Category Archives: Aqidah

Fahmi Salim

Surat Maryam 33 Bukan Dalil Bolehnya Ucapan Natal

Setiap menjelang Natal tentu akan selalu muncul perdebatan soal hukum mengucapkan selamat Natal kepada saudara kita sebangsa yang beragama kristiani. Bahkan beberapa kalangan di Indonesia membolehkan mengucapkan selamat Natal dengan dalih, bahwa ucapan selamat Natal juga dapat ditemui dalam Al-Quran surah Maryam:33.Pendapat seperti ini perlu dkritisi lebih lanjut.

Pertama, redaksi wassalamu yang dinisbahkan kepada nabi Isa ini diucapkan beliau sendiri ketika ibunda Maryam bint Imran dipojokkan dan dituduh para pemuka agama Yahudi bahwa Isa yang baru saja dilahirkan adalah hasil perzinahan. Maryam kemudian menunjuk Isa yang merupakan mukjizat dari Allah swt untuk menepis tuduhan murahan itu (ayat 28-33). Yang perlu dicatat juga bahwa sebelumnya redaksi seperti ini ditujukan pula kepada nabi Yahya as. dengan redaksi wasalamun (ayat 13).

Para ulama menyatakan bahwa jenis redaksi seperti ini (salaam) sering diungkapkan pada saat dan situasi seorang hamba Allah dalam kondisi sangat lemah, tidak kuasa atas makar dan sangat membutuhkan pertolongan dan bantuan-Nya (lihat, Tafsir al-Muharrar al-Wajiz; Ibnu ‘Athiyyah dikutip oleh al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani vol 9 juz 16 hal.107).Karena keduanya, baik Yahya maupun Isa sama-sama dikejar dan ditindas Bani Israil, Yahya berhasil mereka bunuh sementara Isa diselamatkan Allah dan diangkat ke langit.Belum lagi peristiwa kelahirannya mengundang curiga luar biasa. Sehingga wajar keduanya menggunakan redaksi Salaam.

Dengan perbandingan dua situasi ini pula Imam Hasan al-Bisri meriwayatkan dialog antara Isa dengan Yahya yang suatu saat keduanya bertemu, sebagaimana layaknya ikhwah fillah. Yahya bilang kepada Isa: “Akhi doakan saya ya sebab engkau lebih mulia dari aku”, Isa balas menjawab: “Akhi justru anda yang harus mendoakan saya, andalah yang lebih mulia dari saya sebab Allah yang menjamin keselamatan untuk anda (menunjuk redaksi wasalamun alayhi, ayat 13) sedangkan sayalah yang menyatakan keselamatan atas diri saya sendiri bukan Allah yang menjaminnya (menunjuk redaksi wassalamu alayya, ayat 33)”.

Kedua, secara literal dan sepintas redaksi wassalamu diartikan dengan ucapan selamat, bahwa ucapan selamat Natal sudah dicontohkan sendiri oleh nabi Isa as.Dengan asumsi ketika mengucapkannya kita berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang nabi dan hamba Allah, meskipun pihak nasrani yang menerima ucapan itu memaknainya lain dengan persepsi kita. Dalam ilmu bahasa Arab, jenis itu diistilahkan dengan ‘Badi’ at-Tawriyyah’, atau bisa juga disebut al-Iihaam, yaitu penyebutan lafaz yang mengandung dua arti. (lihat al-Qazwini dalam al-Idhah fi ‘ilm al-Balaghah, hlm.331).Sehingga ada Ahli tafsir yang berdalil dengan hadis Abu Talhah bersama istrinya yang menyembunyikan kabar kematian anaknya dengan pengucapan “qad hada’at nafsuh wa arju an yakuna qad istaraha”(tubuh si anak telah tenang tertidur, aku berharap ia bisa istirahat). Riwayat itu bisa kita baca dalam Shahih al-Bukhari, vol.1/438, juga di kitab Riyadh al-Shalihin karya Imam an-Nawawi, hal.19-20. Saya rutin mengajarkan kitab itu kepada jamaah pengajian. Beberapa pekan lalu saya ajarkan hadis ini kepada jamaah rutin malam kamis.

