Category Archives: Aqidah

Fir'adi Nasruddin

Amalan-amalan Yang Tidak Disyari’atkan pada Bulan Rajab

Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ngada perkara baru dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” Muttafaq alaih.

Dalam redaksi Imam Muslim, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Saudaraku,

Kita telah berada di salah satu bulan haram, yakni Rajab. Adapun bulan-bulan haram adalah Rajab, Syawal, Dzul-Qa’dah dan Dzul-Hijjah. Mengenai maksud daripada bulan haram, Ibnul Jauzi dalam kitabnya ‘Zadul Masir’ ketika menafsirkan surat At-Taubah ayat: 36 mengutip perkataan al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna:

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”

Di bulan haram, sangat baik untuk mengukir amal shalih dan memperbuat amal kebajikan.

Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaif Al Ma’arif mengutip perkataan Ibnu ‘Abbas, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, karena melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya lebih besar yang akan ditanggung oleh pelakunya, dan amalan shaleh yang dilakukannya akan menuai pahala yang lebih banyak.”

Karena pada bulan haram itu adalah waktu istimewa untuk melakukan amalan ketaatan, sehingga para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”

Saudaraku,

Namun yang harus kita waspadai, jangan karena semangat ibadah kita yang menggebu-gebu mengukir ketaatan di bulan ini, menyebabkan kita melakukan amalan yang tidak dituntunkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Amalan yang sangat popular di bulan Rajab yang biasa dilakukan oleh masyarakat muslim adalah shalat Raghaaib.

Shalat Raghaaib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Raghaaib (hari kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Jumlah raka’at shalat Raghaaib adalah 12 raka’at. Di setiap raka’at dianjurkan membaca al-Fatihah sekali, surat al-Qadr 3 kali, surat al-Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebanyak 70 kali.

Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaaib adalah dosa orang yang melakukannya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 orang dari kerabatnya. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Raghaaib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Maudhu’aat (kitab hadits-hadits palsu).

Ibnul Jauzi rahimahullah pengarang kitab tersebut mengatakan, “Sungguh, orang yang telah membuat bid’ah dengan membawakan hadits palsu ini sehingga menjadi motivator bagi orang-orang untuk melakukan shalat Raghaaib dengan sebelumnya melakukan puasa, padahal siang harinya pasti terasa begitu panas. Namun ketika berbuka mereka tidak mampu mengkonsumsi makanansecukupnya. Setelah itu mereka harus melaksanakan shalat Maghrib lalu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Raghaaib. Padahal dalam shalat Raghaaib, bacaan tasbihnya begitu lama, begitu pula dengan sujudnya. Sungguh orang-orang begitu susah ketika itu. Sesungguhnya aku melihat mereka di bulan Ramadhan dan tatkala mereka melaksanakan shalat Tarawih, tidak bersemangat seperti saat mereka melaksanakan shalat ini?! Namun shalat ini di kalangan masyarakat umum (awam) begitu urgen, sehingga orang yang biasa tidak hadir shalat Jama’ah pun ikut melaksanakannya.”

Saudaraku,

Berkata Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah, “(Shalat Raghaaib) yang dikhususkan pelaksanaannya pada bulan Rajab adalah tidak benar, karena hadits-hadits yang menunjukan keutamaan shalat raghaaib pada malam Jum’at pertama bulan Rajab adalah dusta dan bathil, maka shalat ini adalah bid’ah menurut jumhur (mayoritas) ‘ulama. Fenomena ini pertama muncul sesudah abad ke 4 (empat) hijriyah, oleh karenanya umat Islam pada generasi awal (para sahabat) belum mengetahui dan belum membicarakannya.” (Dari kitab Latha’if al-Ma’arif, karya Ibnu Rajab rahimahullah).

Dalam kitab al-Bida’ al-Hauliyah, karya Abdullah Abdul Aziz at-Tuwaijiri disebutkan, ‘Shalat Raghaaib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis, setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya.

Ath Thurthusi mengatakan, “Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalat ini. Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan salafush shalih.”

Saudaraku,

Termasuk perbuatan bid’ah di bulan Rajab adalah mengkhususkan puasa sunnah satu bulan penuh atau sebagiannya.

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa berkata, “Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, berlandaskan hadits yang seluruhnya lemah (dha’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah melihat ada orang yang (berniat) puasa sebulan penuh di bulan Rajab, maka Umar memaksa orang tersebut untuk makan (tidak berpuasa), lalu ia menegaskan, “Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dinyatakan sanadnya shahih oleh Syeikh al-Bani dalam kitab ‘Irwa’ul Ghalil).

