Fir'adi Nasruddin

Ketampanan Paras Berbalut Keelokan Pekerti

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚقُلْ مَا عِنْدَ الَّهِ خَيْرٌ مِنَ الَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚوَالَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki.” (QS. Al-Jumu’ah: 11).

Saudaraku,

Ketika itu paceklik menyelimuti kota Madinah. Jum’at di suatu siang, cuaca terik membakar kulit menyapa kota Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Waktu Zuhur telah masuk, seperti biasa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan khutbah di hadapan para sahabatnya. Sementara para sahabat mendengarkannya dengan seksama, mengikuti alur ajaran dan nasihat yang disampaikan oleh sang guru besar, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Tiba-tiba suasana menjadi gaduh. Satu persatu sahabat meninggalkan khutbah dan berebut untuk keluar dari masjid. Bahkan Jabir bin Abdillah sebagaimana tersebut dalam riwayat Muslim, ia berkata, “Tiada sahabat yang tetap setia mendengarkan khutbah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melainkan hanya dua belas orang saja, aku (Jabir), Abu Bakar dan Umar termasuk dari mereka yang tetap berada dalam ruangan masjid.”

Tetapi beliau tetap meneruskan khutbahnya. Beliau memperingatkan para sahabatnya seraya bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sekiranya kalian satu persatu meninggalkan khutbah, sehingga tiada tersisa seorang pun yang tetap tinggal di tempat ini, niscaya kalian akan binasa terbakar api neraka.” (HR. Ibnu Hibban dan Abu Ya’la).

Di luar masjid, tabuhan rebana bergema. Apa pasal? keramaian di luar adalah merupakan sambutan meriah untuk seorang sahabat yang baru datang dari negeri Syam dengan membawa barang dagangannya. Mulai dari gandum, tepung dan segala keperluan sehari-hari. Dan memang Madinah hari-hari itu sedang dilanda kekeringan dan kekurangan makanan serta harga-harga yang melambung tinggi dikarenakan langkanya persediaan sembako. Dagangan itu adalah milik saudagar kaya dan pemilik wajah tampan di Madinah kala itu. Dia adalah Dihya bin Khalifah al-Kalbi. Sabahat mulia yang selalu disambut kedatangannya oleh keluarganya dengan tabuhan rebana, seperti disebutkan al-Qurthubi dalam tafsirnya “al-Jami’ li ahkam al-Qur’an”.

Saudaraku,

Peristiwa inilah yang menyebabkan turunnya ayat 11 dari surat al-Jumu’ah: “Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu yang sedang berdiri (berkhutbah). Katakanlah, “Apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik dari pada permainan dan perniagaan,” dan Allah sebaik-baik pemberi rezki.”

Itulah Dihya al-Kalbi, seorang sahabat yang tercatat dalam sejarah sebagai saudagar kaya di samping saudagar terkenal lainnya; Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf. Namun nama Dihya memang jarang disebut, tidak sesering Utsman dan Abdurrahman bin Auf. Ketiganya adalah saudagar yang memiliki bisnis Internasional; ekspor-impor Madinah, Syam dan Yaman.

Untuk itulah bukan sekali Dihya mengadakan perjalanan ke luar negeri untuk menjalankan bisnisnya. Dihya selalu ingat kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam perjalanannya ke luar. Berkali-kali Dihya membawakan oleh-oleh khusus buat Nabi. Seperti yang dia tuturkan, “Aku baru datang dari Syam, aku membawakan oleh-oleh buat Nabi berupa buah, kacang, fustuk dan kue.”

Pada kesempatan lain Dihya membawakan sandal dan sepatu buat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan beliupun memakai sandal dan sepatu itu hingga rusak dan sampai tidak layak pakai lagi. Beliau menghargai pemberiannya dengan selalu memakai sandal dan sepatu tersebut. Bukan itu saja, bahkan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga menghadiahkan sesuatu untuk Dihya. Seperti budak Qibtiyah dari Rasulullah untuk Dihya.