Jika kita telusuri beberapa kitab tafsir otoritatif ternyata bukan seperti itu yang dimaksudkan rangkaian ayat ini. Justru dengan pengakuan tersebut Isa as telah menetapkan bahwa dirinya hanya sebagai hamba yang menyembah Allah swt semata, dia juga sebagaimana makhluk Allah lainnya dilahirkan (hidup), mengalami kematian dan dibangkitkan kembali pada hari pembalasan.Hanya saja beliau akan memperoleh keselamatan sebagaimana para nabi dan rasul lainnya pada hari pembalasan yang keseluruhan manusia sangat sulit untuk memperoleh keselamatan hisab pada hari itu. (lihat Tafsir Ibnu Katsir, juz 3 hal.117-118)

Demikian pula, berdalil dengan hadis Abu Talhah yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik untuk memperbolehkan ucapan selamat Natal oleh muslim kepada orang Kristen; dengan persepsi yang berbeda dengan persepsi kristen, maka perlu ditinjau kembali. Karena apa yang terjadi pada Abu Talhah tidaklah berkaitan dengan permasalahan akidah. Perkataan tersebut tidak merusak agama dan akidah. Tindakan istri Abu Talhah bermaksud menenangkan hati suaminya yang baru datang dari luar rumah. Sikap itu diambil untuk menjaga keharmonisan, dan agar suami tidak terlalu bersedih karena kematian anaknya. Adapun ucapan selamat Natal dari seorang muslim kepada Kristen merupakan permasalahan yang berkaitan dengan agama dan akidah. Ucapan itu bisa merusak akidah, meskipun tidak otomatis menyebabkan seorang muslim keluar dari Islam. Sementara kita diperintahkan untuk menjaga agama sebagai urutan tertinggi dalam maqashid syari’ah (lihat al-Syathibi dalam kitab al-Muwafaqat, vol.2, hal.8-9). Tidak diragukan lagi, menjaga agama merupakan suatu kewajiban, dan merusak agama adalah suatu keharaman.

Seperti dimaklumi, pengucapan selamat Natal adalah penghormatan keagamaan dan bisa merusak akidah. Sedangkan ucapan ‘tawriyyah’ istri Abu Talhah kepada suaminya adalah persoalan muamalah duniawi. Sehingga penganalogian ucapan selamat Natal dengan ucapan istri Abu Talhah adalah merupakan analogi terhadap dua konteks yang berbeda, atau al-Qiyas ma’a al-Fariq yang itu tidak sah atau batil menurut para ulama. Oleh karena itu argumentasi ahli tafsir tersebut menjadi gugur. (lihat Prof. Ali Mustofa Yakub, Toleransi Antar Umat Beragama, hlm.38)

Ketiga, sesuai konteks rangkaian ayat di atas dan korelasinya dengan rangkaian ayat selanjutnya (ayat 34-37) jelas sekali menolak persepsi kaum Nasrani yang mengangkat Isa al-Masih sebagai anak Tuhan yang patut diselamati.

Terjemahannya sebagai berikut: 34. Itulah Isa putera Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. 35. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia 36. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.37. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar

Rangkaian ayat ini justru menepis kebolehan mengucapkan selamat Natal, seperti diyakini orang Nasrani, karena rangkaian ayat yang sebelum ini menjelaskan secara gamblang peristiwa kelahiran Isa dari rahim Maryam ibunya yang dirasa sangat tidak mungkin ia kemudian dinobatkan menjadi anak Tuhan. Isa sesungguhnya adalah anak manusia biasa yang dilahirkan melalui “proses yang diluar kebiasaan”. Isyarat itu terungkap dari ayat 35 surah Maryam. (lihat Fi Zhilal al-Qur’an, juz 4 hal.2308)

Keempat, sesuai analisa bahasa dan sastra Arab, fungsi definitif dari ‘al’ pada kata assalamu adalah untuk semua jenis keselamatan (al lil jinsi). Maka jika digabungkan dengan konteks rangkaian ayat ini untuk pengingkaran dan penolakan akidah Nasrani, maka ia lebih merupakan sindiran (ta’ridl) untuk melaknat kaum Yahudi atas tuduhan zina kepada Maryam, dan juga kepada kaum Nasrani yang menjadikannya juru selamat. Seakan ayat ini memberi pesan bahwa Isa menyatakan semua keselamatan hanya untuk dirinya dan azab lah yang akan ditimpakan kepada para penentangnya.