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengatakan, “Tidak pernah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa (sunnah) dalam satu bulan yang lebih banyak daripada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh. (Muttafaq alaih).

Dari hadits Aisyah ini teranglah di hadapan kita bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah berpuasa sunnah sebulan penuh. Hanya saja di bulan Sya’ban, beliau menambah kwantitas puasa sunnahnya sehingga dikatakan istri beliau (‘Aisyah), ‘hampir mendekati puasa sebulan penuh’ karena hanya satu atau dua hari saja yang beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban. Apalagi di bulan lainnya, termasuk Rajab.

Saudaraku,

Kesimpulannya, berpuasa sunnah dengan sempurna di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga kriteria berikut, sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah Abdul Aziz at-Tuwaijiri, dalam kitabnya ‘al-Bida’ al-Hauliyah’:

  1. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
  2. Jika dianggap bahwa puasa sunnah di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi SAW, sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib).
  3. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih besar daripada puasa di bulan-bulan lainnya.

Saudaraku,

Mengkhususkan umrah di bulan Rajab, juga termasuk perbuatan bid’ah. Di mana orang yang melakukannya berkeyakinan bahwa umrah di bulan ini memiliki keutamaan istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Tidak ada riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menunjukan bahwa beliau melaksanakan umrah pada bulan ini. Oleh karena itu tidak ada keutamaan umrah di bulan Rajab dibandingkan dengan umrah pada bulan-bulan lainnya seperti yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin.

Ibnul Qayyim dalam kitabnya ‘Zadul Ma’ad’ menjelaskan bahwa riwayat yang benar adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan umrah 4 kali (empat) dalam hidup beliau dan kesemuanya dilakukan pada bulan Dzul-Qa’dah terkecuali umrah yang dilakukan beliau bersama dengan hajinya (haji Wada’); (yakni di bulan Dzul-Hijjah). Keempat umrah yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lakukan adalah:

  1. Umrah Hudaibiyah pada tahun 6 H yang ditahan (tidak diizinkan) oleh kaum musyrikin.
  2. Umrah qadha’ pada tahun sesudahnya (7 H).
  3. Umrah yang beliau lakukan dari Ju’ranah pada peristiwa fathu Mekkah (pembebasan kota Mekkah) tahun 8 H.
  4. Umrah yang beliau tunaikan bersama dengan hajinya (haji Wada’ tahun 10 H) .

Saudaraku,

Itulah beberapa amalan bid’ah yang popular dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Mudah-mudahan kita terhindar dari segala warna bid’ah dalam ibadah.

Karena bid’ah akan membuat amalan yang telah kita tunaikan dengan susah payah menjadi fatamorgana, hilang dan tertolak.

Bukan hanya itu saja, amalan bid’ah akan melemparkan kita ke dalam neraka, karena amalan bid’ah adalah sesat sebagaimana yang pernah disinggung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Yang lebih fatal lagi, jika amalan bid’ah diyakini sebagai amalan sunnah seperti yang sering kita saksikan dari sebagian kaum muslimin. Wallahu a’lam bishawab.

