Madzhab Fiqih

Ahmad Sarwat

A. Pengertian Madzhab

1. Bahasa

Secara bahasa, kata mazhab () adalah bentuk kata dasarnya yaitu kata dzahaba () yang berarti pergi. Mazhab adalah bentuk isim makan dan juga bisa menjadi isim zaman dari kata tersebut, sehingga bermakna:

Jalan atau tempat untuk berjalan, atau waktu untuk berjalan. Ahmad Ash Shawi Al Maliki menyebutkan bahwa makna etimologis dari mazhab adalah:[1]

Tempat untuk pergi seperti jalanan secara fisik

2. Istilah

Apapun makna secara istilah yang digunakan di dalam ilmu fiqih, kata mazhab itu didefinisikan oleh Az Zarqani sebagai:[2]

Pendapat yang diambil oleh seorang imam dan para imam dalam masalah yang terkait dengan hukum-hukum ijtihadiyah.

B. Ruang Lingkup Mazhab

C. Periode Fiqih

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak meninggalkan dunia ini kecuali setelah bangunan syariat Islam lengkap dengan nash yang tegas dan jelas. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Maidah: 3)

Namun demikian apa yang diwariskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bukan buku fiqih yang sudah tertulis dan berisi butir-butir hukum Islam yang baku. Yang beliau wariskan adalah sejumlah kaidah global, sebagian hukum-hukum juz’i (penggalan masalah), dan hukum-hukum pengadilan yang ada di Al Quran dan Sunnah. Sebagian kecil dan ringkas ini hampir mencukupi untuk menata hidup mereka.

Sepeninggal beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, umat Islam kemudian berkembang dan memenuhi jazirah Arab dan sekitarnya. Mereka menemukan realitas dan tradisi yang sebelumnya tidak di alami. Kondisi ini menuntut ijtihad fiqh untuk meletakkan dasar-dasarnya (kaidah) untuk mengaturnya sesuai dengan syariat Islam. Kaidah-kaidah yang kemudian disebut kaidah fiqh itu merupakan nilai yang diambil dari Al Quran.

Kejadian dan peristiwa semakin berkembang seiring semakin bertambahnya populasi umat Islam. Kebutuhan terhadap fiqh dan kaidah-kaidah umumnya pun semakin meningkat. Terutama di negara dan wilayah baru yang dibuka oleh umat Islam. Kian hari fiqh kian berkemang dari generasi ke generasi sehingga fiqh menjadi disiplin ilmu tersendiri yang sangat luas dan sistematis.

Jika diteliti, fiqh sejak zaman Rasulullah hingga masa-masa berikutnya melalui sejumlah fase pertumbuhan yang berbeda-beda dalam empat generasi atau empat abad pertama (hijriyah).

Diawali dari penulisan (kodifikasi) fiqh madzhab, dilanjutkan syuruh (penjelasan rinci), ihtisharat (ringkasan), penulisan matan (teks inti pendapat seorang imam) , mausuat (eksiklopedi) fiqh, penulisan kaidah fiqh, ashbah wan nadhair (masalah-masalah yang memiliki kesamaan dan perbedaan dalam tinjauan fiqh), fiqhul muqarin (fiqh perbandingan), nadhariyah f iqhiyah (teori fiqh), hingga fiqh menjadi ketetapan undang-undang dan hukum Islam.

1. Periode Pertama

Masa Risalah dimulai dan diakhiri selama Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. hidup hingga wafat. Di masa ini bangunan syariat dan agama telah sempurna.

2. Periode Kedua

Masa Khulaf aur rashidin hingga pertengahan abad pertama hijriyah. Dua fase I dan II adalah fase pengantar penulisan fiqh.

3. Periode Ketiga

Diawali sejak pertengahan abad pertama hijriyah hingga awal abad kedua hijriyah. Ilmu fiqh menjadi disiplin ilmu tersendiri. Di fase ini sekolah-sekolah fiqh tumbuh pesat yang sesungguhnya adalah setiap sekolah itu sebagai media bagi setiap madzhab fiqh. Fase ini bisa disebut sebagai fase peletakan dasar bagi kodifikasi fiqh.