Fungsi kebahasaan seperti ini sudah berlaku umum dan menjadi ‘urf pemakaian al-Quran, surah Thaha ayat 48 misalnya menyatakan:“wassalamu ala man ittaba’alhuda”, selain makna aslinya ia juga mengandung pesan yang tidak diungkapkan bahwa azab lah yang akan didapat bagi orang yang mendustakan dan berpaling dari petunjuk itu. (lihat al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani, Opcit hal.131). Jadi saya tidak bisa mengerti hingga detik ini, mengapa orang Kristen perlu kita beri ucapan selamat, sementara al-Qur’an sendiri menyindir dan melaknat mereka karena persoalan Natal al-Masih.

Sebagai catatan akhir, para ulama menganggap hari raya non Muslim, bukan termasuk hari raya yang baik dan mendatangkan kebaikan bagi umat Islam. Dalam konteks ini al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi berkata dalam kitabnya al-Amru bil-Ittiba’ wa al-Nahyu ‘ani al-Ibtida’ sebagai berikut:

ومن البدع والمنكرات مشابهة الكفار وموافقتهم في أعيادهم ومواسمهم الملعونة كما يفعله كثير من جهلة المسلمين من مشاركة النصارى وموافقتهم فيما يفعلونه في خميس البيض الذي هو اكبر اعياد النصارى (الحافظ جلال الدين السيوطي، الأمر بالاتباع والنهي عن الابتداع ص 141).

“Termasuk diantara bid’ah dan kemunkaran adalah menyerupai orang-orang kafir dan menyetujui mereka dalam selebrasi hari raya mereka dan acara-acara mereka yang dilaknat Allah. Seperti yang latah dikerjakan oleh orang-orang bodoh umat Islam dalam ikut serta dan menyetujui apa yang mereka rayakan”. (hlm.141)

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka selayaknya ucapan selamat Natal dihukumi haram dan harus dihindari oleh umat Islam. Dalam konteks ini, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah al-Hanbali berkata:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه … وإن بلي الرجل بذلك فتعاطاه دفعا لشر يتوقعه منهم فمشى إليهم ولم يقل إلا خيرا ودعا لهم بالتوفيق والتسديد فلا بأس بذلك وبالله التوفيق. (ابن قيم الجوزية، أحكام أهل الذمة 1/442).

“Adapun ucapan selamat dengan simbol-simbol yang khusus dengan kekufuran maka adalah haram berdasarkan kesepakatan ulama, seperti mengucapkan selamat kepada kafir dzimmi dengan hari raya dan puasa mereka. Misalnya ia mengatakan, hari raya berkah buat Anda, atau Anda selamat dengan hari raya ini dan semisalnya. Ini jika yang mengucapkan selamat dari kekufuran, maka ia termasuk perbuatan haram. Ucapan tersebut sama dengan ucapan selamat kepada orang yang bersujud kepada salib. Bahkan demikian ini lebih agung dosanya menurut Allah dan lebih dimurkai daripada ucapan selamat atas minum khamr, membunuh seseorang, perbuatan zina yang haram dan semisalnya. Apabila seseorang memang diuji dengan demikian, lalu melakukannya agar terhindar dari keburukan yang dikhawatirkan dari mereka, lalu ia datang kepada mereka dan tidak mengucapkan kecuali kata-kata baik dan mendoakan mereka agar memperoleh taufiq dan jalan benar, maka hal itu tidak lah apa-apa.” (lihat Ibnu Qayyimil Jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, juz 1 hal. 442).

