Category Archives: Pemikiran Islam

Muhammad 'Imarah

Bathiniyah

Dalam aliran kalam (teologi), yang dimaksud dengan Bathiniyah adalah setiap paham yang berlebihan dalam melakukan ta’wil. Mereka memandang di balik setiap yang bersifat lahiriah mempunyai makna yang terselubung: setiap yang eksplisit mengandung makna yang implisit, mereka tidak hanya sampai pada qaidah ta’wil terhadap rambu-rambu bahasa Arab serta agama Islam.

Terdapat ta’wil yang pelakunya mengikat diri pada qaidah-qaidah yang benar. Ta’wil seperti ini tidak ada yang mempersoalkan di kalangan aliran pemikiran Islam. Sedangkan ta’wil bathini melanggar qaidah serta menyeleweng dari syari’ah sehingga nash yang nyata disalahpahami secara nyata.

Di antara paham-paham bathiniyah (kebatinan) yang muncul di kalangan Islam di antaranya: Ismailiah. Mereka ialah golongan syi’ah imamiah yang menganggap bahwa imam yang berhak memperoleh kedudukan imamah setelah Imam Ja’far Shadiq (699-748 M) ialah putranya, Ismail (wafat 760 M). Aliran ini mencampuraduk antara ajaran Islam dengan gnostisisme Persia dan dengan paham Neo-Platonisme serta tradisi-tradisi Israiliat. Dari paham Ismailiah muncul berbagai cabang aliran Bathiniyah di antaranya:

  • Qaramithah, yang dinisbahkan kepada tokoh kenamaannya yaitu Hamdan Qirmith. Aliran ini sering juga disebut dengan As Sab’iyah dikarenakan keyakinan mereka bahwa peringkat para Imam mereka ada tujuh (sab’) dan alam ini perjalanannya mengikuti tujuh bintang.
  • Druz, yang dinisbahkan kepada pendirinya yaitu Muhammad Ismail Ad Durzi (wafat 1020 M). Para penganut aliran ini berkeyakinan bahwa Al Hakim Biamrillah Al Fathimi (985-1021 M) ialah nasut (unsur manusia) yang dimasuki lahut (unsur Tuhan). Mereka menamakan diri dengan sebutan Al Muwahhidin (yang meyakini penyatuan manusia dengan Tuhan).
  • Nushairiyah, yang dinisbahkan kepada pendirinya, Muhammad bin Nushair (wafat 873 M). Para penganut aliran ini berkeyakinan bahwa Imam Ali bin Abu Thalib adalah penjelmaan lahut (unsur Tuhan) yang menyatu pada dirinya.
  • Babiyah dan Baha’iyah, yang didirikan oleh Sayid Ali Muhammad Asy Syirazi (1821-1850) yang mengaku bahwa dirinya adalah pintu (bab) ilmu tentang hakekat ilahiah. Kemudian berkembang dari aliran Babiyah ini satu aliran yang disebut Baha’iyah, didirikan oleh Mirza Husain Ali Nuri (1818-1893) yang menamakan dirinya Baha’ullah.

Aliran-aliran kebathinan dalam masyarakat Islam ini telah mengeluarkan Islam dari hakekat yang sebenarnya dengan penta’wilan mereka yang bersifat gnostik subjektif tanpa landasan metodologi Islam. Begitu pula aliran-aliran ini telah memainkan peranan yang sangat merugikan umat Islam dalam sejarah dikarenakan sikap mereka membantu pasukan Tatar dan pasukan Salib memerangi kaum Muslimin di masa lalu, serta membantu kaum penjajah dan Israel di masa modern.[1]

[1] Lebih lanjut, lihat DR. Abdurraman Badawi dalam Madzahib Al Islamiyyin, Beirut 1973, juga DR. Muhammad Immarah, dalam Al Islam wa ats-Tsaurah, Kairo 1988.

Mohammad Natsir

“Rasionalisme” dalam Islam dan Reaksi Atasnya (2)

II

Pembangunnya: Washil bin ‘Atha

Pembangun dari mazhab Mu’tazilah yang mula-mula dikenal orang, ialah Washil bin ‘Atha’, dilahirkan di Madinah dalam th. 80 H., salah seorang dari golongan Banu Makhzum, Washil bin ‘Atha’ adalah seorang ahli pidato yang tangkas dan lancar. Akan tetapi, ia tak pandai melafazkan huruf ta, yang selalu ia bunyikan seperti ghain. Yang semacam itu amat aib bagi orang Arab.