4. Periode Keempat

Diawali dari pertengahan abad keempat hijriyah hingga pertengahan abad empat hijriyah. Di fase ini fiqh telah sempurna terbentuk.

5. Periode Kelima

Diawali pertengahan abad lima hijriyah hingga jatuhnya Baghdad, ibu kota daulah abbasiyah sebagai pusat ilmu dan peradaban Islam ke tangan Tartar di pertengahan abad tujuh. Di fase ini fiqh mulai memasuki masa statis dan taqlid dalam penulisan fiqh.

6. Periode Keenam

Diawali dari pertengahan abad tujuh hijriyah hingga awal abad modern. Fase ini adalah fase kelemahan dalam sistematika dan metodologi penulisan fiqh.

7. Periode Ketujuh

diawali dari pertengahan abad 13 hijriyah hingga sekarang. Di fase ini studi fiqh, terutama studi perbandingan fiqh berkembang.

D. Mazhab Empat

Al Faqiih, mufti atau mujtahid, adalah orang yang sudah memiliki kemampuan mengambil kesimpulan hukum-hukum (istinbathul ahkam) dari dalil-dalilnya. Sementara yang dimaksud madzhab, secara bahasa adalah tempat pergi atau jalan. Secara istilah adalah pandangan seseorang atau kelompok tentang hukum-hukum yang mencakup sejumlah masalah.

Benih madzhab muncul sejak masa sahabat. Sehingga dikenal ada madzhab Aisyah, madzhab Abdullah bin Umar, madzhab Abdullah bin Masud. Di masa tabi’in juga terkenal tujuh ahli fiqh dari kota Madinah; Said bin Musayyib, Urwah bin Zubair, Qasim bin Muhammad, Kharijah bin Zaid, Abu Bakr bin Abdullah bin Utbah bin Masud, Sulaiman bin Yasar, Ubaid bin Abdillah, Nafi’ Maula Abdullah bin Umar. Dari penduduk Kufah; Alqamah bin Masud, Ibrahim An Nakha’i, guru Hammad bin Abi Sulaiman, guru Abu Hanifah. Dari penduduk Basrah; Hasan Al Basri.

Dari kalangan tabi’in ada ahli fiqh yang juga cukup terkenal; Ikrimah Maula Ibnu Abbas dan Atha’ bin Abu Rabbah, Thawus bin Kiisan, Muhammad bin Sirin, Al Aswad bin Yazid, Masruq bin Al A’raj, Alqamah An Nakha’i, Sya’by, Syuraih, Said bin Jubair, Makhul Ad Dimasyqy, Abu Idris Al Khaulani.

Di awal abad II hingga pertengahan abad IV hijriyah yang merupakan fase keemasan bagi itjihad fiqh, muncul 13 mujtahid yang madzhabnya dibukukan dan diikuti pendapatnya. Mereka adalah Sufyan bin Uyainah dari Mekah, Malik bin Anas di Madinah, Hasan Al Basri di Basrah, Abu Hanifah dan Sufyan Ats Tsaury (161 H) di Kufah, Al Auza’i (157 H) di Syam, Syafi’i, Laits bin Sa’d di Mesir, Ishaq bin Rahawaih di Naisabur, Abu Tsaur, Ahmad bin Hanbal, Daud Adz Dzhahiri dan Ibnu Jarir At Thabary, keempatnya di Baghdad.

Namun kebanyakan madzhab di atas hanya tinggal di kitab dan buku-buku seiring dengan wafatnya para pengikutnya. Sebagian madzhab lainnya masih tetap terkenal dan bertahan hingga hari ini. Berikut adalah sekilas tentang madzhab-madzhab tersebut:

1. Al Imam Abu Hanifah.

Nama aslinya An Nu’man bin Tsabit (80-150 H); pendiri madzhab Hanafi. Ia berasal dari Kufah dari keturunan bangsa Persia. Beliau hidup dalam dua masa, Daulah Bani Umaiyah dan Daulah Bani Abbasiyah. Beliau termasuk pengikut tabi’in (tabi’utabi’in), sebagian ahli sejarah menyebutkan, ia bahkan termasuk t abi’in. Beliau pernah bertemu dengan Anas bin Malik (Sahabat) dan meriwayatkan hadits terkenal:

Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.”

