Abbas Hasan As Sisi

Kisah Sekaleng Keju

Saya punya seorang mitra kerja dalam pembelian tanah. Dia punya seorang anak yang sudah duduk di bangku kuliah. Suatu hari, saya memberinya hadiah sekaleng keju putih, hasil produksi pabrik keju saya. Ketika itu ia mengatakan bahwa ia memihki dua teman, teman kuliah dan teman satu kost (asrama). Akhirnya saya beri lagi dua kaleng. Setelah lewat beberapa hari, ketika saya sedang berjalan di sebuah gang kota Rasyid, tiba-tiba saya dipanggil seseorang yang baru saja keluar dari waning kopi. Ketika saya datangi, ia segera mengatakan, “Saya ucapkan terima kasih banyak atas kiriman sekaleng keju yang telah Anda hadiahkan kepada anakku, Fulan.”

Lantas ia mengeluarkan uang dari dompetnya hendak diberikan padaku sebagai ganti, namun saya menolak. ia tetap bersikeras untuk membayarnya, padahal ia dan anaknya belum pernah saya kenal sama sekali. Saya katakan bahwa itu saya berikan sebagai hadiah untuk dia dan temannya. Saya jelaskan duduk perkaranya,tetapi ia tetap ingin membayar sehmgga rnembuat saya dalam posisi yang sulit.

Akhirnya saya katakan, “Sebenarnya saya mengirimkan itu semata-mata hanya sebagai hadiah. Bila Anda memaksa ingin tetap membayar maka saya berharap diterima saja sebagai hadiah, atau Anda kembalikan kepada saya seperti semula. Saya tidak akan mengambil uang gantinya.”

Akhirnya ia mengatakan, “Kalau begitu saya terima hadiahnya, karena hadiah tidak boleh ditolak!”

Kasus ini telah banyak memberikan pelajaran bagi saya. Di antaranya, tidak bijak kalau saya memberi hadiah seperti ini tanpa alasan yang rasional dan dapat diterima. Karena saya belum mengenalnya, wajarlah kalau orang tua salah seorang dari mereka hendak membayarnya. Sebab, mungkin ia akan berkata dalam hati-nya, “Mengapa dia memberi hadiah?” Barangkali ia berpikir bahwa hadiah tersebut merupakan sarana berhubungan sebagai langkah pertama menuju pintu da’wah.

Pikiran orang dalam kondisi seperti ini selalu didahului oleh berbagai macam dugaan dan prasangka.

Oleh karenanya, saya telah belajar dan kisah mi, jangan sampai kita isti’jal (terburu-buru). Tunggulah situasi dan kondisi yang alami dan wajar.