Manna' Khalil Al Qaththan

Kitab-kitab tentang Nama Sahabat Secara Khusus

Ash shahabah jamak dari Shahabi, dan Shahabi secara bahasa diambil dari kata Ash-Shuhbah, dan ini digunakan atas setiap orang yang bersahabat dengan selainnya baik sedikit maupun banyak. Dan Ash-Shahabi menurut para ahli hadits adalah setiap muslim yang pernah melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam meskipun tidak lama persahabatannya dengan beliau dan meskipun tidak meriwayatkan darui beliau sedikit pun.

Imam Bukhari berkata dalam Shahih-nya, “Barangsiapa yang pernah menemani Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam atau melihatnya di antara kaum muslimin, maka dia termasuk dari sahabat-sahabat beliau.”

Ibnu Ash Shalah berkata, “Telah sampai kepada kami dari Abu Al Mudhaffir As Sam’ani Al Marwazi, bahwasanya dia berkata, “Para ulama hadits menyebut istilah sahabat kepada setiap orang yang telah meriwayatkan hadits atau sata kata dari beliau, dan mereka memperluas hingga kepada orang yang pernah melihat beliau meskipun hanya sekali, maka termasuk dari sahabat. Hal ini karena kemuliaan kedudukan Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, dan diberikanlah julukan sahabat terhadap setiap orang yang pernah melihatnya.”

Dan dinisbatkan kepada Imam para tabi’in Said bin Al Musayyib perkataan, “Dapat dianggap sebagai sahabat bagi orang yang pernah tinggal bersama Rasulullah setahun atau dua tahun, dan ikut berperang bersamanya sekali atau duia kali peperangan. “Ini yang dihikyatkan para ulama ushul fikih. Akan tetapi Al Iraqi membantahnya, “Ini tidak benar dari Ibnu Al Musayyib, karena Jarir bin Abdillah Al Bajali termasuk dari sahabat, padahal dia masuk Islam pada tahun 10 hijriyah. Para ulama juga menggolongkan sebagai sahabat orang yang belum pernah ikut perang bersamanya, termasuk ketika Rasulullah wafat sedang orang itu masih kecil dan belum pernah duduk bersamanya.”

Ibnu Hajar berkata, “Dan pendapatyang paling benar aku pegang, bahwasanya sahabat adalah seorang mukmin yang pernah berjumpa dengan Rasulullah dan mati dalam keadaan Islam, termasuk di dalamnya adalah orang pernah duduk bersama beliay baik lama atau sebentar, baik meriwayatkan darinya atau tidak, baik ikut berperang bersamanya atau tidak, dan orang yang pernah melihat beliau meskipun sekali, dan belum pernah duduk dengannya, dan termasuk juga orang yang tidak melihat beliau karena ada halangan seperti buta.”[1]

Cara Mengetahui Sahabat:

  1. Diketahui keadaan seseorang sebagai sahabat secara mutawatir
  2. Dengan ketenanran, meskipun belum sampai batasan mutawatir
  3. Riwayat dari seorang sahabat bahwa dia adalah sahabat
  4. Atau dengan mengabarkan dari dirinya bahwasanya dia seorang sahabta.

Dan dipersilisihkan mengenai siapa yang pertama kali masuk Islam dari kalangan sahabat. Ada yang mengatakan: Abu Bakar Ash Shiddiq. Ada juga yang mengatakan Ali nin Abi Thalib. Pendapat lain: Zaid bin Hritsah. Pendapat lain mengatakan Khadijah. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa Khadijah adalah orang yang pertama membenarkan pengutusan beliau secara mutlak.

Ke’adalahan Sahabat

Menurut Ahlussunah wal Jamaah, semua sahabat adalah ‘adil karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji  mereka dalam Al Quran, dan As Sunnah juga memuji terhadap akhlak dan perbuatan mereka, dan pengorbanan mereka kepada Rasulullah baik harta dan jiwa mereka, hanaya karena ingin mendapatkan balasan dan pahala dari Allah Ta’ala.

Adapaun pertikaian yang terjadi sesudah beliau Shalalallahu Alaihi wa Sallam, ada di antaranya yang terjadi karena tidak sengaja seperti perang Jamal. Dan ada pula yang terjadi karena hasil ijtihad merka seperti perang Shiffin. Ijtihad bisa salah dan bisa benar. Jika salah akan dimaafkan dan tetap mendapat pahala, dan jika benar maka akan mendapat dua pahala.

Dan di antara sahabat yang banyak meriwayatkan haidts dari Rasulullah, adalah Abu Hurairah, Abdullah bin Umar bun Al Khattab, Anas bin Malik, Aisyah Ummul Mukminin, Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdillah Al Anshari, dan Abu Said Al Khudri (Sa’ad bin Malik bin Sinan Al Anshari.

Dan di antara mereka yang sedikit periwayatannya, atau tidak meriwayatkan sedikit pun.

Sahabat yang paling terakhir meninggal adalah Abu Thufail ‘Amir bin Watsilah Al Laitsi, meninggal tahun 11 Hijiriyah di Makkah.

Kitab-Kitab yang Terkenal Mengenai Sahabat:

  1. “Kitab Ma’rifat Man Nazala min Ash Shahabah Sa’ira Al Buldan” karya Imam Ali bIin Abdillah Al Madini (wafat tahun 243). Kitab ini tidak sampai kepada kita.
  2. Kitab Tarikh Ash Shahabah” karya Muhammad bin Ismail Al Bukhari (wafat tahun 256 H). Kitab ini tidak sampai kepada kita.
  3. “Al Isti’ab fi Ma’rifati Al Ashhab”, karya Abu Umar bin Yusuf bin Abdillah yang masyhur dengan Ibnu Abdil Barr Al Qurthubi (wafat tahun 463 H). Dan telah dicetak berulang kali, di dalamnya terdapat 4225 bipgrafi sahabat pria maupun maupun wanita.
  4. “Usudul Ghabah fi Ma’rifat Ash Shahabah”, karya ‘Izzudin Abu Al Hasan Ali bin Muhammad bin Al Atsir Al Jazari (wafat tahun 630 H), dicetak, di dalamnya terdapat 7554 biografi.
  5. “Tajrid Asma’ Ash Shahabah”, karya Al Hafizh Syamsudin Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad Adz Dzahabi (wafat tahun 748 H) telah dicetak di India.
  6. “Al Ishabah fi Tamyizi Ash Shahabah” karya Syaikhul Islam Islam Al Imam Al Hafizh Syihabuddin Ahamd bin Ali Al Kinani, yang masyhur dengan Ibnu Hajar Al Asqalani (wafat tahun 852 H). Dan dia adalah orang yangh paling banyak melakukan pengumpulan dan penulisan. Jumlah kumpulan biografi yang terdapat dalam Al Ishabah adalah 122798, termasuk dengan pengulangan, karena ada perbedaan para nama sahabat atau ketenarannya dengan kuniyahnya, gelar atau semacam itu, dan termasuk juga mereka yang disebut shahabat, namun ternyata bukan.

[1] Lihat Shahih Al Bukhari tentang keutamaan para sahabat, Ulumul Hadits oleh Ibn Ash Shalah hal 263, Al Ba’its Al Hatsits hal 179, Al Ishabah 1/4, Fath Al Mughits 4/29, dan Tadrib Ar Rawi hal 396.