Imam Abu Hanif ah dikenal sebagai terdepan dalam ahlu Ar Ra’yi, ulama yang baik dalam penggunaan logika sebagai dalil. Beliau adalah ahli fiqih dari penduduk Irak. Di samping sebagai ulama fiqh, Abu Hanifah berprofesi sebagai pedagang kain di Kufah.

Tentang kredibelitasnya sebagai ahli fiqh, Imam Syafi’i mengatakan,”Dalam fiqh, manusia bergantung kepada Abu Hanifah,.” Imam Abu Hanifah menimba ilmu hadits dan fiqh dari banyak ulama terkenal.

Untuk fiqih, selama 18 tahun beliau berguru kepada Hammad bin Abu Sulaiman, murid Ibrahim An Nakha’i. Abu Hanifah sangat selektif dalam menerima hadits dan lebih banyak menggunakan Qiyas dan Istihsan.

Dasar madzhab Imam Abu Hanifah adalah; Al Quran, As Sunnah, Ijma’, Qiyas, Istihsan. Dalam ilmu akidah Imam Abu H anifah memiliki buku berjudul “Kitabul Fiqhul Akbar” (fiqh terbesar; akidah).

Beberapa murid Imam Abu Hanifah yang terkenal:

Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim dari Kufah (113 – 182 H). Beliu menjadi hakim agung di masa Khalifah Harun Al Rasyid. Beliau juga sebagai mujtahid mutlak (mujtahid yang menguasai seluruh disiplin ilmu fiqh).

Muhammad bin Hasan Asy Syaibani (132 – 189 H). Lahir di Damaskus (Syuriah) dan besar di Kufah dan menimbah ilmu di Baghdad. Pernah menimba ilmu kepada Abu Hanifah, kemudian Abu Yusuf. Pernah menimba ilmu kepada Imam Malik bin Anas. Ia juga termasuk mujtahid mutlak. Ia menulis kitab “Dhahirur Riwayah” sebagai pegangan madzhab Abu Hanifah.

Abu Hudzail Zufar bin Hudzail bin Qais (110 – 158 H) ia juga sebagai mujtahid mutlak.

Hasan bin Ziyad Al Lu’lu’iy (w 204 H). Dalam urusan fiqh beliau belum mencapai Abu Hanifah dan dua muridnya.

2. Al Imam Malik

Lengkapnya bernama Malik bin Anas bin Abi Amir Al Ashbahi (93 – 179 H).

Beliau adalah pendiri madzhab Maliki. Beliau adalah Imam penduduk Madinah dalam urusan fiqh dan hadits setelah Tabi’in. Beliau dilahirkan di masa Khalifah Al Walid bin Abdul Malik dan meninggal di masa khalifah Al Rasyid di Madinah. Beliau tidak pernah melakukan perjalanan keluar dari Madinah ke wilayah lain.

Sebagaimana Abu Hanif ah, Imam Malik juga hidup dalam dua masa pemerintahan Daulah Umawiyah dan Abbasiyah. Di masa dua Imam besar inilah, kekuasaan dan hingga Cina di timur, bahkan ke jantung Eropa dengan dibukanya Andalusia.

Imam Malik berguru kepada ulama Madinah. Dalam jangka cukup panjang beliau mulazamah (berguru langsung) kepada Abdur Rahman Hurmuz. Beliau juga menimba ilmu kepada Nafi’ maula Ibnu Umar, Ibnu Syihab Az Zuhri. Guru fiqh beliu adalah Rabiah bin Abdur Rahman.

Imam Malik adalah ahli hadits dan fiqh. Ia memiliki kitab “Al Muwattha’” yang berisi hadits dan f iqh. Imam Syafi’i berkata tentangnya,”Malik adalah guru besarku, darinya aku menimba ilmu, beliau adalah hujjah antaraku dan Allah. Tak seorang pun yang lebih banyak memberi ilmu melebihi Malik. Jika disebut ulama-ulama, maka Malik seperti bintang yang bersinar,”

Imam Malik membangun madzhabnya dengan 20 dasar; Al Quran, As Sunnah (dengan lima rincian dari masing-masing Al Quran dan As Sunnah; tekstualitas, pemahaman dhahir, lafadh umum, mafhum mukhalafah, maf hum muwafakah, tanbih alal illah), Ijma’, Qiyas, Amal ahlul madinah (perbuatan penduduk Madinah), perkataan sahabat, Istihsan, Saddudzarai’, muraatul khilaf, Istishab, maslahah mursalah, syaru man qablana (syariat nabi terdahulu).