Daejeon, Korea Selatan
07 Mei 2014
Abu Ja’far

Maulana Muhammad Asri Yusoff

Syi’ah dan Al Qur’an

  1. Orang yang mendakwa telah mengumpulkan Al Qur’an dengan lengkap adalah pembohong besar. Al Qur’an sebagaimana yang telah diturunkan oleh Allah hanya dikumpul dan disimpan oleh Ali bin Abi Thalib dan imam-imam selepasnya. (Al Kulaini, Al Kafi, jilid 1, halaman 228)
  2. Al Kulaini meriwayatkan lagi di dalam Al Kafinya, bahwa Abu Husain Musa ‘Alaihis Salam menulis surat kepada Ali bin Suwaid ketika beliau berada di dalam penjara; “Janganlah kamu  mencari agama orang yang bukan dari kalangan Syi’ahmu. Janganlah sekali-kali kamu suka kepada agama mereka karena mereka adalah pengkhianat. Mereka telah mengkhianati Allah dan rasul-Nya dan telah mengkhianati amanah yang telah diserahkan kepada mereka. Tahukah kamu apakah pengkhianatan yang telah dilakukan terhadap amanah yang diserahkan itu? Mereka telah diamanahkan supaya menjaga kitab Allah (Al Qur’an) tetapi mereka telah memesongkannya dan menukargantikan isinya.” (Ar Raudhah Min Al Kafi jilid ,halaman 125)
  3. Al Kulaini menyebutkan lagi di dalam Al Kafi-nya bahwa Hisyam bin Salim meriwayatkan dari Abi Abdillah (Ja’far Ash Shadiq) bahwa beliau berkata: “Sesungguhnya Al Quran yang diturunkan oleh Jibril ‘Alaihis Salam kepada Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengandungi sebanyak 17,000 ayat.” ‘Allamah Khalil Al Qazwini di dalam Ash Shafi Syarah Usul Al Kafi, Bab Kelebihan Al Quran (jilid 6, halaman 75), menghuraikan kata-kata Ja’far Ash Shadiq yang tersebut di atas begini; “Kata-kata beliau itu bermaksud bahwa sebagian besar Al Qur’an yang asal (yang dibawakan oleh Jibril ‘Alaihis Salam) telah digugur atau dihilangkan. Di dalam nasakh Al Quran yang wujud dan masyhur di kalangan orang banyak hari ini tidak terdapat ayat-ayat yang digugur dan dibuang itu.”
  4. Kamaluddin Maitsam Al Bahrani menulis tentang pengumpulan Al Quran oleh Sayidina Utsman Radhiyallahu ‘Anh. bahwa; “Beliau telah menyatukan orang banyak di atas qira’at Zaid bin Tsabit saja dan membakar semua mushaf-mushaf yang lain. Beliau telah membatalkan (membuang) ayat-ayat yang tidak syak lagi merupakan sebagian daripada Al Qur’an.” (Maitsam Al  Bahrani, Syarah Nahjul Balaghah, jilid 11, halaman 1)
  5. Diriwayatkan dari Buraid Al Ijli dari Abi Abdillah (Ja’far Ash Shadiq ‘Alaihis Salam) katanya: “Allah telah menurunkan nama 7 orang dengan jelas di dalam Al Qur’an tetapi orang-orang Quraisy telah menghapuskan nama 6 daripada mereka dan meninggalkan nama Abu Lahab saja.” (Syaikh At Ta’ifah Al Imamiyah Abu Ja’far At Thusi, Ikhtiar Ma’rifati Ar Rijal, jilid 3, halaman 290)

Mirza Husain Muhammad Taqiy At Thabarsi An Nuri menulis di dalam kitabnya “Fashlul Khitab”; “Dalil yang ke-12 ialah riwayat imam-imam ma’shum berhubung dengan tempat-tempat tertentu di dalam Al Quran yang menunjukkan telah berlaku pengubahan dan tukar ganti pada kalimah-kalimah, ayat-ayat dari surah-surah Al Qur’an yang ada hari ini. Pengubahan dan tukar ganti seperti ini telah berlaku dengan banyak sekali sehingga Sayid Nikmatullah Al Jaza’iri di dalam beberapa karangannya berkata: “Hadits-hadits daripada Imam-Imam Ahlul Bait yang menunjukkan adanya tukar ganti di dalam Al Qur’an, melebihi 2,000.”

Segolongan tokoh ulama kita seperti Syaikh Mufid, Muhaqqiq Ad Damad, ‘Allamah Al Majlisi, dan lain-lain mendakwa hadits-hadits ini sampai ke peringkat mustafidh dan masyhur. Syaikh Ath Thusi juga dengan jelas menulis di dalam bukunya At Tibyan tentang perkara ini, “Malah ada segolongan ulama kita seperti yang akan disebutkan nanti, telah mendakwa mutawatirnya hadits-hadits yang menunjukkan perkara ini.” (Ath Thabarsi, Fashlul Khitab, halaman 251) Ath Thabarsi ialah seorang tokoh Syi’ah yang mu`tabar dan diakui ketokohannya oleh ulama-ulama Syi’ah yang lain seperti Agha Buzrug At Tehrani, Syaikh Abbas Al Qummi, dan lain-lain.

Sayyid Sabiq

Qadar: Arti Memberi Petunjuk dan Menyesatkan

Mungkin ada juga orang yang mengajukan pertanyaan : “ Di dalam Al-Qur’an terdapat firman Allah:

“Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki, dan memberi petunjuk siapa yang dikehendakiNya.” (QS 16: 93)

Allah menyesatkan orang yang dikehendakiNya untuk disesatkan dan memberi petunjuk orang yang dikehendakiNya untuk diberi petunjuk. Apabila Allah menyesatkan dan memberi petunjuk maka hamba tidak mempunyai kebebasan untuk memilih.