Jika ada orang berkata, tidak apa-apa mengucapkan selamat natal, dengan tujuan selamat atas lahirnya Nabi Isa ‘alaihissalam? Ucapan orang ini perlu dipertanyakan. Kepada siapa Anda memberikan fatwa tersebut? Kepada orang yang bershalawat kepada Nabi Muhammad shalllallahu ‘alaihi wasallam dan nabi-nabi lainnya yang diucapkan di rumahnya dan bukan pada hari natal 25 desember? Secara jujur saja, kepada siapa dia mengucapkan selamat natal? Apakah kepada Isa ‘alaihissalam, secara khusus, tanpa diucapkan kepada non-Muslim? Atau selamat natal diucapkan kepada non-Muslim pada hari raya mereka?

Kesimpulan: Pernyataan di atas menyimpulkan bahwa ucapan selamat Natal, hukumnya haram dilakukan oleh seorang Muslim, karena termasuk mengagungkan simbol-simbol kekufuran menurut agamanya. Dan upaya untuk mengaitkan kebolehannya dengan konteks ayat 33 surah Maryam telah gugurkarenatidakrelevansama sekali.

Walhamdu li-Llaahi Rabb al-‘Alamin

Maulana Muhammad Asri Yusoff

Syi’ah dan Shahabat

Jika Rafidhah memaki, mengutuk, dan mengkafirkan para Shahabat termasuk Sayidina Abu Bakar, Umar, dan Shahabat-Shahabat besar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lain dan berlepas diri dari mereka semua, maka Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah tidak berbeda daripada pemahaman Rafidhah itu karena kitab-kitab mereka yang mu`tabar penuh dengan caci maki dan riwayat-riwayat yang mengkafirkan para Shahabat termasuk Shahabat besar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Di sini saya akan mengemukakan beberapa contoh dari kitab-kitab mereka sendiri.

Sebelum itu, perlulah diketahui bahwa perselisihan pendapat ulama hanya berlaku berhubung dengan kafir atau tidaknya orang yang mencaci dan memburuk-burukkan para Shahabat tetapi mereka tidak berselisih pendapat tentang kafirnya orang yang mengkafirkan para Shahabat agung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seperti Sayidina Abu Bakar, Umar, Abdul Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan lain-lain. Tetapi Syi’ah di dalam kitab-kitab mereka jelas telah mengkafirkan para Shahabat, termasuk Shahabat agung Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tersebut tadi. Menafikan perkara ini sama seperti menafikan siang pada waktu matahari berada di tengah langit atau perkara ini hanya dapat dinafikan oleh orang-orang yang buta mata hatinya seperti mana tidak bergunanya cahaya matahari yang terang benderang itu kepada orang yang buta matanya. Di sini saya akan kemukakan beberapa contoh dari kitab Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah sendiri bahwa mereka mengatakan Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah murtad sepeninggalan Baginda. Pendapat mereka ini tidak berbeda dari dahulu sampai sekarang.

