Sa'id Hawwa

Maqam Murabathah Keenam: Mu’atabah (Mencela Diri)

Ketahuilah bahwa musuh bebuyutan Anda adalah jiwa Anda yang ada di dalam diri Anda; ia diciptakan dengan karakter suka memerintahkan keburukan, cenderung kepada kejahatan, dan lari dari kebaikan. Anda diperintahkan agar mensucikan, meiuruskan dan menuntunnya dengan rantai paksaan untuk beribadah kepada Tuhan dan Penciptanya, dan mencegahnya dari berbagai syahwatnya dan menyapihnya dari berbagai kelezatannya. Jika Anda mengabaikannya maka ia pasti merajalela dan liar sehingga Anda tidak dapat mengendalikannya setelah itu. Jika Anda senantiasa mencela dan menegurnya kadang-kadang ia tunduk dan menjadi nafsu lawwamah (yang amat menyesali dirinya) yang dipergunakan Allah untuk bersumpah, dan Anda berharap menjadi nafsu muthma’innah (yang tenang) yang mengajak untuk masuk ke dalam rombongan hamba-hamba Allah yang ridha dan diridhai. Maka janganlah Anda lupa sekalipun sesaat untuk memperingatkan dan mencelanya, dan janganlah Anda sibuk menasehati orang lain jika Anda tidak sibuk terlebih dahulu menasehati diri Anda. Allah berfirman: “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (Adz Dzariyat: 55)

Jalan yang harus Anda tempuh adalah berkonsentrasi menghadapinya lalu menyadarkan akan kebodohan dan kedunguannya; janganlah Anda terpedaya oleh kelicikan dan “petunjuk”nya. Katakanlah kepadanya, “Wahai jiwa, betapa besar kebodohanmu; kamu mengaku bijaksana, cerdas dan tanggap padahal kamu sangat bodoh dan dungu! Tidakkah kamu tahu di hadapanmu ada surga dan neraka dan bahwa kamu pasti segera memasuki salah satunya? Mengapa kamu berbangga dan sibuk dengan permainan padahal kamu dituntut perkara yang mahapenting? Hari ini atau esok hari kamu bisa saja dipundut, tetapi mengapa aku melihatmu memandang kematian sangat jauh padahal Allah melihatnya sangat dekat’? Tidakkah kamu mengetahui bahwa setiap hal yang pasti datang adalah dekat dan bahwa yang jauh tidak akan datang’? Tidakkah kamu mengetahui bahwa kematian datang secara tiba-tiba tanpa terlebih dahulu mengirim seorang kurir, tanpa janji dan kesepakatan, tanpa pilih kasih, tanpa mengenal musim, tanpa mengenal waktu siang atau sore, tanpa mengenal usia. Bahkan setiap jiwa berkemungkinan mati secara tiba-tiba: jika kematian tidak terjadi secara tiba-tiba bisa jadi jatuh sakit secara tiba-tiba lalu mengakibatkan kematiannua. Mengapa kamu tidak bersiap-siap menghadapi kematian padahal ia lebih dekat kepadamu dari setiap hal yang dekat1? Tidakkah kamu mentadabburkan firman Allah:

“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (darinya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Qur’an pun yang bam (diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, hati mereka dalam keadaan lalai.” (Al Anbiya’: 1-3)

Celaka kamu wahai jiwa, alangkah mengherankan kemunafikanmu dan pengakuan-pengakuanmu yang batil. Kamu mengaku beriman dengan lisanmu padahal bekas kemunafikan nampak jelas pada dirimu. Tidakkah Penguasa dan Pelindungmu telah berfirman: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya” (Hud: 6), dan berfirman tentang urusan akhirat: “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” (An Najm: 39). Sesungguhnya Dia telah menjamin secara khusus urusan duniamu dan memalingkan kamu dari usaha di dalamnya lalu kamu mendustakannya dengan perbuatan-perbuatanmu, tetapi kamu malah bersusah payah mencarinya seperti orang yang bingung; sementara itu perkara akhirat diserahkan kepada usahamu tetapi kamu justru berpaling darinya seperti orang yang terpedaya! Apakah ini termasuk tanda-tanda keimanan’? Seandainya iman semata-mata dengan lisan lalu mengapa orang-orang munafiq harus mendekam di neraka paling bawah?

Manshur bin Ammar berkata: “Pada suatu malam di Kufah aku mendengar seorang ahli ibadah bermunajat kepada Tuhannya seraya berkata: ‘Wahai Tuhanku, demi kemuliaan-Mu, aku tidak bermaksud menentang-Mu ketika aku bermaksiat, dan aku tidak bermaksud mendurhakAl Mu ketika aku bermaksiat kepada-Mu, karena aku tidak mengetahui kedudukan-Mu, tidak dapat menghindar dari hukuman-Mu, dan tidak dapat bersembunyi dari penglihatan-Mu. Aku bermaksiat semata-mata karena godaan jiwaku, karena rerdorong oleh kecelakaanku, karena aku terpedaya oleh tabir-Mu yang Engkau Labuhkan padaku sehingga aku bermaksiat kepada-Mu karena kebodohanku dan aku menentang-Mu dengan perbuatanku. Siapakah yang dapat membebas-kanku dari siksa-Mu sekarang’? Dengan tali siapakah aku harus berpegangan •;ka Engkau telah memutuskan tali-Mu dariku? Betapa buruknya berdiri di hadapan-Mu nanti, apabila dikatakan kepada orang-orang yang ringan beban-nua,’Teruslah berjalan’, dan dikatakan kepada orang-orang yang berat bebannya, ‘Berhentilah’. Apakah bersama orang-orang yang ringan beban aku terus berjalan ataukah bersama dengan orang-orang yang berat beban aku berhenti’? Duhai celaka aku! Semakin tua usiaku semakin banyak pula dosaku. Duhai celaka aku! Semakin panjang usiaku semakin banyak pula kemaksiatanku; sampai kapan aku bertaubat dan sampai kapan aku kembali’? Tidakkah telah tiba saatnya untuk malu kepada Tuhanku.”

Demikianlah cara orang-orang ahli ibadah dalam bermunajat kepada Penolong mereka dan dalam mencela jiwa mereka. Tujuan munajat mereka adalah mencari ridha-Nya dan maksud celaan mereka adalah memperingatkan dan meminta perhatian. Siapa yang mengabaikan mu ‘atabah (celaan terhadap diri) dan munajat berarti ia tidak menjaga jiwanya, dan bisa jadi tidak mendapatkan ridha Allah.