Itulah praktek nyata dari anjuran Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Saling bertukarlah hadiah karena ia akan mengukuhkan kasih sayang di antara kamu.” (HR. Bukhari dalam kitab “Al-Adab Al-Mufrad dan imam Malik).

Saudaraku,

Kesibukannya mengelola bisnis tidak menghalangi Dihya untuk berkontribusi terbaik bagi perjunagn Islam dan kaum muslimin. Dihya tidak pernah absen dari peperangan yang terjadi di zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecuali perang Badar saja. Sementara sisanya ia selalu mengikutinya. Bahkan peperangan sengit saat menaklukkan Yahudi di benteng pertahanan mereka yang terakhir, yaitu di Khaibar tahun ke 7 H, juga diikuti oleh Dihya. Dalam peperangan itu Dihya mendapat bagian tawanan perang yaitu Shafiyah bin Huyay. Setelah Dihya mendapatkannya ada seorang sahabat yang mengatakan bahwa Shafiyah tidak layak diberikan untuk Dihya, tetapi hanya layak diberikan untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka sebagai ganti dari kekecewaan Dihya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menukar seorang Shafiyah yang kemudian diperistri oleh beliau dengan tujuh orang budak.

Dengan demikian, Dihya adalah seorang saudagar sekaligus mujahid. Tentunya ini jarang terjadi. Karena saudagar biasanya identik dengan gelimang harta kekayaan, yang membuat seseorang takut mati. Dihya tahu bagaimana harus bersikap terhadap hartanya, sehingga hartanya tidak merusak keimanan dan jihadnya.

Saudaraku,

Selain memiliki harta yang berlimpah dan bisnis yang maju, Dihya juga diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala kelebihan yang tidak dimiliki oleh sahabat lainnya, yaitu ketampanan wajah dan keelokan paras. Untuk itulah Jibril a.s sering meminjam wajahnya, jika datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam bentuk menyerupai seorang laki-laki.

Para sahabat melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersama Dihya. Mereka tidak tahu bahwa yang bersama beliau sejatinya adalah Jibril a.s dan bukan Dihya. Sampai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri mengakui ketampanan Dihya, “JIbril datang kepadaku dengan meminjam wajah Dihya al-Kalby, dan Dihya adalah seorang lelaki yang sangat tampan,” kata beliau.

Kedatangan Jibril a.s dengan wajah Dihya diketahui oleh sahabat dalam kesempatan yang berbeda-beda. Suatu saat Aisyah radhiallahu ‘anha pernah berkata, “Ya Rasulullah, aku lihat engkau baru saja berbincang-bincang sambil berdiri bersama Dihya al-Kalbi.” Rasul Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Apakah memang demikian yang kamu lihat?,” “Ya,” jawab Aisyah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Yang baru saja kamu lihat adalah Jibril, dia menyampaikan salam untukmu.” Aisyah berkata, “Wa alaihis salam warahmatullah.”

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha juga pernah melihat Jibril ‘Alaihi Salam dalam bentuk Dihya. Ia menuturkan, “Suatu hari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berbincang-bincang dengan seseorang.” Ketika orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menghampiriku dan bertanya, “Tahukah kamu siapa yang baru saja bersamaku?,” aku menjawab, “Dihya al-Kalbi.” Aku tidak tahu kalau sebenarnya yang datang itu adalah Jibril Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kecuali setelah aku mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bercerita tentang obrolan kami kepada para sahabatnya.”

Selain kedua istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, ada juga beberapa orang sahabat yang sempat melihat Jibril a.s dalam bentuk wajah Dihya. Seperti yang terjadi menjelang keberangkatan para sahabat menuju perkampungan Bani Quraidzah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya, “Apakah baru saja ada orang yang lewat?,” para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah, yang baru saja lewat adalah Dihya bin Khalifah al-Kalbi, yang mengendarai kuda berwarna putih. Di atas kudanya ada pelana yang dilapisi oleh kain yang terbuat dari sutera.” Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Itu tadi adalah Jibril yang diutus untuk mendatangi kaum Yahudi bani Quraizhah untuk menggetarkan benteng-benteng mereka dan membuat mereka takut.”

