Tafsir

Hasan Al Banna

Pendapat Beberapa Ilmuwan tentang Kemampuan Akal (2)

  • Charles Darwin

Darwin sendiri telah terjerumus dalam kesesatan. Ia menjelaskan bahwa puncak kesuksesan ilmiahnya tidak lebih dari penafsiran-penafsirannya tentang asal-usul spesies. Dia telah menulis dalam konteks ini kepada temannya, Mr. Hiath, dia berkata: “Izinkan aku menambahkan bahwa aku bukanlah orang yang bodoh ketika aku membayangkan keberhasilanku dalam menggambarkan wilayah yang luas dalam menjelaskan asal-usul spesies.”

  • Ucapan William James

Guru Besar Universitas Harvard (Amerika Serikat) ini berkata: “Ilmu kita hanyalah setetes. Dan kebodohan kita laksana lautan yang luas. Satu-satunya perkara yang patut untuk dikatakan sebagai penguat adalah dunia pengetahuan kita saat ini dikelilingi oleh dunia lain yang lebih luas yang tidak dapat diketahui oleh panca indra sampai hari ini.”

  • Prof. William Crookes

Ilmuwan Inggris ini menyampaikan pidatonya pada konferensi ilmu pengetahuan: “Kapan kita menguji dari dekat beberapa hasil kesimpulan biasa dalam fenomena alam? Kita tidak mulai dengan mengetahui sampai batas mana kesimpulan ini atau hukum ini, sebagaimana yang kita sebut dengan daerah hukum yang lain. Kita tidak tahu banyak tentang pengunjungnya. Sedangkan saya, ketika bermodalkan ilmu praduga bahwa saya sudah sampai pada batasan yang jauh, seolah-olah saya memegang sarang laba-laba ilmu pengetahuan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh beberapa pengarang, dalam tanda kutip, bahwa tidak tersisa darinya kecuali sebuah bola kecil yang hampir tidak kelihatan.”

  •  Nicolas Camille Flammarion

Dalam bukunya yang tidak dikenal dia menyatakan: “Anda melihat kami sedang berpikir? Namun, apa itu berpikir? Tidak seorangpun dapat menjawab pertanyaan ini. Anda juga melihat kami berjalan. Akan tetapi, apakah pekerjaan otot itu? Dan tidak seorang pun mengetahui hal itu. Bahkan bagaimana saraf mata memindahkan gambar yang ada di luar ke dalam pikiran? Coba jawablah: bagaimana pikiran dapat diketahui dan dimana tempatnya? Apakah cara kerja otak itu? Aku dapat bertanya selama puluhan tahun. Namun tak seorang pakar pun yang dapat menjawab pertanyaanku yang remeh ini.”

  • Andrea Garrison

Filosof Andrea Garrison berkata dalam bukunya Kaidah-Kaidah Filsafat: “Ilmu idak dapat memberi kepada kita eksistensi seluruhnya. Namun, dia hanya bisa memberi pengetahuan yang tidak jelas tujuannya. Kita tidak mengetahui awal munculnya bintang dan planet yang mengelilingi matahari. Padahal, awal munculnya adalah suatu keharusan. Kondisi ini berdasarkan atas kumpulan-kumpulan alam raya yang tidak mungkin terjadi kecuali terdapatnya pengontrolan.”

Itulah miniatur kebenaran pengakuan ilmuwan atas keterbatasan pengetahuan mereka tentang hukum-hukum alam. Kami tuliskan di sini agar dapat mengingatkan para Ikhwan kita yang sedang diuji dengan penelitian-penelitian ilmiah dan ingin membebaskan diri dari kekuasaan akidah agama. Bahkan saya ingin menambahkan kepada mereka argumentasi filosof Inggris, Herbert Spencer, tentang interaksi dengan ilmu pengetahuan alam. Ia mengatakan bahwa pengetahuan tentang fenomena alam dapat memperkuat keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan dapat mengantarkan kepada ma’rifatullah. Dan seluruh fenomena alam dan keindahan susunan dan penciptaan serta kesempurnaannya dapat menyentuh fitrah keimanan yang ada di dalam diri manusia. Fitrah itu akan dapat menerima dengan ikhlas akan keagungan pencipta dan keterbatasan akal manusia yang memiliki keterbatasan pengetahuan yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau telah memberi contoh-contoh dengan sangat indah tentang hal itu di dalam tulisannya tentang pendidikan.

Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa di hadapan kita masih terpampang tahapan-tahapan yang luas untuk mengetahui kerajaan langit dan keajaiban bumi serta belum dapat menguak misteri kehidupan, bukan berarti itu sebuah kelemahan dan kekurangan diri kita. Sebab, Al-Qur’an tidak membukakan semua itu kecuali hanya beberapa sisi saja. Kita tidak diharuskan mengetahui seluruh hakikat. Kita boleh merasa puas dengan apa yang kita capai. Namun, kemudian kita bekerja keras lagi untuk mengetahui sesuatu yang masih disembunyikan keberadaannya. Setiap orang yang bersungguh-sungguh akan mendapatkan bagiannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut [29] : 69)

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat…”(QS. Ar-Ra’du [13] : 2)

Dalam tafsir surat Al-A’raf yang terdahulu, di dalam Tafsir Al-Manaar Juz 8, telah dijelaskan beberapa hal penting tentang langit dan bumi, enam hari masa penciptaannya, keserasian antara sesuatu yang ada di dalam Al-Qur’an dengan teori-teori ilmuwan astronomi yang populer, dan bantahan terhadap kebanyakan cerita-cerita sekitar pokok bahasan ini, coba  lihat kembali, di sini akan ditulis ringkasannya:

·Langit dan bumi, seperti dalam surat Al-A’raf , digunakan untuk semua eksistensi yang diciptakan (makhluk) atau yang biasa disebut dengan alam ‘ulwi atau sufli. Sekalipun ‘ulwi dan sufli adalah perkara-perkara idhafiyah (tambahan), namun kadang-kadang langit digunakan untuk mengungkapkan alam ‘ulwi bukan alam sufli terutama ketika disebutkan dengan tujuh langit. Makna ini sesuai dengan yang terdapat dalam ayat surat ar-Ra’du.

·Enam hari—yang disebut sebagai masa penciptaan langit dan bumi—adalah hari-hari Allah subhanahu wa ta’ala yang dipergunakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam berbuat atau menciptakan makhluk. Maksudnya, Allah subhanahu wa ta’ala lebih mengerti arti proses pembuatan langit dan bumi dari asap menjadi air, kemudian menjadi kering, lalu diciptakan benda-benda langit selama dua hari. Hari-hari tersebut tidak seperti hari-hari yang ada di dunia, sedangkan cerita-cerita tentang penciptaan langit dan bumi yang ada di dalam beberapa atsar shahabat adalah israiliyat atau dhaif. Dan hadis yang paling sahih yang menceritakan tentang hal tersebut adalah hadis Abu Hurairah. Salah satu sanadnya adalah Hajjaj bin Muhammad al-‘Awwar. Dia telah berubah di masa tuanya dan menetapkan bahwasanya dia telah menceritakan setelah terjadi kekacauan dalam pikirannya.

·Usaha memadukan antara ayat yang menyebutkan langit bertingkat tujuh dan astronomi berlapis sembilan yang populer di Lembaga Astronomi Yunani tidak dapat diterima, karena kegagalan teori-teori ini. Maka, tidak perlu dibahas lagi secara panjang lebar.

Ketiga poin di atas adalah ringkasan tafsir surat al A’raf. Kami akan menambahkan di sini dalam pembahasan tersendiri tentang tafsir ayat ini.

 “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda(kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu.” (QS. Ar-Ra’du [13] : 2)

Ayat yang menjelaskan tentang meninggikan langit tanpa tiang adalah untuk menunjukkan kesempurnaan dan keagungan kekuasaan-Nya. Langit dan seluruh isinya, benda-benda angkasa, bintang-bintang dan makhluk-makhluk ciptaan di dalamnya ditinggikan dengan izin-Nya tanpa ada sandaran atau tiang. Bahkan hukum yang menakjubkan ini telah berjalan secara otomatis dan tidak membutuhkan bantuan yang lain. Hal ini mungkin yang kita sebut hukum gravitasi atau hukum relativitas atau genggaman tuhan dan kekuasaan Rabbaniyah. Nama-nama ini tidak akan mengubah substansi permasalahan sedikitpun. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

 “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Faathir [35] : 41)