Murid Imam Malik tersebar di Mesir, utara Afrika, dan Andalus. Di antara mereka adalah Abu Abdillah; Abdur Rahman bin Al Qasim (w 191 H) ia dikenal murid paling mumpuni tentang madzhab Malik dan paling dipercaya. Ia juga yang mentashih kitab pegangan madzhab ini “Al Mudawwnah.” Murid Imam Malik lainnya adalah Abu Muhammad (125 – 197 H) ia menyebarkan madzhabnya di Mesir, Asyhab bin Abdul Aziz, Abu Muhammad; Abdullah bin Abdul Hakam, Muhammad bin Abdullah bon Abdul Hakam, Muhammad bin Ibrahim. Murid Imam Malik dari wilayah Maroko; Abul Hasan; Ali bin Ziyad, Abu Abdillah, Asad bin Furat, Yahya bin Yahya, Sahnun; Abdus Salam, dan lain-lain.

3. Al Imam Asy Syafi’i

Lengkapnya bernama Muhammad bin Idris Asy Syafi’i (150 – 204 H). Beliau adalah pendiri madzhab Syafi’i. Dipanggil Abu Abdullah. Nama aslinya Muhammad bin Idris. Nasab beliau bertemu dengan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. pada kakek beliau Abdu Manaf. Beliau dilahirkan di Gaza Palestina (Syam) tahun 150 H, tahun wafatnya Abu Hanifah dan waf at di Mesir tahun 203 H.

Setelah ayah Imam Syafi’i meninggal dan dua tahun kelahirannya, sang ibu membawanya ke Mekah, tanah air nenek moyang. Ia tumbuh besar di sana dalam keadaan yatim. Sejak kecil Syafi’i cepat menghafal syair, pandai bahasa Arab dan sastra sampai-sampai Al Ashma’i berkata,”Saya mentashih syair-syair bani Hudzail dari seorang pemuda dari Quraisy yang disebut Muhammad bin Idris,” Imam Syafi’i adalah imam bahasa Arab.

Di Mekah, Imam Syafi’i berguru fiqh kepada mufti di sana, Muslim bin Khalid Az Zanji sehingga ia mengizinkannya memberi fatwa ketika masih berusia 15 tahun. Kemudian beliau pergi ke Madinah dan berguru fiqh kepada Imam Malik bin Anas. Beliau mengaji kitab Muwattha’ kepada Imam Malik dan menghafalnya dalam 9 malam. Imam Syafi’i meriwayatkan hadits dari Sufyan bin Uyainah, Fudhail bin Iyadh dan pamannya, Muhamad bin Syafi’ dan lain-lain.

Imam Syafi’i kemudian pergi ke Yaman dan bekerja sebentar di sana. Kemudian pergi ke Baghdad (183 dan tahun 195), di sana ia menimba ilmu dari Muhammad bin Hasan. Beliau memiliki tukar pikiran yang menjadikan Khalifah Ar Rasyid.

Imam Syafi’i bertemu dengan Ahmad bin Hanbal di Mekah tahun 187 H dan di Baghdad tahun 195 H. Dari Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Syafi’i menimba ilmu fiqhnya, ushul madzhabnya, penjelasan nasikh dan mansukhnya. Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis madzhab lamanya (madzhab qadim). Kemudian beliau pindah ke Mesir tahun 200 H dan menuliskan madzhab baru (madzhab jadid). Di sana beliau wafat sebagai syuhadaul ilm di akhir bulan Rajab 204 H. Salah satu karangannya adalah “Ar Risalah” buku pertama tentang ushul fiqh dan kitab “Al Umm” yang berisi madzhab fiqhnya yang baru. Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fiqh, hadits, dan ushul. Beliau mampu memadukan fiqh ahli Irak dan fiqh ahli Hijaz. Imam Ahmad berkata tentang Imam Syafi’i,”Beliau adalah orang yang paling faqih dalam Al Quran dan As Sunnah,”

“Tidak seorang pun yang pernah memegang pena dan tinta (ilmu) melainkan Allah memberinya di ‘leher’ Syafi’i.”

