Fir'adi Nasruddin

Marhaban, Ya Ramadhan!

» قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ «

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa (di dalamnya). Dibuka pintu-pintu surga dan ditutup pintu neraka, setan-setan dibelenggu. Di dalamnya ada malam yang lebih baik dari seribu bulan. Orang yang diharamkan kebaikannya, maka ia telah diharamkan dari semua kebaikan.” (HR. Ahmad).

Saudaraku,

Kita telah berada di pertengahan bulan Sya’ban. Artinya beberapa saat lagi kita akan disapa Ramadhan, bulan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan. Yang keberkahannya bukan hanya dirasa oleh orang-orang beriman saja. Tetapi dirasakan pula oleh penghuni langit, makhluk yang hidup di darat dan di lautan.

Sebagai tamu agung yang akan menghampiri kita, sudah sepantasnya kita mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk menyambut kedatangannya. Agar pertemuan yang diagendakan akan mengesankan sepanjang hidup kita.

Adalah merupakan kewajiban kita sebagai tuan rumah untuk menyambut kedatanganya dengan suka cita dan memuliakannya. Jika Capres dan cawapres akan berkunjung ke rumah kita, pasti kita akan direpotkan dengan berbagai persiapan untuk menyambutnya. Kita pasti akan menata dan memperindah serta menghias rumah kita secantik mungkin, menyiapkan menu makanan istimewa dan lain-lain.
Ramadhan tentu lebih dari sekadar Capres/ cawapres atau pejabat tinggi negara lainnya, yang semestinya lebih kita agungkan, hormati dan muliakan.

Mualla bin al-Fadhl berkata, “Mereka (salafus shalih) selama enam bulan sebelum datangnya Ramadhan berdo’a kepada Allah supaya disampaikan ke bulan Ramadhan, dan berdo’a enam bulan berikutnya agar amalan mereka pada bulan Ramadhan diterima.”

Makhul dan Yahya bin Abi Katsir berdo’a:

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِي مِنْ رَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِي وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي مُتَقَبَّلا

“Ya Allah, selamatkan kami hingga Ramadhan, selamatkan pula Ramadhan untuk kami, dan terimalah ia dari kami.” (HR. Thabrani).

Hasan al-Basri berkata, “Sesungguhnya Allah jadikan bulan Ramadhan sebagai sarana perlombaan bagi hamba-Nya. Mereka berlomba untuk mentaati-Nya. Sebagian orang meraih kemenangan, sementara yang lain kalah tertunduk. Sungguh ironi orang yang tertawa terbahak-bahak pada hari ketika orang lain menang dan dirinya sendiri kalah. Demi Allah, sekiranya amalan orang dibuka tirai penutupnya, niscaya tak ada orang yang akan terbahak-bahak dalam kerugiannya.”

Saudaraku,

Prof. Dr. Achmad Satori Ismail dalam bukunya ‘Menjadi Hamba Rabbani’ membagi manusia menjadi empat dalam menyambut kedatangan Ramadhan:

Pertama, kalangan yang sangat antusias menyambut Ramadhan, karena sadar akan banyaknya bonus rahmat dan pahala yang akan mereka dapatkan di bulan itu.

Kedua, mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan bulan suci ini, tanpa ekspresi dan tanpa apresiasi apa-apa. Karena mereka tidak mengerti apa sebenarnya yang ada dalam Ramadhan.

Ketiga, mereka yang gembira dengan kedatangan Ramadhan, hanya karena mereka diuntungkan secara materi walaupuan mereka miskin secara ruhani.

Keempat, golongan yang merasa ketakutan dengan kedatangan bulan Ramadhan.

Saudaraku,

Golongan pertama adalah mereka yang menyadari sepenuhnya makna dan nilai yang ada dalam Ramadhan. Sehingga, jauh-jauh hari sebelum bulan suci ini hadir di hadapannya, mereka telah berkemas-kemas untuk mengarungi perjalanan rohani yang demikian mengasyikkan. Semua perbekalan untuk menjalani perjalanan rohani itu telah mereka persiapkan dengan sebaik-baiknya dan sematang-matangnya.

Mereka menyadari bahwa perjalanan rohani yang akan ditempuhnya dalam sebulan itu bukan perjalanan yang mudah dan gampang. Ia memerlukan stamina fisik dan rohani yang mapan, sehingga perjalanan itu bisa dilakukan dan dilalui dengan baik.

Pembiasaan-pembiasaan pembuka sebagai latihan, akan dilakukanya. Termasuk melakukan puasa-puasa sunah di bulan Sya’ban, atau mungkin bahkan sudah dilakukan pada bulan Rajab.

Akibatnya, secara mental mereka tidak terkejut dan bahkan merasakan hentakan kenikmatan, kala akan memasuki bulan suci ini.

Golongan kedua adalah mereka yang biasa-biasa saja dalam menyambut kedatangan bulan suci ini. Tak ada riak spiritual dan gairah jiwa yang meluap-luap penuh gembira menyambut bulan ampunan dan suci ini. Kehadiran Ramadhan sama sekali tidak mempengaruhi kebangkitan spiritualnya, tidak menggairahkan “urat-urat” kepekaan nuraninya.