Akan tetapi aib ini dapat diputarnya menjadi satu kemasyhuran, yakni menukar perkataan-perkataan dengan yang tidak memakai ta, akan tetapi yang bersamaan ma’na, sehingga ber-jam-jam ia pandai berkhotbah, tak sekalipun menyebut perkataan yang pakai ta itu. Demikian kemahirannya dalam bahasa Arab, menurut kata riwayat. Malah ada seorang ahli syair yang membuat tamsil: “Engkau jadikan aku sebagai “ta” yang tak dibunyikan, engkau tindas aku se-olah-olah engkau „Washil bin ‘Atha’“.

“I’tazala ‘anna Washil!”

Tadinya Washil seorang murid dari seorang alim Ahlis Sunnah, Hasan Basri yang masyhur. Adapun yang menjadi pokok pertikaian paham antara murid dengan guru itu ialah pendapat yang- dikemukakan oleh Washil tentang tempatnya seseorang yang berdosa besar di akhirat kelaknya. Washil berpendirian, bahwa keadaan seorang berdosa besar di akhirat kelak, orang fasik itu, ialah antara seorang Muslim yang saleh dan seorang kafir dan akan ditempatkan pada satu tempat yang terkhusus antara surga dengan neraka. Dalam istilah mereka masalah ini dikenal dengan nama: tempat antara dua tempat.

Khabarnya konon, pada satu ketika duduklah Imam Hasan Basri dalam mesjid dikelilingi oleh murid-murid beliau yang sedang menunggu fatwa. Pada saat itu datanglah seorang bertanya kepada beliau: “Ya, Imamaddin! Adalah di zaman kita ini satu kaum yang mengafirkan orang-orang yang berdosa besar. Dosa besar pada sisi mereka jadi kufur, keluar dari agama. Kaum ini ialah kaum Wa’iediyatul-Khawarij. Ada pula satu jama’ah lagi yang berpendapat bahwa dosa besar tidak memberi mudharat bila beserta dengan iman. Adapun amal menurut mereka ini, bukanlah sebagian dari iman. Dan ma’siat tidak membahayakan bila beserta dengan iman, sebagaimana taat tidak memberi manfaat bila beserta dengan kufur. Golongan ini ialah yang bernama golongan Murjiyah. Maka bagaimanakah fatwa tuan Imam untuk kami terhadap dua i’tikad tersebut?”

Lalu berfikirlah Imam Hasan Basri sebentar. Akan tetapi sebelum beliau menjawab, Washil angkat suara, seraya berkata: “Aku berpendapat bahwa seseorang yang berdosa besar itu, bukan seorang mu’min yang mutlak, dan tidak pula seorang kafir yang mutlak, akan tetapi dia itu pada tempat diantara dua tempat: bukanmu’min dan bukan kafir.”

Kemudian bangunlah ia dan memisahkan dirinya dari pada majelis, pergi berdiri dekat salah satu tiang mesjid, dan ditegaskannya pendiriannya tentang masalah itu dihadapan pengikut dan murid-murid Imam Hasan. Kemudian berkatalah Imam Hasan dengan tenang ringkas: “Telah berpisahlah Washil dari kita”.

Maka semenjak itu lekatlah nama “Mu’tazilah” bagi semua yang sependirian dengan Washil bin ‘Atha’ dan kemudian bagi beberapa golongan-golongan yang paham mereka “berpisah” atau bersalahan dari paham Ahlissunnah yang dipandang rasmi dikala itu.

Adapun golongan Mu’tazilah itu tidak pula dapat dianggap sebagai satu golongan yang bulat keluar-kedalamnya; melainkan terpecah-pecah pula sampai tidak kurang dari 20 golongan yang kecil, masing-masing mempunyai nama yang diambil dari nama pemimpinnya, seumpama Washiliyah (pengikut-pengikut Washil). Lebih jauh:

1. Washiliyah pengikut Washil bin ‘Atha’.

2. Umariiyah pengikut ‘Umar bin ‘Ubaid.

3. Hudzailiyah pengikut Abul-Hudzail Al-‘Allaf.

4. Aswariyah pengikut Al-Aswari.

5. Askafiah pengikut Abu Ja’far Al-Askafi.

6. Ja’fariyah pengikut Ja’far bin Mubsyir Al-Harb.

7. Basyariyah pengikut Basyar bin Al-Mu’tamar.

8. Mazdariyah pengikut Abu Musa ‘Isa bin Shabieh Al-Mazdar.

9. Hisyamiyah pengikut Hisyam bin ‘Umar Al-Ghuthy.

10. Shalihiyah pengikut As-Shalihy.

11. Haithiyah pengikut Ahmad bin Ha-ith.

12. Hudabiyah pengikut Hudaby.

13. Mu’ammariyah pengikut Mu’ammar bin ‘Ibadis-silm.

14. Tsamamiyah pengikut Tsamamah bin Asyaras.

15. Khaiyathiyah pengikut Abu Husein bin Abu ‘Umar Al-Khaiyath.

16. Ka’biyah pengikut Muhammad Al-Ka’by.

17. Jubbaiyah pengikut Abu ‘Ali Al-Jubbai.

18. Bahasymiyah pengikut Abu Hasyim.

19. Jahiziyah pengikut ‘Umar bin Bahi’ Al Jahiz.

20. Nadzamiyah pengikut Ibrahim bin Saiyar An-Nadzam.

Bilamana ada sedikit saja mereka berselisih paham timbullah satu mazhab, ada yang tinggal kecil dan ada yang bertambah besar. Pun pemimpinnya ada alim yang kenamaan, ada yang kurang terdengar sebutannya. Masing-masing-nya mempunyai salah satu pendirian yang terkhusus, satu sama lain berhadapan sebagai aksi dengan reaksi, kesemuanya dihadapi dan ditantang pula oleh “Ahlis Sunnah”.

Kalau kita perhatikan pokok-pokok pertikaian paham mereka itu, terkadang kita akan ta’jub melihat ketajaman fikiran mereka yang mukhtara’ (orisinil); terkadang bertanya dalam hati kita, apakah   masalah-masalah yang mereka perbincangkan itu tidak terlampau ber-lebih-lebih-

an, yakni diperbesar-besarkan, sehingga seperti gunung, padahal soalnya, — pada pandangan kita sekarang —, tidak begitu sulit. Tempo-tempo kita akan berkata dalam hati: “Bukankah soal yang diperkatakan itu soal diluar urusan kita sebagai manusia;” di lain kali kita akan merasa sedikit kesal dan berkata: “Ah, ini soal tetek-bengek saja, kenapakah diributkan sampai begitu!”

Akan tetapi hendaklah kita ingat bahwa mereka itu semua adalah manusia sebagaimana kita juga. Manusia yang tidak ma’sum dari kesalahan; mungkin terdorong, mungkin terkhilaf, mungkin terbawa oleh hawa-nafsu, walaupun mereka itu ber-sungguh-sungguh berniat mencari kebenaran dengan hati yang suci dan ikhlas juga.

Dari zaman mereka sampai sekarang, sudah berbilang abad yang silam. Dan dalam masa yang panjang itu, masyarakat kaum Muslimin terus-menerus melahirkan putera-putera-nya yang cukup mempunyai ilmu dan persediaan akal untuk memecahkan, walaupun dengan ber-angsur-angsur setengah dari pada masalah-masalah yang pada zaman mereka masih belum terkupas sampai memuaskan.

Dan…, seringkah kita memandang suatu hal sebagai tidak berarti, sebagai “tetek-bengek”, pada hal sebenarnya dia itu satu ranting yang tidak kecil artinya. Kemajuan ijtihad kaum Muslimin di negeri kita sekarang ini belum tentu akan sampai ketingkat yang sekarang ini, sekiranya tidak ada pengupasan masalah “ushalli” kira-kira 20 tahun yang lalu.

Dalam pada itu jangan kita lupakan bahwa kita berhadapan dengan satu riwayat yang menggambarkan satu pertempuran ruhani (zielsconflicten) dari satu kaum yang sedang hendak meningkat kepada satu tingkatan ruhani yang lebih luhur, satu kaum yang kebatinannya berada dalam zaman pancaroba (“Sturm und Drangperiode”) menunggu datangnya masa yang lebih tenang dan aman.

Dalam uraian yang lalu telah kita kemukakan, bahwa dalam perjuanganruhani yang amat sengit itu tidak kurang pula kurban yang jatuh. Tak kurang paham yang tertolak lantaran nyata kekeliruannya.

Tak kurang pula yang tetap berdiri teguh dari masa kemasa lantaran kebenarannya yang tahan uji. Sebab dalam alam ruhani berlaku juga sunnatullah yang dikenal dengan nama: “baqa-ulamtsal”, yang kokoh berdiri tegak, yang lemah jatuh hancur (“ survival of the fittest”).