Thasy Kubri mengatakan di Miftahus Sa’adah, ”Ulama ahli fiqh, ushul, hadits, bahasa, nahwu, dan disiplin ilmu lainnya sepakat bahwa Syafi’i memiliki sifat amanah (dipercaya) , ‘adaalah (kredibilitas agama dan moral), zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, derajatnya yang tinggi. Orang yang banyak menyebutkan perjalanan hidupnya saja masih kurang lengkap,”

Dasar madzhabnya: Al Quran, Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Beliau tidak mengambil perkataan sahabat karena dianggap sebagai ijtihad yang bisa salah. Beliau juga tidak mengambil Istihsan (menganggap baik suatu masalah) sebagai dasar madzhabnya, menolak maslahah mursalah, perbuatan penduduk Madinah. Imam Syafi’i mengatakan, ”Barangsiapa yang melakukan istihsan maka ia telah menciptakan syariat.”

Penduduk Baghdad mengatakan,”Imam Syafi’i adalah Nashirus Sunnah (pembela sunnah),”

Kitab “Al Hujjah” yang merupakan madzhab lama diriwayatkan oleh empat imam Irak; Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, Za’farani, Al Karabisyi dari Imam Syafi’i.

Sementara kitab “Al Umm” sebagai madzhab yang baru Imam Syafi’i diriwayatkan oleh pengikutnya di Mesir; Al Muzani, Al Buwaithi, Ar Rabi’ Jizii bin Sulaiman. Imam Syafi’i mengatakan tentang madzhabnya,”Jika sebuah hadits shahih bertentangan dengan perkataanku, maka ia (hadits) adalah madzhabku, dan buanglah perkataanku di belakang tembok,”

4. Al Imam Ahmad

Lengkapnya bernama Ahmad bin Hanbal Asy Syaibani (164 – 241 H). Beliau adalah pendiri madzhab Hanbali. Beliau dipanggil Abu Abdillah. Nama aslinya Ahmad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Adz Dzhali Asy Syaibani. Dilahirkan di Baghdad dan tumbuh besar di sana hingga meninggal pada bulan Rabiul Awal. Beliau memiliki pengalaman perjalanan mencari ilmu di pusat-pusat ilmu, seperti Kufah, Bashrah, Mekah, Madinah, Yaman, Syam.

Beliau berguru kepada Imam Syafi’i ketika datang ke Baghdad sehingga menjadi mujtahid mutlak mustaqil. Gurunya sangat hingga mencapai ratusan. Ia menguasai sebuah hadits dan menghafalnya sehingga menjadi ahli hadits di jamannya dengan berguru kepada Hasyim bin Basyir bin Abi Hazim Al Bukhari (104 – 183 H).

Imam Ahmad adalah seorang pakar hadits dan fiqh. Ibrahim Al Harbi berkata tentangnya,”Saya melihat Ahmad seakan Allah menghimpun baginya ilmu orang-orang terdahulu dan orang belakangan,” Imam Syafi’i berkata ketika melakukan perjalanan ke Mesir, ”Saya keluar dari Baghdad dan tidaklah saya tinggalkan di sana orang yang paling bertakwa dan paling faqih melebihi Ibnu Hanbal (Imam Ahmad),”

Di masa hidupnya, di zaman khalifah Al Makmum, Al Mu’tasim da Al Watsiq, Imam Ahmad merasakan ujian siksaan dan penjara karena mempertahankan kebenaran tentang “Al Quran kalamullah” (firman dan perkataan Allah), ia dipaksa untuk mengubahnya bahwa Al Quran adalah makhluk (ciptaan Allah). Namun beliau menghadapinya dengan kesabaran membaja seperti para nabi. Ibnu Al Madani mengatakan,”Sesungguhnya Allah memuliakan Islam dengan dua orang laki-laki; Abu Bakar di saat terjadi peristiwa riddah (banyak orang murtad menyusul wafatnya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.) dan Ibnu Hambal di saat peristiwa ujian khalqul quran (ciptaan Allah),.”