Dihya dengan segala kesibukan dan kelebihannya itu, ternyata masih menyimpan keahlian berdiplomasi. Maka kepergiannya suatu kali ke Syam, bukan saja membawa barang dagangan. Tetapi ia mendapat tugas besar untuk menyampaikan surat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada kaisar Romawi (Heraklius). Surat yang berisi ajakan untuk memeluk Islam kepada kaisar yang memerintah salah satu negara super power kala itu.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengirim surat ke berbagai penguasa. Dan tentunya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mempunyai pandangan dan pilihan yang tepat terhadap para sahabat yang cocok untuk menyampaikan surat itu, dilihat dari berbagai sudut. Sudut kemampuan berdiplomasi, sudut penguasa yang akan dihadapi dan seterusnya. Dan untuk menghadapi tipe kaisar, memang Dihya-lah orang yang paling pantas untuk menjalankan tugas mulia ini. Ternyata kaisar mengakui kerasulan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kalaulah bukan karena gengsi sebagai seorang pemimpin besar, pastilah dia sudah mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Dihya menghembuskan nafas yang terakhir pada tahun 45 H, ketika kaum muslimin saat itu dipimpin oleh khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan r.a.

Saudaraku,

Mari kita urai buah pelajaran dan pengajaran yang dapat kita petik dari kisah sahabat yang dikenal dengan ketampanan wajahnya ini.

Pertama, walau Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sebagian sahabat memilih untuk hidup miskin (baca; sederhana), karena lebih cepat membuka jalan ke surga. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Orang-orang yang miskin itu lebih dahulu masuk surga sebelum orang-orang kaya dengan jarak lima ratus tahun.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Nasa’i).

Tetapi bukan berarti kekayaan akan menutup jalan ke sana. Bahkan ada pintu-pintu surga yang harus dibuka dengan kekayaan. Seperti pintu infaq, sedekah dan zakat, hanya bisa dibuka dengan harta. Maka Dihya adalah sahabat yang lebih memilih jalan kekayaan untuk membuka pintu surga.

Kedua, iman dan kualitas amal shalih sebagai mahar mempersunting bidadari di surga. Tidak semua orang kaya akan masuk neraka dan tidak pula semua orang miskin dijamin masuk surga. Begitu pula sebaliknya. Yang harus kita hindari adalah kekayaan yang melalaikan atau kemiskinan yang menjerumuskan. “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan dan kekayaan,” demikianlah do’a Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam berbagai kesempatan, terdapat dalam shahih Muslim.

Ketiga, perhatian dan ketulusan cinta hendaknya kita berikan kepada para da’i di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu bukti perhatian dan ketulusan cinta kita kepada mereka adalah memberi buah tangan pada momen-momen tertentu, seperti sewaktu kita pulang dari bepergian.

Keempat, paras yang elok dan ketampanan wajah tidak akan berarti apapun, jika tidak dihiasi dengan keindahan akhlak. Bahkan wajah rupawan bisa melemparkan si empunya wajah ke dalam neraka, bila ia tidak sadar bahwa hal tersebut merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kelima, menjadi orang istimewa di mata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tidak harus menjadi orang yang kesohor di hadapan publik. Tapi karya nyata, dan kontribusi maksimal yang dapat kita persembahkan untuk kemenangan Islam dan kaum muslimin itulah yang menjadi parameternya. Tentunya setelah iman yang mengagumkan.

Saudaraku,

Sanggupkah kita menjadi Dihya al-Kalbi di zaman kita ini?. Bukan ketampanan wajahnya. Tapi kesuksesan dunia yang menginspirasi keberuntungan di akherat sana. Semoga kita mampu memadukan dua kesuksesan tersebut. Amien. Wallahu a’lam bishawab..

Metro, 14 Januari 2016
Fir’adi Abu Ja’far