Beberapa ahli tafsir telah mengutip pendapat dari pendapat beberapa ulama salaf bahwa langit itu memiliki tiang namun tidak terlihat. Atau, tiangnya disanggah oleh bumi seperti yang terlihat di ufuk. Pendapat ini tidak benar. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli tafsir, Ibnu Jarir berkata “Pendapat yang paling benar dalam masalah ini adalah seperti yang difirmankan oleh Allah subhanahu wa ta’ala:

 “Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat…”(QS. Ar-Ra’du [13] : 2)

Langit ditinggikan tanpa tiang sebagaimana yang kita lihat. Ini adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala yang dapat dijadikan informasi dan bukti otentik yang harus diterima tanpa melihat pendapat yang lain. Bahkan ada sebuah syair jahiliah yang menunjukkan kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala dan keajaiban ciptaan-Nya dengan mengangkat langit tanpa tiang. Umayyah bin Abi Shalti berkata:”Mereka mengira bahwa syair itu berasal dari Zayd bin Nufayl radhliyallahu ‘anhu:

Kepada Allah aku persembahkan pujian dan sanjungan

Ucapan tulus terus mengalir seiring perjalanan waktu

Kepada Allah yang Mahatinggi, tiada Tuhan di atas-Nya

Dan tiada Rabb yang mampu merendahkan-Nya

Wahai manusia, janganlah engkau menghindar

Sebab engkau tidak mungkin sembunyi dari-Nya

Janganlah engkau menjadikan sesuatu sebagai tandingan-Nya

Sebab cahaya hidayah telah bersinar

Aku rela Engkau Ya Allah sebagai Rabb ku

Aku tidak akan pernah menduakan-Mu selamanya

Engkau Mahakaya akan karunia dan kasih

Engkau telah mengutus Rasul penyeru kepada Musa

Engkau berkata kepadanya: pergilah bersama Harun

Ajaklah Fir’aun yang durjana kepada jalan Allah

Katakan kepadanya: Engkaukah yang meninggikan langit ini

Tanpa pasak sampai berdiri sendiri seperti ini?!

Katakan kepadanya: Engkaukah yang menghamparkan di tengah-tengahnya

Katakan kepadanya: siapa yang mengurus matahari terbit di pagi hari

Kemudian bumi menjadi cerah di waktu dhuha

Katakan kepadanya: siapa yang menumbuhkan biji di tanah

Kemudian rumput-rumput tumbuh berserakan di sekelilingnya

Dan setiap ujung biji-bijian mengeluarkan biji-biji yang baru

Sungguh, itu adalah ayat-ayat-Nya bagi yang memahaminya

Wahai Rabb setiap hamba, lemparkan nikmat dan kasih kepadaku

dan berkatilah anak-anak dan hartaku

Sedangkan ungkapan-ungkapan tentang pembatasan materi langit, perkiraan jarak antara langit dan bumi atau antara langit dan alam arwah adalah tidak benar. Sebab semua itu dirahasiakan.

Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy”(QS. Ar-Ra’du [13] : 2)

Pengarang Tafsir al-Manaar, rahimahullah setelah menafsirkan ayat semacam ini di dalam surat Al-A’raf—terutama dalam pembahasan makna secara bahasa kata istiwa’ (bersemayam) dan kata ‘arsy (kerajaan), dan setelah beliau menyebutkan ayat-ayat yang mendukung makna tersebut—berkata: “Tidak seorangpun shahabat Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menyerupakan (tasybih) makna istiwa’ Rabb (bersemayamnya Rabb) di atas ‘arsy. Sebab, mereka memahami bahwa sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala terlepas (tanzih) dari sifat-sifat manusia dan makhluk. Mereka berkesimpulan bahwa istiwa’-Nya di atas ‘Arsy merupakan ungkapan tentang berkesinambungannya perintah penguasa langit dan bumi, serta kesendiriannya dalam mengatur keduanya. Sedangkan mengimaninya tidak mengharuskan pengetahuan tentang wujud pengaturan dan sifat-sifatnya. Bahkan tidak harus mengetahui wujud ‘Arsy sebenarnya. Namun, di sana ada teks Al-Qur’an dan as-sunnah yang menyatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mempunyai ‘Arsy yang diciptakan sebelum penciptaan langit dan bumi. Dan Dia juga memiliki sejumlah malaikat, seperti yang ditunjukkan oleh bahasa, sebagai  pusat pengaturan seluruh alam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Hud ayat 7:

 “Dan Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas air.”(QS. Hud [11] : 7)

More from Tafsir