Bisyr Al Hafi mengatakan,”Sesungguhnya Ahmad memiliki maqam para nabi,”

Dasar madzhab Ahmad adalah Al Quran, Sunnah, fatwa sahahabat, Ijam’, Qiyas, Istishab, Maslahah mursalah, saddudz dzarai’.

Imam Ahmad tidak mengarang satu kitab pun tentang fiqhnya. Namun pengikutnya yang membukukannya madzhabnya dari perkataan, perbuatan, jawaban atas pertanyaan dan lain-lain. Namun beliau mengarang sebuah kitab hadits “Al Musnad” yang memuat 40.000 lebih hadits. Beliau memiliki kukuatan hafalan yang kuat. Imam Ahmad mengunakan hadits mursal dan hadits dhaif yang derajatnya meningkat kepada hasan bukan hadits batil atau munkar.

Di antara murid Imam Ahmad adalah Salh bin Ahmad bin Hanbal (w 266 H) anak terbesar Imam Ahmad, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (213 – 290 H). Shalih bin Ahmad lebih menguasai fiqh dan Abdullah bin Ahmad lebih menguasai hadits. Murid yang adalah Al Atsram dipanggil Abu Bakr dan nama aslinya; Ahmad bin Muhammad (w 273 H), Abdul Malik bin Abdul Hamid bin Mihran (w 274 H), Abu Bakr Al Khallal (w 311 H), Abul Qasim (w 334 H) yang terakhir ini memiliki banyak karangan tentang fiqh madzhab Ahmad. Salah satu kitab fiqh madzhab Hanbali adalah “Al Mughni” karangan Ibnu Qudamah.

E. Madzhab Lain

Selain madzhab empat yang diuraikan sepintas di bab II masih ada sejumlah madzhab lainnya. Dalam pendapat-pendapat dalam masalah fiqh, mereka memiliki ciri khas.

Namun madzhab-madzhab ini tidak berumur lama sebab mereka hanya muncul di jamannya. Setelah itu mereka hanya tinggal tersimpan di buku-buku fiqh tanpa pengikut yang menyebar luas madzhab mereka.

1. Madzhab Dhahiri

Pendiri madzhab ini adalah Dawud bin Ali, Abu Sulaiman Al Asfahani Adh Dhahiri. Di lahirkan di Kufah tahun 202 H dan wafat di Baghdad tahun 270. Ia termasuk ahli hadits dengan tingkatan Hafidz (yang menguasai hadits dan ilmunya secara keseluruhan) disamping ia seorang ahli fiqh, mujtahid, memiliki madzhab tersendiri. Sebelumnya ia adalah pengikut madzhab Syafi’i di Bagdad.

Madzhab dhahiri adalah madzhab yang mengambil hukum dan mengamalkan dengan makna tekstual (dhahir) Al Quran dan Sunnah selama tidak ada dalil yang memberikan petunjuk selain makna tekstual. Jika tidak ada teks Al Quran dan Sunnah maka mereka mengambil Ijma’ dengan syarat berdasarkan konsensus semua ulama umat di masa itu. Mereka juga mengambil Ijma’ sahabat Rasulullah saja. Jika tidak teks Al Quran, Sunnah, Ijma maka mereka mengambil dalil Istishab; hukum asal suatu masalah adalah boleh dilakukan. Namun mereka menolak dalil Qiyas, Istihsan, saddudzarai’, atau bentuk ijtihad lainnya.

Disamping itu mereka juga menolak taqlid (mengikut secara total kepada seorang Imam tanpa mengetahui dalil) . Salah satu pengikut madzhab Adh Dhahiri yang melakukan pembelaan dan penyebaran di masa pertumbuhan madzhab adalah Abu Muhammad Ali bin Said bin Hazm Al Andalusi (384-456 H) atau yang terkenal dengan sebutan Ibnu Hazm. Madzhab ini tumbuh berkembang pesat di Andalusia di abad V H kemudian punah di abad VIII H.

Di antara pendapat fiqh madzhab yang khas adalah; haramnya bejana emas perak untuk digunakan minum; riba hanya diharamkan pada enam hal saja seperti yang disebutkan dalam hadits, istri yang kaya harus memberi nafkah kepada suaminya yang miskin.