Tak ada yang berubah. Tak ada yang bergeser. Jiwanya demikian dingin, walaupun suasana bulan suci telah memercikkan kehangatan-kehangatan. Hati mereka tak lagi terangsang untuk memeluk erat sang tamu agung ini.

Kelompok ketiga adalah kelompok yang gembira dengan kehadiran bulan Ramadhan, karena mereka merasa bahwa kedatangannya dianggap akan membuat mereka menangguk keuntungan besar.

Siapa mereka? Mereka adalah sosok-sosok pencari “nafkah” dengan kehadiran bulan suci. Di benaknya, yang bertaburan bukan pahala-pahala yang Allah turunkan dari langit karena amal-amalnya yang sempurna. Yang terbayang dalam benaknya adalah “honor-honor” jutaan atau amplop-amplop besar dalam sekali tampil di publik, di media radio dan televisi, atau di mana saja yang dianggap mendatangkan finansial.

Hatinya sama sekali tidak terpaut dengan “imaan dan ihtisaab” (karena iman dan mengharap pahala dari-Nya) di bulan Ramadhan. Yang tertayang dalam benaknya adalah seberapa banyak penghasilan yang akan dia dapatkan dengan kehadiran bulan suci ini. Baginya tak perlu apakah bulan ini bulan ampunan atau bukan, yang penting aliran uang mengalir deras ke kantong atau rekeningnya.

Tak ada dalam kamusnya, bahwa malam-malamnya harus diisi dengan salat tarawih dengan khusyu’ dan penuh makna. Malamnya-malamnya malah dia sibukkan untuk tayang sana, tayang sini sambil tertawa terbahak-bahak, seakan Ramadhan adalah bulan tawa dan bukan bulan amal.

Malam-malamnya penuh dengan fatwa-fatwa dan seruan beramal, sementara dia sendiri tengah “membakar” dirinya dengan ucapan-ucapan yang sebenarnya dia sendiri tidak pernah, bahkan hanya untuk sekedar berniat melakukannya. Mulut berbusa-busa mengajak orang mentadabburi al-Qur’an, namun dia sendiri tidak menyentuhnya.

Kelompok ini bisa menimpa seorang pedagang, bisa seorang artis dan selebritis, bisa seorang kiyai, bisa seorang ustadz ternama, bisa seorang qari’-qariah, bisa seorang da’i kondang, bisa seorang presenter, bisa seorang pengelola televisi, radio, pengelola pengajian, pengelola transportasi, dan siapa saja yang menjadikan uang sebagai target utama pada saat Ramadhan datang menjelang.

Kategori terakhir adalah sosok manusia yang demikian ketakutan dengan kehadiran Ramadhan. Kelompok ini menjadikan Ramadhan sebagai momok yang selalu menghantui dirinya. Sebulan sebelum Ramadhan datang, mereka telah menggigil karena akan tibanya bulan suci ini. Mereka merasa ngeri karena harus menahan makan dan minum, harus sembunyi-sembunyi jika mereka tidak puasa, mereka harus malu jika kepergok sedang makan-makan.

Bahkan bukan itu saja, ada diantara mereka yang merasa terancam roda hidupnya dengan kedatangan bulan suci ini. Mereka merasa bahwa Ramadhan telah menyumbat rizkinya.

Mereka bisa saja terdiri dari pelaku bisnis haram, para pengelola night-night club yang diperintahkan untuk ditutup selama Ramadhan. Mereka bisa saja adalah para pelacur kelas kakap yang setiap harinya menjual kehormatannya kepada para si hidung belang. Bisa saja mereka adalah para pedagang makanan di pinggir-pinggir jalan, yang seakan hidup menjadi kiamat karena penghasilan drastis berkurang. Mereka bisa saja pengelola restoran atau siapa saja yang menganggap bahwa Ramadhan bukan bulan penyucian diri dan jiwa.

Saudaraku,

Mudah-mudahan kita termasuk kelompok pertama. Yang selalu merindukan kehadiran bulan suci Ramadhan. Karena kita mengharap ampunan, rahmat dan bonus pahala dari-Nya. Karena kita ingin melemparkan diri kita ke puncak ubudiyah dan meninggalkan lembah dosa dan maksiat yang akan menghalngi kita melihat wajah-Nya di akherat kelak.

لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِيْ رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِيْ أَنْ تَكُوْنَ السَّنَةُ كُلُّهَا رَمَضَان

“Sekiranya hamba-hamba (Allah) mengetahui keutamaan yang terkandung di bulan Ramadhan, niscya umatku menginginkan Ramadhan berlaku terus sepanjang tahun.” (HR. Ibnu Huzaimah).

Ya Rabbana, pertemukanlah kami dengan kekasih hati kami, Ramadhan bulan suci-Mu. Amien.

Metro, 11 Juni 2014
Abu Ja’far Fir’adi