Muhammad Asri Zainal Abidin

Kesimpulan Isu Hukum Istihalah Babi

Ada yang bertanya saya, setelah kita ketahui pandangan Majelis Fatwa Eropa (European Council for Fatwas and Research), European Fiqh Council, dan Persidangan Fiqah Perobatan di Maroko 1997 dan lain-lain tidak mengharamkan istihalah (perubahan zat tertentu menjadi zat lain yang berbeda-red) babi yang terdapat bahan perobatan, makanan dan penggunaan yang lain, sementara al-Fiqh al-Islamiy yang berpusat di Jedah pada keputusan tahun 1986 dan sebagian pembesar ulama Arab Saudi pula mengharamkan gelatin babi yang terdapat dalam bahan perobatan dan makanan, apakah pendirian yang sebaiknya kita ambil?

Saya ingin rumuskan seperti berikut;

1. Pada asasnya, istihalah yang telah menukar sesuatu bahan najis kepada bahan yang lain seperti bangkai kepada abu, mayat yang sudah menjadi tanah, arak kepada cuka, baja najis kepada pokok yang subur, dan seumpamanya, diiktiraf dalam Fiqih Islam sejak dahulu.

Cuma, ada mazhab yang menyempitkan asas istihalah ini seperti Syafi’yyah dan Hanabilah (Hanbali). Ada pula yang meluaskannya seperti Hanafiyyah dan Zahiriyyah juga Malikiyyah. Tokoh-tokoh muhaqqiqin (penganalisis) seperti al-Imam Abu Bakr Ibn al-‘Arabi, Ibn Taimiyyah, Ibn Qayyim, al-Syaukani, Sadiq Hasan Khan dan lain-lain menyokong dan meneguhkan hujah bahawa peroses istihalah bisa mengganti najis menjadi bahan yang bersih.

2. Disebabkan umat Islam tidak menjadi produsen, kita asyik menjadi pengguna, maka bahan berasal babi tersebar begitu luas dalam berbagai aspek kehidupan manusia; makanan, perobatan, bahan kecantikan dan lain-lain. Kehidupan manusia, termasuk umat Islam terpaksa berkait dengan bahan-bahan yang berasal dari sumber bahan yang haram. Fatwa dalam hal ini sudah pasti diperlukan.

3. Maka, fatwa tentang hal ini dikeluarkan oleh ulama termasuk yang terkait isu istihalah. Berikut teks kesimpulan fatwa Majlis Fatwa Eropa (European Council for Fatwas and Research) yang mengizinkan bahan yang berasal haram tapi telah berubah melalui proses, begitu juga alkohol yang sedikit yang terdapat dalam makanan tertentu yang tiada kesan:

Fatwa (34)
Q) The ingredients of some foods contain items which are denoted by the letter “E” and a string of numbers. We were told that this denotes items manufactured from Lard or Pork bone and marrow. If this is true, what is the Shari’a ruling on such foods?

A) The items which carry the letter “E” and a string of numbers are additives. Additives are more than 350 compounds, and could be either preservatives, colouring, flavourings, sweeteners, etc. These are divided into four groups according to their origin:

First: compounds of artificial chemical origin.
Second: compounds of vegetal origin
Third: compounds of animal origin
Fourth: compounds dissolved in Alcohol

The ruling on all these compounds is that they do not affect the status of these foods being Halal, due to the following:
The first and second groups are Halal because they originate from a permissible origin and no harm comes from using these items.

The third group is also Halal, because the animal origin does not remain the same during the process of manufacturing. In fact it is transformed radically from its original form to a new clean and pure form through a process called “chemical transformation”. This transformation also affects the legal ruling on such ingredients. Therefore, if the original form was unclean or Haram, the chemical transformation changed it to another ingredient which requires a new ruling. For instance, if alcohol changed and was transformed to vinegar, then it does not remain Haram, but carries a new ruling according to the nature of the new product, which is Halal.

As for the fourth group, these items are usually colourings and are normally used in extremely small quantities which dissolves in the final product form, which deems it an excused matter.

Therefore, any foods or drinks that contain any of these ingredients remains Halal and permissible for the Muslim’s consumption. We must also remember that our religion is a religion of ease and that we have been forbidden from making matters inconvenient and hard. Moreover, searching and investigating into such matters is not what Allah (swt) or His Messenger (ppbuh) ordered us to do.