Boleh jadi kaum kita Muslimin sekarang ini sudah lama sampai dipelabuhan yang aman dan sentosa. Kalau begitu, syukurlah! Akan tetapi, tidak mustahil, perjalanan (proses) yang seperti itu dating pula. Maka apabila memang hendak datang keadaan yang seperti itu, tak ada satu kekuatan yang akan sanggup menahannya. Riwayat membuktikan, bahwa pertempuran ruhani itu tidak dapat dipadamkan dengan senjata, tidak akan berhenti dengan meniwaskan jiwa mereka yang bersangkut. Juga tidak dapat ditutup dengan larangan-larangan dari pemerintah negeri.

Maka ada baiknya bila seseorang mengambil pelajaran akan kesulitan-kesulitan dan kepayahan yang telah diderita oleh kaum-kaum yang telah lalu itu, dan memperhatikan bagaimanakah ikhtiar mereka menyelesaikan tiap-tiap kesulitan itu, baik berhasil ataupun tidak. Dengan demikian kita akan lebih tenang berhadapan dengan ber-macam-macam keadaan yang ada dikeliling kita. Dan akan lebih teguh pendirian kita, bilamana pada satu masa berjumpa dengan gelombang pertempuran batin yang mungkin datang menjelma pula pada tiap-tiap bangsa yang mendapat giliran dari Ilahi.

Mohammad Natsir

“Rasionalisme” dalam Islam dan Reaksi Atasnya (1)

(Aliran Paham Mu’tazilah Dan Ahlis Sunnah).

I

Pendahuluan

Paham, pengertian dan keyakinan tentang ketuhanan dan apa yang bersangkut dengan itu yang termaktub dalam Quranul-Karim telah menjadi buah permenungan dan perbincangan ahli akal semenjak abad hijrah yang pertama, jauh sebelumnya orang Islam berkenalan dengan falsafah Yunani.

Maka, sebagaimana yang telah kita terangkan di waktu memperbincangkan Ikhwanus-Shafa’, pada permulaan abad kedua Hijrah mulailah timbul satu aliran paham yang dikemukakan oleh beberapa ahli akal yang terkemuka, yang mendirikan satu mazhab yang dinamakandengan “Mu’tazilah”.

Muarrikhin Barat pernah menamakan pergerakan ini dengan “Rationalisme” dalam Islam. Kita sengaja menuliskan perkataan “rationalisme” dengan koma dua-serangkai oleh karena pada hakikatnya rasionalisme sebagaimana yang terkenal di Barat itu tidak sama dengan paham dan i’tikad yang dibentangkan oleh ulama Mu’tazilah tersebut.

Sebagian dari masalah-masalah yang penting yang menjadi pusat perbincangan kaum Mu’tazilah ini, ialah tentang: “sifat-sifat Tuhan” dan masalah “qadha dan qadat”, “apakah Qura’n itu makhluk atau tidak”, dan beberapa masalah yang lain lagi yang bersangkutan dengan i’tikad. Selain dari pada itu mereka tidak ketinggalan memperbincangkan masalah-masalah politik, khususnya masalah khilafah.

Memang dalam zaman itu soal pemerintahan negara sudah mengobarkan perhatian kaum Muslimin umumnya. Malah ditentang masalah yang satu ini pula telah berdiri ber-macam-macam firkah yang masing-masing-nya memperhubungkan pendirian politik mereka dengan salah satu keyakinan yang bersifat keagamaan. Masing-masing mendasarkan cita-cita kenegaraannya kepada suatu kepercayaan suci yang jadi sumber dan tenaga pencapai cita-cita itu. Ada yang berbuat demikian dengan sungguh-sungguh dan’ ikhlas, ada pula yang sekedar hendak memakai semboyan keagamaan, untuk “pensucikan” dan pembenarkan tingkah laku mereka pada penglihatan dunia umum.

Memang rupanya, tiap-tiap usaha pencapai salah satu maksud yang berkehendak kepada pengurbanan umat yang banyak, susah melakukannya bila tidak berdasarkan’ satu i’tikad yang suci atau yang dianggap suci, sekalipun adakalanya maksud yang hendak dituju itu pada hakikatnya pemuaskan nafsu keduniaan se-mata-mata.

Adapun perhubungan masalah siasat-negara dengan falsafah dalam kebudayaan Islam adalah satu soal yang berkehendak kepada perbincangan yang terkhusus. Lebih dahulu kita kembali kepada perjalanan masalah yang berhubungan dengan ketuhanan antara lain. masalah:

Qadha dan Qadar

Masalah ini, masalah tua; bukan masalah yang dibawa oleh Agama Islam sendiri. Soal ini ialah satu soal yang telah pernah menggulung hati dan memeras otak manusia umumnya, malah jauh sebelum datangnya Islam. Telah berjumpa dalam kalangan Kristen, bahkan dalam kalangan yang diluar dan sebelum agama Kristen, antara lain dalam kalangan falsafah yang lebih dulu.