2. Madzhab Syiah Az Zaidiyah.

Pendiri madzhab ini adalah Zaid bin Ali Zainal Abidin bin Al Husain (W 122 H). ia adalah Imam Syiah Al Zaidiyah. Ia seorang Imam di zamannya dan seorang ilmuwan luas. Sebab ia menguasai ilmu Al Quran, qira’at, fiqh. Bahkan ia terkenal dengan julukan Haliful-quran. Ia juga memiliki kitab fiqh yang paling dahulu “Al Majmu’” dicetak di Italia kemudian diuraikan (syarah) oleh Syarf uddin As Shan’ani tahun 1221 H dengan judul Ar Raudhun Nadhir dalam empat jilid. Az Zaidiyah: sebuah kelompok yang menjadikan kepemimpinan umat setelah Ali Zainul Abidin kepada anaknya Zaid bin Ali, pendiri madzhab ini. Ia dibaiat di Kufah di zaman kekhilaf ahan Hisyam bin Abdul Malik. Yusuf bin Umar memeranginya dan ia terbunuh. Menurut Imam Zaid, Ali bin Abu Thalib lebih utama menjadi khalifah dibanding dengan sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam lainnya. Salah satu pendapatnya adalah jika seorang pemimpin umat melakukan kedhaliman dan penindasan atas yang lemah maka harus keluar dari baiat.

Imam Zaid menentang pengikutnya yang mencela dan menjelek-jelekkan Abu Bakar dan Umar bin Khatab. Karena menolak pendapat Zaid, mereka membuat kelompok sendiri yang disebut dengan Ar Rafidhah. Sebab pada saat mereka menolak, Zaid mengatakan,”Rafadhtumuni (kalian menolak saya),”

Di masa pertumbuhan pertama, madzhab ini tidak jauh berbeda dengan madzhab Ahli Sunnah hanya beberapa masalah saja yang berbeda. Misalnya madzhab Zaidiyah tidak menganggap masyru’nya (dituntunkannnya) mengusap sepatu saat dalam perjalanan, haramnya sembelihan orang selain Islam (meski dari Ahli Kitab), haramnya menikah dengan perempuan Ahli Kitab berdasarkan firman Allah:

“Maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada orang-orang kafir.” (QS Al Mumtahinah: 10)

Berbeda dengan Syiah Imamiyah, madzhab Zaidiyah melarang nikah mut’ah, menambahkan lafadh azan dengan “hayya ala khairil amal” dan melakukan takbir lima kali dalam shalat janazah.

Madzhab ini merupakan madzhab syiah yang paling dekat dengan Ahlusunnah. Namun dalam masalah akidah mereka mengambil madzhab Mu’tazilah.

3. Madzhab Syiah Imamiyah

Pendiri madzhab ini adalah Abu Abdullah Ja’far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin (80-148 H). Syiah Imamiyah menetapkan kepemimpinan 12 imam yang ma’shum (terjaga dari dosa). Dari yang pertama, Abu Al Hasan Ali Al Murtadhi dan yang terakhir adalah Muhammad Al Mahdi Al Hujjah. Imam yang terakhir ini diyakini tersembunyi dan akan muncul di akhir zaman.

Madzhab ini disebarluaskan oleh Ibnu Farrukh di Persia dalam kitabnya Basyair Darajat fi Ulumi Ali Muhammad Wama Khasshahumullah Bihi dicetak tahun 1285 H.

Kitab fiqh pertama dalam madzhab Syiah Imamiyah termasuk kiab Risalatul Halal Wal Haram karangan Ibrahim Ibnu Muhammad Abu Yahya al Madany Al Aslami yang dia riwayatkan dari Imam Ja’far Ash Shadiq. Kemudian anaknya, Ali Ar Ridha menulis kitab fiqh dengan judul “Fiqhu Ar Ridha” dicetak ahun 1274 H di Teheran.

Di abad IV muncul penyebar madzhab ini yaitu Muhammad bin Ya’qub bin Ishak Al Kulaini Ar Razi (W 324) yang kemudian mengarang “Al Kafi fi Ilmiddin” yang memuat 16.099 hadits dari riwayat Ahlul Bait, sebuah jumlah melebihi hadits dalam hadits shahih dalam enam buku. Sehingga Al Kafi menjadi pegangan madzhab Imamiyah. Di samping kitab lain; Man Laa Yahdhuruhu, Shaduq Al Qummi, Tahdbul Ahkam, Ath Thusi, Isibshar, Ath Thusi.