Anggota Maejlis Fatwa Eropa terdiri dari mereka yang berikut;

1. Professor Yusuf Al-Qaradawi, President of ECFR (Egypt, Qatar)
2. Hakim Syaikh Faisal Maulawi, Vice-President (Lebanon)
3. Syaikh Hussein Mohammed Halawa, General Secretary (Ireland)
4. Syaikh Dr. Ahmad Jaballah (France)
5. Syaikh Dr. Ahmed Ali Al-Imam (Sudan)
6. Syaikh Mufti Ismail Kashoulfi (UK)
7. Ustadz Ahmed Kadhem Al-Rawi (UK)
8. Syaikh Ounis Qurqah (France)
9. Syaikh Rashid Al-Ghanouchi (UK)
10. Syaikh Dr. Abdullah Ibn Bayya (Saudi Arabia)
11. Syaikh Abdul Raheem Al-Taweel (Spain)
12. Hakim Syaikh Abdullah Ibn Ali Salem (Mauritania)
13. Syaikh Abdullah Ibn Yusuf Al-Judai, (UK)
14. Syaikh Abdul Majeed Al-Najjar
15. Syaikh Abdullah ibn Sulayman Al-Manee’ (Saudi Arabia)
16. Syaikh Dr. Abdul Sattar Abu Ghudda (Saudi Arabia)
17. Syaikh Dr. Ajeel Al-Nashmi (Kuwait)
18. Syaikh Al-Arabi Al-Bichri (France)
19. Syaikh Dr. Issam Al-Bashir (Sudan)
20. Syaikh Ali Qaradaghi (Qatar)
21. Syaikh Dr. Suhaib Hasan Ahmed (UK)
22. Syaikh Tahir Mahdi (France)
23. Syaikh Mahboub-ul-Rahman (Norway)
24. Syaikh Muhammed Taqi Othmani (Pakistan)
25. Syaikh Muhammed Siddique (Germany)
26. Syaikh Muhammed Ali Saleh Al-Mansour (UAE)
27. Syaikh Dr. Muhammed Al-Hawari (Germany)
28. Syaikh Mahumoud Mujahed (Belguim)
29. Syaikh Dr. Mustafa Ciric (Bosnia)
30. Syaikh Nihad Abdul Quddous Ciftci (Germany)
31. Syaikh Dr. Naser Ibn Abdullah Al-Mayman (Saudi Arabia)
32. Syaikh Yusf Ibram (Switzerland)

4. Walaupun para ulama setuju pada dasarnya proses istihalah itu, mereka kadang-kala berbeda pendapat tentang apakah sesuatu proses itu benar-benar merubah sifat bahan-bahan najis itu ataupun tidak. Ada bahan yang diyakini telah berubah, ada yang diandaikan tidak. Dalam soal gelatin babi umpamanya, ulama fiqih masakini berfatwa berdasarkan kepada taklimat saintis kepada mereka. Kadang-kala berlaku khilaf. Majelis Fatwa Eropa (European Council for Fatwas and Research) tadi yang terdiri dari tokoh-tokoh Islam dari Arab dan ulama Islam yang menetap di Eropa, begitu juga Europen Fiqh Council dan beberapa orang tokoh ilmuwan Islam internasional menganggap telah berlaku istihalah. Sementara sebagian ilmuwan pula menganggap proses istihalah bagi gelatin itu tidak sempurna. Maka, jadilah isu gelatin di sudut itu perkara yang syubhat.

5. Siapa yang mengelakkan sesuatu yang syubhat -sekalipun tidak sampai ke peringkat haram- merupakan perkara yang baik untuk diri dan agamanya. Namun, dia tidak boleh berkeras mengharamkan untuk umat Islam yang lain yang mempunyai pandangan yang berbeda. Dalam soal makan-minum, perobatan, pakaian, perhiasan, kebudayaan setiap pihak mesti mengakui keluasan fiqih Islam dan mengiktiraf khilaf fiqih yang berasaskan hujah. Tidak boleh hina-menghina dan bermusuhan dalam persoalan amalan pribadi yang seperti ini selagi semua pihak beramal atas dalil yang diyakininya.

6. Selagi umat Islam mempunyai sumber yang pasti halal, mereka sepatutnya menghindari sumber yang syubhat. Di Malaysia umpamanya, gelatin halal ada dan bias diperoleh, maka menghindarkan yang syubhat dapat menggalakkan industri halal.

7. Umat Islam hendaklah berusaha menjadi produsen, bukan sekadar pengguna. Kelemahan industri umat Islam adalah sumber meluasnya bahan yang syubhat dan juga mungkin haram.