  1. Ath Thusi meriwayatkan di dalam Rijal Al Kasyi bahwa Abu Ja’far (Muhammad Al Baqir) berkata bahwa para Shahabat telah murtad setelah kewafatan Rasulullah kecuali Miqdad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifari, dan Salman Al Farisi. (Rijal Al Kasyi, jilid 1 halaman 6)
  2. Ath Thusi meriwayatkan lagi dari Humran katanya: “Aku berkata kepada Abu Ja’far: “Alangkah sedikitnya bilangan orang-orang kita sehingga kalau kita berkumpul untuk merebahkan seekor biri-biri pun tidak akan dapat.” Humran berkata: “Maka Abu Ja’far berkata: “Maukah aku ceritakan perkara yang lebih aneh dari itu?” Humran berkata: “Ya.” Maka Abu Ja’far berkata: “Orang-orang Muhajirin dan Ansar telah pergi (murtad) kecuali tiga (dan beliau pun mengisyaratkan dengan tangannya).” (Ibid)
  3. Diriwayatkan dari Abi Ja’far ‘Alaihis Salam: “Anak-anak Ya’qub bukan nabi, tetapi mereka adalah asbath kepada anak-anak Nabi. Mereka tidak meninggalkan dunia melainkan dalam keadaan bagia. Mereka telah bertaubat dan menyesal di atas apa yang mereka lakukan, tetapi Abu Bakar dan Umar telah meninggal dunia dalam keadaan tidak bertaubat dan tidak menyesali apa yang telah dilakukannya terhadap Amirul Mu’minin Ali ‘Alaihis Salam. Mereka berdua dilaknat oleh Allah, para malaikat dan manusia seluruhnya.” (Al Kulaini, Ar Raudhah Min Al Kafi, jilid 8, halaman 246)
  4. Diriwayatkan daripada Abi Ja’far ‘Alaihis Salam Kata beliau: “Para Shahabat telah murtad sepeninggalan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kecuali tiga orang daripada mereka.” Perawi bertanya: “Siapakah yang tiga itu?” Abi Ja’far menjawab: “Miqdad bin Aswad, Abu Dzar Al Ghifari, dan Salman Al Farisi.” (Ibid, halaman 245)
  5. Ayatullah Al ’Uzhma Sayid Murtadha Al Husaini Al Fairuzabadi di dalam kitabnya As Sab’ah Min As Salaf telah mengkafirkan Abu Bakar, Umar, Utsman, Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah Al Jarrah, Mu’awiyah, Abu Sa’id Al Khudri, Bara’ bin ‘Azib ,dan lain-lain. (Lihat halaman 29,32,71,78,81,85, 107,120 dan 211)
  6. Ayatullah Al Uzhma Khumaini di dalam kitabnya Kasyfu Al Asrar telah mengkafirkan Sayidina Umar.(Lihat halaman 137 dan 176, edisi Arab dan halaman 119 dan 153 edisi Farsi) Beliau menganggap Abu Bakar dan Umar jahil tentang hukum Allah dan mereka menjadikannya sebagai bahan permainan kanak-kanak. (Halaman 110-111, edisi Farsi) Beliau juga menuduh Abu Bakar dan Umar mereka-reka hadits atas nama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (Halaman 131 dan 138 edisi Arab 114 dan 120 edisi Farsi)
Fir'adi Nasruddin

Amalan-amalan Yang Tidak Disyari’atkan pada Bulan Rajab

Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang mengada-ngada perkara baru dalam urusan (agama) kami ini, sesuatu yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” Muttafaq alaih.

Dalam redaksi Imam Muslim, “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.”

Saudaraku,

Kita telah berada di salah satu bulan haram, yakni Rajab. Adapun bulan-bulan haram adalah Rajab, Syawal, Dzul-Qa’dah dan Dzul-Hijjah. Mengenai maksud daripada bulan haram, Ibnul Jauzi dalam kitabnya ‘Zadul Masir’ ketika menafsirkan surat At-Taubah ayat: 36 mengutip perkataan al-Qadhi Abu Ya’la rahimahullah mengatakan, “Dinamakan bulan haram karena dua makna:

Pertama, pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyah pun meyakini demikian.

Kedua, pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan tersebut. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.”

Di bulan haram, sangat baik untuk mengukir amal shalih dan memperbuat amal kebajikan.

Ibnu Rajab dalam kitabnya Lathaif Al Ma’arif mengutip perkataan Ibnu ‘Abbas, “Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, karena melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya lebih besar yang akan ditanggung oleh pelakunya, dan amalan shaleh yang dilakukannya akan menuai pahala yang lebih banyak.”

Karena pada bulan haram itu adalah waktu istimewa untuk melakukan amalan ketaatan, sehingga para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats-Tsauri mengatakan, “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”

Saudaraku,

Namun yang harus kita waspadai, jangan karena semangat ibadah kita yang menggebu-gebu mengukir ketaatan di bulan ini, menyebabkan kita melakukan amalan yang tidak dituntunkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Amalan yang sangat popular di bulan Rajab yang biasa dilakukan oleh masyarakat muslim adalah shalat Raghaaib.