Madzhab Imamiyah dalam fiqh tidak mengambil dalil setelah Al Quran kecuali dari hadits-hadits yang diriwayatkan dari Ahlul Bait. Mereka juga melakukan ijtihad, menolak Qiyas yang illatnya tidak ditegaskan dalam nash, menolak Ijma’ kecuali jika Imam mereka masuk dalam mereka.

Rujukan dalam masalah hukum bagi mereka dalah Imam mereka saja bukan yang lain.

Di antara masalah fiqh yang berbeda antara Ahlus Sunnah dengan Syiah Imamiyah adalah; mereka membolehkah nikah sementara, nikah mut’ah, dalam thalak harus ada saksi, haramnya sembelihan ahli kitab, haram menikah dengan wanita Nasrani dan Yahudi, tidak disyariatkan mengusap sepatu dalam wudhu di perjalanan sebagai ganti mencuci kaki dalam wudhu.

4. Madzhab Ibadhiyah

Pendiri madzhab ini adalah Abu Sya’tsa’ Jabir bin Zaid (W 93 H) termasuk dari kalangan Tabi’in yang mengamalkan Al Quran dan Sunnah. Ia berguru kepada Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu.

Mereka berdasarkan Al Quran, Sunnah, Ijma’, Qiyas, Istihsan, Maslahah Mursalah, Istishab, perkataan sahabat. Mereka menolak disebut sebagai kaum Khawarij mereka mengaku dengan Ahlud Dakwah, Ahli Istiqamah, Jamaatul Muslimin.

Madzhab Ibadhiyah terkenal dalam dengan pendapat-pendapat sebagai berikut:

  • Tidak disyariatkan mengusap sepatu dalam wudhu di perjalanan sebagai ganti mencuci kaki dalam wudhu, seperti hal pendapat Syiah Imamiyah.
  • Tidak mengangkat tangan dalam takbiratul ihram dalam shalat, tidak sedakap dalam shalat saat berdiri dan hanya sekali salam di akhir shalat seperti halnya pendapat Maliki dan Zaidi.
  • Bagi orang junub yang masuk waku pagi hari bulan puasa maka ia harus membatalkan puasa. Berdasarkan hadits Abu Hurairah dan pendapat sebagian tabi’in.
  • Haramnya sembelihan Ahli kitab yang tidak membayar pajak kepada negara atau kafir harbi.
  • Haram nikahnya anak, ini pendapat Jabir bin Zaid yang berbeda dengan yang diamalkan dalam madzhab Ibadhiyah.
  • Makruh menikai dua anak perempuan paman sekaligus.
  • Wasiat wajib hukumnya bagi kerabat dekat selain ahli waris. Bolehnya memberikan wasiat kepada cucu meski anak ada. Al Baqarah: 180.
  • Hamba sahaya yang melakukan perjanjian merdeka dengan tuannya sudah berstatus merdeka saat perjanjian ditulis.

Di antara kitab pegangan mereka dalam masalah akidah adalah Masyariqul Anwar, Nuruddin As Salami, dalam masalah ushul fiqh adalah Thalausyams, Nuruddin As Salami, dalam masalah fiqh Syarhunail Wasyifaulalil, Muhammad bin Yusuf bin, Qamussyariah, As Sa’dy.

Madzhab mereka hingga kini masih ada di Oman, Afrika Timur, Aljazair, Libia dan Tunis.

Dalam masalah akidah mereka mengatakan orang yang melakukan dosa besar kekal dalam neraka jika tidak bertaubat, sifat Allah adalah dzat-Nya itu sendiri, Allah tidak bisa dilihat di akhira sekali pun untuk mengagungkan-Nya.



[1] Ash Shawi, Hasyiyatu Ash Shawi ‘Ala Syarhi Ash Shaghir li Ad Dardir, jilid 1 hal. 16

[2] Az Zarqani, Syarah Az Zarqani ‘ala Syarhi Al Qani, hal. 133