Tidak mustahil pula, kalau orang berkata, bahwa dalam hal ini padri-padri dan ulama-ulama Kristen mempunyai pengaruh pula banyak-sedikitnya, dengan memasukkan buah pertengkaran dari lingkungan gereja mereka sendiri kedalam dunia Islam. Baik dengan maksud hendak memalingkan minat dan perhatian kaum Muslimin dari pada amal dan jihad mereka yang amat berbahaya bagi kekuasaan Kristen dizaman itu — ataupun tidak. Ala kulli hal, di masa itu banyak pula di dalam kalangan Muslimin, orang-orang Kristen yang baharu masuk Islam dan yang masih menganggap bahwa pembahasan dan perbincangan tentang masalah qadha dan qadar dan yang semacam itu adalah sebagian dari amalan-amalan orang yang saleh (Marmaduke Pickthall: “Islamic Culture”, vol VII: 685).

Muarrikhin yang sepakat dengan teori ini (tentang asal-usulnya aliran paham Mu’tazilah), mengemukakan juga bahwa di zaman pemerintahan Bani Umaiyah terjadilah perhubungan yang lebih rapat antara kaum Muslimin dan kaum Kristen di Siria yang, — berkat keluasan dada serta ketinggian budi pekerti orang Islam terhadapagama lain —, senantiasa mendapat penghargaan yang cukup dari pemerintah negeri. Dalam keadaan yang demikian tak dapat tidak pertukaran fikiran dalam masalah-masalah agama akan timbul dengan sendirinya antara kedua belah pihak.

Diriwayatkan bahwa seorang ahli ilmu kalam Kristen yang bernama Yohannes van Damascus (lahir th. 676 M.) anak dari seorang Kristen yang bergaul baik dengan Khalifah ‘Abdul Malik, pernah menulis satu kitab pembelaan agama Kristen terhadap Islam dengan cara bersoal jawab.

Tidak mustahil, apabila pendirian Yohannes ini, yang antara lain berhubung dengan “keselamatan manusia”-dan “pengampunan dari Tuhan”, ber-macam-macam ajarannya perihal „kemerdekaan manusia tentang mempunyai dan menjalankan kemauan”, masuk pula kedalam dunia Islam, disambut dan dikupas lebih lanjut oleh mereka yang menamakan diri mereka bermazhab: “Murjiyah” dan “Qadhariyah” (G. Brockelmann: hal. 66).

Sebagaimana yang kita katakan, ini satu teori, dan tidak lebih dari itu. Dalam pada itu kita percaya, bahwa satu umat yang telah cukup tingkatan kecerdasanya, yang telah sampai kepada perasaan yang halus, yang telah dianugerahi akal yang kuat dan subur (aqlul fa’al) seperti umat Islam dalam zaman keemasannya itu, sudah tentumungkin dengan sendirinya sampai kepada masalah-masalah yang pernah menjadi buah perbincangan umat yang telah lebih dahulu dari mereka, yang tingkatan peradabannya kira-kira sama dengan tingkatan kebudayaan mereka sendiri. Seringkah kita melihat bagaimana dua zaman yang amat berjauhan, diantarai oleh beberapa abad, mungkin menghasilkan pujangga yang bersamaan aliran fikirannya, walaupun tak ada perhubungan antara satu dengan yang lain, dan walaupun yang satu di Timur, yang satu di Barat.

Antara Imam Ghazali dengan Descartes ada lebih kurang 5 abad. Yang seorang di Bagdad dan yang lain di Perancis. Akan tetapi aliran fikiran Ghazali dalam “Tahafut” bertemu kembali dalam perbmcangan Descartes dalam buku “Discours de la Methode”. Rupanya beberapa anasir dan keadaan-keadaan yang bersamaan dalam dua zaman yang berjauhan itu telah menghasilkan dua aliran fikiran manusia yang menunjukkan beberapa persamaan pula. Manakah bertemu dengan yang seperti itu, biasanya disudahi orang saja, dengan kata kesimpulan “Y’histoire se repete”: “Zaman beredar, riwayat berulang!” Hal yang demikian ini tak boleh kita lupakan bilamana kita hendak menjawab pertanyaan: dimanakah asal-usulnya mazhab Mu’tazilah, atau dari manakah datangnya aliran “tasawuf” dan yang semacam itu.