Shalat Raghaaib atau biasa juga disebut dengan shalat Rajab adalah shalat yang dilakukan di malam Jum’at pertama bulan Rajab antara shalat Maghrib dan Isya. Di siang harinya sebelum pelaksanaan shalat Raghaaib (hari kamis pertama bulan Rajab) dianjurkan untuk melaksanakan puasa sunnah. Jumlah raka’at shalat Raghaaib adalah 12 raka’at. Di setiap raka’at dianjurkan membaca al-Fatihah sekali, surat al-Qadr 3 kali, surat al-Ikhlash 12 kali. Kemudian setelah pelaksanaan shalat tersebut dianjurkan untuk membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebanyak 70 kali.

Di antara keutamaan yang disebutkan pada hadits yang menjelaskan tata cara shalat Raghaaib adalah dosa orang yang melakukannya walaupun sebanyak buih di lautan akan diampuni dan bisa memberi syafa’at untuk 700 orang dari kerabatnya. Namun hadits yang menerangkan tata cara shalat Raghaaib dan keutamaannya adalah hadits maudhu’ (palsu). Ibnul Jauzi meriwayatkan hadits ini dalam Al Maudhu’aat (kitab hadits-hadits palsu).

Ibnul Jauzi rahimahullah pengarang kitab tersebut mengatakan, “Sungguh, orang yang telah membuat bid’ah dengan membawakan hadits palsu ini sehingga menjadi motivator bagi orang-orang untuk melakukan shalat Raghaaib dengan sebelumnya melakukan puasa, padahal siang harinya pasti terasa begitu panas. Namun ketika berbuka mereka tidak mampu mengkonsumsi makanansecukupnya. Setelah itu mereka harus melaksanakan shalat Maghrib lalu dilanjutkan dengan melaksanakan shalat Raghaaib. Padahal dalam shalat Raghaaib, bacaan tasbihnya begitu lama, begitu pula dengan sujudnya. Sungguh orang-orang begitu susah ketika itu. Sesungguhnya aku melihat mereka di bulan Ramadhan dan tatkala mereka melaksanakan shalat Tarawih, tidak bersemangat seperti saat mereka melaksanakan shalat ini?! Namun shalat ini di kalangan masyarakat umum (awam) begitu urgen, sehingga orang yang biasa tidak hadir shalat Jama’ah pun ikut melaksanakannya.”

Saudaraku,

Berkata Hafidz Ibnu Rajab rahimahullah, “(Shalat Raghaaib) yang dikhususkan pelaksanaannya pada bulan Rajab adalah tidak benar, karena hadits-hadits yang menunjukan keutamaan shalat raghaaib pada malam Jum’at pertama bulan Rajab adalah dusta dan bathil, maka shalat ini adalah bid’ah menurut jumhur (mayoritas) ‘ulama. Fenomena ini pertama muncul sesudah abad ke 4 (empat) hijriyah, oleh karenanya umat Islam pada generasi awal (para sahabat) belum mengetahui dan belum membicarakannya.” (Dari kitab Latha’if al-Ma’arif, karya Ibnu Rajab rahimahullah).

Dalam kitab al-Bida’ al-Hauliyah, karya Abdullah Abdul Aziz at-Tuwaijiri disebutkan, ‘Shalat Raghaaib ini pertama kali dilaksanakan di Baitul Maqdis, setelah 480 Hijriyah dan tidak ada seorang pun yang pernah melakukan shalat ini sebelumnya.

Ath Thurthusi mengatakan, “Tidak ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melakukan shalat ini. Shalat ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tabi’in, dan salafush shalih.”

Saudaraku,

Termasuk perbuatan bid’ah di bulan Rajab adalah mengkhususkan puasa sunnah satu bulan penuh atau sebagiannya.

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya Majmu’ al-Fatawa berkata, “Adapun melakukan puasa khusus di bulan Rajab, berlandaskan hadits yang seluruhnya lemah (dha’if) bahkan maudhu’ (palsu). Para ulama tidaklah pernah menjadikan hadits-hadits ini sebagai sandaran. Bahkan hadits-hadits yang menjelaskan keutamaannya adalah hadits yang maudhu’ (palsu) dan dusta.”