Pertanyaan diatas dapat kami jawab sebagai berikut:

Memberi petunjuk dan menyesatkan itu sebenarnya hanyalah merupakan hasil atau akibat dari hal-hal yang mendahuluinya (kesimpulan dari mukaddimah-mukaddimahnya) dan sebagai musabab dari sebab-sebabnya.

Sebagaimana makanan dapat mengenyangkan, air dapat menyegarkan, pisau dapat memutus dan api dapat membakar, maka demikian pula halnya dalam persoalan di atas, ada sebab-sebab yang mengakibatkan seseorang memperoleh petunjuk, dan ada sebab-sebab yang mengakibatkan seseorang tersesat.

Petunjuk hanyalah merupakan buah dari amal shaleh.

Tersesat hanyalah merupakan akibat dari amal yang buruk.

Perbuatan memberi petunjuk dan menyesatkan dinisbatkan kepada Allah Yang Maha Suci itu adalah karena dilihat dari segi Dia lah yang membuat aturan tata tertib sebab dan musabab atau sebab akibat, bukan karena Allah memaksa manusia untuk tersesat atau tidak.

Bila kita mau merujuk firman-firman Allah dari ayat-ayat al-Qur’an maka kita akan menemukan pengertian dan pemahaman ini dengan jelas dan terang, tanpa adanya kesamaan sedikitpun.

Mari kita perhatikan firman-firman Allah berikut ini:

“Dia memberi petunjuk kepada siapa yang bertaubat kepadaNya.” (QS 13:27)

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh dalam (mencari ridha) Kami, maka benar-benar Kami akan menunjuki mereka ke jalan Kami.” (QS 29:69)

“Orang-orang yang menerima petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (QS 47:17)

Berdasarkan ayat-ayat di atas, petunjuk Allah yang diberikan kepada manusia dalam arti belas-kasihanNya kepada mereka dan menolong mereka untuk mengerjakan amal shaleh, itu hanyalah merupakan hasil perjuangan menghadapi nafsunya, buah usahanya untuk kembali kepada Allah, dan buah keteguhannya memegang petunjuk dan wahyuNya.

Mengenai “penyesatan”, dalam Al-Qur’an Allah berfirman sebagai berikut:

“Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan oleh Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberiNya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS 2:26-27)

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu ke dalam kehidupan dunia dan akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zhalim dan Allah memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS 14:27)

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang sombong dan sewenang-wenang.” (QS 40:35)

“Maka tatakala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS 61:5)

“Sekali-kali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (QS 83:14)

“Bahkan sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebagian kecil dari mereka.” (QS 4:155)

Dari ayat-ayat tersebut kita dapat melihat bahwa sebab disesatkan adalah karena berpaling (dari kebenaran) dan keluar dari ajaran-ajaran Allah, sombong, sewenang-wenang da merasa diri lebih tinggi atas manusia, melanggar janji Allah, memutuskan apa yang diperintahkan oleh Allah untuk disambung, menyambung apa yang diperintahkan oleh Allah untuk diputus, membuat kerusakan di bumi, kufur dan mengerjakan perbuatan-perbuatan dosa.

Ini semua adalah hal-hal yang menyebabkan manusia tersesat, dan keluar dari jalan yang benar, sebab mereka lebih mengutamakan kebutaan daripada petunjuk, lebih menyukai kegelapan daripada cahaya. Maka Allah membalas mereka dengan balasan yang setimpal, membuat mereka tuli, dan membutakan pandangan mereka sesuai aturan dan undang-undangNya mengenai hubungan sebab-akibat.

Hal ini dan yang serupa dengannya banyak sekali terdapat di dalam Al-Qur’an, di antaranya firman Allah:

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat dari lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS 7:179)

Mereka ini adalah orang-orang yang mengabaikan perangkat-perangkat ilmu dan pengetahuan, mereka tidak mau memanfaatkannya sebagaimana fungsi yang sebenarnya. Oleh karena itu cahaya kebenaran tidak dapat masuk sehingga tidak sampai kepadanya.

Hati mereka tertutup tidak dapat memikirkan wahyu Allah, mata mereka buta tidak dapat melihat kerajaan Allah, dan telinga mereka tuli tidak dapat mendengarkan ayatayat Allah. Maka mereka bagaikan binatang ternak yang tidak mempergunakan dan memanfaatkan indera-inderanya baik yang lahir maupun yang batin. Bahkan mereka lebih sesat dari binatang ternak, karena binatang ternak memang tidak dibekali dengan potensi yang diberikan kepada manusia berupa kekuatan jiwa, akal pikiran dan ruhani.