Salaf

Mohammad Fauzil Adhim

Bercermin pada Al Hajjaj

Telah banyak manusia yang berlalu. Tetapi, amat sedikit yang dikenang orang. Sebagian ada yang dilepas kepergiannya dengan airmata orang-orang yang mencintainya. Sebagian dikubur dengan rasa kehilangan yang amat dalam dari orang-orang yang ditinggalkannya. Tetapi, sebagian di antara mereka diantarkan ke pemakaman dengan rasa syukur oleh orang-orang yang merasa sesak dengan kehidupannya. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang seperti ini.

Abu Muhammad Al Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi adalah seorang yang kematiannya menjadi berita gembira. Zuhair Mahmud Al Humawi yang menulis buku Wasiat-wasiat Akhir Hayat menuturkan bahwa semua orang pada umumnya merasa gembira ketika mendengar kematian Al Hajjaj. Di antaranya adalah Husain bin Ali dan Ibrahim an-Nakha’i. Bahkan, kata Al Humawi melanjutkan, ketika disampaikan berita kematian Al Hajjaj kepada Hasan Al Bashri rahimahullah, ia bersujud syukur kepada Allah seraya berdoa dalam sujudnya, “Ya Allah, Engkau telah mematikannya, maka matikan pula aturan-aturannya.”

‘Umar bin Abdul Aziz rahimahullah yang sangat terkenal karena keadilan dan kedermawanannya itu, tatkala mendengar kematian Al Hajjaj segera berkata, “Ya Allah, ampunilah aku. Orang-orang sudah mengira Engkau tidak akan mematikannya lagi.”

Begitu banyak yang memendam ketakutan dan amarah kepadanya, sehingga ketika dikuburkan, makamnya tidak diberi tanda sedikit pun. Bahkan, makamnya segera disiram air agar tidak meninggalkan bekas kuburan. Ini dimaksudkan agar tidak dapat dibongkar kembali oleh orang yang berniat membakar mayatnya.

Ada cerita yang rasanya bisa kita renungkan menjelang kematiannya. Ketika orang-orang banyak yang mengharapkan kematiannya, pada saat yang sama Al Hajjaj dicekam oleh rasa takut terhadap kematian. Kekhawatirannya itu mendorong ia memanggil ahli nujum; seorang paranormal. Ia berkata, “Menurut pengetahuanmu, adakah raja yang akan mati sekarang ini?”

“Ada,” kata ahli nujum itu menuturkan, “tapi bukan Anda, wahai Tuanku.”

“Dapatkah engkau jelaskan mengapa?” tanya Al Hajjaj.

“Karena raja yang akan mati sekarang itu bernama Kulaib, wahai Tuanku!”

Mendengar itu, Al Hajjaj tersentak dan berkata, “Demi Allah, akulah yang kau sebut, karena itu adalah nama yang berikan ibuku untukku!”

Peristiwa ini terjadi di saat kematian sudah menghampirinya. Kematian sudah tak lama lagi menjemputnya. Pada saat ia sedang terbujur sakit, Al Hajjaj pernah bermimpi melihat Sa’id bin Jubair rahimahullah, seorang ahli fiqih dan qira’at yang dulu dibunuhnya. Ia bermimpi Sa’id menarik kerah bajunya sambil berkata, “Wahai musuh Allah! Apa salahku sehingga engkau membunuhku?”

Al-Hajjaj terkejut dari tidurnya dan mengeluh, “Apa urusanku dengan Sa’id? Apa urusanku dengan Sa’id?”

Mimpi ini membuat Al Hajjaj merasa sangat gelisah. Begitu kuat kegelisahan itu, sehingga mendorong Al Hajjaj datang menemui Hasan Al Bahsri rahimahullah, seorang tabi’in yang mulia dan imam penduduk Bashrah. Setelah mendengar penuturan Al Hajjaj, Hasan Al Bashri rahimahullah berkata, “Dulu, aku sudah pernah mengingatkanmu agar tidak menganiaya orang-orang yang saleh, tetapi engkau berkeras kepala.”

Kata-kata Hasan Al Bashri rahimahullah ini membuatnya marah. Ia berkata, “Wahai Hasan! Aku tidak memintamu berdoa kepada Allah agar Dia menghilangkan kesusahanku. Aku hanya minta engkau berdoa kepada-Nya agar Ia mempercepat mencabut nyawaku dan tidak memperpanjang penderitaanku.”

Mendengar perkataan Al Hajjaj, Hasan Al Bashri rahimahullah menangis. Lima belas hari sesudah peristiwa itu, Al Hajjaj menemui kematiannya. Kematian yang menjadi berita gembira orang-orang di masanya.

Semoga ada pelajaran yang bisa kita petik darinya.

***

Ini merupakan salah satu tulisan yang termuat dalam buku saya bertajuk Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan terbitan Pro-U Media, Yogyakarta.

Al-Hajjaj adalah seorang yang hafal Al Qur’an dan berjasa dalam memudahkan kita membaca Al Qur’an dengan menambahkan garis/titik pada huruf yang sama tapi beda bacaannya. Ini dilakukan ketika ia masih menjadi seorang gubernur. Ini semua merupakan pelajaran sangat berharga betapa kita perlu senantiasa memohon hidayah kepada Allah Ta’ala dan berhati-hati dalam hidup kita. Ini juga pelajaran berharga betapa pentingnya memohon perlindungan kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari godaan syaithan yang terkutuk dengan cara membaca ta’awudz ketika membaca Al Qur’an. Dan seharusnya, tahfidz itu awalnya adalah penempaan iman dulu.

Wallahu a’lam bish-shawab.

More from Salaf