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu pernah melihat ada orang yang (berniat) puasa sebulan penuh di bulan Rajab, maka Umar memaksa orang tersebut untuk makan (tidak berpuasa), lalu ia menegaskan, “Janganlah engkau menyamakan puasa di bulan ini (bulan Rajab) dengan bulan Ramadhan.” (Riwayat ini dinyatakan sanadnya shahih oleh Syeikh al-Bani dalam kitab ‘Irwa’ul Ghalil).

‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengatakan, “Tidak pernah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berpuasa (sunnah) dalam satu bulan yang lebih banyak daripada puasa bulan Sya’ban. Terkadang hampir beliau berpuasa Sya’ban sebulan penuh. (Muttafaq alaih).

Dari hadits Aisyah ini teranglah di hadapan kita bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah berpuasa sunnah sebulan penuh. Hanya saja di bulan Sya’ban, beliau menambah kwantitas puasa sunnahnya sehingga dikatakan istri beliau (‘Aisyah), ‘hampir mendekati puasa sebulan penuh’ karena hanya satu atau dua hari saja yang beliau tidak berpuasa di bulan Sya’ban. Apalagi di bulan lainnya, termasuk Rajab.

Saudaraku,

Kesimpulannya, berpuasa sunnah dengan sempurna di bulan Rajab itu terlarang jika memenuhi tiga kriteria berikut, sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah Abdul Aziz at-Tuwaijiri, dalam kitabnya ‘al-Bida’ al-Hauliyah’:

  1. Jika dikhususkan berpuasa penuh pada bulan tersebut, tidak seperti bulan lainnya sehingga orang-orang awam dapat menganggapnya sama seperti puasa Ramadhan.
  2. Jika dianggap bahwa puasa sunnah di bulan tersebut adalah puasa yang dikhususkan oleh Nabi SAW, sebagaimana sunnah rawatib (sunnah yang mengiringi amalan yang wajib).
  3. Jika dianggap bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan pahala yang lebih besar daripada puasa di bulan-bulan lainnya.

Saudaraku,

Mengkhususkan umrah di bulan Rajab, juga termasuk perbuatan bid’ah. Di mana orang yang melakukannya berkeyakinan bahwa umrah di bulan ini memiliki keutamaan istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Tidak ada riwayat dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menunjukan bahwa beliau melaksanakan umrah pada bulan ini. Oleh karena itu tidak ada keutamaan umrah di bulan Rajab dibandingkan dengan umrah pada bulan-bulan lainnya seperti yang dipahami oleh sebagian kaum muslimin.

Ibnul Qayyim dalam kitabnya ‘Zadul Ma’ad’ menjelaskan bahwa riwayat yang benar adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melaksanakan umrah 4 kali (empat) dalam hidup beliau dan kesemuanya dilakukan pada bulan Dzul-Qa’dah terkecuali umrah yang dilakukan beliau bersama dengan hajinya (haji Wada’); (yakni di bulan Dzul-Hijjah). Keempat umrah yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lakukan adalah:

  1. Umrah Hudaibiyah pada tahun 6 H yang ditahan (tidak diizinkan) oleh kaum musyrikin.
  2. Umrah qadha’ pada tahun sesudahnya (7 H).
  3. Umrah yang beliau lakukan dari Ju’ranah pada peristiwa fathu Mekkah (pembebasan kota Mekkah) tahun 8 H.
  4. Umrah yang beliau tunaikan bersama dengan hajinya (haji Wada’ tahun 10 H) .

Saudaraku,

Itulah beberapa amalan bid’ah yang popular dilakukan oleh sebagian kaum muslimin. Mudah-mudahan kita terhindar dari segala warna bid’ah dalam ibadah.

Karena bid’ah akan membuat amalan yang telah kita tunaikan dengan susah payah menjadi fatamorgana, hilang dan tertolak.

Bukan hanya itu saja, amalan bid’ah akan melemparkan kita ke dalam neraka, karena amalan bid’ah adalah sesat sebagaimana yang pernah disinggung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Yang lebih fatal lagi, jika amalan bid’ah diyakini sebagai amalan sunnah seperti yang sering kita saksikan dari sebagian kaum muslimin. Wallahu a’lam bishawab.

Daejeon, Korea Selatan
07 Mei 2014
Abu Ja’far