang kepada Anda. Bila Anda ber-temu di tengah jalan, maka dahuluilah dengan salam dan jabat tangannya serta tanyakan keadaannya, dan seterus-nya. Hal ini berlaku untuk setiap orang yang Anda kenal dari mereka. Dan satu lagi, setelah itu Anda harus datang ke rumah saya, agar saya merasa tenang dengan upaya Anda dalam masalah ini.”

Beberapa bulan kemudian, ia datang mengunjungi saya dengan penuh kegembiraan, seraya berkata, “Allah telah memberi taufiq kepadaku. Ketika saya lewat di suatu jalan, tiba-tiba saya menjumpai banyak orang sedang berdiri untuk memben hormat kepadaku, bahkan mengajakku mampir ke rumahnya. Semua menyambutku dan memohon agar saya dapat berkum-pul bersama mereka.”

Saya katakan kepadanya, “Inilah awal perjalanan… maka istiqamahlah!”